Pagi itu hujan tak turun. Tapi udara tetap dingin, seolah bumi sedang menenangkan dirinya setelah hari-hari penuh badai. Nayla duduk di balkon apartemen, mengenakan hoodie longgar dan memeluk lututnya sendiri. Kopi di gelas kecil sudah hampir dingin, tapi ia tak berniat meminumnya. Pikirannya mengembara ke banyak arah, tapi selalu kembali ke satu titik: Arvino. Sudah lima hari sejak mereka bicara di rooftop malam itu. Sejak Arvino bilang bahwa bahkan dalam diam, dia akan tetap ada. Dan memang benar. Arvino tidak memaksa, tidak menghubungi secara berlebihan, tapi selalu muncul tepat saat Nayla butuh jeda dari semua keraguan. Hari ini, giliran Nayla yang ingin bicara. Ia mengetik pesan: “Kamu sibuk? Aku mau ngobrol.” Balasan datang cepat: “Untuk kamu, enggak. Di mana?” “Tempat biasa

