Siang itu, Nayla duduk sendirian di kedai kopi kecil, di pojok ruangan. Suasana adem, lagu-lagu akustik pelan mengisi ruangan. Tapi pikiran Nayla lagi nggak tenang. Di depannya ada dua kertas kosong dan satu pena. Dia pengen nulis sesuatu, tapi nggak tahu mulai dari mana. Dalam hati, dia ngerasa aneh. Semua baik-baik aja, tapi tetap ada rasa... ragu. Arvino dateng lima menit kemudian, langsung duduk di seberang. “Lo nungguin lama?” Nayla geleng. “Baru duduk. Tapi otak gue udah muter dari tadi.” “Kenapa? Ceritain.” Nayla narik napas. “Gue bingung. Kenapa ya, padahal semua berjalan baik, tapi kadang gue masih ngerasa kayak... takut.” “Takut apa?” “Takut semuanya berubah. Takut rasa ini perlahan hilang. Takut lo berubah arah. Padahal gak ada tanda-tanda ke situ.” Arvino diem, terus j

