bc

Sekedar Wanita Penebus Hutang

book_age18+
96
FOLLOW
1.3K
READ
revenge
contract marriage
family
HE
forced
friends to lovers
arranged marriage
badboy
kickass heroine
single mother
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Nayla, sang wanita penebus hutang.

Menikah demi menyelamatkan keluarganya.

Dicintai bukan, diinginkan pun tidak.

Tapi siapa sangka, pria yang awalnya membencinya justru tak bisa melepaskannya?

chap-preview
Free preview
BAB 1 – PERNIKAHAN TANPA PILIHAN
Nayla tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya bisa berubah hanya dalam satu malam. Semuanya terjadi begitu cepat—tanpa peringatan, tanpa waktu untuk bernapas, dan yang paling menyakitkan: tanpa pilihan. Ia duduk di tepi tempat tidurnya malam itu, menatap kosong ke arah jendela kamar yang terbuka separuh. Langit di luar gelap, nyaris tanpa bintang. Suara jangkrik terdengar samar dari kebun belakang, namun pikirannya terlalu bising untuk bisa mendengarnya. Ayahnya terlilit utang miliaran rupiah akibat investasi yang gagal. Saham yang dulu dibanggakan jatuh dalam sekejap. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung mereka sekeluarga pun kini terancam disita. Ibunya terus menangis, dan Nayla… hanya bisa terdiam. Ia masih ingat jelas percakapan malam itu, yang seharusnya tak ia dengar. Tapi entah mengapa langkah kakinya justru membawanya ke balik pintu ruang kerja ayah. > “Ma, kita nggak punya pilihan lain,” suara Ayah terdengar lirih, penuh kekalahan. “Kamu mau Nayla menikah dengan orang yang bahkan belum dia kenal hanya demi menyelamatkan perusahaan?” suara Mama meninggi. “Ini bukan cuma tentang perusahaan. Ini tentang hidup kita semua.” Hatinya terhantam. Napasnya tercekat. Ia menutup mulutnya agar tak terdengar menangis, lalu kembali ke kamar dan mengubur wajahnya dalam bantal. Di sanalah ia menangis sejadi-jadinya, sendirian, dalam diam. ** Pagi berikutnya, dunia Nayla sudah tak sama lagi. Ia dipanggil ke ruang tamu, masih mengenakan daster dan rambut berantakan. Di sana sudah duduk seorang pria muda yang asing tapi mencolok. Jas hitam elegan membalut tubuh tinggi tegapnya. Wajahnya tenang, terlalu tenang hingga terasa dingin. Pandangannya lurus ke depan, tanpa senyum, tanpa sapaan. "Kenalkan, ini Arvino Dirgantara," kata Ayah, dengan nada canggung. "Anak dari Pak Hendra... rekan bisnis Ayah dulu." Nayla hanya mengangguk, menahan segala amarah dan kekecewaan yang membuncah di d**a. Dia sudah paham arah pembicaraan ini. “Kita akan menikah minggu depan,” ucap Arvino tanpa basa-basi, nadanya datar seperti membacakan berita. Ia bahkan tidak menatap Nayla saat mengatakannya. Seakan-akan yang akan ia nikahi hanyalah kewajiban bisnis, bukan manusia dengan hati dan masa depan. "Apa ini semacam lelucon?" Nayla akhirnya bersuara, suaranya gemetar tapi tegas. "Tidak," jawab Arvino. "Ini kesepakatan." Nayla menatap ayah dan ibunya bergantian. Ibunya menunduk, air mata menetes. Ayahnya menatapnya dengan sorot mata yang belum pernah Nayla lihat sebelumnya—penuh rasa bersalah, tapi juga pasrah. ** Seminggu berlalu seperti mimpi buruk yang dipercepat. Tak ada gaun putih indah. Tak ada undangan. Tak ada pesta. Yang ada hanya sebuah akad sederhana di ruangan keluarga besar Arvino. Ia mengucap janji di depan penghulu dengan d**a sesak, tangan gemetar, dan hati yang tak hadir. "Ijab kabul sah," ucap penghulu. Dan sejak saat itu, Nayla bukan lagi dirinya sendiri. Ia adalah istri dari seorang pria asing yang bahkan belum ia kenal lebih dari satu minggu. ** Malam pertamanya sebagai pengantin adalah malam paling sunyi yang pernah ia alami. Kamar mereka luas dan mewah, dilengkapi segala fasilitas seperti hotel bintang lima. Tapi di antara dinding putih dan lampu gantung kristal, Nayla merasa terperangkap seperti burung dalam sangkar emas. Arvino masuk ke kamar tanpa banyak bicara. Ia membuka jas, meletakkannya rapi di sofa, lalu duduk di kursi kerja dekat jendela. Ia menyalakan laptop dan mulai mengetik seolah istrinya tidak sedang duduk kebingungan di sisi ranjang. "Aku tidur di sini malam ini," katanya tanpa menoleh. "Kau bisa ambil sisi ranjang yang kau mau. Dan jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu." Kalimat itu terdengar sopan, tapi juga seperti penolakan halus. Nayla hanya mengangguk pelan. Ia merasa kosong. Hampa. Dingin. > Apa ini hidup yang harus kujalani sekarang? Menjadi istri kontrak demi menyelamatkan kehormatan keluarga? Apa artinya semua ini jika tak ada cinta, tak ada rasa? Ia berbaring, menarik selimut hingga ke dagu, dan memejamkan mata. Tapi malam itu tak memberinya mimpi apa pun. Hanya kesunyian yang panjang dan dingin di antara dua orang yang tak saling mengenal. ** Pagi berikutnya, Nayla bangun lebih dulu. Ia berjalan pelan ke dapur dan mendapati pembantu rumah tangga sudah sibuk menyiapkan sarapan. "Selamat pagi, Nyonya," sapa seorang wanita paruh baya ramah bernama Bu Rina. Nayla hanya tersenyum kaku. Ia belum terbiasa dipanggil 'Nyonya'. Rasanya asing. Seolah bukan dirinya. Ia duduk di meja makan, menatap piring dan sendok di depannya, namun tak sanggup makan. Beberapa menit kemudian, Arvino muncul, mengenakan setelan kerja dan membawa tas kantor hitam. "Kamu bisa lakukan apa pun yang kamu mau di rumah ini," katanya sambil mengambil secangkir kopi. "Asal jangan ganggu urusanku." Nayla mendongak. "Apa maksudmu dengan 'urusanku'?" Arvino menatapnya sekilas. Untuk pertama kalinya mata mereka bertemu cukup lama. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang sulit dijelaskan—dingin, tapi juga penuh beban. "Aku tidak ingin keterlibatan emosi dalam pernikahan ini. Kita jalani ini secara profesional. Selesai enam bulan, kita bisa akhiri semuanya." Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Nayla dengan kopi yang belum sempat diminumnya, dan hati yang makin terasa asing dalam tubuhnya sendiri. ** Hari itu Nayla duduk di balkon lantai dua, menatap langit yang biru. Ia memeluk lutut, mencoba menahan tangis. "Apa aku terlalu egois kalau ingin hidup yang biasa-biasa saja?" bisiknya pada angin. Tapi jawabannya hanya sepi. Dan di situlah, cerita mereka benar-benar dimulai. Dua orang asing, disatukan dalam ikatan yang tak mereka pilih, berusaha menemukan makna dari pernikahan yang bahkan belum tentu bisa mereka pahami. Bersambung.......

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.3K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
21.2K
bc

Kali kedua

read
222.8K
bc

TERNODA

read
203.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook