Naskala dan yang lain sudah sampai di bandara. Dan semua sesuai apa yang Naskala mau.
Kaila di bantu oleh Sera mencari tempat duduk yang nyaman. Dan Kaila sengaja membiarkan Naskala duduk berdampingan dengan Naresya.
"Nas, gue sama mama Lo aja."
Alis Naskala mengkerut mendengar panggilan Naresya yang kembali berubah. Naresya yang melihat wajah Naskala berubah masam pun bingung. Dia menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Kenapa?" tanya Naresya dengan wajah polosnya.
"Kenapa panggilannya berubah lagi?" protes Naskala.
"Hah?"
Wajah Naresya semakin bingung, dia mencoba mengingat panggilan yang di maksud oleh Naskala. Tapi dia tak mengingat sama sekali.
Kan nggak punya panggilan khusus, terus ini yang salah dimana nya?
Naresya masih mencoba mengingat lalu otak nya mulai mengingat percakapan mereka yang barusan. Lalu bibirnya membulat seperti membentuk huruf "O".
"Ehem...."
"Maaf, belum terbiasa." ucap Naresya lirih.
Tapi Naskala memilih tak menjawab, dia sudah memalingkan wajahnya ke samping. Saat Naresya ingin menghampiri Kaila, ternyata Kaila sudah bersama dengan Sera. Jadi mau tak mau Naresya duduk di sebelah Naskala.
"Duh, kok jadi canggung gini ya?"
Naresya duduk tak nyaman saat ini, tapi dia berusaha tenang. Dia mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
Dia gugup bukan karena harus menempuh perjalanan jauh lagi. Tapi duduk di dekat Naskala membuat jantungnya tak aman. Dia tak menampik jika dari dulu dia sudah menyukai Naskala. Hanya saja semua kejadian itu benar benar membuat Naresya membenci Naskala. Tapi terkadang takdir membuatnya harus berhubungan dengan Naskala lagi secara tak terduga.
"Tuan maaf, baru saja dapat kabar dari asisten tuan besar jika kondisi tuan besar sudah stabil. Tuan besar di rawat di rumah dan dokter memang menyuruh tuan besar untuk istirahat total beberapa hari ini."
Naskala yang mendengar laporan dari anak buah Raga mengangguk, ada rasa lega disana.
Naskala sungguh tak ingin papa sambungnya itu kenapa Napa. Jika di suruh memilih biarlah Naskala yang sakit, jangan papanya.
Selama ini Raga terus menyayanginya, bahkan mencurahkan semua untuk hidup Naskala dan juga sang mama.
Naresya sejak tadi hanya diam, dia tak ingin mengganggu Naskala yang sedang fokus dengan laporan yang baru saja dia terima tadi.
Naresya menoleh ke arah Kaila dan Sera ternyata mereka sudah terlelap. Mungkin karena mereka juga sudah lelah. Terutama Kaila.
"Naresya, bantu aku rekap laporan ini."
Naresya langsung menoleh, tapi dia membeku karena ternyata wajah Naskala dekat sekali dengan nya.
Naskala yang baru saja sadar jika Naresya tak menjawab pun mengangkat wajahnya. Mata nya membeliak saat di depannya ada wajah Naresya yang begitu dekat.
Sesaat tatapan mereka saling beradu, sampai Naresya memangkas tatapan itu karena merasa detak jantungnya bertambah cepat.
Ayolah Naresya, kamu kan kerja. Harus profesional. Jangan libatkan hati lagi.
Naskala berdehem kecil, dia lah menyerahkan tab miliknya pada Naresya.
Naresya memeriksa beberapa laporan yang ada disana. Membuat rekap seperti yang Naskala mau. Mereka melakukan itu sebagai persiapan saat mereka kembali ke perusahaan nantinya untuk menggantikan Raga. Dan semua harus sudah siapa keesokkan harinya.
Naskala juga sering mengajak Naresya berdiskusi tentang pekerjaannya kali ini. Dan saat Naresya menjelaskan pendapatnya, Naskala tak melepas pandangannya pada wajah Naresya.
Dia nggak pernah berubah, masih sama seperti dulu. Otaknya pun masih sama pintarnya.
Naresya selesai memberi pendapat, tapi dia tak lagi mendengar suara Naskala.
Saat dia mengangkat wajahnya, ternyata Naskala tengah memperhatikannya sejak tadi.
"Naskala, kamu dengerin aku nggak sih?" dumel Naresya.
Naskala tergagap, dia menelan saliva nya karena ketahuan tengah memperhatikan Naresya.
"Aku denger, kayaknya udah dulu. Aku capek."
Akhirnya Naskala menyerah. Dan laporan yang mereka periksa memang sudah banyak sejak beberapa jam yang lalu. Sedangkan perjalanan mereka masih kurang beberapa jam lagi.
"Kamu istirahat dulu Nares, kita lanjut besok di kantor kalau sudah sampai."
Naresya mengangguk, dia lalu membantu Naskala membereskan semua berkas berkas itu. Yang tanpa sengaja tangan mereka saling bersentuhan. Lagi lagi, pandangan mereka terpaku, dan Naresya juga yang lebih dulu ingin menarik tangannya. Tapi belum sempat dia lakukan Naskala memegang tangan itu dengan lembut.
"Jangan di lepas, gini aja sampai nanti." ucap Naskala lembut.
Tatapan Naskala, tatapan yang Naresya rindukan. Naresya masih terpaku dengan apa yang terjadi. Lalu Naskala melepaskan tangan itu dan di pindahkan ke tangan satunya. Sedangkan tangan yang baru saja menggenggam tangan Naresya dia pindahkan ke bahu Naresya. Dia merangkul pundak Naresya lah menyandarkan kepala Naresya di dadanya.
"Tidur Naresya, perjalan kita masih panjang."
Naresya seperti robot yang menurut, otaknya menjadi kosong dengan apa yang di lakukan Naskala padanya.
Dia menggigit bibir bawahnya menahan detak jantungnya sendiri. Tapi suara Naskala membuatnya semakin tak karuan.
"Bukan cuma kamu aja yang jantungnya berdetak kencang, tapi aku juga."
Naresya benar benar mendengar detak jantung Naskala yang sama dengan nya. Katakan Naresya bodoh karena bisa luluh dengan sikap Naskala.
"Naskala, ini?"
Cup....
Mata Naresya melebar saat Naskala mencium sekilas bibirnya.
"Tidur Naresya, aku lelah."
Akhirnya Naresya menuruti apa yang Naskala mau. Dia perlahan memejamkan matanya begitu juga dengan Naskala. Berbeda dengan Naresya yang langsung tertidur, tapi Naskala kembali mencium puncak kepala Naresya lama. Dan perlahan dia memejamkan matanya menyusul Naresya ke alam mimpi.
Setelah semua urusan kita selesai dengan mereka, kita pasti akan menikah Naresya. Aku yang pertama mengambilnya dan aku juga harus bertanggung jawab untuk semua itu. Aku nggak rela kalau kamu sampai di miliki orang lain.
#
Beberapa jam berlalu, akhirnya mereka sampai kembali di negara mereka tinggal.
Sera yang ingin membangunkan Naskala dan Naresya ragu saat melihat posisi mereka yang saling berpelukan.
"Ini gimana banguninnya ya?" gumam Sera pelan.
Tapi tak lama, Naskala membuka matanya dan mengerjap pelan.
Dia melihat Sera berdiri tak jauh dari tempat duduknya bersama Naresya.
Naskala melirik Naresya yang masih tertidur pulas. Naskala menaruh jari telunjuknya di bibir menyuruh Sera untuk tak berisik.
"Sera, pulanglah langsung ke rumah papa bersama mama. Aku akan pulang ke apartemen dan langsung ke perusahaan." ucap Naskala lirih.
Sera mengangguk, dia lalu kembali ke belakang membantu Kaila bersiap untuk turun. Sera juga memberitahu Kaila apa yang di katakan oleh Naskala kepadanya. Kaila tak keberatan karena baginya yang penting adalah melihat Raga saat ini.
Setelah kepergian Kaila dan Sera, barulah Naskala mengangkat tubuh Naresya. Dia membawanya turun dari jet pribadinya.
"Ke apartemen."
Anak buah Raga yang menjadi sopir Naskala pun mengangguk mengerti. Mereka juga langsung membuka pembatas mobil yang memisahkan kursi depan dan juga belakang.
Naresya masih tidur nyenyak, dan Naskala tak merasa terganggu dengan itu. Tapi saat dalam perjalan ke apartemen, Naresya mulai membuka matanya.
Dia mengerjapkan matanya, lalu tatapannya langsung tertuju pada wajah Naskala yang terus memandanginya sejak tadi.
Naresya baru tersadar jika dia menjadikan paha Naskala sebagai bantal tidurnya.
Naresya langsung bangkit dan membuat Naskala heran.
Naresya meringis pusing karena bangun dengan terburu buru.
"Shh....."
"Kenapa buru buru bangun? Pusing kan?"
Naresya mengangguk, dia memijat kepalanya sebentar. Menyandarkan kepalanya pada kursi.
Naskala memberikan sebotol minuman pada Naresya.
"Minum dulu."
Naresya menerima itu lalu meminumnya dan berangsur kepalanya sedikit membaik.
Dia membuka matanya bingung, jalanan yang di lewatinya jalanan yang baru untuknya.
"Kita mau kemana?"
"Apartemen."
"Hah?"
Naresya bingung, apartemen siapa yang di maksud oleh Naskala.
"Apartemen kamu?"
Naskala menghela napas panjang, tapi dia tak menyalahkan Naresya karena dia belum memberi tahu banyak hal.
"Apartemen kita." jawab Naskala sekenanya.
Lagi lagi Naresya di buat terkejut dengan jawaban Naskala.
Naresya panik, dia tak mungkin satu apartemen dengan Naskala. Dia harus mencari cara agar bisa kabur dari Naskala.
Ctak.....
Naskala menyentil kening Naresya karena melihat Naresya panik.
"Aku nggak mungkin pulang ke rumah dulu karena jaraknya jauh. Dan apa kamu lupa kalau kamu sekertaris sekaligus asisten ku? Kamu dapat satu unit apartemen yang berada di depan apartemen milikku. Jadi jika sewaktu waktu aku butuh sesuatu kamu tak perlu jauh jauh untuk datang!"
Naresya melongo, dia seketika mencerna perkataan Naskala barusan. Lalu mengingat perjanjian kontrak yang di berikan HRD saat dia baru saja di terima sebagai sekertaris Naskala.
Naresya meringis malu, sedangkan Naskala memutar bola matanya jengah karena Naresya sudah panik duluan.
"Maaf, aku kira kalau kita bakal tinggal bareng. Kan itu nggak boleh, kita belum nikah!"
Naresya langsung menutup mulutnya, merutuki kebodohannya barusan.
Duh, nih mulut nggak bisa di rem.....
to be continued