#CH-Terbit

2086 Words
Sudah hampir 2 minggu proses akhir untuk karya Mentari Senja, karya mereka sudah di proses oleh penerbit dan sedang ditindaklanjuti oleh editor. Mentari yang tidak punya kerjaan lain, selain hanya duduk di depan laptopnya, bermain dengan anak, atau hanya beberes rumah. Selalu tidak sabar menanti kabar dari editor. Mentari menunggu dengan harap cemas, waktu yang diminta editor untuk Mentari Senja melakukan revisi untuk karyanya. Mentari juga semakin giat untuk mencari ide di setiap kalimat, kalau-kalau editor memberikan perintah untuk memperpanjang jalan ceritanya. Mentari hampir tidak pernah meninggalkan laptopnya untuk waktu yang lama. Waktu Mentari ada di depan laptop sudah setara dengan pegawai kantoran yang mendapat jatah lemburan. Mentari merasa bahwa karya ini adalah penentuannya untuk menganggap bahwa menulis memang worth it untuk dijadikan pekerjaan utama. Setidaknya Mentari tidak perlu bingung lagi dengan pendapatannya. Dengan karya dari Mentari Senja, Mentari masih bisa menghitung dengan jelas nominal royalti yang akan diterima setiap akhir bulan. Jadi, Mentari tidak merasa cemas dengan pemasukannya. Mungkin, nanti setelah karya ini berjalan dengan lancar, dan semuanya sudah beres, Mentari juga sudah mendapat angka pasti tentang royaltinya. Mentari baru akan menghitung dan memperkirakan kalau angka-angka itu masih masuk akal untuk menghidupinya atau tidak. Mentari memang berharap kalau angka-angka itu masih masuk, sehingga ia tidak perlu repot lagi mencari pemasukan lain. Tapi, kalau tidak, Mentari juga masih merasa mampu dan harus merasa kalau dirinya bisa menemukan sumber pemasukan baru yang cukup untuk menambah pemasukan bagi dirinya. Semalam, Mentari mendapat telepon dari Ayah anaknya. Ayah anaknya merasa rindu dengan sang anak. Mentari yang mendengar hal itu, seolah tidak percaya. Bagaimana bisa seorang Ayah mengatakan bahwa ia rindu anaknya, tapi tidak mengusahakan apapun. Tidak mengajak bertemu, tidak berusaha untuk melakukan kunjungan, bahkan juga tidak memberikan support dalam bentuk apapun lagi. Mentari hanya tertawa ketika laki-laki itu, mengucapkan kata rindu dan kata sayang untuk anaknya. Semua ucapan rindu dari laki-laki itu, hanya Mentari balas dengan kata-kata yang berusaha menyadarkannya dengan realita yang ada. “Kata-kata kamu itu, udah nggak pantes kamu ucapin lagi. Kamu pikir, anak ini cuma butuh kata-kata sayang dari kamu. Nggak, anak ini juga butuh makan, butuh biaya untuk hidup.” Begitu kata Mentari kepada Ayah dari Anaknya. Ayah dari anak itu hanya bilang pada Mentari bahwa ia tidak punya maksud untuk menelantarkan Mentari dan anaknya. “Aku di sini lagi usaha, aku berjuang yang terbaik buat anak itu. Kamu yang cuma mandang orang sebelah mata, nggak pernah coba buka pemikiran kamu jadi lebih luas. Kamu tuh ga pernah ngehargain aku sebagai anak itu, Tar.” Dengan nada suara yang lebih keras dari biasanya, Lelaki itu mencoba untuk membela harga dirinya, mencoba untuk membuktikan pada Mentari bahwa dirinya masih bisa jauh lebih baik, ia tidak mau dipandang sebelah mata atau bahkan dipandang sebagai pecundang oleh Mentari. Mentari yang sudah tidak mau memperpanjang perdebatan itu, memilih untuk mengakhiri telepon itu. Tidak ada gunanya, tidak ada gunanya bagi Mentari untuk mencoba membangun hubungan baik dari anak ini. Lelaki itu masih saja mencoba untuk menyanjung dirinya, masih tidak ingin untuk mengakui kesalahannya yang sudah terpampang di depan mata. Mentari hanya mendoakan agar lelaki itu tetap berusaha untuk menjadi lebih baik bagi orang lain, karena di mata Mentari, lelaki itu tetap jadi sosok yang pecundang. Seperti biasa, setelah Lelaki itu mencoba menghubungi Mentari dan setelah selesai berdebat dengan Mentari, Mentari pasti akan langsung menangis, menangisi keadaan dirinya yang seperti ini. Hidup hanya dengan anaknya, berusaha untuk mencari uang sebanyak-banyaknya agar ia dan anaknya bisa hidup jauh lebih layak. Mentari juga menangisi dirinya yang pernah merasakan cinta begitu hebat kepada Lelaki itu. Mentari yang masih dibutakan cinta, akhirnya juga memilih untuk menuruti semua perkataan Lelaki itu, hasilnya, sekarang, Mentari justru malah ditinggal dengan satu orang anak. Lelaki itu, enggan untuk ikut serta mengurus anak ini. Mentari yang sudah rela hidup jauh dari keluarga, sekarang malah terlihat seperti anak yang tidak tau dimana rimbanya. Mentari hanya mampu berusaha untuk tetap hidup. Pekerjaan yang ia jalani memang bermacam-macam, tapi menulis adalah satu-satunya pekerjaan yang sangat ia nikmati prosesnya. Mentari juga selalu senang menanggapi respon dari berbagai pembacanya. Mentari merasa, respon yang diberikan respon yang diberikan pembacanya sudah seperti vitamin bagi dirinya membuatnya menjadi lebih sehat dan lebih bahagia. Mentari selalu berusaha untuk menjalin hubungan yang hangat dengan pembacanya. Sudah puluhan kali, Mentari mengadakan acara pertemuan dengan pembacanya dan hampir di tiap acara yang ia buat, jumlah pesertanya selalu bertambah, belum mencapai ratusan atau bahkan ribuan, tapi untuk Mentari, jumlah pesertanya sudah lebih dari cukup, mengingat, orang-orang yang hadir di acara itu sudah pasti sangat ingin bertemu dengan dirinya, atau bahkan adalah fans setia dari Mentari Senja. Karena sifat Mentari inilah, Mentari dapat memudahkan proses promosi untuk penerbitan karyanya. Dari respon yang Mentari terima, pembacanya masih menyambut tentang proses karya Mentari Senja yang sudah masuk dalam tahap editor. Tentu saja, Mentari ingin mengumumkan kabar bahagia ini kepada pembacanya. Dengan itu juga, Mentari ingin bahwa pembacanya tidak hanya sekedar merasa bahagia, tapi juga ikut berkontribusi untuk karya ini dengan membelinya secara legal. Editor sudah menyerahkan naskah itu kepada Mentari untuk segera dilakukan revisi. Mentari harus langsung memutar otak. Editor itu, memberi cukup banyak tanda agar itu di revisi. Mentari tidak menduga bahwa yang di revisi ternyata akan cukup mengubah banyak hal. Mentari harus berdiskusi dengan Raina. Raina yang waktu itu sedang bermesraan dengan pacarnya, hanya meng-iya-kan saja semua omongan Mentari, kata Raina, ia adalah karyawan di sini, jadi, ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam pengambilan keputusan yang sangat penting ini. Raina lebih aman jadi pegawai saja, katanya begitu. Mentari yang enggan menanggapi balik ucapan Raina itu, hanya memilih untuk pasrah dan tidak ingin berdebat dengan Raina. Yang terpenting, Raina harus mampu untuk bekerja lebih keras dan lebih serius. Waktu yang diberikan oleh auditor cukup mepet dengan waktu yang seharusnya jadi jeda bagi penulis untuk merevisi tulisannya. Mentari mau tidak mau bekerja dua kali lebih keras dari yang sebelumnya. Butuh pertimbangan yang lebih banyak dengan waktu yang sedikit. Sudah tidak terhitung waktu jam makan siang yang telah Mentari lewati, Mentari hanya fokus untuk menulis dan merawat anaknya, semua ini ia lakukan demi terciptanya sebuah karya terbaik dari dirinya. Hanya dengan waktu beberapa hari saja, Mentari bisa langung mendapat kesempatan, bahwa novelnya sudah siap untuk terbit. Mentari tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur atas segala hal yang terjadi pada dirinya. Mentari yang harus membaca puluhan bahkan ratusan kali naskahnya sendiri, kadang menjadi semakin ragu dengan karya yang sudah ia tulis. Seperti banyak kalimat yang tidak tepat, banyak hal yang justru terlihat tidak masuk akal atau bahkan Mentari jadi merasa bahwa ceritanya kali ini, jadi tidak layak untuk diterbitkan. Mentari pernah bilang tentang hal ini kepada Raina, saat mereka sedang berdiskusi malam untuk kepentingan cerita, tapi, ya tentu hal yang wajar kalau niat murni untuk diskusi terkait satu hal, akan didiskusikan juga hal-hal lain yang tidak terlalu mendesak. Gue nggak jadi nggak yakin nih. Kata Mentari waktu itu. Nggak yakin, gimana sih. Kata Raina. Ya nggak yakin aja buat nerbitin karya ini. Kata Mentari. Jangan ngaco deh, Tar. Lo udah gila banget kalo sampe ngga jadi nerbitin karya ini Cuma karena lo ragu. Gue udah ngerelain jam tidur gue, Tar. Udah deh tar, nggak usah cape-cape mikir, kita sama-sama butuh duit. Dengan cara ini nih, nerbitin karya itu, jadi satu-satunya jalan biar kita bisa dapet duit tambahan. Lagian, karya ini tuh bakal jadi best seller, Tar. Udah deh, lo tenang aja. Kata Raina, mencoba menenangkan Mentari. Kalimat Raina memang bertujuan untuk menenangkan meskipun isi kalimatnya masih menyanjung dirinya dan menempatkan seolah hanya dirinya yang berkorban agar karya ini terbit. Lumayan, kalimat yang diucapkan oleh Raina, mampu membuat Mentari tersadar dan tetap yakin pada karya yang ia hasilkan. ------- Mentari sedang asyik bermain dengan anaknya ketika ia menerima notifikasi email dari editor. Dalam email yang dikirimkan, editornya menyebutkan bahwa karya Mentari Senja akan segera diterbitkan. Mentari juga mendapat informasi terkait dengan kontrak penerbitan karyanya, termasuk didalamnya terkait dengan promosi dan sebagainya. Mentari hanya bisa mengucap rasa syukur karena karyanya akan segera terbit dan ada di toko buku. Raina masih berkutat dengan kerjaannya ketika Rafli, kekasihnya. Memberi informasi kalau Karya Mentari Senja akan segera diterbitkan. Rafli mengucapkan selamat atas kerja keras yang telah dilakukan oleh Raina kemarin-kemarin. Raina yang mendengar info yang Rafli sampaikan sangat berbahagia kerja keras yang Raina lakukan untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Mentari. Raina juga menanyakan berapa uang yang sekiranya akan Raina terima. Rafli yang mendengar pertanyaan Raina, hanya tertawa. Belum juga terbit, udah nanyain uangnya aja. Kamu harusnya promosi dulu, biar buku kamu banyak yang beli. Nanti, baru deh, royalti kamu kan juga nanti bakal diturunin. Kata Rafli. IH, itu mah harusnya udah tugas kamu, sayang. Kamu harus bikin Mentari Senja tuh jadi buku yang paling dicari-cari di semua toko buku. Aku tinggal duduk manis aja deh, nunggu hasil kamu kerja, jadi, aku bisa dapet uang banyak juga, karena kamu. Gitu Sayang, kalo kamu mau bantuin aku. Harus ikhlas, harus totalitas. Kata Raina. Rafli yang mendengarnya hanya mengiyakan, seperti biasa, semua keinginan Raina memang harus dipenuhi agar Raina tidak bertingkah macam-macam, atau bahkan Raina sampai ngambek dan tidak mau berbicara dengan Rafli. Rafli sangat menghindari hal itu terjadi, tentu saja, kehilangan Raina adalah hal yang sangat buruk bagi dirinya. Setelah Rafli memberi info kepada Raina, tentu saja Raina, ingin langsung meneruskan kabar itu kepada Mentari. Raina baru saja membuka ruang chat antara dirinya dan Mentari, pesan dari Mentari masuk ke hp-nya. Mentari yang memberi kabar terlebih dahulu kepada Raina bahwa karya Mentari Senja sudah masuk ke penerbit. Mentari memberi informasi itu dengan pesan suara dan terdengar jelas nada suara Mentari yang sangat berbahagia. Raina yang mendengar voice note dari Mentari juga bersorak di kantornya. Ruangan kantor tempatnya bekerja sedang sepi, Raina yang berteriak itu langsung jadi sorotan orang-orang yang ada di sekitarnya. Beberapa temannya juga langsung menghampiri Raina, menanyakan apa yang terjadi samapi membuat Raina sangat senang itu. Temannya bahkan menebak kalau Raina akan melangsungkan pernikahan dengan Rafli. Beberapa yang lain bahkan menebak kalau Raina baru saja mendapat keuntungan bisnisnya sampai miliaran. Bahkan, ada yang menebak kalau Raina sudah mendapat keuntungan dari koin crypto. Raina hanya tertawa mendengar semua tebakan dari teman-temannya. Raina tidak memberikan jawaban alasan mengapa ia tiba-tiba saja berteriak kesenangan. Pekerjaan sampingan Raina memang bisa dibangga-bangggakan, bisa dipamerkan, tapi tidak bisa dijelaskan. Teman-teman kantor Raina yang tidak mendapat jawaban atas senangnya Raina sore hari itu, akhirnya hanya menyampaikan pesan kepada Raina untuk memberi mereka traktiran sekedar minum-minum kopi saja sih, cukup. Raina yang mendengar pesan itu hanya mengacungkan jempol. Raina menyetujui permintaan teman-temannya untuk memberi mereka minuman gratis, nanti. Tentu saja, itu kan memang tujuan Raina. Raina memang memperjuangkan pekerjaan sampingannya ini agar ia tetap bisa menjalankan kehidupannya yang sangat sibuk, sibuk untuk bersenang-senang pastinya. Setelah kabar penerbitan karya Mentari Senja itu, Mentari dan Raina sudah sedikit tenang, setidaknya mereka hanya tinggal menunggu kerja ‘orang dalam’ dan tentu yang sangat penting adalah, kemauan para pembacanya untuk membeli buku Mentari Senja di toko buku, hal ini bertujuan agar ‘orang dalam’ mereka bisa sangat mudah untuk membuat Mentari Senja lebih naik lagi di pasaran. Rafli masih ingat bagaimana ia dihadapkan oleh pekerjaannya yang sangat banyak, belum lagi, ia harus mengusahakan agar Mentari Senja bisa lebih laku di pasaran. Rafli tidak ingin mengecewakan Raina, tapi Rafli tahu bahwa ia bisa melakukan itu, dengan waktu yang lebih lama, tidak secepat waktu yang diminta oleh Raina. Rafli masih harus memutar otaknya untuk bisa bernegosiasi dengan pihak-pihak terkait. Tentu saja, Rafli selalu mengusahakan agar Raina mendapatkan semua hal yang dia inginkan. Rafli juga harus menenangkan Raina agar tidak terlalu membebani pikirannya tentang karyanya yang pada saat itu masih belum juga naik ke penerbit. Rafli bilang bahwa Raina masih harus terus berusaha agar karya itu bisa dibaca oleh lebih banyak orang. Setelah buku itu naik ke penerbit, Raina juga terus menerus bertanya kepada Rafli, kapan karya Mentari Senja bisa secepatnya ada di rak best-seller. Rafli juga sebenarnya sedikit bingung kenapa Raina terus menerus menanyakan tentang bukunya yang masih belum juga ada di rak best-seller. Raina kan tidak bisa pamer dengan itu, apa yang sebenarnya dicari oleh Raina. Bahkan, nama Raina juga tidak ada dalam buku itu sebagai penulis. Hanya ada satu nama penulis yang tertera di buku itu, nama ‘Mentari senja’, meskipun Raina bekerja keras, tapi itukan sudah menjadi resikonya bahwa Namanya memang tidak tertera di buku. Tapi, Rafli tidak ingin mengatakan itu kepada Raina, Rafli tidak ingin menyakiti hati Raina karena ucapannya yang seharusnya masih bisa diatur. Rafli juga tidak ingin Raina turun semangat untuk menulis kalau ia mengucapkan itu. Rafli tetap ingin Raina untuk menjalani semua hal yang disenanginya dengan setulus hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD