#CH-Bantuan

2108 Words
Mentari masih terdiam setelah mendengar ucapan Raina. Mentari heran, bagaimana Raina bisa mengucapkan hal seperti itu. Ucapan Raina juga ada benarnya, sebelum ini, Mentari memang terlihat santai ketika harus menitipkan anaknya di daycare, tapi itu kan bukan berarti Mentari akan selamanya merasakan keamanan saat berada jauh dari anaknya. Mentari menatap Raina. Mencoba menegaskan situasi yang terjadi saat ini. “Nggak semua hal yang udah terjadi, bakal gitu-gitu aja, Nay. Kalo kemaren, lo liat gue, santai aja pas nitipin anak gue di daycare, bukan berarti bakal gitu terus kan. Anak gue udah terlalu cepat tumbuh, Nay. Gue nggak mau ngeliat dia tumbuh di daycare. Gue mau, gue yang ngerawat dia.” Kata Mentari. “Ya, lo yang logis aja deh, Tar. Kemaren aja lo santai, masa Sekarang lo jadi gini.” Kata Raina, tidak terima. “Nay, lo mungkin emang nggak ngerasain ada di posisi gue, lo juga belum tau rasanya jadi orang tua. Percaya sama gue, Nay. Kalo lo udah jadi orang tua, lo akan banyak pertimbangan sebelum lo ngelakuin sesuatu.” Kata Mentari. “Ya, gue emang nggak ngerasain, Tar. Tapi lo jangan nyudutin gue gitu dong, seolah-olah gue nggak punya rasa empati sebagai manusia tau nggak.” Kata Raina, tidak terima. Dugaan Mentari benar. Raina tidak mengerti tentang situasinya saat ini. Mentari hanya menarik nafas panjang. Mencoba mencari kalimat yang paling tepat untuk diucapkan kepada Raina. Mencoba membuat Raina memahami apa yang sedang Mentari alami. “Lo, nggak pernah mikirin gue ya, Tar. Gue bisa dapet duit tambahan yang nilainya gede itu ya dari sini. Kalo lo berhenti, gue gimana, Tar. Coba deh, Tar. Sekali-kali lo nggak mikirin diri lo sendiri. Coba pikirin orang lain juga.” Kata Raina. Mentari terkejut dengan ucapan Raina. Coba pikirin orang lain juga… Mentari jadi bertanya dalam hati. Bukankah Mentari yang jadi ‘kepala’ dalam project ini. Mentari yang berhak menentukkan lanjut atau tidaknya pekerjaan ini. Mentari yang menciptakan lapaknya hingga besar dan terkenal seperti sekarang ini. Kalau Mentari tidak pernah menerbitkan karya pertamanya di website, Mentari tidak akan pernah menerbitkan karyanya di aplikasi membaca online, tidak akan pernah juga Raina bergabung dengan Mentari. Sekarang? Kenapa jadi Mentari yang disuruh memikirkan Raina. “Lo kan bisa ngerjain tulisan dari rumah, Tar. Apa repotnya sih. Toh, anak lo juga masih kecil. Dia masih bisa lah lo tinggal buat ngapa-ngapain. Kalo lo gamau ribet, ya lo serahin aja anak ini ke Bapaknya.” Kata Raina. Mentari makin kaget dengan ucapan Raina. Ucapan Raina sudah semakin kelewat batas. “Omongan lo, gajelas, Nay.” Kata Mentari. “Gajelas apanya, sih. Udah jelas jelas omongan gue jelas banget. Apa susahnya sih nitipin anak lo. Lo bisa titip anak lo di daycare lagi. Lo bisa titip anak lo di Bapaknya. Kalo lo nggak mau repot, harusnya lo bisa lebih professional, Tar.” Kata Raina. Mentari sudah tidak ingin berdebat lebih lanjut dengan Raina. Raina tidak mengerti kondisi dirinya. Raina, tidak akan pernah memahami situasi yang terjadi. Mentari juga tidak ingin untuk membahas hal ini lebih lanjut. Mentari merasa, antara dirinya dan Raina. Hanya membutuhkan solusi terbaik. “Gue tetep hiatus. Gue nggak akan berurusan dengan tulisan selama 3 bulan. Ya, lo bisa anggep aja ini sebagai istirahat panjang. Gue nggak mau berdebat lagi sama lo. Gue tau lo nggak akan pernah bisa ngerti sama kondidi gue, Nay. Gue ini udah beda. Gue udah jadi Ibu sekarang. Gue udah nggak bisa sebebas dulu. Gue sekarang udah beda prioritas, Nay. Gue mau liat anak ini tumbuh di deket gue. Bukan di daycare. Kalo lo tanya kenapa gue nggak nitipin anak ini ke bapaknya, gue nggak bisa, Nay. Gue nggak bisa nyerahin anak gue, ke orang yang nggak bertanggung jawab.” Mentari menyelesaikan kalimatnya sambil berupaya untuk membereskan barang-barangnya di meja, bersiap pergi meninggalkan Raina. “Sekarang, lo seenaknya aja pergi gitu?” tanya Raina. Mentari berbalik menatap Raina. “Nay, coba hargain dikit pendapat orang. Lo mungkin emang belum ngerasain rasanya jadi orang tua. Lo nggak perlu seolah ngerasain apa yang gue rasain. Gue Cuma minta lo buat ngerti dan nggak komentar macem macem tentang apa yang gue alamin sekarang. Lo dari tadi udah kelewatan, Nay. Gue ngerasa percuma dateng kesini buat diskusi sama lo, tapi lo juga nggak cukup waras buat diajak diskusi.” Kata Mentari. Mentari sudah siap untuk meninggalkan restoran ini, meninggalkan Raina yang juga tidak terima dengan kepergiannya. Mentari tidak memperdulikan panggilan Raina. Setiap Raina memanggil Namanya, Mentari terus melanjutkan kegiatannya untuk membereskan barang-barangnya. Mentari melangkah keluar dari restoran. Raina yang melihat kepergian Mentari, hanya terdiam kaku. Raina bingung harus memberi respon seperti apa. Di dalam hati Raina, ada emosi dan perasaan tidak terima atas perlakuan Mentari kepadanya. Tapi, juga ada perasaan takut, takut kalau Mentari tidak akan mengajaknya bekerja sama apabila Raina berani untuk berbicara macam-macam. Dengan perasaan kesal, Raina akhirnya juga pergi dari restoran itu. Di perjalanan pulang, Mentari hanya terdiam menatap ke arha jalanan Jakarta. Sudah jadi nasib bagi Mentari mengalami ini semua. Mentari hanya perlu uji coba ketahanan dirinya dalam waktu 3 bulan ini .3 bulan yang jadi percobaannya untuk menjalankan hiatusnya. 3 bulan yang juga akan menguji diriya sebagai orang tua dan sebagai manusia yang hidupnya akan serba terbatas. Mentari hanya bisa berujar dalam hatinya, bahwa ia harus kuat menghadapi semua ini, demi anaknya. Raina yang sedang mengendarai mobilnya hanya bisa mengeluh sendirian, beberapa ucapan dan makian yang ia tujukan kepada Mentari, ia lontarkan di dalam mobilnya. Raina butuh pelampiasan emosi. Makian dan caciannya harus terhenti saat ada telepon masuk dari kekasihnya, Rafli. “Iya, kenapa, Sayang.” Jawab Raina, berusaha menyembunyikan kekesalannya pada Rafli. Rafli hanya menanyakan keberadaan Raina saat ini. Rafli juga mengatakan bahwa dirinya akan sibuk di minggu ini. Kemungkinan saja, Raina dan Rafli akan jarang bertemu karena Rafli yang harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sangat penting. Raina hanya mengiyakan ucapan Rafli. Raina hanya berpesan bahwa Rafli tidak boleh tergoda atau bahkan menggoda wanita lain ketika bekerja. Rafli yang mendengar itu hanya membalasnya dengan godaan, membuat Raina tersipu malu ketika mendengarnya. Rasa kesal dan marah yang Raina rasakan akibat Mentari, hilang seketika saat Rafli mengucapkan bualannnya. Mentari sudah sampai di rumahnya, ia menatap kosong suasana rumahnya. Suasana yang akan menjadi sahabat bagi dirinya, untuk hari-hari mendatang. Mentari tidak kecewa dengan respon Raina tadi. Mentari sudah menduga bahwa Raina memang tidak mengerti tentang keadaan dirinya sekarang. Jadi, menurut Mentari, daripada Mentari buang-buang waktu untuk berdebat dengan Raina -yang tidak akan pernah mengerti- lebih baik Mentari tidak melanjutkan diskusi itu. Sebelum tidur, ada perasaan khawatir yang hinggap di hati Mentari. Mentari jadi bertanya-tanya tentang kesanggupannya tidak melakukan apapun dan hanya berusaha untuk mencari pekerjaan yang lebih baik lagi. Mentari juga memikirkan ucapannya tadi kepada Raina. Benarkah ia akan mampu untuk tidak menulis selama 3 bulan. Pertanyaan dalam dirinya kini menjadi bukti bahwa Mentari juga ragu akan dirinya. Mendapatkan pekerjaan yang baru memang tidak semudah itu, tapi, bertahan menjadi penulis dengan pemasukan yang tidak mencukup juga tidak masuk akal. Mentari hanya berharap semoga ia mampu untuk melewati semua ini, semoga ia juga mampu menemukan jalan tercepat yang bisa ia ambil untuk menambah pundi-pundi rupiahnya. Raina sedang bercermin dan sejenak memikirkan ucapan Rafli mengenai pekerjaannya yang sekarang sedang sibuk. Raina tidak terlalu tahu banyak tentang pekerjaan Rafli. Raina hanya tahu bahwa Rafli bekerja di bidang penerbitan. Otak cerdik Raina mulai berjalan. Kalau Rafli, kekasihnya, ada di bidang penerbitan, itu berarti Rafli akan mensupply cetakan buku ke toko-toko buku disekitar, bahkan mungkin ke seluruh Indonesia, Rafli juga pasti akan bisa membantunya untuk mendapatkan apa yang Raina mau. Buku, karya Mentari senja, kembali ada di urutan Best Seller. Raina mulai tersenyum, Mentari ingin hiatus karena penghasilannya dari menulis di media social sudah tidak terlalu banyak. Rata-rata penggemarnya sudah beralih topik atau dengan alasan lainnya yang Raina tidak bisa pahami. Tapi yang jelas, Mentari pasti ingin kalau buku-bukunya kembali ada di jejeran best seller. Pasti. Mentari hanya butuh uang sekarang, kalau Raina bisa menjanjikan dan memastikan uang yang akan Mentari dapatkan nanti. Mentari pasti akan menggagalkan rencananya untuk hiatus, dengan begitu, Raina pasti akan mendapatkan pekerjaannya kembali. Raina mulai bersiap untuk menjalankan rencananya. Langkah awal yang harus Raina ambil adalah dengan menghubungi Rafli dan membuat Rafli setuju dengan apa yang Raina minta. Rafli, kekasih Raina, adalah orang yang hampir selalu menuruti Raina. Raina selalu melakukan permintaan aneh-aneh, tapi Rafli tetap sabar menurutinya. Raina yang terlalu manja dan meski sering kali membuat susah Rafli, Rafli tetap tidak berkomentar apapun. Rafli tetap menerima apapun yang Raina lakukan pada dirinya. Raina, perempuan yang sangat ingin semua keinginannya dipenuhi, tentu saja sangat senang, Raina menjadi keras kepala apabila ada permintaannya yang tidak dituruti oleh Rafli. Raina yakin, permintaannya kali ini, dituruti oleh Rafli. Kalau tidak dituruti, Raina juga akan melakukan berbagai cara agar Rafli menurutinya. Raina selalu punya caranya sendiri dan Rafli pasti akan kembali menuruti keinginannya. Raina mengambil hp-nya, mencoba menghubungi Rafli. Rafli yang saat itu sudah selesai bekerja, langsung mengangkat telefon Raina, senang karena dihubungi oleh kekasihnya. Rafli langsung menyapa dan bertanya seputar keseharian Raina. Raina, dengan nada suara yang dibuat-buat menjadi lebih halus itu, menjawab dengan sepenuh hati. Raina harus langsung menyebutkan tujuannya menelfon Rafli, Raina ingin langsung mendapat jawaban dari Rafli bahwa Rafli sudah jelas akan membantunya. “Aku ada permintaan, satu aja.” Kata Raina, singkat. Rafli yang mendengarnya tentu saja senang, kekasihanya sedang membutuhkannya. Waktu yang tepat untuk membuktikan bahwa dirinya adalah lelaki idaman dan pangeran yang diidam-idamkan Raina. Rafli menanyakan apa yang Raina inginkan sekarang. Raina menjelaskan dengan sejelas-jelasnya semua kejadian yang ia alami kemarin. Termasuk dengan pertemuannya dengan Mentari. Raina juga menyebutkan dengan jelas agar Rafli kembali membantunya untuk kepentingan kelanjutan pekerjaan sampingannya. Tentu saja, Raina mengucapkannya dengan nada yang dibuat sehalus itu, agar Rafli menaruh rasa iba, dan Rafli bisa menurutinya. Rafli yang mendengar itu sedikit terkejut. Bukan terlalu jadi bagiannya untuk mengurusi buku yang bisa naik ke dalam jajaran best seller. Rafli sedikit merasa bimbang, membantu Raina, artinya ia menjadi orang yang tidak professional dalam bekerja, berarti juga Rafli membantu Raina melakukan cara-cara yang tidak seharusnya dilakukan. Rafli berpikir sejenak, Raina adalah wanita kesayangannya yang sedang membutuhkan bantuannya. Rafli menghela nafasnya. Berpikir dengan matang-matang tentang keputusan yang akan ia ambil. Keputusan besar, tidak mungkin ia akan ambil dalam waktu puluhan menit saja. Tapi Raina, juga sebuah hal besar yang datang ke hidupnya. Rafli tidak ingin juga menyia-nyiakan kesempatan untuk membantu kekasihnya. “Aku nggak janji ya, kalau nanti bukunya akan secepat itu masuk best seller. Tapi, yang jelas, aku bakal bantu sampe buku itu masuk best seller, karena bukunya nggak secepat itu, Sayang.” Kata Rafli. Rafli mengucapkan kalimatnya dengan sangat halus, tidak ingin kalau Raina jadi salah paham karena ucapannya. Raina yang mendengar itu lega, benar saja dugaannya, Rafli pasti akan menuruti keinginannya. Raina tersenyum senang. Rafli memang malaikat yang diutus Tuhan untuk membantu hidup Raina menjadi lebih baik. Raina mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Rafli. Puluhan kali juga Raina mengucapkan bahwa ia sangat saying dan cinta kepada Rafli. Raina tidak ingin Rafli pergi jauh dari hidupnya, apalagi, sekarang, Rafli juga orang yang berperan penting untuk kelanjutan pekerjaan sampingannya. Raina bilang, karena itu, semua perasaan cinta dan sayang yang Raina rasakan menjadi semakin bertambah. Rafli yang mendengar hal itu, hanya tertawa. Mentari yang sedang berusaha untuk menyusun CV yang baik, seketika harus terhenti karena telfon masuk dari Raina. Kedua alis Mentari terangkat, heran, apa maksud dari Raina yang tiba-tiba saja menelpon dirinya. “Tar, lo harus batalin rencana lo buat hiatus. Gue, punya peluang besar, biar karya kita naik lagi di pasaran.” Kata Raina. Mentari hanya terkejut mendengarnya. Mentari menanyakan lebih lanjut apa maksud dari kalimat raina. Mentari ingin dijelaskan lebih lanjut. Raina, yang tidak ingin menyebut ada keterlibatan Rafli, pacarnya, masih harus berhati-hati dalam bercerita. Raina hanya menyebutkan karya Mentari pasti bisa masuk dalam jajaran buku terkneal, karena Raina kenal baik dengan salah satu penerbit, yang pastinya akan membantu semua proses buku tersebut hingga beredar di pasaran dengan mudah. Mentari yang mendengarnya sangat lega. Artinya, ia hanya harus menulis dan ada kepastian di depan matanya. Setidaknya, Raina yang menjamin hal itu akan terjadi. Mentari harus mempercayai Raina. Raina juga tidak memaksa Mentari untuk menitipkan anaknya di daycare, yang terpenting, karya mereka berdua harus bisa selesai dan terbit dalam waktu dekat. Mentari tidak peduli dengan jalan apa yang Raina maksud, Mentari hanya ingin ia bisa dengan tenang mencari uang dari rumah tanpa ada tuntutan dari manapun dan tetap menghasilkan uang yang banyak untuk dirinya dan untuk anaknya. Mentari menyetujui semua yang Raina katakan. Raina, yang mendengar bahwa Mentari menyetujuinya, tersenyum senang, kehidupannya yang glamour tidak akan pernah pergi dari hidupnya. Raina bisa tetap bergaya seperti hari-hari kemarin tanpa mengkhawatirkan apapun. Dengan bantuan dari Rafli dan persetujuan Mentari, Raina bisa tetap menjalankan pekerjaan sampingannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD