Beradaptasi (02)

1250 Words
Siang ini, Palupi duduk di ruang keluarga, ditemani oleh Maya. Maya dan beberapa orang lainnya baru saja selesai membantu kru wedding organizer membereskan ruang depan yang seharusnya kemarin menjadi tempat resepsi. Banyak orang yang mendesah sayang melihat karangan-karangan bunga dan hiasan ruangan disia-siakan begitu saja. Tak ada pernikahan. Tak ada resepsi. Tak ada perayaan apa pun. Semuanya mubazir. Bahkan, orderan catering yang terlanjur dikirim, terpaksa dibagi-bagi ke tempat lain. Kebetulan, Rosalin aktif menjadi donatur tetap beberapa lembaga amal. Panti asuhan, panti jompo, dan sekolah darurat untuk anak jalanan. Ke sanalah Rosalin membagi-bagikan catering yang terlanjur dipesan kemarin. "Gilà. Loe bener-bener gilà. Semua dekorasi, catering, tamu, semuanya kacau! Apa kabar hati nurani loe? Bisa-bisanya cancel wedding di detik-detik terakhir. Ah lupa! Satu lagi! Tiket bulan madu ke Venesia yang seharusnya berangkat siang ini ikutan hangus!" Maya meratap pilu, menyesalkan semua hal yang terjadi. Selain sebagai teman, Maya ini adalah sepupu Palupi yang tinggal di sebelah rumahnya. Hubungan mereka sangat dekat, layaknya kakak adik pada umumnya. Rosalin dan Galuh juga menganggap Maya sebagai putri mereka sendiri. Bulan madu ke Venesia? Palupi mendesah, ikut menyesal. Seandainya saja Palupi tahu lebih awal, dia akan berinisiatif berangkat sendiri, mengambil liburan tunggal dengan hati bahagia. Sayangnya, Maya terlambat memberi tahu. Hidup Palupi sebelumnya, meskipun tidak kekurangan uang, bukan berarti bisa melakukan pemborosan dan mengambil liburan semaunya sendiri. Liburan terjauh yang pernah ia ambil selama ini masih dalam kawasan lokal. Bagaimanapun juga, Nehan Abimanyu bukan laki-laki bodòh yang dengan suka rela menghambur-hambur uang untuk anak tiri dari istri siri. Jumlah orang yang bergantung pada Nehan Abimanyu sangat banyak, mengingat dia sengaja menciptakan harem dan anak biologis di mana-mana. Meskipun kaya, tentu saja sumber dana harus disalurkan dengan bijak dan merata. Membayangkan liburan ke Venesia, mau tak mau membuat khayalan Palupi melambung tinggi. Besok, entan kapan, dia pasti akan menciptakan liburan yang nyata untuk dirinya sendiri, mengingat masalah finansial bukanlah masalah utama saat ini. Palupi sudah mengecek jumlah saldo di beberapa akun bank yang ia miliki. Dan jumlahnya, sangat sangat fantastis. Ah. Ternyata tidak buruk menjadi Palupi Mahardika. "Gue mendapatkan pencerahan di saat-saat terakhir!" Palupi mengibaskan tangannya, menganggap enteng tindakannya menghancurkan pernikahan. Toh yang mencintai Devano adalah jiwa sebelumnya, jadi Palupi tak memiliki keterkaitan dalam mengenai pernikahan. "Pencerahan untuk meninggalkan Devano di saat ijab qobul? Dari mana dapat pencerahan? Telenovela? Drama? Komik?" Maya berdecih kesal. "Loe syirik banget sih!" Palupi melirik sepupunya dengan sinis. "Ke mana sih logika loe! Dana buat wedding loe nggak main-main. Kalau mau cancel, seenggaknya loe nikah dulu, seminggu lagi loe batalin pernikahan kan masih bisa!" "Gileeee loe! Cerai dong gue?!" Palupi mulai mempertanyakan akal sehat sepupunya. "Sayang kan dekornya kalo nggak kepake! Pake dulu lah, baru loe gugat cerai nanti. Seaharusnya nggak masalah!" "Jadi jendes dong gue? Nggak! Nggak! Ngapain gue nikah cuma buat cerai dan jadi jendes?" Hidup Palupi tidak mungkin sesuram ini. Dia jelas tak sudi mengumpankan dirinya menjadi janda dengan sengaja. "Sebenarnya loe kenapa sih batalin pernikahan? Sehari sebelumnya loe udah pijat sauna hanya demi menjamin tubuh loe sempurna saat malam pertama." Pijat sauna? Hanya demi Devano? Tidak. Bayangan itu terlalu menakutkan. "Pengen aja batalin!" Lelah memberikan alasan serupa, Palupi hanya bisa menjawab rasa ingib tahu sepupunya dengan sikap acuh tak acuh. Menyadari tak akan bisa mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari Palupi, Maya memilih melupakan topik dan membahas hal-hal lain. saat mereka sedang asik bercengkerama, seorang remaja, dengan seragam putih abu-abu, menyela pembicaraan mereka. "Kak May! Kemarin aku bikin tugas artikel di ruang tengah tapi belum selesai. Kakak nyimpen tugas itu, nggak? Barusan aku cari-cari nggak ada!" "Oh yang kamu sertakan maping itu, ya? Kakak taruh di bawah meja. Coba cari lagi! Kamu sih, kalo naruh apa-apa suka sembarangan!" Palupi mengamati interaksi kedua orang ini dengan seksama. Perhatian Palupi lebih terfokua pada remaja ini. Dengan hati-hati, Palupi mencoba menemukan identitas remaja tersebut di memorinya. Senyum Palupi terkembang sempurna saat ia berhasil mengingat dengan samar-samar. Remaja dengan wajah ramah dan manis ini adalah adik ipar Maya, yang dibawa oleh suaminya dan tinggal bersama Maya di rumah sebelah. Anggara, seorang remaja tujuh belas tahun yang duduk di SMA di salah satu ibu kota. Kepribadian remaja ini cukup sopan, dan pendiam. Dia tergolong anak introvert, tapi memiliki kharisma alami sehingga kedua matanya yang sekelam tinta menunjukkan kecerdasan murni. "Oh oke. Makasih, Kak!" Anggara mengangguk kecil, berterimakasih dengan tulus. Baik Anggara dan Maya adalah orang-orang yang sudah dianggap sebagai keluarga dan sering keluar masuk rumah Palupi. Kedatangan Anggara ke sini saat ini jelas bukan sesuatu yang tak biasa. Saat Anggara ingin berbalik, Palupi memanggil anak itu dengan lembut. "Anggara." "Ya, Kak?" Dengan sopan, Anggara memfokuskan perhatiannya pada Palupi. "Kamu baru pulang sekolah?" tanya Palupi, wajahnya bersinar bahagia. Tipe Anggara ini termasuk tipe yang Palupi suka. Sopan, pintar, pendiam, lugu, dan murni. Yah … berbeda jauh dengan teman-temannya dulu yang hobi tawur dan membuat keributan sepanjang hari. "Iya, Kak." Anggara menjawab apa adanya, sama sekali tak curiga jika sepupu dari kakak iparnya saat ini mulai mengembangkan ketertarikan khusus padanya. Seandainya Anggara tahu, entah guncangan apa yang akan ia alami. Wanita dua puluh delapan tahun yang memiliki minat pada anak remaja tujuh belas tahun? Apa sebutannya jika bukan kelainan? "Duduk sini, dong, temenin Kakak!" Nada suara Palupi jelas menggoda. Ah. Wajah remaja ini terlalu manis. Kulitnya putih. Senyumnya memiliki lesung pipit. "Temenin buat apa, Kak?" Anggara mengedipkan matanya, sedikit bingung. Ada apa dengan Palupi hari ini? "Temenin ngobrol. Duduk di halaman belakang, yuk! Ngobrol santai!" Suara Palupi terdengar lembut. Meskipun Palupi hobi tawuran, dia memiliki keberanian dan mental yang cukup besar dalam mendekati lawan jenis. Setiap kali dia merasa cocok dengan seseorang, dia biasanya cukup terbuka. Hanya saja, biasanya hubungan Palupi tak bertahan lama. Dia adalah orang yang mudah bosan akan sesuatu. Hubungan pacarannya yang paling lama adalah satu setengah bulan. Setiap kali dia merasa hubungan mulai serius dan melibatkan banyak perasaan yang dalam, Palupi mundur teratur dan melepaskan diri. Dia hidup dalam keluarga yang bisa dikatakan kacau. Dia hanyalah anak tiri dari istri siri, melihat banyak kelakuan "Don Juan" ayah tirinya yang penuh warna-warni, dan merasa muak di dalam hatinya. Tanpa sadar, kehidupan itu membentuk karakter Palupi sehingga ia mulai takut dengan perasaan cinta. Lihat ibunya. Dia menyerahkan dirinya karena cinta pada seorang lelaki, memiliki anak, kemudian ditinggalkan. Masih belum cukup juga, Jani, ibunya, menikah demi cinta, menjadi istri yang entah ke berapa bagi Nehan Abimanyu. Muncul keraguan di hati Palupi. Apakah itu sungguh-sungguh cinta? Jika memang cinta, apakah selalu menghasilkan hal-hal buruk sesudahnya? Pikiran inilah yang membuat Palupi enggan mencintai dengan tulus. Dia tak membatasi dirinya dalam hal ketertarikan fisik. Tapi jika sesuatu itu dinilai mulai mengambil perhatian, fokus, dan perasaannya lebih dalam lagi, Palupi lebih suka ia mengakhiri hubungan dan tidak menciptakan ketertarikan. Untuk apa menciptakan resiko disakiti? "Ngobrol santai?" Anggara masih tak mengerti. Ah. Anak ini sungguh lugu dan polos. Palupi semakin suka. "Iya. Kita ngobrol-ngobrol sebentar di belakang. Atau mau di lantai atas, biar lebih santai?" Suara Palupi genit, mengandung banyak makna. Anggar bergidik ngeri. Dia mundur dua langkah, merasa horor dengan nada genit dari sepupu iparnya. Maya menatap Palupi dengan syok. Apa kabar otak sepupunya ini? Mungkinkah kepalanya terbentur sesuatu saat dia tidur? "Ayo pindah tempat!" Palupi berdiri, berniat meraih lengan Anggara yang saat ini masih terkejut. Menyadari bahaya mendekat, Anggara berbalik, mengambil langkah seribu, memilih melarikan diri. Anggara tak pernah menyangka suatu hari akan menjadi korban tante-tante seperti ini. "Pal. Tolong inget, Anggara adalah adik ipar gue. Jangan nodai pikiran dan hatinya! Dia terlalu murni saat ini!" Maya meratap pilu, menyadari ada yang salah dengan cara berpikir sepupunya. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD