Galuh Ginanjar sudah diambang batas kesabaran dalam mencari Palupi. Dia memiliki petunjuk putrinya dibawa pergi oleh Samuel. Sayangnya, rumah dan aset atas nama Samuel sendiri ada banyak. Galuh menghabiskan banyak waktu mendatangi satu demi satu rumah Samuel, tetapi tak kunjung menemukan Palupi. Jangankan menemukan Palupi. Bahkan rumah itu banyak yang kosong tak berpenghuni. Ada dua rumah yang menjadi kediaman utama Samuel, di Jakarta Pusat dan Bogor, tetapi baik Palupi mau pun Samuel tak ditemukan di tempat tersebut.
Saat Galuh mulai emosi dan Rosalina menangis tanpa henti, dia mendapat kabar dari Pak Jumari, security rumahnya, bahwa Palupi telah pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Galuh mendesah panjang, merasa sedikit lega.
"Kita pulang, Ma!" kata Galuh, menenangkab Rosalina yang tangisnya sudah sepanjang sungai nil.
"Ta-tapi ... Palupi …."
"Anak itu sudah pulang ke rumah dalam keadaan sehat!"
"Se-serius, Pa?"
"Iya. Ayo kita pulang! Papa benar-benar ingin tahu bagaimana pikiran anak itu kenapa bisa membuat keributan seperti ini!"
…
Palupi menatap sepasang suami istri di hadapannya dengan linglung. Dari ingatan yang berhasil ia dapatkan melalui memori tubuh ini, seharusnya dua orang di depannya adalah orang tua biologisnya.
Galuh Ginanjar Hadyan, seorang lelaki berusia pertengahan enam puluhan dengan tubuh gempal, perut buncit, pipi tembem, dan dua kantung mata bergelambir mengerikan. Dia adalah tipikal om-om tua-tua keladi yang sebelumnya selalu ditakuti oleh Palupi. Benarkah ayah biologisnya seperti ini? Ini sedikit … keluar dari nilai esterika yang Palupi miliki.
Sementara di sisinya, ada wanita berusia pertengahan empat puluhan—Palupi yakin usia sebenarnya mungkin lebih tua dari itu—berwajah blasteran Asia-Eropa dengan rambut disanggul, dagu berkurva, tulang pipi tinggi, dan berwajah oval.
Sekarang Palupi tahu dari mana tubuh ini mewarisi kecantikan. Jelas dari gen ibunya sendiri. Hanya saja, Palupi tak tahu kenapa dua orang yang berbeda penampilan layaknya langit dan bumi bisa bersatu dan bahkan melahirkan seorang putri. Apakah penglihatan Rosalina mengalami gangguan sehingga ia jatuh pada pesona Galuh yang seperti itu?
"Palupi! Keributan seperti apa yang kamu lakukan kali ini? Kamu tau Mama dan Papa hampir gila nyariin kamu?"
Suara Papa seperti doraemon. Sengau, rendah, dan sedikit serak. Di sisinya, Mama masih sesenggukan dengan bekas air mata yang berlinang.
"Pa! Palupi nggak ingin nikah sama Devano!" jawab Palupi enteng, duduk nyaman di ruang tengah di antara deretan kursi berlapis kulit asli.
Rosalina dan Galuh saling berpandangan heran. Mereka tak mengerti perubahan tiba-tiba yang terjadi pada Palupi. Apakah putri mereka bisa berubah drastis seperti ini hanya dalam hitungan jam?
"Sayang … kita semua tahu bagaimana kamu mencintai Devano dan mengejar-ngejarnya selama tiga tahun!"
Tiga tahun? Palupi ingin muntah darah. Dia tak tahu kebodohan seperti apa yang diderita jiwa tubuh ini sebelumnya. Mengejar laki-laki selama tiga tahun adalah hal yang sangat berlebihan, mengingat penampilan tubuh ini bisa dikatakan rata-rata. Seharusnya tak sulit mencari laki-laki lain yang lebih layak, bukan?
"Kamu bahkan pernah mencoba bunuh diri hanya agar Devano nggak bersikap cuek sama kamu! Kenapa sekarang tiba-tiba mundur dari pernikahan?" Rosalina menatap pergelangan tangan kiri putrinya, seolah-olah ingat kejadian mengerikan itu dengan rasa sakit yang nyata.
Palupi ikut menatap pergelangan tangannya sendiri, memutarnya, dan mendapati ada jejak goresn di pembuluh darahnya yang berbentuk horizontal. Palupi semakin ngeri. Jadi sebelumnya dia pernah bunuh diri hanya demi menarik perhatian Devano secara putus asa?
Baiklah. Sekarang Palupi mengerti sesuatu. Tampaknya tubuh ini tak memiliki IQ sama sekali. Sesuatu yang pastinya perlu Palupi ubah.
"Itu semua adalah pelajaran bagi Palupi, Ma! Sekarang Palupi menyadari satu hal. Devano sama sekali nggak punya perasaan romantis sama Palupi. Untuk apa Palupi menikah dengannya? Hidup akan lebih nyaman tanpa pernikahan seperti itu!"
Nah. Itu dia alasannya. Devano tampaknya bersiap cuek dan tak pernah memberikan perhatian yang layak. Dengan begini, mudah bagi Palupi menciptakan alasan nyata pada perubahan keputusannya yang mendadak.
"Kamu yakin? Sebelumnya kamu bilang meskipun seumur hidup Devano tak bisa mencintamu dengan layak, selama kamu bisa memilikinya, itu sudah cukup!" Rosalina jelas semakin tak mengerti dengan sikap putrinya.
"Bahkan kamu bilang meskipun Devano nggak pernah menyentuhmu sebagai seorang wanita, kamu nggak akan marah! Yang penting kamu bisa memiliki dan menikahinya. Karena jika kamu menikahinya, kesempatanmu untuk membuatnya luluh semakin terbuka lebar!" Papa menambahkan lagi kata-kata yang pernah Palupi sampaikan padanya.
"Kamu juga selalu mengusis setiap wanita yang mencoba mendekati Devano. Wanita terakhir yang mencoba mendekatinya, saat ini masih di rumah sakit karena patah tulang!" Rosalina masih menggali semua hal tentang Palupi dan Devano.
"Devano adalah teritorimu sendiri. Sumpahmu adalah menjadi pasangannya sehidup semati!"
Palupi terperangah. Sebelumnya dia yakin tubuh ini tak memiliki otak yang layak. Tapi sekarang, mendengar satu demi satu kegilaan yang pernah dia lakukan dari mulut Galuh dan Rosalina, Palupi mulai yakin jiwa sebelumnya adalah seorang psikopat.
Pantas saja dia mengisi jiwa tubuh ini. Mungkin jiwa sebelumnya terlalu rusak sehingga Tuhan telah mengambilnya kembali dan membenahi pikirannya yang tak layak.
"Apa … aku … seperti itu?" Palupi terlihat bergidik ngeri, tak lagi bisa membayangkan bagaimana bisa ia melakukan hal-hal seperti itu.
Obseso tubuh ini pada Devano sangat dalam. Hampir berada pada krisis kewarasan. Tak ada yang normal dari jiwa dan pikiran Palupi sebelumnya.
"Devano adalah satu-satunya orang yang kamu inginkan. Tanpanya, kamu lebih baik mati dan menjadi abu. Jadi, Sayang, katakan sebenarnya! Kenapa kamu berubah pikiran dan membuang pernikahan yang telah kamu impi-impikan?" Rosalina mendekat ke arah putrinya, menggenggam lengan mungilnya, dan menggosok punggung tangannya dengan lembut.
"Palupi mulai sadar. Tanpa cinta yang tulus, sebuah pernikahan tak akan memiliki arti!" Palupi berkata lugu, menatap manik mata Mama tanpa bisa dibantah.
"Jadi kamu nggak akan nikah sama Devano?" Papa kembali memastikan.
"Nggak!" Dengan tegas, Palupi menjawab pertanyaan Galuh.
"Kamu nggak akan nyesel?" Kali ini Rosalina yang ingin memastikan.
"Nggak!" Untuk apa nyesel? Itu hanya Devano, oke? Palupi masih heran dengan bagaimana orang tuanya menilai Devano terlalu tinggi.
"Kamu nggak akan melakukan hal-hal negatif hanya karena Devano lagi, 'kan?" Rosalina masih was-was.
"Nggak. Nggak. Nggak akan pernah!" Untuk apa Palupi merugikan diri karena laki-laki? Tubuh sebelumnya bisa saja gilà. Tapi Palupi tidak akan seperti itu. Mental dan psikisnya masih cukup sehat untuk dihancurkan oleh seorang Devano.
"Kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu? Ini adalah keputusan terakhir. Jika kamu yakin, Mama dan Papa akan bereskan semua kekacauan ini dan membatalkan secara resmi rencana pernikahan dengan keluarga Kagendra!" Galuh tak ingin membuat kesalahan. Dia menatap putrinya, melihat tekad yang besar di kedua bola matanya.
"Batalkan saja, Pa. Palupi masih akan baik-baik saja tanpa Devano!"
"Kamu yakin, Sayang?" Rosalina masih ragu-ragu.
Palupi menatap kedua orang tuanya, mulai bertanya-tanya apakah kedua orang ini punya masalah mental serupa. Apakah dia kurang tegas dalam memberikan pendapat? Palupi benar-benar tak menginginkan Devano. Dengan cara apa lagi mereka memahami ini?
"Bubarin pernikahan. Bubarin. Bubarin!" Palupi berkata kesal, sebelum akhirnya bangkit dan berjalan cepat ke kamarnya sendiri. Tampaknya dua sudah muak dengan bujukan kedua orang tuanya.
"Pa …." Rosalina meremàs-remàs kedua tangannya dengan linglung. "Sepertinya ada yang salah dengan otak anak kita!"
"Iya!" Galuh mendesah panjang. "Apa kita perlu menyewa psikiater?"
…