#CH-Proses

2050 Words
Raina yang masih teringat dengan kejadian tadi, merasa sangat senang. Raina sangat mengharapkan bantuan dari Rafli, berjalan dengan lancar. Rafli adalah pacar yang selalu bisa diandalkan, Raina yakin itu. Rafli juga karyawan yang cukup teladan di kantornya, tidak pernah terkenal karena kenakalannya. Raina yakin, dengan cara apapun yang akan Rafli jalankan pasti akan berjalan mulus dan tidak dicurigai oleh siapapun. Rafli pasti juga tidak akan mengecewakan Raina, Raina yakin itu. Di Tempat kerjanya, Rafli sedang memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk membuat karya Raina dan Mentari kembali naik. Rafli harus berkolaborasi dengan banyak pihak mengenai hal ini. Satu keuntungan untuk Rafli adalah Rafli tidak pernah melakukan kesalahan berat atau apapun itu, sehingga ia masih dapat kepercayaan dari bos-bosnya. Rafli harus menyusun strategi yang tepat, agar ia tidak mengecewakan Raina. Dengan pernyataan kesanggupan Rafli yang akan membantu Raina dan Mentari. Mentari dan Raina sepakat untuk memulai diskusi, mengenai karyanya. Mentari mulai bersemangat kembali untuk menciptakan karya terbaik yang ia bisa. Mentari melirik kearah anaknya, sudah cukup bagi Mentari ada di rumah dan tetap berada dekat dengan anaknya. Mentari masih memikirkan apa yang sebaiknya ia tulis dalam karyanya kali ini. Kerja samanya dengan Raina, tidak bisa dibilang mudah, tapi juga tidak terlalu sesulit itu. Mentari harus memberikan premis dari ceritanya terlebih dahulu kepada Raina, agar Raina mengerti bahwa tujuan cerita ini arahnya sudah ditentukan. Setelah itu, Mentari akan memberikan outline yang harus dikerjakan oleh Raina, berhubung ini adalah projek yang diminta dalam waktu dekat, ralat, projek yang harus dikerjakan dalam waktu dekat, Mentari harus cepat-cepat memberi target penulisan kepada Raina. Tadi, Mentari mendapat telepon dari Raina yang mengatakan bahwa Rafli menyarankan agar Mentari dan Raina mempublikasikan karyanya melalui media sosial terlebih dahulu. Dengan itu, Rafli akan membuat karya Mentari dan Raina telah dibaca ratusan ribu atau bahkan jutaan kali di platform itu. Selanjutnya, Rafli baru bisa mencetak karya Mentari dan Raina menjadi buku yang bisa didapatkan di toko buku. Buku Mentari dan Raina, pasti akan dengan mudah masuk barisan best seller. Raina yang mendengar kekasihnya berbicara seperti itu, hanya mengiyakan, Raina tidak terlalu mengerti dengan maksud Rafli sebenarnya, oleh karena itu, Raina langsung menghubungi Mentari untuk menanyakan persetujuannya. Raina sih pasti nurut saja apa yang menjadi kebijakan Mentari. Yang terpenting bagi Raina, karya Mentari bisa masuk dalam kategori buku paling laris dengan penjualan yang sangat banyak. Karena dengan itu, Raina bisa dapat lebih banyak uang. Itu saja tujuan inti dari Raina. Mentari mulai menyesuaikan waktunya, waktu untuk mengurus anak, bermain dengan anaknya, dan di sela-sela anaknya tidur, Mentari pasti akan langsung menulis. Tidak jarang Mentari tidak tidur demi mengejar deadline tulisan. Di tengah malam pun, Mentari masih berdiskusi dengan Raina, mendiskusikan bagaimana seharusnya cerita ini berjalan. Mentari tidak ingin terlalu muluk-muluk dengan karyanya kali ini, Mentari hanya ingin penggemar setianya masih ingin membaca ceritanya di platform lamanya, Mentari juga harus kejar target, agar ‘orang dalam’ yang dimaksud oleh Raina waktu itu, bisa dengan sungguh-sungguh mengerjakannya dan tidak akan lupa dengan omongannya. Banyak drama untuk mengerjakan projek yang serba dadakan ini, Mentari jadi terlalu bingung untuk menentukan garis besar di ceritanya. Mentari yang bingung juga membuat Raina bingung. Raina yang juga terlalu banyak komentar akibat bingungnya Mentari, juga tidak membantu. Raina hanya menghubungi Mentari berkali-kali kalau ia tengah dilanda bingung atas kelanjutan cerita yang seharusnya ia tulis. Mentari yang terlalu banyak pikiran, akhirnya juga tidak bisa maksimal dalam pekerjaannya. Sudah 3 minggu, projek antara Raina dan Mentari ini berjalan, jumlah pembaca cerita Mentari Senja sudah mulai kembali seperti dulu. Angkanya masih belum terlalu signifikan, tapi sudah cukup untuk mereka berdua sebagai bahan bakar agar mereka berdua tetap semangat untuk melahirkan bab-bab baru dari ceritanya. Tentu saja, Bab yang diangkat Mentari ke akunnya, bukan cerita keseluruhan, tidak akan juga Mentari menyebarkan cerita keseluruhannya kepada pembaca di media social. Rafli juga hanya menargetkan mereka mendapat satu juta pembaca, dengan modal itu, cerita Mentari Senja, akan dengan mudah diajukan untuk diterbitkan tanpa melalui proses apa pun yang memperumit keduanya. Perlu banyak cangkir kopi, teh, serta cemilan lain untuk menghasilkan satu karya yang utuh. Sudah tidak terhitung berapa gelas kopi yang sudah Mentari konsumsi untuk hari ini. Mentari sengaja melanjutkan ceritanya dalam satu waktu, nanggung, feel-nya lagi ada. Anak Mentari juga tenang-tenang saja saat Mentari harus duduk berjam-jam di kursinya, mengetik satu demi satu kata yang nantinya akan menjadi satu cerita. Mentari tetap menempatkan anaknya berdekatan dengan meja kerjanya. Hanya itu satu-satunya cara agar Anaknya tidak menangis karena ‘kehilangan ibunya.’ Mentari juga masih harus membereskan rumah setiap pagi, Mentari masih merasa mampu untuk membereskan rumah ini hanya dengan kedua tangannya. Rumah Mentari hanya diisi oleh ia dan anaknya, anaknya juga masih terlalu kecil untuk membuat rumah ini berantakan. Jadi, Mentari masih tidak perlu untuk memanggil asisten rumah tangga. Anak Mentari juga tidak dititipkan di daycare, Mentari masih merasa mampu. Meskipun kadang, Mentari harus merelakan jam tidur malamnya, saat waktu siangnya ia gunakan untuk bermain dengan anaknya. Raina juga masih mengerjakan pekerjaannya dengan lancar. Raina mulai tidak terlalu banyak berkomentar setelah mereka jalan menjelang minggu ke empat ini. Raina malah terlihat bersemangat dengan isi cerita yang ia tuliskan. Mentari mengakui bahwa Raina semakin terlihat membaik dari segi penulisan cerita dan isi cerita. Mentari jadi tidak perlu banyak revisi atas pekerjaan Raina. Lumayan memudahkan kerja Mentari. Memasuki minggu ke 4, Raina memberi kabar bahwa ‘orang dalam nya ini, sudah siap untuk menaikkan produksi cerita dari Mentari dan Raina. Jelas saja, jumlah pembaca di platform-nya sangat meningkat tajam. Koin yang masuk ke Mentari juga sudah mulai banyak lagi. Tapi, Mentari memang lebih mengandalkan penghasilannya dari royaltinya sebagai penulis buku, angkanya jauh berbeda. Mentari sangat bersyukur bahwa Raina bisa punya ‘orang dalam’, meskipun itu tidak murni, dan Mentari juga merasa tidak adil. Setidaknya, itu adalah cara terbaik untuk Mentari mendapatkan penghasilan yang lebih pasti. Respon pembaca Mentari Senja, saat ada di online cukup baik. Pembacanya juga menyambut positif cerita baru dari Mentari Senja. Sebuah ide yang sangat baik untuk cek ombak. Mentari cukup yakin berdasarkan jumlah pembacanya yang ada di online, dengan jumlah yang ada, setidaknya buku Mentari yang baru akan terjual lebih banyak, royalti Mentari juga mungkin akan cair dalam waktu yang lebih cepat. Mentari hanya bisa berdoa segala proses yang menghantarkan karyanya menjadi best seller akan dipermudah oleh yang maha kuasa. Ya meskipun mereka menggunakan bantuan orang dalam. Sekilas Mentari bertanya-tanya, apa yang Raina tawarkan agar orang ini mau membantunya. Mentari tidak mengetahui Raina secara mendalam, hal personal mengenai Raina, tidak ingin juga dicari tahu oleh Mentari. Raina juga tidak terlalu menceritakan kehidupan personalnya. Jauh lebih baik untuk mereka berhubungan seperti ini saja, sebatas rekan kerja, tidak melibatkan persoalan pribadi, takut kalau nanti akan mengganggu pekerjaan. Mentari tidak ingin mengalami hal-hal yang seharusnya bisa dicegah atau dihindari dari awal. Mentari hanya tahu bahwa Raina punya pacar. Raina pernah menyebutnya beberapa kali di depan Mentari, Mentari juga pernah melihatnya. Tapi, Mentari tidak terlalu hafal dengan nama pacar Raina, jangankan hapal, sekarang saja, Mentari tidak ingat siapa nama pacar Raina. Mentari hanya bisa berdoa kalau orang itu memang tulus untuk membantu Mentari dan Raina. Raina sangat senang dengan kabar bahwa cerita Mentari Senja akan naik ke penerbitan dari Rafli. Raina sudah menduga, Rafli pasti akan mengusahakan segala cara agar cerita Mentari saja, akan kembali ada di toko buku dan pasti akan naik ke jajaran buku best seller. Raina terus memuji Rafli dengan kerjaan Rafli yang sangat bagus, membuat Raina bangga, Raina juga mengucapkan segala kata-kata romantis dan manis yang bisa diucapkan kepada Rafli, sebagai tanda pujian bahwa Rafli sudah mengerjakan hal yang sangat baik. Rafli yang diberi pujian oleh Raina juga sangat senang. Butuh waktu untuk Rafli agar bisa bernegosiasi dengan atasannya. Rafli harus rajin memberikan laporan tentang kenaikan jumlah pembaca Mentari senja. Rafli juga harus menganalisis komentar-komentar dari pembaca yang rata-rata mengatakan tidak sabar untuk menanti buku ini dalam bentuk cetak. Tentu saja, Rafli yang menemukan hal itu, langsung memberikan kabar ini kepada atasannya. Hanya butuh waktu 3 hari agar atasannya mengeluarkan surat dan segala macam dokumen yang ditujukan untuk Mentari Senja. Mentari diperintahkan untuk segera menyelesaikan naskahnya dalam waktu cepat, agar proses penerbitan bisa segera berjalan. Waktu yang Mentari dapatkan juga terbilang sangat singkat, Pihak Penerbit tidak ingin Mentari Senja kehilangan hype dari pembacanya.Rafli yang mendengar hal itu langsung meneruskannya kepada Raina. Rafli juga memberi semangat kepada Raina agar Raina bisa dengan segera menyelesaikan tulisannya. Raina yang memberi kabar kepada Mentari juga ikut merasakan kebingungan. Mentari langsung meminta Raina untuk fokus pada projek ini dan berusaha untuk tidak bermain dengan teman-temannya untuk sementara waktu, keberhasilan projek ini juga pasti akan membawa keberuntungan kepada Raina. Raina juga mematuhi apa yang diperintahkan oleh bosnya, Mentari. Raina mulai fokus pada tulisannya dan tidak ingin membuang waktunya untuk kegiatan yang sekiranya tidak penting. Sesekali, Raina juga mengeluhkan deadline tulisan yang harus dikerjakan dalam waktu dekat. Raina juga sempat berdrama dengan Mentari perihal waktu yang ditetapkan oleh Mentari terlalu mepet. Raina bilang, menulis itu butuh waktu, butuh penghayatan yang lebih, Raina tidak bisa kalau dipaksa seperti ini. Mentari yang mendengar hal itu hanya berusaha memberi penjelasan. Ini bukan cuma masalah penghayatan, Nay. Kita lagi dikejar sama waktu. Kan lo sendiri yang bilang, kalo penerbit minta secepatnya. Belum lagi kita ada urusan sama editor, lo kan tau, Nay. Betapa ribetnya urusan sama editor. Lo sendiri juga kan yang maksa gue, buat nggak berenti. Lo yang juga ikut bertanggung jawab sama semua ini, Nay. Ini nih, semua hal yang lo mau ini, sudah terjadi, Nay. Masa lo mau mundur gitu aja sih. Jangan cuma ngeluh, Nay. Lo sebenarnya juga bisa ngerjain kalo nggak ngeluh. Jangan biarkan diri lo jadi punya kesempatan untuk ngeluh, Nay. Raina yang mendengar kalimat wejangan dari Mentari tetap saja mengeluh, tetap berdrama. Raina suka sejenak lupa tentang apa yang ingin dicapai. Tapi, Raina juga bisa saja fokus dengan penuh. Mentari juga memuji dengan sikap Raina yang lebih banyak seriusnya dibanding dengan ngambeknya. Tapi, sekali Raina sudah badmood, Mentari pasti sangat ingin untuk mencubit pipi Raina, mencoba menghentikan kebiasaan buruk Raina. Mentari mengakui totalitas Raina dalam mengerjakan projek ini. Raina bahkan beberapa kali ijin dari kantor untuk fokus mengerjakan tulisan ini. Sebenarnya, menulis memang bisa saja dilakukan kapanpun dan dimanapun. Tapi, memang dasarnya Raina juga yang tidak ingin masuk kerja dan sering menjadikan alasan menulis untuk ambil ijin. Teman-teman di kantor Raina mulai menebak-nebak lagi. Apa yang sedang Raina kerjakan hingga mengharuskannya untuk ijin. Belum lagi insta story Raina yang disebar hanya untuk close friend nya. Beberapa teman kantor yang masuk dalam kategori close friends itu, tetap saja membicarakannya. Untung saja, media sosial Raina tidak dipantau oleh pihak SDM di kantornya, kalau dipantau, mungkin Raina akan kehilangan pekerjaan tetapnya. Mentari masih berusaha untuk menciptakan ending yang terbaik yang ia bisa. Ceritanya yang masih ada di platform, masih berjalan, tapi hanya berupa update singkat, tidak terlalu mendalam. Mentari masih ingin terus memancing pembacanya untuk tetap merasakan rasa dari karyanya, sambil menunggu karya dalam bentuk cetaknya akan keluar nanti. Pembaca Mentari juga masih mengikuti Mentari senja, meskipun sudah ada pemberitahuan akan keluar dalam bentuk cetak. Pembacanya juga masih setia untuk berkomentar di cerita online Mentari Senja. Tentu saja, hal ini sangat berguna untuk cek ombak buku Mentari Senja yang akan segera terbit. Rafli yang tengah berupaya untuk membuat Mentari Senja bisa terbit secepatnya juga masih memutar otak untuk menemukan jalan terbaik. Rafli harus mengetahui celah secara mendalam agar ia bisa menjalankan rencananya dengan lancar. Mulanya, Rafli harus mendekati tim-tim analisis yang berurusan dengan kategori best seller, Rafli harus tahu bagaimana mereka bisa mengkategorikan buku itu untuk masuk ke dalam kategori best seller. Setelah itu, Rafli akan berusaha bernegosiasi dengan tim analisis. Perjalanan panjang dan tidak mudah yang dilalui oleh Rafli untuk bisa mewujudkan keinginan kekasihnya, Raina. Rafli hanya ingin memberikan terbaik sesuai yang ia mampu. Rasa sayang dan cinta sudah cukup menjadi modal utama Rafli untuk tetap bisa mengerjakan itu semua. Rafli tidak ingin kehilangan Raina, sebisa mungkin. Rafli terus berusaha agar Raina bisa tetap di sisinya. Tidak jarang juga, Rafli selalu dikomentari oleh Raina yang menuntut agar karyanya bisa secepatnya terbit. Rafli hanya bisa membalas ucapan dengan Raina dengan membuatnya sabar dan bilang bahwa prosesnya tidak bisa secepat itu. Harus butuh waktu yang lebih lama, Rafli juga menjanjikan kepada Raina bahwa karya Mentari dan Raina akan bisa dengan mudah ada di jajaran best seller, ditambah dengan respon pembaca di media online, Rafli yakin, keingingan Raina akan terwujud dengan sangat mudah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD