Sepuluh hari telah berlalu. Palupi disibukkan dengan pekerjaan barunya sebagai CEO pengolahan sarang burung walet.
Jangan tanyakan bagaimana Palupi bisa menjalani hari demi hari. Akal sehatnya sudah mulai hilang setiap kali disuguhi berbagai laporam dan angka-angka asing. Masih lagi ada istilah-istilah yang hanya ia ketahui secara samar-samar.
Palupi sudah menuntut Papa untuk membebaskannya dari posisi CEO, tapi hingga detik ini, permintaan Palupi hanya dianggap sebagai angin lalu. Tidak ada yang mendengarkan permintannya, dia seperti anak yatim piatu yang dibiarkan tersesat di dunia asing tanpa pegangan.
Malam ini saat Palupi pulang dari kantor, mobilnya mengalami kemacetan. Pak Nadhir, sibuk mengotak-atik mesin mobil, berharap bisa diperbaiki sendiri tanpa harus memanggil pihak bengkel untuk reparasi.
Palupi yang suasana hatinya sudah memburuk akhir-akhir ini, memilih turun dari mobil untuk menghilangkan kepenatan.
"Pak. Saya cari angin dulu!" Palupi meninggalkan Pak Nadhir yang sibuk mengutik-utik mesin, menjelajah lingkungang sekelilingnya.
Wajah Palupi tertekan. Dia masih ingat diagram, tabel, perhitungan susut, buku besar keuangan, strategi pemasaran, dan topik-topik yang selalu dicekoki padanya oleh Salsa dan manager-manager padanya. Mengerikan. Semua itu membuat Palupi nyaris tak bisa menikmati makan siang dan makan malam dengan layak. Setiap kali makan, dia selalu teringat kata-kata Salsa. "Habis ini evaluasi kontrak lagi, Bu." atau, "Setelah ini, rapat dengan bagian gudang, Bu!" atau, "Setengah jam lagi, Manager Personalia ingin membahas tentang efektifitas karyawan dalam bekerja dan berniat melahirkan program prestasi bulanan!"
Semua itu membuat Palupi lelah secara fisik dan mental. Diam-diam Palupi kagum dengan daya tahan mentalnya yang masih bertahan hingga detik ini. Jika tetap berlanjut lebih lama lagi, mungkin Palupi akan meledak menjadi kepingan-kepingan kecil yang menyedihkan.
Palupi menatap langit malam, mengagumi bintang tsabit yang tergantung di langit. Pendar cahayanya dikalahkan oleh sinar lampu jalanan kota. Keindahannya ditutupi polutan kota.
Langkah-langkah Palupi semakin jauh, tanpa sadar berbelok ke kiri ke sebuah jalan alternatif yang lebih sempit dan sepi. Dulu, saat Palupi masih menjadi anak tiri di rumah besar Nehan Abimanyu, ada keterasingan yang ia miliki di hatinya terhadap lingkungan sekeliling. Seolah-olah identitasnya adalah sesuatu yang tidak seharusnya masuk ke dalam keluarga Nehan yang rumit. Ia hanya anak tiri, tanpa suara, tanpa nilai, bahkan tanpa harga.
Jadi alih-alih masuk beradaptasi dengan baik, Palupi lebih suka menyendiri, melewati celàh jecil di setiap keadaan, mengambil jalan yang tidak diambil oleh orang lain, dan melampiaskan dirinya dalam kenakalan-kenakalan remaja. Untuk apa? Mungkin untuk mencari identitas yang tak ia miliki.
Jalan-jalan kecil, lorong, ruangan kosong, dan hal-hal sejenisnya adalah apa yang Palupi sukai. Kesendirian. Ketenangan. Kesepian. Telah menjadi identitas yang melekat padanya. Karena itulah Palupi merasa nyaman saat ini ketika kakinya satu demi satu melangkah di sisi jalan kecil yang remang-remang.
Di ujung jalan, ada belokan lain. Palupi akan mengambil jalan yang lebih terang di sisi kiri saat dia mendengar ada yang tak beres di gang sebelah kanan. Gang ini lebih remang-remang, hanya mengandalkan satu lampu di ujung jalan yang pencahayaannya redup.
Sebuah Alphard hitam berhenti di sisi jalan, dikepung oleh tiga lelaki berpakaian hitam. Sekelompok lelaki ini menggedor-gedor jendela mobil, bahkan satu di antaranya seperti mengacung-acungkan benda tajam.
Palupi berdiri setengah menit tanpa bertindak sama sekali. Tampaknya orang di dalam mobil tidak berani keluar, melihat tak ada gerakan sama sekali di dalamnya.
Tak ada orang lain di sini selain dirinya. Bahkan jika pengemudi mobil berteriak heboh, satu-satunya yang hadir mungkin malaikat.
Kejahatan adalah sesuatu yang sering terjadi di mana pun, terutama ibu kota dengan tempat remang-remang. Ada jenis orang-orang yang hanya peduli pada ambisi sesaat, tanpa memperhatikan kerugian yang diderita orang lain. Mereka adalah golongan orang-orang egois tanpa hati nurani.
Alphard itu sempat berjalan ke depan, mencoba mengabaikan gerombolan lelaki yang menahannya. Tapi dua dari mereka menghalangi jalannya, dan satu lagi mencoba memecahkan kaca jendela pengemudi.
Palupi mendesah panjang sebelum akhirnya setengah berlari menuju Alphard itu. Di sudut-sudut jalan, sering kali terjadi kejahatan. Kali ini, Palupi tampaknya harus menyisingkan baju untuk ini. Sedikit merepotkan, tapi mau bagaimana lagi.
…
Devano duduk di mobil, memegangi kepalanya dengan satu tangan, menahan beban berat yang seperti menembus kepalanya. Keringat dingin mengalir di tengkuk, pelipis, dan punggung belakang. Pandangan Devano berputar-putar, seolah-olah objek vertikal menjadi horizontal, dan sebaliknya.
Devano tahu ia telah diikuti oleh tiga orang bermotor sejak ia pulang lembur dari kantornya. Sebenarnya bukan masalah bagi Devano untuk menyingkirkan orang-orang ini dalam keadaan normal. Sayangnya, vertigo Devano mulai kambuh dalam perjalanan.
Devano hanya bisa mengendarai mobil lebih cepat, menghindari mereka dengan mengambil belokan-belokan tajam, dan bersembunyi di gang kecil, berniat menunggu serangan vertigonya berlalu. Atau jika tidak, berniat menghubungi seseorang untuk membawanya keluar dari lokasi ini. Apa pun itu salah satu di antara keduanya.
Hanya saja, gerombolan orang itu berhasil menemukannya. Dan saat Devano bermaksud menghubungi seseorang untuk meminta bantuan, ia bahkan tidak bisa mengeporasikan ponselnya dengam normal. Vertigo ini telah membuat fokus dan konsentrasinya hilang. Ponsel di genggamannya hanya tampak sebagai sinar kekuning-kuningan, cahayanya menyakitkan mata.
Devano tampaknya terjebak di tempat ini. Beberapa kali dia mencoba menjalankan mobilnya, tetapi kepalanya semakin pusing, sehingga ia lebih memilih diam di tempat.
Devano tak tahu dari mana ketiga orang ini dikirim. Musuhnya ada banyak. Yang bersinggungan padanya juga bukan hanya satu atau dua orang. Masing-masing dari mereka memiliki kemungkinan untuk menyulitkan hidup Devano dan membetrinya satu dua pelajaran.
Bibir Devano pucat. Dia mulai merasa tubuhnya dilanda demam. Tampaknya dia akan berakhir di sini, di tangan tiga orang yang pastinya memiliki niat buruk. Devano hanya tidak tahu apakah gerombolan laki-laki ini hanya akan bermain kasar dengannya, atau berniat membungkamnya.
Saat Devano menatap samar-samar pada orang-orang yang mengganggunya dan bersiap menyerah, tiba-tiba sebuah bayangan samar datang mendekat, memberikan pukulan pada mereka satu per satu. Konsetrasi Devano sudah mulai hilang. Dia hanya melihat samar-samar satu orang melawan tiga orang, dengan kilasan-kilasan gerakan yang tak jelas dan berganti-ganti.
Devano berhasil menemukan obat di bagian dashboard mobil setelah meraba-raba dengan penuh perjuangan, kemudian menelannya tanpa air minum. Dari sejak dia berusia dua puluh satu tahun, Devano memiliki vertigo yang biasanya kumat. Akhir-akhir ini gejala tidak muncul selama berbulan-bulan. Dia tak menyangka saat itu muncul, adalah saat-saat ia rapuh dan situasinya kurang mendukung.
Mata Devano masih terpejam, mencoba menstabilkan kondisi tubuhnya. Saat ini dia lemah. Berharap entah bagaimana ada keajaiban yang berpihak padanya.
…