#CH-Pesan Singkat

2245 Words
Sudah semalaman pesan dari Mentari belum juga dibaca oleh Raina. Pesan dari Mentari sudah tertumpuk oleh pesan-pesan dari teman sekantor Raina. Raina punya banyak tugas yang harus diselesaikan hari ini. Raina juga tidak ingat bahwa ia menerima pesan dari Mentari, rekan kerja dari pekerjaan sampingannya. Kemarin, setelah Raina makan siang, ralat, lebih tepat disebut dengan makan sore menjelang malam itu, Raina langsung tertidur, meskipun bangun tengah malam, Raina juga langsung menelpon kekasihnya, Rafli. Biasa, aktivitas yang jadi rutinitas untuk menjalin cinta memang harus tetap dijalani demi langgengnya hubungan ini. Raina seakan lupa dengan dunianya kalau ia telah berbicara dengan Rafli. Apapun, akan dilakukannya untuk Rafli agar hubungannya dengan Rafli tidak bubar di tengah jalan. Apapun. Apa. pun. Maklum, Raina masih merasakan sparkling dari jatuh cinta. Rafli adalah orang yang selalu bisa membuat Raina menjadi gadis paling beruntung di dunia. Rafli yang selalu bisa membuat Raina berhasil untuk selalu merasakan cinta di setiap detiknya. Kayaknya ya, nggak ada yang bisa bikin aku jadi orang paling bahagia di dunia ini deh, selain kamu. Kata Raina, bulan lalu, di mobil setelah Rafli memandangi wajahnya selama puluhan detik. Raina juga bukan orang yang ragu dan malu untuk merasakan cinta. Raina tidak segan untuk bergelayut manja kepada Rafli. Lelaki mana yang tidak ingin kekasihnya bersifat manja di depannya. Tingkah laku, sifat manja, dan sifat Raina yang terlalu manis itu juga semakin membuat Rafli jatuh cinta pada Raina. Meski seringkali Raina membuat Rafli ingin melanggar batas yang seharusnya, tapi, Rafli masih ingat bahwa ia harus menjaga wanita kesayangannya, seutuhnya. Rafli tidak tega bila harus memanfaat Raina, lebih tepatnya, tubuh Raina untuk keuntungan dirinya sendiri. Raina juga tidak takut apabila ia melakukan tingga aneh yang bisa saja memancing Rafli melakukan hal yang tidak-tidak. Raina masih percaya pada Rafli, ya meski sering kali tingkah Raina menggoda Rafli. Untungnya, Rafli masih kuat agamanya, masih memikirkan apa yang harus dan apa yang seharusnya tidak dilakukan saat bersama Raina. Rafli juga seorang kekasih yang sangat suportif, tidak sekalipun Rafli melarang Raina untuk tidak melakukan ini atau itu. Rafli sangat mendukung Raina untuk melakukan apapun yang Raina sukai. Rafli juga tidak segan untuk sekedar memberi support dalam bentuk materil yang bisa membantu Raina melakukan hal yang Raina suka. Raina yang juga diberikan support dalam bentuk apapun itu, tentu saja senang bukan main. Raina semakin merasa bahwa Rafli adalah sesosok pria, bak pangeran berkuda putih yang datang negeri dongeng untuk menjemputnya dan membawanya tinggal di suatu kerajaan. Rafli, sosok pria dengan wajah tampan, mempunyai jabatan yang mumpuni di kantornya, disegani oleh bawahannya, setia, kuat imannya, tidak pernah menuntut Raina atau mengatur Raina, baik, royal, tidak perlu lagi dideskripsikan apa saja kelebihan yang dimiliki oleh Rafli. Sudah terbukti, setiap Rafli mengantar Raina ke kantornya atau menjemput Raina sehabis jalan dengan teman-temannya, teman-teman kantor Raina pasti akan berlomba-lomba untuk menanyakan kepada Raina, apa saja kelebihan Rafli yang sudah Raina dapatkan. Bahkan, di antara teman-temannya banyak juga yang berterus-terang untuk menunggu Rafli dan Raina putus. Rafli itu kelewat sempurna, Nay. kata teman-teman kantor Raina, beberapa detik setelah mereka melihat Rafli. Iya, hanya beberapa detik dan mereka langsung saja mewawancarai Raina. Raina hanya tersenyum ketika membayangkan hidupnya yang sempurna. Raina, dengan wajah mulus tanpa noda, memiliki pacar yang tampan dan punya segalanya, Raina yang juga punya penghasilan sampingan dengan nominal yang jauh lebih besar dibanding teman-temannya. Semua itu, selalu membuat Raina tersenyum puas ketika berhadapan dengan teman kantornya. Raina tahu bahwa teman kantornya tidak ada yang bisa mengalahkan posisinya. Jangankan mengalahkan, membersamai langkah dengan Raina saja tidak mungkin. Raina sudah terlalu jauh melangkah, sudah berada di garis depan. Berbeda dengan teman-temannya yang bahkan tidak segaris dengan jalannya saat ini. Membayangkan hidupnya sendiri yang menurutnya sudah sempurna ini, tidak pernah bisa membuat Raina berhenti tersenyum. Hidupnya lengkap sudah. Tidak ada yang membuat Raina bersedih atau membuat Raina berpikir yang buruk tentang hidupnya. Dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Raina jalan menuju kamar mandi. Bersiap untuk pergi ke kantornya hari ini. Raina harus tetap menjalani kegiatannya yang sangat monoton ini. Keluar dari kamar mandi, Raina harus kembali dihadapkan pilihan baju yang ingin dikenakan untuk hari ini. Memadu padankan pakaian adalah salah satu hal yang sulit dalam hidupnya. Setumpuk pakaian dan puluhan pakaian yang menggantung di lemarinya, semakin menambah pilihannya dan semakin membuat Raina harus menghabiskan waktu yang lebih lama di depan lemari pakaiannya. Raina harus memikirkan dengan matang outfit yang akan dikenakannya untuk hari ini. Tampil sempurna setiap hari adalah salah satu tujuannya dalam hidup. Raina harus terlihat rapih dan cantik setiap saat. Tentu saja, pakaian yang dikenakan adalah modal utama untuk menjalani itu semua. Selesai dengan pakaiannya, Raina kembali lagi harus memikirkan riasan wajahnya, kali ini Raina memilih untuk mengenakan riasan wajah yang tipis saja. Hari ini, sepertinya ia tidak akan bertemu dengan klien penting atau atasannya. Hanya kemeja bermotif keluaran terbaru dan celana panjang dengan warna hitam yang akan menjadi outfitnya hari ini. Tidak lupa riasan wajah serta rambutnya yang harus rapih dan wangi. Raina juga menyemprotkan beberapa kali parfumnya. Parfum mahal yang dibelikan oleh Rafli, bulan lalu. Dengan langkah yakin dan penuh percaya diri, Raina menuruni tangga, untuk bersiap datang ke kantornya. Jalanan yang beberapa kali menunjukkan tanda tidak bersahabat membuat Raina harus terhenti dan berhadapan dengan macetnya Kota Jakarta. Untung saja, Raina menggunakan mobilnya, meskipun mobilnya baru lunas beberapa bulan lagi, tapi yang penting Raina tidak harus berdempetan dengan orang lain di angkutan umum. Tidak terbayangkan oleh Raina kalau dirinya harus kembali merasakan semua itu, Raina bergidik ngeri. Sesampainya Raina di basement kantornya, Raina harus memastikan riasan wajah dan rambutnya masih on point, seperti pertama kali dirapihkan saat dirumahnya tadi. Raina tidak ingin terlihat berantakan akibat ia yang sempat emosi saat ada di macetnya jalanan ibu kota. Raina bercermin dan kembali mengusap bibirnya dengan lipcream yang ia pegang. Setelah memastikan semuanya rapih dan tidak ada yang terlihat kacau, Raina turun dari mobil, menuju kedai kopi kesayanganya. Untuk mengambil pesanannya yang sudah hampir setiap hari ia lakukan. Raina sebetulnya bukan primadona di kantor ini. Banyak wanita lain yang lebih cantik, menarik, dibanding Raina. Tapi, yang membedakan adalah Raina punya kepercayaan diri yang tinggi untuk berhadapan orang-orang. Raina juga pandai menempatkan diri di hadapan bos-bosnya. Tidak heran, kalau Raina sering diajak untuk menemui klien sebagai ‘pancingan’ agar klien menyetujui untuk bekerja sama dengan kantor Raina. Raina tentu sjaa tidak menolak apabila harus menemani bos-nya makan malam, satu kali, dua kali, tidak menjadi persoalan yang berarti untuk Raina. Lumayan, bayaran yang diberikan kepadanya hanya untuk duduk di samping bos-nya, bisa Raina gunakan untuk membeli make up atau pakaian terbaru yang akan menunjang penampilannya. “Mas, biasa ya, take away.” Kata Raina, beribcara dengan barista yang ada di kedai kopi kantornya. “Siap, ka.”Kata Barista itu, menyambut ucapan Raina. Hanya butuh waktu 5 menit hingga semua pesanan ‘biasa’ Raina, siap dinikmati. Raina mengambil semua pesananya dan bersiap untuk naik menuju ruangannya. ------------ Pagi ini, Mentari masih disibukkan dengan merapihkan rumahnya. Pekerjaan yang tidak biasa unuk Mentari lakukan. Kemarin-kemarin, di rumah Mentari ada asisten yang biasa membantunya untuk membersihkan rumahnya. Asisten itu datang di pagi hari atau kadang hanya di sore hari. Sekarang, Mentari sudah tidak lagi mempergunakan asisten untuk membersihkan rumahnya. Rumah yang hanya dihuni oleh dirinya dan anaknya yang masih kecil itu, sepertinya masih mampu untuk dibersihkan oleh Mentari sendiri. Lagipula, Mentari harus menghemat budgt yang ia punya, agar hidupnya bisa bertahan lebih lama. Perjalanan anaknya masih jauh ke depan. Mentari harus mencari cara agar ia punya penghasilan lain, mengingat ia yang juga akan hiatus. Mentari masih menunggu balasan dari Raina. Dari semalam, Mentari masih ragu untuk menghubungi Raina. Mentari hanya tidak enak hati, kalau ia menelfon Raina, tapi Raina sedang bersama Rafli, kekasihnya. Mentari tidak ingin mengganggu dua orang yang sedang memadu kasih itu. Oleh karena itu, Mentari tidak ingin menghubungi Raina di malam hari. Tapi, Mentari juga masih tidak tenang untuk menjalankan hiatusnya. Mentari belum berdiskusi lebih lanjut dengan Raina. Raina juga terbilang sangat kaget kemarin, ketika Mentari membicarakan bahwa ia akan hiatus. Kemarin, Mentari terlalu buru-buru untuk menjemput anaknya di daycare. Firasat Mentari terlalu buruk tentang kondisi anaknya di daycare, Mentari hanya ingin cepat-cepat menemui anaknya. Mentari sudah tidak ingin lagi untuk menunda menghubungi Raina. Pembahasan mengenai ia yang akan hiatus harus segera diselesaikan dengan Raina. Mentari ingin lebih cepat menghabiskan waktu dengan tenang bersama anaknya, tidak perlu merasa dikejar oleh apapun. Mentari mengambil Hp-nya, segera membuka kontak dan mencari nama Raina di sana. Nama Raina sudah tertera di layar Hp Mentari, Mentari hanya perlu menekan tombol panggilan agar ia bisa tersambung ke Raina. Seketika Mentari mencoba untuk menerawang tentang hidupnya nanti, penghasilan yang tidak menentu, pengeluaran bulanan yang tetap, anaknya yang pasti akan mempunyai biaya hidup yang sangat besar. Belum lagi, Mentari yang harus mengurus membayar cicilan ini dan itu, harga bahan pokok yang semakin mahal, harga s**u yang tidak bisa ditawar, dan yang pasti ia dan anaknya yang masih butuh makan dan membutuhkan nominal uang dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan koin yang ia hasilkan dari menulisnya. Bagaimana pun, Mentari harus memutar otak untuk menghasilkan nominal uang yang lebih banyak. Ayah dari anaknya sama sekali belum menunjukkan itikad baik untuk memberi nafkah untuk anaknya. Mentari mungkin tidak perlu meminta agar dirinya juga diberi uang untuk hidup, tapi Mentari hanya perlu anaknya yang diberikan nafkah, agar anaknya masi Ayah dari anaknya sama sekali belum menunjukkan itikad baik untuk memberi nafkah untuk anaknya. Mentari mungkin tidak perlu meminta agar dirinya juga diberi uang untuk hidup, tapi Mentari hanya perlu anaknya yang diberikan nafkah, agar anaknya mendapat kepastian untuk kehidupan yang layak dan terjamin. Sayang, Ayah dari anaknya masih tidak ingat akan kewajibannya sebagai seorang ayah. Mentari juga tidak mau menuntut, lebih tepatnya, sudah tidak mau menuntut lebih akan kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah. Mentari sudah Lelah beradu pendapat dengan ayah dari anaknya, Mentari tidak ingin lagi menghabiskan waktu hanya untuk orang yang keras kepala. Bukan hanya uang yang harus terjamin untuk kehidupan ia dan anaknya, kehadiran Mentari di sisi anaknya juga sangat penting. Sangat penting. Pertumbuhan dan perkembangan anaknya sangat menjadi perhatian Mentari untuk saat ini. Mentari sudah tidak ingin melewatkan waktu tanpa sekalipun memperhatikan anaknya. Mentari hanya harus menemukan peluang yang lebih banyak agar ia tetap bisa hadir di sisi anaknya dan juga uang yang bisa menjamin kehidupan ia dan anaknya. Mentari menarik nafasnya, menahan nafasnya selama beberapa detik, menghembuskan nafasnya kembali. Mentari mencoba berpikir matang, sekali lagi. Mentari harus segera menelfon Raina dan membahas tentang hiatusnya. Mentari menekan tombol panggilan, menghubungkan dirinya dan Raina. Hanya satu harapan Mentari saat ini, Raina menjawab teleponnya secepat mungkin. “Eh aduh-aduh, maaf, maaf, permisi.” Ucap Raina, saat mencoba untuk masuk ke dalam lift yang sudah penuh dengan karyawan yang ingin naik menuju ruangan masing-masing di lantai atas. Raina yang memegang kopi panas di tangan kirinya, tas jinjing yang juga ada di pergelangan tangannya, dan tangan kanannya yang sibuk memegang handphone. Semua barang yang ada di tangannya, membuat Raina tidak fokus dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Raina sampai tidak sadar bahwa lift yang dinaikinya, sebenarnya sudah melebihi dari kapasitas yang seharusnya. Tapi, karena karyawan yang ada di dalam sana, enggan berkomentar, mereka hanya melihat Raina yang memaksa untuk masuk dan ikut naik ke atas. Raina melirik hp-nya yang terus menyala, Raina tidak bisa melihat apa yang ada di layar hp-nya. Ruang lift yang sangat sempit karena terlalu padat ini, hanya bisa membuat Raina menatap lurus ke arah depan. Tidak bisa membuatnya bergerak terlalu banyak. Ditambah lagi dengan kopi yang saat ini dipegang olehnya, membuat pergerakannya harus diminimalisir agar kopinya masih tetap baik-baik saja sampai di ruangannya. -------- Mentari menghela nafasnya, pasrah. Raina tidak menjawab telefonnya, apakah itu artinya bahwa Raina sudah tidak ingin lagi berkomunikasi dengannya? Tapi, itu rasanya tidak mungkin. Raina pasti sedang sibuk atau sedang ada meeting di pagi hari seperti sekarang ini. Mentari akan mencoba untuk menghubunginya beberapa menit lagi. Mentari meletakkan hp-nya dan memilih untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang menjadi jadwalnya setiap pagi ini. Mentari mulai memasak, mencuci, merapihkan pakaian, dan melakukan semua aktivitas membereskan rumah lainnya, termasuk dengan memandikan anaknya. Mentari baru sadar, menjadi seorang ibu, sekaligus ayah, adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit dibandingkan ia yang harus duduk seharian menentukan jalan cerita terbaik yang harus ia tulis. Menjadi orang tua, juga jauh lebih sulit dibandingkan apapun. Menjadi orang tua adalah pekerjaan yang tidak akan pernah bisa berhenti. Mentari cukup bersyukur, hari ini, ia masih diberi kesempatan untuk bisa merasakan menjadi orang tua. Raina yang tiba di ruangannya seketika saja sudah mengeluh tentang padatnya lift hari ini, rambutnya jadi sedikit lepek dan make up nya harus sudah bercampur dengan sedikit keringat yang keluar dan membasahi wajahnya. Raina bergegas menuju toilet untuk memperbaiki hiasan di wajahnya. Raina juga sempat menyapa beberapa karyawan yang lewat dan berpapasan dengannya, lumayan untuk menciptakan first impression yang baik di awal hari ini. Ketika Raina sedang melihat dirinya di cermin, ia baru menyadari sesuatu, ada yang menelfonnya tadi saat ia sedang ada di lift. Raina bergegas keluar dari kamar mandi dan melihat handphonenya. Ada telepon masuk dari Mentari. Raina bergegas membuka ruang chat antara dirinya dan Mentari. Nay, sorry banget gue terkesan buru-buru tadi, gue sebenernya nggak ada maksud buat ninggalin lo gitu aja tanpa penjelasan yang jelas. Kalo lo ada waktu kosong, kapan lu bisa bersedia buat ngobrol, Nay ? Raina terkejut. Pesan dari Mentari bukan semata-mata ingin membatalkan hiatusnya. Mentari hanya minta Raina untuk meluangkan waktu agar bisa berbincang dengannya. Raina hanya terdiam menatap pesan dari Mentari. Bayangan hidupnya yang sempurna, kini sedikit memudar. Hari ini, Raina kerja dengan perasaan yang tidak tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD