#CH-Anak

2256 Words
Raina masih belum membalas pesan dari Mentari. Meski sesekali memikirkan pesan itu, Raina tetap berusaha untuk fokus bekerja. Raina masih berusaha untuk menormalkan perasaannya. Raina juga membaca pesan dari Mentari berulang kali, memastikan bahwa Mentari tidak salah mengirimkan pesan. Belum ada tanda-tanda bahwa Mentari akan membatalkan rencana hiatusnya. Raina masih gusar, pesan singkat dari Mentari yang tidak ia baca satu hari itu, ternyata tidak berubah. Bodohnya, Raina sudah bersenang-senang karena mendapat pesan dari Mentari kemarin, Raina lupa, kalau ia belum membaca sepenuhnya pesan dari Mentari. Sekarang, Raina justru terdiam di depan layar komputernya, memikirkan bagaimana nasibnya saat Mentari akan benar-benar mengutarakan maksud dan tujuannya bicara kepada Raina. Bagaimana kalau Mentari memang memutuskan untuk hiatus. Wajah Raina mungkin terlihat biasa saja, tapi dalam hatinya, sedang berkecamuk memikirkan ia di masa depan. Raina yang akan hidup hanya bersumber pada gajinya saja. Raina melirik Hp-nya sekilas, berharap ada pesan masuk dari Mentari lagi. Pesan yang menyatakan Mentari membatalkan diri untuk hiatus, hanya itu harapan Raina sekarang. Raina masih terus melanjutkan pekerjaannya, berusaha untuk mengalihkan fokusnya dari pesan yang Mentari kirimkan. Raina belum membalas pesan itu. Raina masih memikirkan dengan sebaik-baiknya, jawaban apa yang seharusnya ia berikan kepada Mentari. Kalau Raina ingin membalas dengan langsung protes tentang Mentari yang ingin hiatus, sepertinya tidak sopan. Raina juga tidak enak hati kalau ia harus mengatakan hal yang seperti itu. Tapi, Raina juga menjunjung tinggi, konsep to the point aja kalo ada yang mau disampaikan. Yang jadi masalah sekarang, Raina tidak bisa langsung to the point karena ini mengenai karirnya di pekerjaan sampingan yang sudah ia geluti selama beberapa waktu. Raina tidak mau berdebat dengan Mentari, bos-nya sekaligus rekan kerjanya. --------- Mentari masih menimbang ulang keputusannya untuk mencoba menghubungi Raina sekali lagi. Raina belum menanggapi dengan serius keputusan Mentari untuk hiatus. Mentari masih menganggap bahwa persoalan ini belum juga selesai. Mentari tidak bisa begitu saja langsung hiatus dan membiarkan Raina. Tapi, Mentari tidak ingin bahwa Raina salah paham dan bisa berkepanjangan. Mentari tetap ingin bersahabat baik dengan Raina. Mentari menatap anaknya yang sedang tertidur. Ada rasa aman dan nyaman melihat anaknya yang tertidur lelap. Mentari tersenyum, rasanya, Mentari ingin menghentikan waktu agar ia bisa menatap anaknya lebih lama tanpa harus merasa dikejar oleh hal-hal lainnya. Dengan melihat anaknya yang sedang tertidur pulas, Mentari akhirnya tahu, bahwa ia harus mengambil keputusan secepatnya. Mentari harus menghubungi Raina. Raina harus memberi balasan mengenai hiatusnya ini. Mentari membuka hp-nya, mencari kontak Raina. Mentari siap untuk berbicara dengan Raina. “Halo.” Terdengar suara Raina di seberang sana. “Nay, ini gue.” Kata Mentari. “Iya, gue tau. Kenapa lo nelfon gue?” Kata Raina. “Nanti sore, abis lo pulang kerja, lo ada waktu nggak?” tanya Mentari. “Ada.” Jawab Raina, singkat. Mentari tidak ingin memperpanjang percakapannya dengan Raina di telepon. Mentari langsung menyebutkan nama dan alamat tempat yang ingin ia jadikan tempat pertemuannya dengan Raina. Aneh, orang yang seharusnya bisa memutuskan kerja dalam waktu singkat, malah harus menghadapi rasa bimbang yang sangat besar. Kata Mentari pada dirinya sendiri. ----- Raina terdiam begitu menyadari kalau Mentari sudah mengabarinya dan mengajaknya untuk bertemu setelah ia pulang kerja. Pikiran Raina berkecamuk. Raina terus menerus memikirkan apa yang menjadi pembahasannya nanti dengan Mentari. Apa yang akan Mentari katakan mengenai pekerjaannya. Raina ingin menuntut Mentari untuk tidak jadi hiatus. Bagaimanapun caranya Raina harus berhasil membujuk Mentari untuk tetap menulis. Raina ingin buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Tapi, jam di dinding belum menunjukkan waktu yang tepat untuk dirinya keluar dari kantor ini. Kemarin, Raina sudah tidak tepat waktu untuk pulang. Sekarang, kalau Raina melakukan hal yang sama. Raina bisa diberi teguran, sanksi, atau yang lebih parahnya, Raina bisa kena potong gaji. Jangan sampai hal-hal itu terjadi padanya. Semua hal buruk yang terjadi padanya itu, bisa mempengaruhi karirnya sampai kapanpun. Raina harus tetap berupaya agar jejaknya di perusahaan ini selalu terlihat bersih. Raina masih terus bolak-balik melihat jam di dinding. Ingin rasanya Raina mempercepat pergerakan jam, Raina tidak sabar untuk mendengar pendapat Mentari, tapi di satu sisi Raina juga takut. Raina ingin cepat-cepat saja mendapat keputusan dan kepastian mengenai kelanjutan pekerjaannya dengan Mentari. Raina juga sudah puluhan kali mencari tahu tentang tempat yang akan ia jadikan tempat pertemuan nanti. Raina juga harus memberi tahu Mentari mengenai kepastiannya untuk bisa datang ke tempat itu dan membicarakan tentang hiatusnya. Mentari juga bilang bahwa Raina harus mengabarinya beberapa jam sebelum waktu yang telah disepakati, karena Mentari harus menyiapkan peralatan dan perlengkapan anaknya yang sekiranya akan dibutuhkan ketika sedang berada di luar rumah. Raina mencoba menemukan kalimat yang tepat untuk dikirimkan kepada Mentari. Sudah kesekian kalinya Raina menghapus pesan yang sudah ia tulis dengan rapih. Raina gugup. Takut kalau nanti setiap jawaban yang Raina lontarkan akan mempengaruhi keputusan Mentari nanti. Tapi, jam dinding selalu berdetak, tidak pernah berhenti. Waktu Raina untuk mengabarkan kehadirannya nanti sudah semakin mepet. Dengan keberanian yang Raina miliki, Raina mulai mengetik pesan dan dikirimkan kepada Mentari. Iya, Gue bisa dateng nanti. Jam 6, gue jalan dari kantor. Begitu isi pesan dari Raina kepada Mentari. Raina hanya memandang nanar ke depan, pasrah dengan apa yang terjadi, mungkin nanti, ia akan menemukan pekerjaan sampingan dengan gaji yang lebih besar lagi, kalau Mentari memang sangat ingin untuk hiatus. Mentari yang sedang memasak makan sore untuk anaknya, seketika menghentikan pekerjaannya. Hp Mentari berbunyi, menandakan bahwa ia punya pesan masuk yang harus dibaca. Mentari mendekati hp-nya, tersenyum ketika membaca nama dan isi pesan yang ada di sana. Raina menyetujui untuk datang nanti. Mentari merasa sedikit lega untuk itu. Mentari langsung melanjutkan aktivitasnya dan langsung menyiapkan perlengkapan yang harus ia bawa untuk anaknya. Mentari juga menyiapkan beberapa berkas yang perlu ditunjukkan kepada Raina, takut kalau Raina tidak memahami hal yang akan terjadi dan butuh bukti untuk semua peristiwa yang nanti akan Mentari jelaskan. Saat sedang membereskan perlengkapan yang ia bawa, Mentari melirik ke arah meja yang biasa ia gunakan untuk menulis. Meja yang telah menemaninya selama ia berusaha melahirkan karyanya beberapa tahun ini. Meja yang terletak di ruang tengah itu, biasa Mentari lihat, tapi, kali ini, meja itu menampakkan sinar yang lain. Ada perasaan berbeda ketika Mentari melihat meja itu sebagai saksi perjuangannya dulu. Mentari hanya tersenyum, hidup harus terus melangkah ke depan. Kalaupun harus mundur, ia akan memastikan, mundurnya hanya untuk mengambil kuda-kuda untuk maju lebih jauh lagi. Sama seperti keputusannya untuk hiatus, mungkin dengan hiatus ia akan menemukan dirinya yang lebih baru lagi, dan yang lebih utama, untuk fokus pada anaknya. Mentari membalas pesan singkat yang Raina kirimkan tadi, oke, gue tunggu ya, Nay. Itu saja balasan Mentari, singkat. Mentari juga tidak ingin memperpanjang jawaban dengan Raina di chat, Mentari tahu bahwa Raina masih belum selepas seperti biasanya. Mentari tidka ingin memaksakan keadaan yang ada di depannya saat ini. Membiarkan sepenuhnya terjadi secara alami, adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan. Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Raina sudah melakukan absen pulang kantor. Raina sempat berpapasan dengan teman-teman sepermainannya saat ingin turun menuju basement. Raina diajak untuk makan malam bersama mereka, Raina sudah lama tidak ikut kumpul, begitu kata mereka. Raina yang mendengar itu hanya membalas dengan tertawa, terlalu banyak beban pikiran Raina untuk saat ini. Raina jadi tidak kepikiran untuk melakukan kesombongan atau bahkan sekedar berbohong bahwa ia akan ada kegiatan lain, atau apa. Raina hanya tertawa, seolah memberi simbol bahwa dirinya tidak ingin terlibat lebih lanjut dengan acara makan malam yang akan dilakukan oleh teman-temannya itu. Raina hanya bergegas menuju basement, menghampiri mobilnya. Dengan kecepatan yang kurang dari biasanya, Mobil Raina siap untuk ikut dalam barisan mobil yang terjebak kemacetan Jakarta. Raina juga tidak lupa menyalakan radio mobilnya. Raina mencoba untuk mengikuti alur yang sedang terjadi di hidupnya ini, seakan lagu-lagu yag ada di radio memang diputas khusus untuk dirinya. Lagu-lagu yang keluar dari speaker mobilnya itu, seolah menjadi backsound pengiring ia menuju pertemuannya dengan Mentari. Dari mulai lagu yang bernada mellow, sedih, hingga lagu yang seolah menggambarkan kebenciannya dengan sikap Mentari itu, semuanya Raina nyanyikan. Sambil menunggu macet Jakarta, Raina masih terus merapal lagu-lagu itu sampai ia tiba di tujuannya, Raina belum bilang kepada Rafli tentang Mentari yang seketika saja ingin hiatus. Raina masih belum ingin mengabarkan kepada Rafli. Raina, yang sedang dimabuk cinta oleh setiap untaian kata dari Rafli itu, enggan mengacaukannya dengan cerita antara dirinya dan Mentari. Cerita yang bisa saja mengubah suasananya hubungannya dengan Rafli yang sedang hangat itu. Raina tentu saja memilih untuk tidak cerita, ia tidak mau kehilangan momen-momen mesra dengan Rafli. Raina hanya sempat mengirim pesan kepada Mentari bahwa dirinya sudah menuju tempat yang sudah ditentukan. Raina sebetulnya masih ingin berkomentar dan menuntut Mentari untuk menggagalkan ide hiatus. Raina hanya harus menunggu terlebih dahulu apa saja kalimat yang akan Mentari sampaikan kepada Raina. Kalau sekali saja, Mentari terlihat mementingkan keinginan diri sendiri, Raina tidak segan-segan untuk mengeluarkan seluruh unek-unek dan kegelisahannya kepada Mentari. Raina tidak ingin Mentari membandingkan kesulitan antara dirinya dan Raina. Mentari sudah siap untuk berangkat menuju tempat janjiannya dengan Raina. Mentari juga sudah menyiapkan perlengkapan anaknya yang harus ia bawa. Sebenarnya ini bukan kali pertama Mentari mengajak anaknya untuk berjalan-jalan atau pergi ke luar, kehidupannya sebagai penulis itu tidak terlalu menghabiskan waktu sampai seharian. Tapi, perjalanannya kali ini -meskipun hanya untuk menemui Raina- Mentari merasa ini akan sangat menyenangkan, tapi juga membingungkan karena ia sudah lama sekali tidak melakukan kegiatan ini. Anak Mentari yang berada dalam gendongannya, juga tersenyum. Seolah tahu bahwa Ibunya, sedang berjuang untuk dirinya juga. Mentari yang melihat anaknya tersenyum, jadi ikut tersenyum, merasakan kebahagiaan yang juga anaknya rasakan. Perjalanan Mentari menuju tempat itu, harus menggunakan mobil online. Mobil Mentari masih ada, meskipun sempat beberapa kali Mentari coba untuk menawarkan kepada orang lain, tapi rasanya, mobil yang menjadi perjuangannya itu juga, terlalu berharga untuk ditukar dengan nominal yang masih belum seberapa dibandingkan dengan cerita hingga mobil itu ada. Mentari juga ingin menghemat beberapa rupiah, untuk jatah s**u bulan depan anaknya. Pesan dari Raina masuk ketika Mentari sudah ada di mobil, Mentari tidak membalasnya. Mentari lebih memilih untuk mendiamkan saja. Tinggal satu lampu merah lagi yang harus dilewati oleh Mentari untuk sampai ke tempat yang ia janjikan kepada Raina. Hp Mentari berdering, ada telepon masuk dari Raina. Mau tidak mau, Mentari harus mengangkat telepon itu. Mentari tidak mau mengganggu anaknya yang sedang tenang. Raina mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di tempat dan sudah memilih tempat duduk yang sekiranya nyaman, untuk mereka berdua, sekaligus untuk anak Mentari. Raina juga bilang bahwa ia sudah memesan minuman dan makanan untuk Mentari, kebetulan karena Raina lapar juga. Raina menjelaskan itu semua dalam satu kalimat saja. Mentari yang mendengarnya, tidak sempat juga untuk menghentikan atau menolak Mentari untuk memesankan makanannya. Mentari hanya bilang bahwa ia dan anaknya akan sampai beberapa menit lagi. Mentari juga minta maaf kepada Raina, karena sudah membuatnya menunggu, padahal Mentari yang mengajak Raina untuk bertemu. Saat Mentari sampai di tempat tujuan. Mentari langsung menghampiri Raina dan mengucapkan terima kasih karena sudah memilih tempat yang lebih sepi dibanding tempat duduk yang lain. Mentari juga mengatakan bahwa ia suka dengan menu makanan dan minuman yang sudah dipesankan oleh Raina. Raina yang mendengar hal itu, hanya tersenyum dan mengatakan bahwa itu adalah hal biasa yang sering ia lakukan. Raina juga langsung mengajak anak Mentari untuk bermain sebentar, menunggu Mentari untuk makan atau sekedar beristirahat setelah perjalanan tadi. Mentari masih belum membuka percakapan, masih sibuk memikirkan bagaimana basa-basi yang tepat untuk mengawali semuanya. Mentari masih harus menunggu makanannya untuk habis dan menunggu Raina selesai bermain dengan anaknya. Sudah 20 menit sejak Mentari datang ke tempat ini, Raina seakan masih juga belum siap untuk segera berbincang dengan Mentari. Mentari sudah mulai gusar dengan keadaan di sini. Mentari memutuskan untuk memberanikan dirinya, mencoba membuka percakapan ini. “Nay. Keputusan gue udah bulet, gue mau hiatus.” Kata Mentari. Mentari tidak punya ide lain untuk berbasa-basi. Apapun kalimat yang ia lontarkan ke Raina. Raina juga pasti tau apa maksud dan tujuan Mentari mengajak bertemu di sini. Raina yang masih sibuk menggoda anak Mentari, terdiam sesaat, lalu menghentikan aktvitiasnya. Raut wajah Raina menjadi lebih serius, Raina bahkan menegakkan posisi duduknya. Mentari bisa melihat raut wajah Raina yang masih ingin menolak untuk membicarakan lagi. Tapi, Mentari tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia harus punya keputusan dalam hidupnya. Keputusan yang akan berdampak pada anaknya juga. “Lo yakin?” kata Raina. “Gue nggak punya pilihan lain.” Kata Mentari. Raina terlihat meremehkan ucapan Mentari yang baru saja ia dengar. “Pilihan apasih maksud lo, Tar. Selama ini kan lo ngejalanin semuanya baik-baik aja. Emang ada hal yang terjadi selama lo nulis nih, dan bikin lo jadi nggak baik?” tanya Raina. Mentari melirik anaknya. Satu-satunya jawaban terkuat yang Mentari punya adalah anaknya. Satu-satunya alasan Mentari ingin hiatus, juga karena anaknya. Satu-satunya alasan itu lah, yang Raina tidak akan mungkin bisa mengerti. Itu juga yang menjadi eprtimbangan Mentari untuk berdiskusi dengan Raina terkait ini. Raina tidak akan bisa mengerti sepenuhnya tentang peran Mentari saat ini. Raina yang menyadari bahwa Mentari sudah diam cukup lama sambil memandangi anaknya, mulai sadar. Anak Mentari ? Anaknya adalah alasan Mentari ingin hiatus? Selama ini kan baik-baik saja. “Tar. Karena, anak, lo?” Raina bertanya, ragu. Mentari yang mendengar pertanyaan Raina juga terkejut. Raina menyadari dan memperhatikan tingkahnya. “Bukannya itu anak, selama ini baik-baik aja pas lo tinggal nulis. Lo bahkan nitipin anak ini seharian, Tar. Lo nitipin anak ini di daycare. Lo nggak ada tuh kasihan-kasihannya kemaren. Lo malah ngerasa dunia lo bebas lagi kan setelah anak ini lo titipin. Sekarang lo mau bilang apa? Anak lo itu alesan lo buat hiatus?” Kata Raina, tanpa ragu. Mentari yang mendengar kalimat yang diucapkan Raina, terpana melihatnya. Tidak percaya bahwa Raina akan mengatakan hal itu kepada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD