bab 1
Hujan turun sejak sore ketika Adrian mematikan mesin mobilnya.
Suara rintik air yang menghantam atap mobil terdengar teratur, hampir menenangkan. Namun malam itu, ketenangan justru membuat pikirannya semakin gaduh.
Dari balik kaca depan, Adrian memandangi sebuah rumah dua lantai yang berdiri tenang di ujung jalan.
Rumah itu miliknya.
Rumah yang ia beli tiga tahun lalu, beberapa bulan setelah menikah dengan Laras.
Dari luar, semuanya tampak sempurna.
Pagar hitam.
Taman kecil yang terawat.
Lampu teras berwarna kekuningan.
Dua lantai dengan jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya dari dalam.
Rumah itu seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi Adrian untuk pulang.
Namun entah sejak kapan, rumah tersebut terasa seperti tempat yang harus ia datangi karena kewajiban.
Bukan karena kerinduan.
Adrian mengusap wajahnya.
Sudah hampir pukul sembilan malam.
Biasanya Laras akan menanyakan keberadaannya.
Sudah sampai mana?
Pulang jam berapa?
Jangan lupa makan.
Dulu pesan-pesan sederhana itu membuat Adrian merasa dicintai.
Sekarang, ketika pesan serupa muncul, ia sering kali hanya membacanya tanpa membalas.
Bukan karena Laras berhenti peduli.
Mungkin justru karena Adrian yang mulai berhenti menghargai kepedulian itu.
Ia menundukkan kepala.
Selama tiga tahun menikah, ia dan Laras tidak pernah benar-benar bertengkar besar.
Tidak ada piring yang pecah.
Tidak ada pintu yang dibanting.
Tidak ada suara keras yang terdengar sampai tetangga.
Anehnya, justru itulah yang membuat hubungan mereka terasa semakin asing.
Mereka tidak bertengkar karena mereka sudah terlalu lelah untuk memperdebatkan sesuatu.
Mereka tidak saling menyalahkan karena masing-masing sudah sibuk menyalahkan keadaan.
Laras sibuk dengan pekerjaannya sebagai arsitek di sebuah firma ternama.
Adrian sibuk dengan perusahaan yang ia bangun bersama dua rekannya.
Pagi hari mereka berangkat hampir bersamaan.
Malam hari mereka pulang pada waktu yang berbeda.
Akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu bersama sering kali diisi pekerjaan.
Lalu hari berganti.
Minggu berganti.
Bulan berganti.
Tanpa mereka sadari, jarak di antara keduanya semakin panjang.
Adrian menatap cincin di jari manisnya.
Benda kecil itu masih sama.
Namun perasaannya terhadap makna di balik benda tersebut tidak lagi sesederhana dahulu.
Ponselnya bergetar.
Adrian mengambilnya.
Satu pesan masuk.
**Maya:** *Kamu sudah sampai?*
Adrian terdiam.
Nama itu kembali muncul.
Maya.
Nama yang seharusnya tidak pernah memiliki tempat di dalam hidupnya.
Perempuan yang seharusnya hanya menjadi bagian dari urusan pekerjaan.
Tidak lebih.
Maya adalah konsultan yang baru bekerja sama dengan perusahaan Adrian sekitar dua bulan lalu.
Pertemuan pertama mereka berlangsung di ruang rapat.
Maya datang membawa laptop, beberapa dokumen, dan presentasi yang begitu rapi.
Ia tidak berusaha menarik perhatian.
Tidak banyak tersenyum.
Tidak pula berbicara berlebihan.
Namun entah mengapa, Adrian mengingatnya.
Bukan karena kecantikannya semata.
Melainkan karena cara Maya mendengarkan.
Ketika orang lain berbicara, Maya benar-benar memperhatikan.
Tidak memotong.
Tidak sibuk memainkan ponsel.
Tidak sekadar menunggu giliran untuk menjawab.
Adrian menyadari sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Ia merasa didengarkan.
Awalnya, semuanya biasa saja.
Mereka berbicara mengenai proyek.
Angka.
Jadwal.
Strategi.
Risiko.
Lalu suatu malam, rapat mereka selesai terlalu larut.
Restoran di dekat kantor menjadi tempat makan malam mereka.
Bukan kencan.
Setidaknya begitu yang Adrian katakan kepada dirinya sendiri.
Mereka hanya makan.
Membicarakan pekerjaan.
Kemudian kehidupan.
Maya bercerita tentang kegagalannya membangun bisnis beberapa tahun lalu.
Adrian bercerita tentang perusahaan yang hampir bangkrut sebelum akhirnya berkembang.
Mereka tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Adrian merasa waktu berjalan terlalu cepat.
Sejak malam itu, percakapan mereka tidak berhenti.
Pesan pekerjaan berubah menjadi pesan pribadi.
Pesan pribadi berubah menjadi percakapan panjang.
Percakapan panjang berubah menjadi kebiasaan.
Dan kebiasaan perlahan berubah menjadi sesuatu yang seharusnya mereka hentikan.
Adrian mengetik.
**Adrian:** *Sudah.*
Ia menekan tombol kirim.
Tidak sampai lima detik, balasan datang.
**Maya:** *Aku masih menunggumu.*
Jantung Adrian berdegup lebih cepat.
Ia tahu maksud kalimat itu.
Dan justru karena ia tahu, seharusnya ia segera mematikan ponselnya.
Pulang.
Masuk ke rumah.
Menyapa istrinya.
Menjalani malam seperti biasa.
Namun jarinya justru bergerak sendiri.
**Adrian:** *Kamu di mana?*
Tiga titik muncul.
Lalu hilang.
Muncul lagi.
Kemudian sebuah alamat dikirimkan.
Sebuah apartemen tidak jauh dari pusat kota.
Adrian menatap layar.
Ia tahu tempat itu.
Maya pernah menyebutnya beberapa minggu lalu.
Tempat tinggal sementaranya selama proyek berlangsung.
Adrian menarik napas panjang.
"Jangan," gumamnya kepada diri sendiri.
Namun beberapa detik kemudian, ia kembali menyalakan mesin mobil.
---
Di rumah, Laras sedang duduk di ruang makan.
Laptop terbuka di depannya.
Beberapa gambar desain memenuhi layar.
Secangkir teh yang dibuat dua jam lalu sudah dingin.
Laras melihat jam dinding.
21.07.
Ia menghela napas.
Ponselnya tergeletak di samping laptop.
Tidak ada pesan baru dari Adrian.
Padahal tadi sore ia mengirim pesan.
*Pulang jam berapa?*
Tidak dibalas.
Laras sudah terbiasa.
Ia mencoba kembali bekerja.
Namun pikirannya tidak lagi berada di depan layar.
Ia menutup laptop.
Matanya tertuju pada kursi di seberangnya.
Kursi Adrian.
Dulu mereka sering duduk berhadapan di sana.
Bercerita tentang hari masing-masing.
Tentang hal-hal kecil.
Tentang makanan yang mereka inginkan.
Tentang rencana liburan.
Tentang rumah yang ingin mereka bangun suatu hari nanti.
Sekarang kursi itu lebih sering kosong.
Laras berdiri.
Ia berjalan menuju jendela.
Hujan masih turun.
Ia memandang jalan dari balik kaca.
Entah mengapa malam itu hatinya terasa tidak nyaman.
Bukan karena curiga.
Belum.
Lebih seperti perasaan bahwa sesuatu sedang berubah tanpa sepengetahuannya.
Ia kembali melihat ponselnya.
Tidak ada pesan.
Laras mengetik.
*Jangan pulang terlalu malam.*
Ia hampir mengirimkannya.
Namun kemudian menghapus kalimat tersebut.
Untuk apa?
Adrian sudah dewasa.
Ia tahu apa yang harus dilakukan.
Laras memasukkan ponsel ke saku.
Lalu naik ke lantai dua.
---
Adrian mengemudi dalam diam.
Wiper bergerak ke kanan dan kiri.
Lampu kendaraan di depannya tampak kabur karena hujan.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya ingin bertemu Maya untuk berbicara.
Hanya berbicara.
Mungkin hubungan mereka memang sudah terlalu jauh.
Mungkin malam ini ia perlu menyelesaikannya.
Namun suara kecil di kepalanya berkata lain.
Jika hanya ingin berbicara, mengapa ia harus menyembunyikannya?
Jika tidak ada yang salah, mengapa jantungnya berdebar?
Jika Maya bukan siapa-siapa, mengapa ia memilih pergi ke sana daripada pulang?
Adrian tidak memiliki jawaban.
Atau mungkin ia memiliki jawabannya, tetapi terlalu takut mengakuinya.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen.
Ia mematikan mesin.
Untuk beberapa saat, ia hanya duduk.
Tangannya mencengkeram kemudi.
Kemudian ia melihat cincin di jarinya.
Ia melepasnya.
Tidak.
Bukan karena ia ingin menghapus Laras dari hidupnya.
Ia hanya merasa tidak nyaman memakainya di tempat yang tidak seharusnya.
Adrian memasukkan cincin itu ke dalam kompartemen kecil di mobil.
Lalu turun.
---
Maya berdiri di depan pintu apartemennya ketika Adrian tiba.
Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana.
Rambutnya terurai.
Tidak ada riasan berlebihan.
Ia tampak seperti seseorang yang sedang menunggu orang penting.
Dan Adrian tahu bahwa dirinya telah menjadi orang itu.
Maya membuka pintu.
Mereka saling menatap.
Tidak ada sapaan panjang.
Tidak ada senyum.
Hanya diam yang terasa lebih jujur daripada percakapan mereka selama berminggu-minggu.
"Kamu datang," kata Maya akhirnya.
Adrian mengangguk.
"Aku seharusnya tidak datang."
Maya tersenyum tipis.
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa masih menunggu?"
Maya menatapnya lama.
"Karena aku ingin tahu apakah kamu akan memilih datang."
Adrian tidak menjawab.
Maya bergeser sedikit.
Memberinya jalan masuk.
Adrian melangkah ke dalam.
Pintu tertutup di belakangnya.
Suara kunci terdengar kecil.
Namun bagi Adrian, suara itu seperti bunyi sesuatu yang sedang dikunci dari dunia luar.
Ia berdiri beberapa langkah dari Maya.
"Aku menikah," katanya.
"Aku tahu."
"Aku tidak seharusnya berada di sini."
"Aku juga tahu."
"Kalau begitu, kita berhenti sekarang."
Maya menatap matanya.
"Benarkah?"
Adrian diam.
Maya tidak mendekat.
Tidak memaksanya.
Ia hanya berdiri di sana.
Dan justru sikap itulah yang membuat Adrian semakin sulit pergi.
"Aku tidak pernah memintamu meninggalkan istrimu," ujar Maya pelan.
"Jangan membuatnya terdengar seolah ini sederhana."
"Aku tidak bilang sederhana."
"Ini salah."
Maya mengangguk.
"Ya."
Adrian menghela napas.
"Jadi kenapa?"
Maya menatapnya dengan mata yang tampak lelah.
"Karena mungkin kita bertemu pada waktu yang salah."
Adrian terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa seperti sesuatu yang selama ini ia hindari.
Waktu yang salah.
Bukan perasaan yang salah.
Adrian menatap lantai.
Selama ini ia menyalahkan pekerjaannya.
Menyalahkan kesibukan Laras.
Menyalahkan rutinitas.
Menyalahkan keadaan.
Padahal mungkin masalah sebenarnya ada di dalam dirinya.
Ia telah membiarkan kekosongan dalam rumah tangganya tumbuh tanpa pernah berusaha mengisinya.
Dan ketika seseorang datang memberikan perhatian, ia menyambutnya.
"Adrian."
Ia mengangkat wajah.
Maya berdiri beberapa langkah di depannya.
"Aku tidak ingin menjadi alasan kamu menghancurkan hidupmu."
Adrian tersenyum getir.
"Mungkin hidupku sudah retak sebelum kamu datang."
Maya tidak menjawab.
Kalimat itu menggantung di antara mereka.
Adrian memejamkan mata.
Bayangan Laras muncul dalam pikirannya.
Wajahnya ketika tertawa.
Cara perempuan itu menyelipkan rambut ke belakang telinga ketika sedang membaca.
Kebiasaan kecilnya meninggalkan secangkir kopi di meja kerja Adrian.
Semua hal yang selama ini dianggap biasa.
Semua hal yang baru terasa berharga ketika kemungkinan kehilangan mulai muncul.
Adrian membuka mata.
"Aku harus pulang."
Maya mengangguk.
Tidak menahannya.
Tidak memintanya tinggal.
Adrian berjalan menuju pintu.
Tangannya menyentuh gagang.
Namun sebelum membukanya, ia berhenti.
"Maya."
"Ya?"
"Aku minta maaf."
Maya tersenyum sedih.
"Aku juga."
Adrian membuka pintu.
Kemudian pergi.
---
Ketika Adrian kembali ke mobil, hujan sudah mulai reda.
Ia duduk di kursi pengemudi.
Tidak langsung menyalakan mesin.
Tangannya menuju kompartemen kecil.
Ia mengambil cincin pernikahannya.
Benda itu terasa dingin.
Adrian memasukkannya kembali ke jari.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa malu kepada dirinya sendiri.
Bukan karena telah datang menemui Maya.
Melainkan karena menyadari betapa mudahnya ia hampir menghancurkan sesuatu yang dibangun selama tiga tahun.
Ia menyalakan mobil.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang.
Sesampainya di rumah, lampu lantai bawah masih menyala.
Adrian memarkir mobil.
Ia masuk dengan hati-hati.
Rumah sunyi.
"Laras?"
Tidak ada jawaban.
Adrian meletakkan kunci di meja.
Ia melihat laptop Laras masih berada di ruang makan.
Cangkir teh yang tadi dibuatnya masih ada.
Adrian menyentuh cangkir itu.
Dingin.
Entah mengapa, dadanya terasa sesak.
Ia naik ke lantai dua.
Pintu kamar sedikit terbuka.
Laras sudah tidur.
Adrian berdiri di ambang pintu.
Dalam cahaya lampu tidur, wajah istrinya tampak tenang.
Adrian tidak tahu berapa lama ia berdiri di sana.
Ia hanya tahu bahwa malam itu ia melihat Laras dengan cara yang berbeda.
Bukan sebagai istri yang selalu ada.
Bukan sebagai seseorang yang akan selalu menunggunya.
Melainkan sebagai manusia yang bisa terluka.
Ia masuk perlahan.
Duduk di tepi tempat tidur.
Laras bergerak sedikit.
Matanya terbuka.
"Kamu sudah pulang?"
Adrian menelan ludah.
"Sudah."
"Jam berapa?"
"Hampir sebelas."
Laras mengangguk.
"Kamu sudah makan?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Adrian hampir tidak mampu menjawab.
"Belum."
"Di dapur masih ada makanan."
Adrian menunduk.
"Laras."
"Hm?"
"Aku mau bicara."
Laras membuka mata sepenuhnya.
"Besok saja. Kamu kelihatan capek."
"Aku serius."
Laras duduk.
Ia menatap Adrian.
"Ada apa?"
Adrian membuka mulut.
Namun tidak ada kata yang keluar.
Ia ingin mengatakan semuanya.
Tentang Maya.
Tentang percakapan mereka.
Tentang bagaimana hubungan itu tumbuh.
Tentang malam ini.
Tetapi keberanian yang ia miliki beberapa menit lalu tiba-tiba hilang.
"Aku..." Adrian menarik napas. "Aku merasa kita semakin jauh."
Laras terdiam.
Kemudian tersenyum kecil.
"Aku juga."
Dua kata.
Sesederhana itu.
Namun terasa seperti pukulan.
"Kamu juga merasakannya?"
"Sejak beberapa bulan lalu."
"Kenapa tidak bilang?"
Laras menatapnya.
"Karena setiap kali aku mau bicara, kamu sibuk."
Adrian menunduk.
"Dan ketika kamu tidak sibuk," lanjut Laras, "aku sudah terlalu lelah."
Kamar kembali sunyi.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada tangisan.
Hanya dua orang yang akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini mereka tahu.
"Apa kamu masih bahagia denganku?" tanya Adrian.
Laras tidak langsung menjawab.
"Aku tidak tahu."
Jawaban itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Adrian mengangguk perlahan.
"Aku juga tidak tahu."
Laras memandangnya.
"Kalau begitu, kita harus mencari tahu."
Adrian mengangkat wajah.
"Kita?"
"Iya."
Laras menarik selimutnya.
"Kita sudah menikah tiga tahun. Masa ketika ada masalah, pilihan pertama kita hanya menyerah?"
Adrian merasakan tenggorokannya tercekat.
Laras memejamkan mata.
"Besok kita bicara lagi."
Adrian mengangguk.
"Besok."
Ia berbaring di sisi tempat tidur.
Namun malam itu tidak ada yang benar-benar tidur.
Mereka berbaring membelakangi satu sama lain.
Dipisahkan jarak yang hanya beberapa puluh sentimeter.
Tetapi terasa seperti bertahun-tahun.
---
Pukul dua dini hari, Adrian masih terjaga.
Ia memandangi langit-langit kamar.
Ponselnya berada di meja samping tempat tidur.
Tidak ada pesan dari Maya.
Dan anehnya, Adrian bersyukur.
Ia membuka galeri ponsel.
Foto-foto lama bermunculan.
Foto pernikahan.
Foto perjalanan pertama mereka.
Foto Laras tertawa di sebuah kedai kecil.
Foto mereka ketika membeli rumah.
Foto ulang tahun pertama pernikahan.
Adrian berhenti pada sebuah foto.
Di sana, Laras sedang memeluk lengannya.
Mereka tersenyum ke arah kamera.
Adrian tersenyum tipis.
Ia hampir lupa bahwa pernah ada masa ketika pulang berarti menemukan seseorang yang menunggunya dengan bahagia.
Mungkin pernikahan mereka belum benar-benar berakhir.
Mungkin yang mati hanyalah kebiasaan mereka untuk saling memperhatikan.
Adrian mematikan ponsel.
Malam semakin larut.
Di sampingnya, Laras masih terdiam.
Adrian berbisik sangat pelan.
"Maaf."
Ia tidak tahu apakah Laras mendengarnya.
Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar ingin memperbaiki sesuatu.
---
Pagi datang bersama sisa hujan.
Adrian bangun lebih dulu.
Laras masih tidur.
Ia turun ke dapur.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Adrian membuat sarapan.
Telur.
Roti.
Kopi.
Sederhana.
Namun ia menyiapkannya dengan sungguh-sungguh.
Ketika Laras turun, perempuan itu berhenti di anak tangga terakhir.
Ia melihat meja makan.
Kemudian melihat Adrian.
"Kamu yang buat?"
Adrian mengangguk.
"Iya."
Laras duduk.
Mereka makan dalam diam.
Tidak ada percakapan besar.
Namun pagi itu terasa berbeda.
Setelah sarapan, Adrian meletakkan cangkirnya.
"Mulai hari ini aku mau pulang lebih cepat."
Laras menatapnya.
"Jangan cuma karena merasa bersalah."
Adrian terdiam.
"Aku tidak mau memperbaiki hubungan kita karena rasa bersalah," katanya akhirnya. "Aku mau memperbaikinya karena aku masih ingin kamu ada di hidupku."
Laras menatap Adrian cukup lama.
"Kamu yakin?"
Adrian mengangguk.
Untuk pertama kalinya, jawabannya tidak ragu.
"Yakin."
Namun di dalam sakunya, ponsel Adrian bergetar.
Satu pesan masuk.
Ia tidak perlu melihat siapa pengirimnya untuk mengetahui nama tersebut.
Maya.
Adrian mengeluarkan ponsel.
Pesannya hanya satu kalimat.
**Maya:** *Terima kasih sudah datang tadi malam. Aku rasa kita belum selesai.*
Adrian menatap layar.
Kemudian menatap Laras.
Ada dua jalan di hadapannya.
Satu jalan menuju sesuatu yang baru, penuh rahasia dan ketidakpastian.
Satu lagi menuju rumah yang sudah ia miliki, tetapi membutuhkan keberanian untuk diperjuangkan kembali.
Adrian mematikan layar ponselnya.
Ia belum tahu apakah keputusan itu akan bertahan.
Ia juga belum tahu apakah Maya akan benar-benar pergi.
Namun malam sebelumnya telah mengajarinya satu hal.
Perselingkuhan tidak selalu dimulai dari sentuhan.
Kadang ia dimulai dari percakapan kecil.
Dari perhatian yang terasa sederhana.
Dari seseorang yang hadir ketika kita sedang merasa sendirian.
Dan sebelum kita sadar, batas yang seharusnya tidak pernah dilewati sudah berada di belakang kita.
Adrian menggenggam tangan Laras di atas meja.
Laras terkejut.
Namun tidak menarik tangannya.
Mereka saling menatap.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata dramatis.
Hanya dua orang yang sedang mencoba mencari kembali alasan mengapa mereka dulu memilih satu sama lain.
Di luar rumah, matahari mulai menembus awan.
Namun Adrian tahu, masalah mereka belum selesai.
Karena ada sebuah nama di dalam ponselnya.
Ada sebuah rahasia yang belum ia ceritakan.
Dan ada seorang perempuan di balik pintu yang mungkin belum benar-benar melepaskannya.
Malam itu, Adrian memang membuat pilihan pertama.
Tetapi ia belum menyadari bahwa pilihan tersebut hanyalah awal dari serangkaian keputusan yang akan menguji pernikahan, kesetiaan, dan dirinya sendiri.
Sebab terkadang, seseorang tidak kehilangan rumah karena pergi terlalu jauh.
Ia kehilangan rumah karena terlalu lama membiarkan pintunya terbuka untuk orang lain.