Kembali Pulang

1236 Words
Palupi kembali pulang ke rumah diantar oleh Samuel. Dia merasa seperti tawanan paling memalukan. Setelah siang tadi membuat keributan, sore ini dia kembali lagi ke tempat sumber masalah. Entah situasi apa yang akan Palupi hadapi nantinya. Paling baik, dia tidak dibantai oleh keluarganya sendiri. Paling buruk, dia akan dilemparkan dalam pernikahan lagi. Entah yang mana yang akan terjadi, Palupi merasa kedua opsi itu pasti mengerikan untuk dialami. Palupi mempertimbangkan untuk pergi ke tempat lain selama beberapa hari untuk menenangkan diri. Tapi dia ingat kata-kata Tante Renata. Mudah bagi keluarganya mencari informasi jejal Palupi saat ini. Jika dia tidak segera pulang, keluarga Ganendra pasti akan dicurigai menyembunyikan dirinya dan bentrok berdarah pasti akan terjadi. Bukannya Palupi tak bisa menghadapi bentrokan. Dia hanya muak terjebak di keluarga Ganendra. Sepertinya ada yang tidak beres dalam keluarga Ganendra. Istri Samuel sendiri mengirim suaminya pergi dengan Palupi, seolah-olah ini adalah tindakan normal. "Apa loe yakin mental istri loe sehat?" Palupi melirik Samuel, menatapnya curiga. "Hm?" Samuel memandang Palupi yang menunjukkan kebingungan. "Nggak ada istri normal yang akan melemparkan suaminya pada wanita lain dengan mudah. Gue curiga ada sesuatu yang salah dengan otaknya!" Samuel tersenyum kecil. Palupi ini … ternyata sangat blak-blakan. Menarik. Semakin menarik. "Kami menikah karena keluarga. Nggak ada perasaan khusus di antara kami!" Jangankan perasaan. Bahkan kehidupan pribadi hanya bisa dikatakan saling menjaga kesopanan satu sama lain. Masih lebih baik sekarang mereka bisa berkomunikasi normal. Di masa awal pernikahan, Samuel dan Caca bisa dikatakan saling perang dingin. "Lagu lama. Pernikahan politik dalam keluarga!" Palupi berdecih jijik. Ini jugalah yang terjadi pada Nehan Abimanyu, ayah Palupi sebenarnya. Dia menikahi Laras, karena kepentingan keluarga dan latar belakang Laras yang sempurna. Tapi setelah itu, dia memiliki beberapa istri siri untuk memenuhi kebutuhannya. Jani, ibu Palupi, adalah salah satu dari dua istri siri yang dinikahi Nehan. Jani mulai masuk ke dalam kediaman Nehan saat Palupi berusia tujuh tahun. Tidak mudah hidup menjadi anak tiri dari istri siri yang tinggal dalam satu wilayah kediaman dengan Nyonya utama. Akan selalu ada perbedaan, persaingan diam-diam, saling menjatuhkan, intrik, dan hal-hal lain sejenisnya. Total dari saudara saudari yang dimiliki Palupi dalam kehidupan sebelumnya berjumlah lima orang. Tiga orang adalah putra putri Nyonya Utama, dan dua orang lainnya dari Rida, istri siri Nehan Abimanyu yang kedua. Hanya Jani-lah yang tidak melahirkan keturunan Nehan. Itulah kenapa posisi Jani selalu tidak stabil dan mudah dijadikan bahan bully-an oleh orang lain. Palupi tidak tahu apakah harus bersyukur atau tidak dengan kenyataan ini. Tanpa adanya anak, setidaknya Palupi tak perlu khawatir adiknya akan hidup di tengah keluarga yang labil. Tapi tanpa anak, Jani dan Palupi tidak pernah mendapat dukungan nyata dari Nehan Abimanyu. Kediaman Nehan Abimanyu tak ubahnya harem dengam berbagai permasalahan intern yang tak kunjung pudar. Terlebih saat Jani meninggal beberapa waktu lalu. Palupi seolah kehilangan pegangan nyata dalam hidupnya. Dia terdampar di kediaman Nehan Abimamanyu, sebagai benalu yang tak banyak disukai. Mengejutkan rasanya mengingat Nehan Abimanyu masih tak membuangnya ke luar rumah. Hari-hari Palupi menjadi berantakan. Tanpa ibu dan tanpa kasih sayang dari orang-orang di sekeliling, tingkahnya semakin menjadi-jadi. Dia meraih rekor sebagai biang keributan utama di sekolah. Semua keluarga Nehan tak ada yang cukup peduli dengan perkembangan karakternya, sehingga sikap Palupi tak bisa dibendung begitu saja. Guru BP yang mengawasi kenakalan Palupi sudah lama angkat tangan. Dia menganggap Palupi sebagai cobaan paling besar dalam karirnya yang panjang. "Tapi keliatannya nyokap loe menganggap Caca sebagai menantu kesayangan!" Palupi teringat bagaimana lembut dan hati-hatinya Renata bersikap terhadap Caca. "Dia masih kerabat jauh nyokap!" Samuel menjawab rasa penasaran Palupi dengan santai. "Tapi akhir-akhir ini Caca berinisiatif meminta cerai. Jadi …." Kalimat Samuel sengaja dibiarkan menggantung, membiarkan Palupi menebak kelanjutannya. "Jadi dia memanfaatkan gue untuk ini? Dia sengaja mendorong kita, dan membuat kita terlihat ambigu satu sama lain, serta menciptakan kesempatan bersama!" Palupi menebak dengan akurat. Dia memukul keningnya sendiri, luar biasa kesal. Terlalu sembarangan. Di masa lalu, Palupi sering memanfaatkan orang lain untuk kepentingan tertentu. Sekarang, berani-beraninya Caca memanfaatkannya? Sementara Palupi dipenuhi amarah, Samuel justru tersenyum-senyum sendiri. Sebelumnya, ia tak pernah tahu putri emas keluarhaga Hadyan memiliki sikap blak-blakan dam terus terang. Selama ini rumor selalu mengatakan betapa terkendalinya Palupi, dan betapa angkuhnya ia dalam menjaga reputasi. Selain Devano, tidak ada yang bisa mengguncang emosinya. "Ngomong-ngomong tentang pernikahan, yakin loe nggak nyesel batalin semua ini?" Samuel mengingatkan. Masing-masing dari mereka tahu jika Palupi kembali ke rumah utama, masalah tentang pernikahan pasti akan kembali dibahas. Kali ini, pasti dengan kehebohan. Palupi merosot ke sandaran kuri mobil, mulai mempertimbangkan untuk pergi lagi. Tapi beberapa detik kemudian, dia menggelengkan kepala. Dia tak ingin bermain kucing-kucingan terlalu lama. Biar saja ia menghadapi apa yang ada. "Pernikahan bukan sesuatu yang cocok bagi gue!" Palupi bergidik ngeri. Hei. Dia jiwanya masih seorang anak SMA. Membayangkan dia hidup bersama dengan seorang laki-laki asing, satu kamar, melakukan kewajiban suami istri … membuat otak Palupi ingin meledak karena ngeri. Semua bayangan itu terlalu mengerikan. "Setelah pengejaran habis-habisan ke Devano, ini akhir yang loe mau?" Pemikiran wanita memang tak bisa diketahui. Hampir semua orang yang mengenal keuarga Hadyan, tahu bagaimana Palupi mengejar Devano dengan penuh obsesi. "Minat gue nggak lagi ke Devano!" Amit. Amit. Palupi bergidik ngeri. Dia nggak mungkin mengejar laki-laki seperti itu. Tubuh dan wajah yang Palupi gunakan saat ini bisa dikatakan nyaris sempurna, hanya saja dia tak menyangka otak wanita ini sebelumnya terlalu rusak. Mengejar-ngejar laki-laki? Hah! Jangan harap! Samuel berhenti di depan gerbang kediaman Hadyan. Palupi langsung turun ke bawah, melenggang santai ke sudut gerbang yang saat itu langsung terbuka otomatis. "Non!" Pak Jumari, sang satpam yang berusia setengah baya, terlihat lega dengan kedatangan palupi. "Akhirnya Non pulang juga. Masuk, Non!" Tangan Pak Jumari gemetar, mengarahkan Palupi ke dalam rumah. Dia takut jika tiba-tiba Palupi berbalik pergi lagi dan membuat keributan. "Papa ke mana?" tanya Palupi saat menyadari rumah utama sepi. Tak ada orang sama sekali, hanya ada Mbak Sari, sang asisten rumah tangga paling setia. Dekorasi pernikahan masih dibiarkan begitu saja di ruang tamu yang dijadikan satu dengan ruang tengah. Karangan bunga di mana-mana. Meja prasmanan masih berisi hidangan. Gelas-gelas kristal kecil berisi minuman soda tergeletak rapi di ujung ruangan. Singkat kata, ruangan ini masih tampak seperti ruangan resepsi, tanpa satu pun perbedaan. Hanya saja, tak ada tamu yang berlalu lalang. Palupi berdiri di salah satu meja prasmana, mengambil hidangan satu demi satu, dan memakannya dengan penuh semangat. "Tuan sedang mencari Non!" Pak Jumari mengambil ponsel di saku, menghubungi majikannya agar tak perlu lagi mencari Palupi. Toh orang yang dicari sudah pulang sendiri dengan keadaan sehat wal afiat. "Non! Itu sate, Non!" Mbak Sari mengingatkan Palupi yang sedang makan dengan rakus. Palupi menatap sate yang sedang ia makan, dan menatap Mbak Sari dengan pandangan aneh. Ini jelas sate. Kenapa harus dijelaskan ulang? "Non, itu tengkleng, Non!" Mbak Sari mulai khawatir. "Non, itu ice cream, Non!" Lagi-lagi setiap Palupi mengambil dan memakan sesuatu, Mbak Sari tampak syok dan mengingatkannya satu demi satu. "Non, itu—" "Ada apa sih? Kalau mau makan, makan aja, Mbak!" Palupi kesal. "Itu … Non kan diet ketat. Non pantang makan makanan berprotein tinggi. Non juga dalam sehari hanya makan nasi sekali. Nasi merah asli, bukan putih. Non lebih suka mengonsumsi jus dan sayuran. Jadi … itu yang baru saja Non makan semuanya pantangan, Non!" Mbak Sari bingung sendiri. Semua yang terjadi pada Palupi semakin aneh. Dia tiba-tiba meninggalkan pernikaham yang diidam-idamkan, pulang kembali tanpa rasa bersalah, dan sekarang … makana apa pun yang sebelumnya ia hindari. Ada apa dengan majikannya? …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD