Bab 5

1304 Words
Naresya dan Naskala benar benar di bawa pergi oleh kedua orang tua Naskala. Keberangkatan mereka di rahasiakan bahkan dari semua orang yang ada di perusahaan. Raga tak bisa percaya pada siapapun saat ini. Kaila yang ikut bersama mereka juga hanya diam saja. Semua di atur oleh Raga sedemikian rupa. Naskala dan Naresya di tempatkan di rumah yang terpisah. Dan itu berarti Kaila juga harus berpindah pindah tempat. Awalnya Raga tak tega dengan istrinya dan ingin melarang Kaila. Raga juga mengatakan jika lebih baik menyewa perawat saja untuk mereka berdua. Tapi Kaila bersikeras untuk merawat mereka sendiri karena perasaan bersalahnya sejak dulu. Semua karena di masa lalu dia kurang tegas dan berakhirlah dengan dua remaja tersiksa di masa mudanya. # Naskala, awalnya menolak saat ingin di rawat di pedesaan itu tapi Kaila berhasil membujuknya. Memberi masukan agar dia benar benar sembuh. Kedua rumah itu tak berjauhan karena untuk memudahkan Kaila mengurus semuanya. Sedangkan Naresya ternyata menyukai tempat itu yang lebih tenang. masing masing di beri pengawal oleh Raga untuk menghindari sesuatu yang tak mereka inginkan. "Naresya, kamu ingin makan apa pagi ini?" Naresya yang sejak tadi hanya berdiam diri di taman menoleh ke sumber suara. "Terserah kamu mau masak apa Sera, aku akan memakannya." Sera, pengawal pribadinya mengangguk, lalu dia memberitahu Naresya jika Naresya ada jadwal dengan dokter hari ini. Naresya menurut, dia cenderung lebih tenang dari pada Naskala. Naskala yang memang lebih jauh depresi dari pada Naresya, akan mengamuk jika ada hal yang tak di inginkannya. Seperti pagi ini, pelayan perempuan yang tiba tiba masuk ke dalam kamar Naskala dan memaksa Naskala untuk membersihkan diri di bantu olehnya. "Lancang, siapa lo berani ngatur gue? Siapa Lo berani nerobos masuk kamar gue hah?" Naskala bahkan sudah mencekik leher pelayan itu. Wajah pelayan itu sudah pucat pasi saat ini. "Tuan muda, tolong lepaskan!!!" Naskala bahkan semakin erat mencengkeram leher itu. Kaila yang mendengar teriakan Naskala bergegas masuk ke dalam kamar Naskala. Matanya membelalak saat dia sampai disana. Terlihat Naskala sudah hampir menghabisi pelayan wanita itu. "Naskala, lepaskan dia. Kamu bisa membunuhnya. Kendalikan emosimu, Naresya sedang menunggumu sembuh!!!" Kaila berteriak, dan terpaksa memakai nama Naresya agar Naskala bisa mengontrol emosinya. Dan benar saja, detik berikutnya Naskala melepaskan cengkeraman nya pada leher pelayan itu. Bruk.... "Pecat dia, gue nggak mau ada orang seperti dia di sekitar gue!!!" Anak buah Raga segera membawa pelayan itu pergi. Tapi bukan asal di pecat seperti yang Naskala bilang. Anak buah Raga sudah menjaga Naskala sejak lama. Dan mereka tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membungkam mulut pelayan tak tahu diri itu. Mereka membawanya ke hutan yang sepi dan jauh dari pemukiman. Melepaskannya di sana di tengah hutan yang banyak hewan buasnya. Kaila mendekat ke arah Naskala yang masih berusaha mengontrol napasnya. Naskala mengusap wajahnya kasar, dia masih merasa belum bisa mengontrol semuanya dengan baik. "Naskala, tenanglah. Mama yakin kamu pasti bisa. Kalau kamu ingin menebus semua kesalahan kamu dan kembali dengan Naresya kamu harus bisa menguasai emosimu. Jangan sampai saat kamu bersama Naresya, kamu melukainya lagi saat kamu sedang marah." Naskala melihat mamanya sendu. Bertahun tahun berlalu tapi pada kenyataannya dia masih terluka dengan penyesalan masa lalunya. "Ma, apa aku benar benar bisa sembuh? Kemarin bertemu Naresya pun aku masih melukainya." ucap Naskala sendu. Kaila memeluk anak laki lakinya itu dengan perasaan yang terluka. Semua hanya karena masa lalunya. Dan kali ini dia akan menebusnya. Dia akan membuat Naskala benar benar sembuh tanpa harus mengkonsumsi obat penenang lagi. Dan kali ini tanggungannya bertambah. Ternyata Naresya yang juga korban disini juga sama depresinya dengan Naskala. "Tenang, kamu pasti bisa melewatinya. Jangan sia siakan semua perjuangan Papa Raga untuk kita." Naskala yang awalnya enggan memeluk mamanya akhirnya memeluk Mamanya dengan erat. Di tambah dia mengingat Raga yang sudah membantunya sampai hari ini. # Disisi lain, Naresya melakukan aktivitas seperti biasa seperti yang di sarankan oleh dokter pribadinya. Dokter khusus untuk Naresya. Dokter perempuan, dan khusus Naskala adalah dokter laki laki. Naresya terlihat beberapa kali menghela napas panjang. Dia merasa jenuh dengan apa yang dia lakukan. Tak bisa keluar dari rumah dengan bebas dan hanya sekitar lingkungan itu saja. "Sera, apa Tante Kaila akan datang kemari?" Tiba tiba saja Naresya menanyakan Kaila dan ingin bertemu dengan nya. "Kenapa? Nona kangen sama nyonya Kaila?" Naresya mengangguk, dia merasakan pelukan hangat dari Kaila. Dia merindukan pelukan itu. "Nyonya Kaila sedang mengurus tuan muda, dia akan datang kemari dan bergantian untuk menjaga kalian berdua." Naresya terdiam, beberapa saat dia lupa jika Naskala juga ada disana tapi berbeda tempat. Pada akhirnya Naresya hanya mengangguk dan kembali Dnegan aktifitas nya. # Raga, berkutat dengan berkas berkasnya. Brak.... Raga sedikit tak suka dengan apa yang terjadi dengan pintu ruangannya yang di buka tiba tiba seperti itu. "Dimana Naskala?" Raga mengerutkan keningnya bingung, siapa perempuan yang sudah berani menerobos masuk ke dalam ruangannya bahkan tak punya sopan santun itu. "Om, kenapa malah diam aja?" Raga memencet sebuah tombol di dekat mejanya. Dan tak lama, asisten beserta satpam masuk ke dalam ruangannya. "Kalian di potong gaji dan juga bonus selama tiga bulan ke depan karena membiarkan perempuan ini menerobos masuk ke dalam ruanganku. Dan setelah ini, usir wanita ini. Blacklist dia dari semua perusahaan ku!" Mata Gisel melotot mendengar perintah Raga. Dia nyelonong masuk ke ruangan Raga saat jam istirahat dimana tak ada sekertaris Raga dan juga asisten Raga. Dan saat ini dia di usir paksa oleh Raga. Padahal dia belum mendapatkan info soal Naskala dan dimana dia berada. "Jangan berani sentuh gue sama tangan kotor kalian!!!" ucap Gisel. Dua satpam yang bertugas itu tak peduli siapa Gisel selama Raga sudah memberi perintah seperti itu. Karena mereka bukan satpam sembarangan. Mereka adalah anak buah Raga yang bertugas di bagian keamanan. Gisel berteriak, dia memaki Raga dan satpam itu. Sedangkan asisten Raga sudah menghela napas panjang. "Maafkan kecerobohan kami tuan, dan aku akan menegur resepsionis yang bertugas." "Pasang wajah perempuan tadi di semua perusahaan kita. Pastikan dia tak mengganggu Naskala dan Kaila. Awasi juga pergerakannya. Jika sampai lolos lagi, kamu tahu bukan akibatnya?" Asisten Raga mengangguk, lalu dia pergi meninggalkan ruangan Raga. Setelah kepergian mereka, Raga mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Alfonso ternyata masih ingin membuat ulah." Raga menghubungi anak buahnya yang sedang bersama Naskala dan Naresya. Sengaja dia tak menghubungi Kaila karena dia tak ingin membuat istrinya itu kepikiran. "Pastikan mereka semua aman disana. Jangan biarkan orang asing mengusik mereka!" # Kaila kali ini bersama dengan Naresya, mereka berkutat di dapur dan memasak beberapa makanan. "Nares, boleh Tante tahu, bagaimana dulu kalian kenal?" Kaila mencoba mengajak Naresya berbicara tentang hubungannya dengan Naskala. Naresya yang di tanya pun sedikit terkejut tapi dia sudah belajar banyak dari dokter yang merawatnya. Dia sudah mencoba melakukan hal yang tak membuatnya panik. Kaila bukan tanpa alasan bertanya seperti itu. Semua itu juga karena sudah berbicara dengan dokter Naresya. Untuk menguji bagaimana perkembangan Naresya. "Kami teman satu kelas Tante, dan aku tak begitu dekat dengan Naskala. Hanya saja Naskala adalah cowok yang terkenal di sekolah. Dan waktu itu, kami bersama karena tak sengaja menjadi satu kelompok dalam tugas. Mulai dari situ kami dekat.... " Naresya tak melanjutkan jawabannya dan itu tak membuat Kaila memaksanya karena dia sudah paham kelanjutannya. Kaila menepuk pelan pundak Naresya. Terlihat sekali wajah Naresya yang masih kesusahan untuk bercerita tentang Naskala. Dan keadaan itu sama seperti keadaan Naskala. "Jangan memaksa semua ingatan dan rasa sakitnya bersamaan. Sembuh lah untuk masa depan kamu Naresya. Tante disini, bukan untuk memaksa kalian bersatu. Tapi menjalani takdir kalian satu sama lain, dan Tante hanya berharap kalian sembuh. Bisa melanjutkan hidup tanpa rasa bersalah dan dendam satu sama lain. Tante tahu itu bukan hal yang mudah untuk kalian." Kaila memeluk Naresya erat, dan disana lah air mata Naresya bisa keluar. Selama ini tak ada air mata yang benar benar tumpah dari matanya. Hanya ada rasa sesak dan ketakutan. Naresya terbiasa memendam semua sendirian. "Menangislah Naresya." to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD