Bab 7

1337 Words
Kaila menyuruh Sera untuk memanggil Naskala dan Naresya turun ke bawah. Dan belum sempat Sera naik ke atas ternyata Naresya dan Naskala keluar dari kamar secara bersamaan. Pandangan mereka terpaku satu sama lain. Tapi Naresya lebih dahulu memutus pandangan mereka. Dia lebih dahulu turun ke bawah. Sedangkan Naskala hanya bisa mendesah panjang. Melihat Naresya yang masih belum banyak bicara. "Sepertinya aku harus minta bantuan mama, biar bisa ngobrol sama Nares." Naskala menyusul Naresya ke bawah. Di meja makan sudah tersedia banyak makanan yang sengaja mamanya masak untuknya. Naskala duduk berhadapan dengan Naresya. Dia duduk anteng disana sambil sesekali mencuri pandang ke arah Naresya. Semua itu terlihat jelas di mata Kaila. Sedangkan Naresya yang sejak tadi sedang menikmati makanannya tak mengindahkan apa yang di lakukan Naskala. "Naskala, kalau emang mau ngobrol nggak usah di lirik gitu. Nanti habis makan bisa kok kamu bicara berdua sama Naresya." goda Kaila pada Naskala. Uhuk... Naresya yang mendengar itu tersedak makanannya. Naskala yang panik langsung memberikan minuman miliknya kepada Naresya. Kaila pun panik, lalu dia menyesal sudah menggoda Naskala dan Naresya tadi. "Sayang, maaf, Tante bikin kamu kaget ya?" Naresya yang sudah enakan pun menggelengkan kepala. Dia tersenyum dengan Kaila yang merasa bersalah kepadanya. Naresya menggenggam tangan Kaila lembut dan menepuknya pelan. "Tante, Nares nggak apa apa. Tadi emang ehm....sedikit kaget." jawab Naresya jujur. Kaila memeluk Naresya erat mengusap pelan punggung Naresya. Tapi ternyata mata Naresya sempat melirik ke arah Naskala yang sialnya Naskala juga sedang melihat ke arahnya. Tapi Naresya lagi lagi memutus kontak mata mereka karena dia belum terbiasa kembali dekat dengan Naskala. Meskipun hatinya sudah membaik tapi tetap saja kejadian itu membekas di benaknya. Di paksa memberikan apa yang dia jaga dan juga sampai di usir dari keluarganya. Kaila akhirnya tak menggoda Naskala lagi. Mereka makan lebih tenang saat ini. Setelah semua selesai makan, tiba tiba Sera mendekati Kaila. "Nyonya, maaf mengganggu. Tapi aku baru saja mendapat telfon dari rumah. Mereka mengabarkan tuan Raga pingsan tadi setelah pulang dari kantor." "Apa?" Kaila kaget, dan badannya sedikit terhuyung ke belakang. Beruntung Naskala menjaga mamanya hingga tak sampai jatuh ke lantai. "Papa kenapa Sera?" Sera menunduk ragu, karena semua ini menyangkut keadaan Naskala dan Naresya. Melihat Sera yang diam membuat Naskala kembali bertanya. Kali ini dengan suara yang lebih dingin. "Sera, kenapa lo diam saja? Lo nggak tuli kan?" Mendengar panggilan Naskala pada Sera seperti itu, Naresya paham jika Naskala tengah dalam keadaan marah pada Sera. "Tuan Raga kelelahan karena selama ini mengurus semua perusahaan sendiri. Dan seminggu ini, tuan Raga sering lembur karena sedang menghadapi proyek yang besar dan harus selesai segera mungkin." jawab Sera pelan. Mata Naskala membola, dia mengumpat pelan. Semua ini karena kesalahannya, andai saja dia tak kembali sakit mungkin Raga tak akan sampai sakit. "Siapkan jet pribadi, kita pulang sekarang!" Sera menatap Naskala kaget, begitu juga dengan Kaila. Dia menggeleng, karena pengobatan Naskala masih kurang beberapa bulan lagi. "Naskala, tidak... kalian masih belum....." Naskala menatap Kaila tajam, dia tak ingin membuat Raga semakin bertambah parah sakitnya dan membuat dia menyesal karena semua karena dirinya. "Nggak ma, Naskala sudah sembuh." "Naresya juga sudah sembuh Tante." Semua orang menatap Naresya tak percaya. "Jika Naskala kembali, aku juga harus kembali tante. Aku asisten Naskala, jadi aku juga akan ikut bekerja dengan Naskala." Naskala melihat ke arah Naresya dengan tatapan yang tak bisa di baca. Tapi senyum samar terbit dari wajah Naskala. Kaila melihat Naskala dan Naresya bergantian. Meskipun dia khawatir tapi dia juga tak bisa membiarkan Raga sakit tanpa ada yang mengurusnya. "Ma, kami pasti baik baik saja. Yang penting sekarang kesehatan papa. Aku nggak mau papa Raga kenapa napa." Kaila mengangguk, meksipun tubuhnya tiba tiba lemas tapi dia harus kembali. Naskala membantu mamanya duduk di sofa yang tak jauh dari mereka berdiri saat ini. "Sera, apa sudah selesai?" Sera mengangguk, dan Naskala berlalu dari sana untuk naik ke lantai dua. Naresya yang melihat Naskala pergi ke kamar juga mengikutinya. Tapi saat Naresya berada di anak tangga dia berhenti sebentar. "Kak Sera, titip Tante Kaila. Biar aku dan Naskala yang menyiapkan semua baju Tante Kaila yang akan di bawa." Sera mengangguk, dia lalu pergi ke dapur untuk mengambil kan air hangat. Sera memberikannya pada Kaila. Terlihat sekali jika Kaila sangat gusar memikirkan Raga. Selama ini Raga tak pernah sakit. Tapi jika sampai pingsan berarti Raga memaksakan dirinya untuk bekerja. "Sera, ini semua salahku karena meninggalkan Raga sendirian." Wajah Kaila sendu, selama ini Raga selalu memberinya cinta yang banyak. Selalu mengutamakan kepentingan Raga dan dirinya tapi tak pernah sekalipun Raga mengeluh bahkan di saat mereka tak bisa memiliki anak karena ternyata rahim Kaila bermasalah. "Tidak nyonya, ini bukan salah nyonya. Mungkin tuan Raga memang kelelahan, dan tuan jika sudah bekerja pasti lupa waktu. Apalagi proyek ini nilainya juga milyaran." jawab Sera. Kaila mengangguk, dia berusaha untuk tenang. Dan tak lama, Naskala turun membawa dua buah koper begitu juga dengan Naresya. "Kak Sera, kakak bisa berkemas sekarang. Aku udah selesai, dan biarin aku yang jaga Tante Kaila." Sera mengangguk, dia lalu pergi ke kamarnya yang ada di dekat tangga. Sedangkan Naskala sudah menghubungi anak buah Raga yang sedang menyiapkan jet pribadi mereka. "Jangan sampai ada yang tahu kepulangan kami, jaga ketat juga di bandara. Kami pulang untuk papa. Jika sampai disana, aku akan mengatur semuanya lagi nanti!" Naskala memberi perintah pada anak buah Raga. Bertepatan dengan Naskala selesai menghubungi anak buah Raga, mobil yang akan membawa mereka pergi ke bandara pun tiba. Sera juga sudah selesai dengan semua barang barangnya. "Kita pergi sekarang." Naskala membantu mamanya berjalan begitu juga Naresya yang ada di sisi sebelahnya. Semua barang mereka di bawa anak buah Raga untuk pergi dari sana. Jarak rumah itu ke bandara sedikit memakan waktu yang lebih lama. Dalam perjalan ke bandara pun tak ada yang bersuara karena memang mereka pulang dalam keadaan mendadak dan pikiran mereka tertuju pada Raga yang ada di rumah. # Sedangkan disisi lain, Raga baru saja selesai di periksa. Dia selalu di temani asisten pribadinya yang selama ini menemani Raga. "Tuan aku akan menyuruh bibi mengambilkan makanan untuk tuan." Raga mengangguk, dia memijat kepalanya yang masih terasa berdenyut. Dia baru saja mendapat laporan dari anak buahnya jika Kaila dalam perjalan pulang ke rumah. "Dia pasti khawatir dan kaget dengar aku drop begini." gumam Raga pelan. Raga tak tahu jika Naskala dan Naresya juga ikut pulang sekalian. Tak lama, asistennya kembali membawa troli makanan dan juga obat yang akan di minum Raga. "Tuan silahkan makan terlebih dahulu, dan ini obatnya. Semua harus habis, jika tuan bandel nanti akan aku adukan pada nyonya Kaila. Semua makanan ini atas perintah nyonya Kaila tuan." Mata Raga melotot, dia mendengus kesal pada asistennya yang mengadukan semuanya pada Kaila. Dan alhasil dia harus makan semua makanan yang di buatkan oleh pelayannya. Asisten Raga mengulum senyumnya, dia menahan tawa karena Raga makan dengan wajah yang masam. Sejak beberapa hari yang lalu Raga selalu melewatkan jam makan nya dan alhasil asam lambungnya naik. Dan berakhirlah saat ini dia harus di infus meskipun tetap di rumah. Jika tidak mengadu pada nyonya, aku yang akan di buat Migran oleh tuan. Jadi maafkan aku tuan, dengan begini aku tak akan sakit kepala. Batin asisten Raga. Terlihat Raga makan dengan tenang dan dia juga langsung menghabiskan semua makanan itu begitu juga dengan obat dari dokter. Asisten Raga tersenyum puas melihat Raga yang menjadi penurut. "Sekarang tuan harus beristirahat. Untuk agenda besok, aku sudah mengatur ulang semua jadwalnya. Dan aku mengosongkan semua jadwal tuan sampai dua hari ke depan." Raga mengangguk, lalu dia bersiap untuk beristirahat. Beberapa menit berikutnya terlihat Raga sudah tertidur dan perawat memeriksa infus dan yang lainnya. Memastikan semuanya terpasang dengan benar. Bahkan untuk perawat yang menjaga Raga sudah di siapkan laki laki bukan perawat perempuan. Raga tak ingin ada masalah dalam hidupnya hanya karena pihak luar. "Semuanya sudah membaik tuan, dan tuan Raga sudah bisa tidur dengan nyenyak." lapor perawat itu. Perawat itu juga sudah di siapkan kamar yang tak jauh dari kamar Raga. Agar sewaktu waktu tetap bisa memeriksa keadaan Raga Asisten Raga menghembuskan napas lega. "Syukurlah, jika tuan sudah membaik." to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD