Jika ada sebuah kelebihan nyata yang mampu Palupi pamerkan dengan baik, itu adalah kekuatan fisiknya. Jadi, saat dia melihat tiga orang di depannya, dengan cepat Palupi segera melemparkan pukulan persis di bawah rahang dan mengejutkan mereka semua.
"Aaaakkkh! Apa-apaan ini!" Seorang lelaki dengan bekas luka gores di wajahnya berteriak kesakitan saat tiba-tiba merasakan rahangnya dipukul tanpa aba-aba.
"Heh! Berani ikut campur loe?!" Laki-laki lain dengan tato ular di lehernya, menunjuk ke arah Palupi tak terima.
"Kayaknya ada yang mau main-main sama kita, nih! Jabanin aja, Bang! Wajahnya boleh juga. Kita bisa senang-senang habis ini!" Laki-laki terakhir, yang paling pendek dan memakai tindik anting-anting bundar seperti preman, menatap Palupi dengan keserakahan di matanya. Tinjunya terkepal, tapi mulutnya meneteskan air liur. Jangan tanyakan lagi fantasi jenis apa yang ada dalam otak laki-laki itu. Palupi sudah muak hanya dengan melihat penampilannya.
Palupi mmbuat perhitungan dalam hati, kemudian mengambil tindakan lagi. "Pengganggu seperti kalian harus diberi pelajaran!" Pukulan lain langsung dilayangkan pada laki-laku bertato, persis di bagian ulu hati.
Tak menyangka akan dipukul tiba-tiba, laki-laki itu mundur beberapa langkah, memegangi dadanya dan menatap Palupi tak terima. Tampaknya wanita di depannya ini lembut dan menawan. Ditambah lagi rok kantornya menunjukkan ia adalah pegawai kantoran yang tak berpengalaman dengan hal-hal yang keras. Tapi pukulan yang dilayangkannya sangat bertenaga. Laki-laki bertato ini merasa terdistorsi, napasnya sedikit sesak.
Lelaki bertindik maju ke arah Palupi, melayangkan pukulan balasan. Belum sempat pukulan itu diberikan, Palupi meraih tangan kirinya, memelintir ke depan, dan menyikut bagian rahang bawahnya dengan segera.
"Aaaakkkhhhh!" Teriakan kesakitan segera terdengar. Palupi merinding, tak terlalu menyukai teriakan laki-laki ini yang terdengar seperti kucing disembelih.
Laki-laki dengan bekas luka mengarahkan senjata tajamnya ke arah Palupi, sengaja berniat menusuknya di bagian perut. Palupi segera menendang tangan penyerang, dan menarik kaki laki-laki itu sehingga si penyerang kehilangan keseimbangan. Saat dia sibuk mengatasi ini, sebuah pukulan ia terima di bagian belakang telinganya. Palupi masih berusaha menghindari sebelumnya, tetapi gerakannya kurang cepat. Kepalanya terasa berdentam dan berat, pusing luar biasa.
Memanfaatkan kondisi Palupi yang lemah, laki-laki dengan bekas luka bangkit segera, menendang Palupi persis di bagian d**a. Tangan Palupi menangkis, bertindak dengan fleksibel. Serangan lain datang dari arah kiri, dan segera ditangkis juga olehnya.
Saat salah satu dari mereka lengah, Palupi melayangkan pukulan persis di hidung, membuat laki-laki bertato mengeluarkan darah dan menghasilkan suara kertakan samar. Hidung adalah bagian yang lemah dan tulangnya mudah terluka. Bagian itu termasuk bagian vital yang mudah diserang. Setelah menyerang laki-laki bertato, Palupi berbalik ke sisi kiri, menendang persis di tempat kemaluan. Suara teriakan kembali terdengar. Palupi berdecih kecil. Mereka hanya punya kemampuan ini. Berani-beraninya mereka membuat kekacauan di gang kecil? Yang benar saja.
Rasa sakit menyerang Palupi dengan tiba-tiba. Tangan kirinya tergores pisau, bersamaan dengan teriakan kemenangan laki-laki yang memiliki bekas luka. Palupi membungkuk cepat, meraih tangan penyerang, memelintirnya, dan membantingnya dengan suara boom.
Pukulan lain segera diterima Palupi dari laki-laki bertato yang hidungnya masih mengeluarkan darah. Lagi-lagi Palupi kecolongan. Dia segera membalikkan serangan, melalui tangan dan kakinya.
Tendangan, pukulan, bantingan, tangkisan, saling beradu satu sama lain. Palupi menghabiskan waktu cukup lama melawan mereka, hingga akhirnya ia meyadari staminanya melemah. Tubuh ini bukan tubuh sebenarnya. Tidak terlalu lemah, tapi yang jelas tidak memiliki ketahanan yang cukup dan gerakannya tersentak-sentak. Jika tetap dilanjutkan, Palupi khawatir ia akan menjadi pihak yang dirugikan.
Saat gerakannya mulai tak konsisten, Palupi meraih papan panjang di sisi jalan yang kebetulan ia temukan, dan memukuli tiga orang lawannya sepenuh tenaga.
"Aaakkkhhh! Jangan! Tolong! Maaf, Mbak! Ma-maaf! Kita minta … aaakkkhh!"
"Ampun, Mbak. Ampun! Ampun!"
"Sssshhh. Sudah. Sudah."
Ketahanan Palupi melemah. Ketahanan mereka lebih melemah lagi. Senjata tajam yang tadinya digunakan oleh laki-laki dengan bekas luka, kini telah berada di tangan Palupi. Sementara tangan lainnya yang bebas, menegangi papan dan memukuli mereka semaunya sendiri.
Palupi tidak peduli dengan permohonan mereka. Enak saja mereka minta maaf. Memangnya hanya dengan maaf semuanya selesai?
Bug. Bug. Bug.
"Ini buat tindakan loe-loe semua yang bajìngan!"
Bug. Bug. Bug.
"Ini buat pikiran kotor loe-loe semua!"
Bug. Bug. Bug.
"Ini buat kalian yang bikin gue kesel!"
Palupi terengah-engah. Dia menatap tiga orang di depannya yang seperti babì, kacau dari pakaian hingga ujung celana. Jangan tanyakan wajah mereka seperti apa. Bengkak dan tampak menyedihkan.
"Pergi!" Palupi bersandar di bagian depan mobil, menatap mereka dengan pandangan mengejek.
"Jangan bikin gue mengulangi kata-kata lagi! Pergi!"
"Baik, baik!"
"Terimakasih, Mbak!"
"Punten, Mbak! Punten!"
Tiga orang merangkak dengan menyedihkan, terhuyung-huyung, dan pergi tanpa harga diri tersiksa. Malam ini mereka mendapat pelajaran berharga. Orang cantik dan tampak lemah, ternyata mampu membuat mereka kacau balau seperti ini.
Setelah mereka pergi, Palupi menghabiskan waktu dua menit lebih untuk menenangkan diri, mengembalikan sisa-sisa stamina miliknya, dan mengumpulkan tenaga yang menipis. Dia melirik luka-luka di tubuhnya, beberapa goresan tampak berdaràh. Palupi mengalahkan mereka bertiga bukan tanpa pengorbanan. Dia hampir sama kacaunya dengan para pengganggu itu. Bedanya, staminanya bisa bertahan lebih lama. Beruntung tadi hanya tiga orang. Jika jumlah mereka lebih dari itu, Palupi yakin ia yang akan terkapar di bawah dan diinjak-injak hingga hancur.
Beruntung Palupi memiliki skill karate sebelumnya. Setidaknya meskipun tubuh ini rata-rata dalam hal kekuatan, tapi Palupi mampu bermain beberapa teknik tertentu. Jika Palupi ingin meningkatkan kekuatan, sepertinya mulai sekarang ia harus berlatih lagi.
"Kamu baik-baik saja?" Sebuah suara yang sangat familier menyapa pendengarannya.
Palupi berbalik ke belakang, menatap Devano yang tampak terhuyung-huyung keluar dari pintu mobil kemudi dengan memegangi kepalanya.
Palupi menatap sosok di depannya dengan bodòh.
Devano menatap sosok di depannya dengan tak percaya. Vertigonya sudah mulai lebih baik, tapi ia masih tak yakin dengan matanya sendiri. Setelah ia berkedip beberapa kali dan meyakinkan dirinya sendiri, Devano menyebut Palupi dengan suara lirih.
"Palupi?"
Masih linglung, Palupi hanya bisa menatap Devano.
"Palupi?" Devano menggosok kepalanya lumayan keras. Mungkinkah vertigo bisa menciptakan halusinasi sesudahnya?
"Devano!" Palupi menggemeretakkan giginya dengan keras. Dia melawan tiga orang, menghabiskan kekuatan dan tenaganya mati-matian hingga terluka … hanya untuk Devano?
Palupi rasanya ingin menghajar laki-laki itu dengan emosi.
Ya Tuhan. Dia telah menyia-nyiakan tenaganya yang terbatas hanya demi laki-laki dingin tak berperasaan seperti Devano? Di mana keadilan dunia ini?
"Loe barusan bantuin gue?" Devano masih enggan percaya wanita inilah yang menghajar gerombolan para pengganggu. Tapi, melihat betapa berantakannya Palupi sekarang dengan semua luka dan memar berdaràh, tampaknya kebenarannya jelas di depan mata.
Palupi berjalan enggan ke arah Devano, kemudian mendorong Devano masuk kembali ke dalam mobil.
"Masuk! Anterin gue pulang!" Palupi berkata kesal. Mobil Palupi sepertinya masih belum berhasil diperbaiki. Palupi tak ingin repot-repot menunggu si sopir dan memilih sumber daya yang ada. Saat ini Devano dan mobilnya ada di depan mata. Kenapa tidak ia manfaatkan saja?
"Gue barusan terserang vertigo. Belum berani bawa mobil!" Devano berkata sedikit malu, mengusap kepalanya lagi.
"Kalau gitu, biar gue yang bawa!" Palupi berkata sedikit tergesa-gesa, tak nyaman dengan luka-luka baru yang ia derita. Dulu, luka-luka ini bukan apa-apa. Tetapi entah kenapa, tubuh ini tampaknya jarang terluka sehingga satu goresan kecil saja rasanya membuat Palupi tak nyaman. Sangat tak nyaman.
"Loe perlu ke klinik!" Dengan hati-hati, Devano mengamati keadaan Palupi lebih seksama. Kepala Devano tidak lagi seberat sebelumnya, dia bisa menangkap banyak hal dengan lebih baik.
"Diam!" Palupi terdengar semakin kesal.
Devano hanya bisa mendesah samar. Ini termasuk percakapan terpanjangnya sejauh menyangkut dengan wanita, tetapi Palupi segera menghentikan saran Devano seolah-olah ia terganggu. Benarkah wanita itu sudah kehilangan minat pada dirinya?
…