#CH-Mie Instant

2119 Words
Mentari masih menunggu balasan dari Raina. Sesekali Mentari kembali membuka pesan yang ia kirimkan tadi kepada Raina. Mentari bahkan membaca ulang pesan itu, memastikan kalau ia sudah dengan jelas apa maksud dan tujuannya mengatakan kalau ia akan hiatus kepada Raina. Sudah 3 jam, sejak Mentari mengirimkan pesan itu, Mentari masih belum juga mendapati kalau Raina telah membaca pesannya. Mentari masih tidak tahu bagaimana yang seharusnya, ia hanya tidak ingin kehilangan momen akan perkembangan anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin menyia-nyiakan waktu untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Mentari ingin sepenuhnya menjalankan perannya sebagai orang tua. Pekerjaan menulisnya memang sangat membantunya selama ini. Mentari hanya perlu menitipkan anaknya seharian di day-care, kemudian ia bisa dengan fokus mengerjakan pekerjaannya. Sebenarnya menulis, bukan satu-satunya pekerjaan yang dilakukan Mentari. Mentari juga terdaftar di beberapa platform pekerjaan freelancer, lumayan bisa membantunya dengan uang yang didapat. Meskipun, nominalnya memang tidak sebesar ketika ia menulis. Novel Mentari yang sudah 5 kali terpajang di rak best seller sudah membuktikan kerja kerasnya, hasil royalti dari buku-bukunya juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Belum lagi dengan ceritanya yang ada di aplikasi-aplikasi penyedia cerita, cerita karya Mentari selalu menjadi karya yang ditunggu-tunggu oleh para pembacanya. Pembacanya juga tidak segan untuk memberikan uang gift kepada Mentari. Mentari masih bisa menggunakan uang itu, lumayan untuk membantu biaya hidup kesehariannya. Uang memang harus dicari, tapi perkembangan anaknya, juga tidak akan pernah bisa dicari dimanapun lagi. Anaknya hanya tumbuh dewasa satu kali. Uang yang didapat Mentari memang sangat penting untuk kehidupan anaknya. Tapi anaknya, hanya hidup satu kali. Tidak ada bagian kehidupan anaknya yang Mentari bisa ulang nanti. Mentari ingin lebih banyak menyaksikan dan menjadi saksi dari pertumbuhan anaknya. Mentari lebih tidak tenang dengan apa yang tidak dilihatnya mengenai anaknya. Untuk yang kesekian kalinya, Mentari membuka kembali ruang obrolan antara dirinya dan Raina, memastikan Raina sudah membaca atau bahkan sudah membalasnya. Tapi, Raina masih juga belum juga memberikan respon apapun terhadap pesan yang diberikan Mentari. Sebetulnya, Mentari juga tidak tega memutuskan sementara hubungan kerjanya dengan Raina, karena Raina adalah orang yang bisa diajak kerja sama, meskipun Raina dikenal dengan sifatnya yang lain, tapi tetap saja, Mentari masih merasa cocok dan nyaman untuk bekerja sama dengan Raina. Mentari tidak ingin berlarut-larut memikirkan omongan Raina, atau mungkin lebih tepatnya omelan dari Raina. Mentari hanya ingin mengambil jalan untuk dirinya dan anaknya. Jalan terbaik yang sekiranya sekarang sudah tersedia di depannya adalah menghilang sementara dari dunia menulis. Biarkan para pembacanya yang merindukan sosok Mentari dan memberikan sepenuhnya kelanjutan nasib Mentari di tangan para pembacanya. Kelak, saat Mentari sudah siap untuk kembali lagi, semoga saja namanya masih membekas di ingatan pembacanya, sehingga Mentari dapat diterima dan dikenal kembali. --------------------- Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, puluhan lagu yang sudah dimainkan di radio mobilnya. Sekarang, Raina sudah sampai di rumahnya. Raina menghempaskan badannya ke sofa, lega. Raina tidak perlu pusing lagi memikirkan dirinya yang akan kehilangan sumber uangnya atau apapun itu. Raina masih bisa menjalankan semua aktivitasnya seperti biasanya. Mungkin, tadi Mentari lagi capek aja kali ya, sampe dia bilang kalo dia mau hiatus. Gila juga sih, kalau Mentari memang sungguh-sungguh ingin hiatus. Gue rasa bukan Cuma gue aja yang kehilangan sumber rupiah. Tapi, Mentari juga akan kehilangan sumber penghasilannya. Anaknya kan masih butuh banyak biaya, kalau Mentari memutuskan untuk hiatus, anaknya mau makan apa. Raina coba menebak tentang Mentari. Raina yang masih berleyeh-leyeh di sofa ruang tamunya, harus sementara bergerak menuju dapur di rumahnya. Ada sinyal-sinyal di perutnya yang memberi kode bahwa ia harus mengisi dengan makanan. Di Café tadi, Raina sama sekali tidak memesan makanan berat. Malas kalau harus makan makanan berat di café, sudah bisa diukur enaknya kayak gimana. Biasanya juga café selalu menyajikan makanan utama dengan harga yang sangat mahal. Raina, meskipun banyak uang, tetap memikirkan dengan matang, tempat yang sesuai untuk ia menghabiskan uangnya. Raina juga harus memastikan, siapa orang yang sedang bersamanya saat itu. Kalau kejadiannya seperti tadi, hanya ada Mentari yang menyaksikan, Raina tidak perlu repot-repot untuk memesan makanan yang banyak, Mentari tidak akan menaruh rasa kagum terhadap Raina. Kalau di tempat lain, atau ketika sedang bersama teman-temannya, Raina baru merasa punya kesempatan untuk mengagungkan dirinya di hadapan teman-temannya. Raina harus pandai membaca situasi agar tercipta peluang yang menguntungkan untuk dirinya. Raina mulai bergerak ke arah dapur untuk mencari makanan yang bisa dikonsumsi untuk mengisi perutnya yang sudah kosong. Tidak butuh waktu lama sebetulnya untuk mencari makanan yang bisa dimakan di kulkas Raina. Raina bukan orang yang sering mengonsumsi makanan yang sehat, tidak perlu heran kalau kulkas Raina, kebanyakan diisi oleh makanan instan. Begitupun dengan lemari persediaan makanan Raina, kebanyakan hanya makanan yang bisa diolah dengan hitungan menit tanpa perlu ribet. Raina masih menimbang-nimbang, haruskah ia makan makanan dari kulkasnya atau ia harus memilih untuk memesan makanan dari luar. Memesan makanan dari restoran kesukaan Raina tentu saja akan menghabiskan waktu yang jauh lebih lama, kalau Raina memasak sendiri makanannya. Belum lagi kalau mas-mas yang nganter makanannya harus tersasar, tidak menemukan alamat rumahnya, bahkan yang lebih malas adalah kalau ternyata restorannya terlalu ramai. Raina melirik ke arah jam dinding, jam makan siang sudah lewat. Orang-orang yang ingin memesan makanan dari restoran seharusnya sudah tidak ada lagi, kalaupun ada pasti hanya hitungan jari. Raina menghentikan aktivitasnya untuk mencari bahan makanan di kulkas. Raina mulai membuka handphone-nya, menuju aplikasi penyedia makanan online yang bisa diantar sampai ke rumahnya. Raina masih menggulirkan jarinya di layar handphone-nya. Mencoba menghitung berapa biaya dan ongkos yang harus dikeluarkan untuk makan siangnya hari ini. Tidak menemukan harga yang pas. Raina beralih ke restoran yang lain. Satu persatu restoran sudah Raina cek, Raina juga sudah memastikan menu yang menjadi santapan makan siangnya dan ongkos yang harus dikeluarkan agar makanan itu diantar sampai ke rumahnya dengan selamat. Raina kembali beralih restoran. Mencoba menemukan menu dengan harga yang lebih murah. Sudah 30 menit waktu yang Raina habiskan untuk sekedar mencari menu pilihannya, ongkos yang sesuai, juga diskon yang mendukung untuk makan siangnya kali ini. Raina masih memikirkan dengan matang, uang yang akan ia habiskan untuk memesan makanannya. Raina masih termenung, memikirkan pilihannya yang menurutnya masih belum tepat. Raina menghela nafasnya, pilihan yang sulit. Saat Raina buka kulkas tadi, Raina tidak menemukan bahan makanan yang bisa ia masak. Sayur tidak ada, buah juga tidak ada, minuman yang bisa mengganjal perut juga tidak ada, s**u juga tidak ada di kulkasnya, Raina masih terlalu malas untuk mengisi kulkasnya dengan makanan dan minuman yang bergizi untuk dirinya. Hanya ada satu makanan yang bisa Raina nikmati dengan cepat, makanan ini juga selalu ada di dalam kulkasnya. Raina juga tidak segan untuk membeli dalam jumlah banyak. Makanan ini bukan hanya penyelamat Raina. Tapi juga makanan yang mendominasi isi perut Raina. Dengan kekuatan yang Raina miliki, Raina yakin bahwa pilihannya tidak salah. Raina menutup aplikasi penyedia makanan online di hp-nya, Raina bangkit dari sofa ruang tamu dan kembali menuju dapur. Raina membuka kulkasnya lagi, mencoba memikirkan dengan matang untuk sekali lagi, bahwa apa yang ia lakukan kali ini adalah perbuatan yang benar. Raina mengambil makanan yang dikemas dengan bungkus berdominasi warna putih. Keputusan Raina sudah bulat, makan siangnya kali ini akan ditemani dan diisi oleh sebungkus Indom*e. Apa lagi yang bisa dikatakan, Raina berhasil menghemat puluhan ribu uangnya. Lumayan, uang jatah makan siangnya hari ini. Bisa Raina gunakan untuk membeli kopi, besok pagi. Membawa segelas kopi dan berjalan di tengah teman-temannya, adalah kebanggan tersendiri yang Raina bisa lakukan. Biar saja, untuk hari ini, dan untuk yang kesekian kalinya, Raina memilih mie instan untuk menu makan siangnya. Sambil menunggu mie instan, Raina teringat suatu hal. Raina belum membaca pesan masuk dari Mentari. Raina sudah tidak ingin membacanya karena Raina tahu, pada intinya, Mentari memang tidak ingin untuk hiatus dari dunia penulisan. Raina hanya percaya diri dengan opininya. Raina masih belum ingin memastikan apa isi lengkap dari pesan yang dikirim Mentari untuk dirinya. Sambil menyajikan mie, Raina masih terjebak dan masih bangga dengan opininya sendiri. ---------------------------- Mentari yang masih menunggu balasan dari Raina, cemas. Memikirkan bagaimana kalau Reina sampai salah paham yang bisa berakibat berkepanjangan untuk dirinya. Mentari tidak ingin hal itu sampai terjadi. Benar, kalau Mentari sedang tidak ingin bekerja lebih lanjut dengan Raina. Tapi, Mentari masih ingin menjaga pertemanan yang selama ini ia sudah bangun dengan Raina. Memang sih, pertemanan Raina dan Mentari tidak selalu baik. Raina kadang juga suka emosi terhadap Mentari, Mentari juga suka seperti itu. Raina yang kadang hanya melihat dari satu sisi harus terus menerus diingatkan oleh Mentari. Mentari yang juga punya kesabaran terbatas, juga harus pandai-pandai mengatur emosinya saat bertemu dengan Raina. Saat keduanya dihadapkan dengan pekerjaan juga seperti itu. Raina sering kali memberi komentar terhadap apa yang Mentari kerjakan. Padahal, Raina yang bekerja untuk Mentari. Tapi, Mentari yang sering pusing untuk menghadapi rekan kerja seperti Raina. Mentari juga tidak bisa memungkiri bahwasanya Raina adalah orang yang turut membantunya menghantarkan karya tulisannya hingga terpajang di toko buku. Waktu pertama kali Raina dan Mentari diberi kabar bahwa bukunya masuk dalam jajaran best-seller oleh salah satu toko buku di dekat tempat tinggal mereka. Raina langsung menemui Mentari di rumahnya dan langsung menangis di pelukan Mentari. Ada rasa bangga dan rasa haru karena usaha, serta jerih payah mereka berdua membawa hasil yang sangat jauh di luar dugaan mereka. Mulailah saat itu Mentari dan Raina berjanji untuk bekerja sama yang lebih giat lagi. Mulai bersama-sama merumuskan cerita apa yang harus dibuat agar lebih memberikan kesan yang mendalam untuk seluruh pembacanya. Mentari yang saat itu masih tidak bisa berkata-kata juga langsung bertekad dalam dirinya untuk selalu membuat ide cerita terbaik untuk para pembacanya. Hobi menulisnya kini juga menghasilkan pundi-pundi rupiah. Bukankah itu yang selama ini dicari oleh masyarakat kita, terus menerus mencoba untuk bermain dalam bekerja, menemukan hobi yang dibayar, merasakan dirinya menyatu dan berusaha untuk mencintai pekerjaannya. Mentari yang menemukan hal itu lebih cepat, tentu saja sangat bahagia. Mentari menjalani hobinya dan dibayar. Mentari hidup dalam impian orang-orang. Bukan cuma Mentari seorang yang mengalami itu, Mentari juga membantu orang lain, yaitu Raina untuk mendapat pekerjaan sampingan. Mentari juga yang menyebabkan Raina hidup jauh lebih berkecukupan saat ini. Mentari yang membuat Raina sedikit lebih santai dalam bekerja dan tidak perlu mengambil jatah lembur yang terlalu banyak. Tapi, perihal sifat boros Raina, itu bukan tanggung jawab Mentari. Bukan sama sekali tanggung jawab Mentari. Mentari hanya memberi Raina jalan, iya, hanya memberikan jalan. Sisanya, Raina yang harus menentukan sendiri langkahnya agar tetap ada di jalan itu. Mentari bukan tidak acuh pada sifat boros Raina. Mentari hanya merasa bahwa itu bukan lahannya untuk mencoba mengomentari Raina. Mentari hanya akan berkomentar apabila itu menyangkut pekerjaan mereka berdua. Mentari masih bolak-balik di sekitar kontak Raina, bimbang. Mentari ingin langsung menelpon Raina untuk memastikan bahwa Raina masih bersedia menemuinya. Tapi, Mentari juga takut, ketika ia menelpon Raina, Raina malah langsung marah-marah atau bahkan memaki dirinya. Yang lebih parah, kalau ternyata Raina masih belum juga membaca pesan yang dikirimkan oleh Mentari. Mentari melirik anaknya, satu-satunya pemandangan terindah dalam hidupnya setelah berbulan-bulan, Mentari tidak pernah se-enjoy ini melihat anaknya sendiri. Hidup Mentari yang kemarin, selalu disibukkan oleh pikiran deadline tentang bukunya. Alur cerita yang setiap hari harus dilaporkan, harus didiskusikan meski dengan pikirannya sendiri. Mentari tidak pernah menikmati waktu sepenuhnya dengan anaknya. Mentari mungkin tidak akan pernah mengambil keputusan yang sangat kuat untuk hiatus, kalau bukan karena ia yang mendapati anaknya menangis sangat keras ketika ia menjemputnya tadi. Mentari tidak pernah takut atau cemas sekalipun tentang keadaan anaknya saat di daycare, tapi tadi, ketika Mentari masuk ke ruangan tempat anaknya bermain. Mentari melihat anaknya menangis sangat keras, sangat keras, sampai anak-anak lain menjadikan anaknya sebagai pusat perhatian. Siapa ibu yang tidak luluh hatinya ketika melihat seorang anak menangis sangat keras? Tidak ada seorang ibu yang tega membiarkan anaknya menangis begitu keras. Mentari yang melihat anaknya menangis keras, langsung mendekati anaknya, memeluknya dengan erat, mengusap punggung nya. Dengan suara bergetar, Mentari hanya mampu mengucapkan ‘Ibu, ada di sini, Nak.’ Seketika saja, tangis anaknya mulai mereda. Mentari tidak bisa membayangkan hari-hari anaknya yang selalu dititip di daycare. Mentari tidak pernah bisa menyaksikan anaknya menangis, tidak pernah bisa menenangkan anaknya yang menangis. Hiatus dari menulis adalah salah satu cara Mentari untuk bisa terus menemani anaknya, berada dekat dengan anaknya, dan bisa memeluk anaknya setiap waktu saat anaknya menangis. Mentari kembali melihat layar handphone-nya. Mungkin, beberapa saat lagi ia akan menghubungi Raina, terpaksa. Raina masih belum juga membaca pesannya. Mentari ingin mengetahui bahwa Raina masih menerima untuk berkomunikasi dengannya dan membicarakan mengenai hiatus-nya Mentari dari tulis-menulis ini. Mentari masih menunggu Raina. Mentari juga masih menunggu keberaniannya untuk menelpon Raina, menanyakan kepastian bahwa Raina akan berdiskusi dengannya. ---- Raina yang menikmati suapan terakhir dari semangkuk mie instannya hanya terus menerus bersenandung riang dengan lirik lagu yang ia hafal, sekedarnya. Tidak sama sekali memikirkan pesan Mentari, tidak juga memikirkan pekerjaannya. Hanya ingin bersantai dan menikmati apa yang ada di depannya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD