Hari berganti hari, Minggu pun berganti. Sudah beberapa bulan lamanya Naskala dan Naresya serta Kaila ada di luar negeri menyembuhkan semua perasaan depresi mereka. Dan selama beberapa bulan juga Gisel tak menyerah mencari keberadaan Naskala. Berusaha menerebos masuk ke perusahaan Raga dan juga Naskala.
Tapi dia selalu di usir dari sana. Dan kepergian Naskala keluar negeri juga berhasil di kendalikan oleh Raga. Tak ada yang curiga dengan kepergian Naskala bersama Naresya.
#
Dan kali ini tanpa Naskala dan Naresya duga, mereka di pertemukan di sebuah taman dengan banyak anak kecil disana.
Kaila serta Sera mengawasi dari jauh dan juga dokter pribadi masing masing. Mereka mengawasi bagaimana interaksi Naskala dan Naresya saat kembali bertemu setelah mereka di nyatakan lebih tenang dan banyak kemajuan.
Keduanya nampak terkejut, tapi setelah itu Naresya yang lebih dulu memutuskan pandangan mereka.
"Cari tempat duduk aja ya?"
Naresya yang mendengar suara Naskala terdengar lebih lembut pun mengangguk. Dia mengikuti Naskala yang mencari tempat duduk tak jauh dari mereka bertemu. Di depannya banyak anak anak yang sedang bermain.
Mereka duduk dalam diam, dengan pikiran masing masing. Tapi tak ada rasa takut seperti yang sudah sudah.
Dokter pribadi mereka terlihat tersenyum.
"Ini permulaan yang baik untuk mereka."
Kaila dan Sera mengangguk setuju. Mereka lalu kembali mengamati apa yang dilakukan Naresya dan Naskala.
"Nares, kamu apa kabar?"
Naresya yang sejak tadi hanya melamun dan melihat ke arah anak anak kecil itu sempat kaget.
"Aku merasa lebih baik, ini semua berkat mama kamu." jawab Naresya pelan.
Naskala menghela napas lega, karena apa yang di katakan oleh mamanya benar adanya. Ternyata Naresya sudah lebih baik.
Naskala mengangguk, lalu mereka kembali sama sama terdiam. Entah bingung dengan apa yang ingin bicarakan.
Duk....
Sebuah bola sepak mengenai kaki Naskala.
"Kakak, ayo main kesini!" teriak salah satu anak kecil itu.
Naskala mengambil bola itu, dan berjalan menghampiri anak anak itu.
Dan mulai lah Naskala ikut bermain bola sepak itu. Tak disangka dengan bermain bersama anak kecil itu membuat Naskala bisa tertawa lepas. Naresya sempat tertegun melihat Naskala bahagia bermain dengan anak anak itu.
Begitu juga dengan Kaila serta yang lain.
Duk....
Kali ini bola itu menggelinding mengenai kaki Naresya. Naskala yang mengambilnya, wajahnya penuh dengan keringat karena dia terlalu bersemangat bermain. Seolah Naskala kali ini tak punya beban apapun di pundaknya.
"Ayo ikut main sama mereka."
Naskala tiba tiba menarik tangan Naresya.
Naresya membuka mulutnya, tapi tak ada kata kata membantah atau mengiyakan. Dia hanya mengikuti Naskala yang menarik tangannya untuk ikut bermain.
Naresya yang awalnya canggung di tengah anak anak itu akhirnya terbawa suasana. Dia nampak sama seperti Naskala yang menikmati permainan itu.
Dokter pribadi Naskala serta Naresya tersenyum lebar. Mereka berdua semakin yakin jika Naskala dan Naresya akan segera sembuh setelah ini.
"Aku rasa mereka akan semakin baik baik saja."
Kaila tersenyum dengan rasa lega luar biasa.
Kaila bangkit dari persembunyiannya. Dia mengajak dua dokter itu dan Sera pergi dari sana.
"Lebih baik kita menunggu di rumah. Dan juga rumah yang baru juga sudah di siapkan. Rasanya aku sudah lelah jika harus bergantian kesana kemari." canda Kaila pelan.
Sera yang mendengar itu menggeleng pelan, dia sangat tahu jika Kaila menyayangi Naskala juga Naresya.
Mereka akhirnya pergi dari sana meninggalkan Naskala dan Naresya yang masih asyik bermain bola sepak dengan anak anak itu di taman.
"Naskala, aku lelah."
Naresya sudah ngos ngosan dengan wajah penuh keringat. Naskala mendekati Naresya, mengusap keringat di wajah Naresya tanpa sadar. Tubuh Naresya membeku karena gerakan reflek yang dilakukan Naskala saat ini.
"Ah, ma-maaf. Aku nggak sengaja Nares....."
Naskala mundur ke belakang, sedangkan Naresya yang tersadar langsung menggelengkan kepalanya pelan.
"Terima kasih." ucap Naresya tulus.
Naskala tertegun dengan apa yang di ucapkan Naresya kepadanya. Di tambah wajah Naresya yang terlihat biasa saja saat ini.
Tak lama dari itu mereka kembali berdiam diri, sampai salah satu anak buah Raga mendekati mereka.
"Tuan, nona, hari sudah beranjak sore. Nyonya Kaila meminta kalian berdua untuk segera pulang ke rumah."
Naskala dan Naresya mengangguk, mereka mengikuti pengawal itu dengan berjalan di belakangnya. Tapi bukan berjalan berdekatan. Mereka masih menjaga jarak karena canggung.
Tapi mereka berdua kembali bingung karena arah jalan itu tak menuju tempat rumah mereka masing masing.
"Tunggu, ini bukan arah ke rumah?" tanya Naskala setelah sadar.
"Maaf tuan muda, tapi nyonya Kaila menyuruh ku membawa kalian berdua ke rumah yang baru." jawab pengawal itu sopan.
Naresya sempat takut jika itu bukan pengawal Kaila. Dan Naskala yang melihat wajah cemas Naresya meraih tangan Naresya, menggenggamnya lembut.
"Nggak usah khawatir, kalau ada apa apa kita langsung lari nanti." bisik Naskala pelan.
Naresya mengangguk, dia berkali kali mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia berusaha tenang jadi jika ada apa apa dia bisa berpikir jernih.
#
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah yang di maksud. Rumah yang sedikit lebih besar dari pada rumah yang sebelumnya. Pengawal itu pergi dari sana saat mereka sudah ada di depan rumah. Dan Kaila yang sejak tadi menunggu mereka pun keluar dari dalam rumah. Tapi matanya mengerjap beberapa kali saat arah pandangnya tertuju pada kedua tangan Naskala dan Naresya yang masih terus berpegangan.
Naresya dan Naskala awalnya bingung saat melihat Kaila terus memandangi mereka dengan pandangan berbeda. Lalu mereka mengikuti arah pandang Kaila yang ternyata tertuju pada tangan mereka.
Secepat kilat, Naresya dan Naskala melepaskan pegangan tangan mereka. Kaila yang melihat itu mengulum senyumnya. Tapi dia berusaha tak terlihat tertawa saat ini.
Sedangkan dua insan yang masih salah tingkah itu sudah melengos ke arah yang berseberangan.
Kaila menghampiri keduanya. Menarik tangan mereka pelan untuk masuk ke dalam rumah.
Sedangkan dua orang yang merasa canggung itu mengikuti saja apa yang Kaila lakukan.
Mereka di bawa masuk ke dalam rumah yang terlihat nyaman. Tapi lebih besar dari pada rumah yang sebelumnya.
"Jadi sekarang kita pindah kemari. Mama udah tanya sama dokter pribadi kalian dan nggak ada masalah. Dokter kalian bilang kalian tinggal sedikit lagi untuk benar benar sembuh. Jadi mama memutuskan untuk menempatkan kalian di rumah yang sama. Sejujurnya, mama juga capek harus bolak balik ke rumah satu dan yang lainnya.
Sera yang mendengar dari dalam menahan tawanya. Nyonya besar nya itu benar benar pandai berakting. Naresya yang memang sudah sayang dengan Kaila pun seketika panik.
"Tante, maaf. Nares nggak tahu kalau Tante capek ngurusin Nares."
Kali ini Kaila yang panik melihat wajah bersalah Naresya. Tapi sebisa mungkin Kaila bersikap biasa.
Kaila memeluk Naresya erat, dia mengusap punggung Naresya pelan.
"Tidak, bukan seperti itu. Yang Tante maksud, kalau sekarang kita satu rumah Tante bisa bersamaan mengawasi kalian. Jadi kalau ada apa apa Tante nggak bingung. Seperti beberapa waktu yang lalu, Nares sakit tapi Tante nggak bisa kesana karena Naskala juga tiba tiba demam tinggi. Tante ngrasa sedih kalau nggak bisa ngurus salah satu."
Setelah mengatakan itu, Naresya mengurai pelukannya dengan Naresya. Sejak tadi Naskala hanya diam melihat Kaila dan Naresya. Dan apa yang di katakan Kaila ada benarnya. Lebih enak tinggal satu rumah begini. Jika ada apa apa bisa langsung bertindak.
"Kalau gitu, kalian mandi dulu. Terus makan malam. Kamar kalian ada di atas, sudah ada namanya masing masing kamar."
Kaila mendorong tubuh Naresya untuk naik ke atas. Naskala mengikuti dari belakang.
Saat mereka berdua sampai di atas, mereka saling lirik karena ternyata posisi kamar mereka bersebelahan.
Naresya buru buru masuk ke dalam kamar. Dan itu membuat Naskala mengulum senyum melihat tingkah Naresya.
Saat sampai di kamar Naresya menutup pintunya cepat dan menguncinya dari dalam.
"Aduh, kok jadi salah tingkah gini." gumam Naresya pelan.
Naresya mengambil napas panjang lalu menghembuskannya.
Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena badannya sudah sangat lengket.
Berbeda dengan Naskala yang duduk termenung di pinggir ranjang. Dia memindai kamar barunya yang ternyata di design sama dengan kamar lamanya.
"Mama benar benar menyiapkannya dengan rapi."
Naskala bangkit menuju meja kaca yang tak jauh dari tangganya. Disana juga ada bingkai foto mini. Melihat itu Naskala tersenyum tipis.
"Aku berharap aku bisa memperbaiki semuanya. Dan aku janji nggak akan ada air mata lagi setelah ini."
to be continued