Setelah menyelesaikan makan mereka dalam diam, akhirnya Kiara dan Wanda memutuskan untuk pergi duluan dari sana. Dalam perjalanan pulang ke kantornya. Kiara hanya terdiam sambil memikirkan Dean dan omongan dari Ben yang tadi dibisikkan kepadanya. Tak lama Dean sudah berada di belakang Kiara dan Wanda.
Kiara dan Wanda kini berada di lift yang sama dengan Ben dan Dean. Tapi tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan sepatah katapun. Wanda mohon izin untuk langsung pergi ke ruangannya begitu sampai di lantai 11 gedung itu. Dan mereka bertiga berjalan ke arah ruangan Ben bersamaan. Tepat di depan mejanya Kiara langsung berhenti dan mencoba menetralkan nafasnya karna tadi dari luar dan berjalan kaki. Sedangkan Dean dan Ben langsung masuk ke ruangan milik Ben.
Ruangan milik Ben bisa dibilang sangat luas dan hanya ada kaca pembatas diantaranya. Kaca itu juga bisa di setting kegelapan dan kecerahannya, kedap suara dan bisa terkunci otomatis dengan remot yang selalu ada di saku Ben. Ruangan itu juga sangat besar dan sengaja di berikan ruangan untuk Ben beristirahat dan juga kamar mandi yang fasilitasnya juga lengkap.
Sekembalinya dari makan siangnya Ben duduk di meja kerjanya sedangkan Dean duduk di sofa tamu di ruangan sahabatnya itu. Dari sana Dean bisa memperhatikan Kiara dengan sangat jelas, Karna meja Kiara berada menghadap ruangan Ben.
“Udah sih Ean, kalo mau ngomong-ngomong aja. Jangan dipendem gitu.” Kata Ben pada sahabatnya sambil menandatangani beberapa dokumen yang ada di mejanya.
“Ga mau dia ngomong sama gw, lo bayangin aja. Gw ampe udah nyulik dia ke apart gw sampe gw datengin ke rumahnya dan gwpun ngomong sama nyokapnya untuk ngerestuin kami. Tapi tetap aja ga gubris. Terakhir malah kemarin gw ketemu Hito juga pas kerumahnya.” Jelasnya singkat.
Ben kemudian terfokus lagi dengan pekerjaannya dan membiarkan sahabatnya itu termenung dan memandangi wanita yang dicintainya itu dari kaca yang langsung menghadap ke meja kerja wanitanya. Kiara tau jika dirinya sedang diperhatikan. Tapi ia tidak mau salah tingkah, ia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya dan sesekali melihat Dean yang masih tak melepaskan pandangan darinya.
**
Dean Flashback on-
“It, abang minta tolong.” Kata Dean kepada Hito yang sedang duduk bertiga dengan Ben di resto miliknya.
“Minta tolong apaan Bang?” tanya Hito yang kini sedang kebingungan dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh kaka angkatanya itu.
“Gw, dijodohin!” kata Dean sedih hingga menunduk menahan desakan air matanya.
“APA?!” Hito terkejut sambil memperhatikan Dean dengan seksama, “trus Kiara gimana Bang? Gila lo, dia udah sesayang itu sama lo. Trus lo mau ninggalin gitu aja?” protes Hito pada lelaki yang kini berada di depannya.
“Gw tau lo sayang banget sama Kiara. Bahkan gw berterima kasih karna lo udah ngenalin dia ke gw.” Dean kemudian menatap Hito dengan dalam, “Tolong jaga Kiara. Selama gw pergi. Tolong jaga Kiara dengan baik gw mohon ke kalian. Gw ga ingin dia sedih. Gw mohon jaga dia. Jangan biarin dia menangis atau terluka. Jangan lakukan kesalahan seperti apa yang udah gw lakuin dulu. Gw mohon!!” seru Dean memohon dan menahan sedihnya
Hito tak langsung menjawab. Hito menatap Ben yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan diantara keduanya. Hito memang mencintai Kiara dan akan melakukan apapun untuknya. Tapi tidak dengan cara seperti ini.
“Tapi Bang …” Hito tak bisa menyelesaikan kalimatnya.
“Gw tau lo sesayang itu sama Kiara. Bahkan selama ini sebenarnya lo cemburu karna gw duluan yang bisa mendapatkan hatinya. Ga ada lagi yang bisa menjaga dia sebaik lo, It! Gw mohon bantu gw kali ini aja.” Dean masih memohon.
“Kita bakal jaga Kiara. Kita janji!” kata Ben bersumpah “It?” sambung Ben karna Hito masih belum memberikan jawaban apapun.
Hito mengangguk setuju.
Dean Flashback off-
Dean keluar dari ruangan Ben. Kiara yang mendengar suara pintu ruangan terbuka langsung berdiri dari tempatnya. Dean langsung menghampiri Kiara di meja kerjanya.
“Nanti sore begitu aku selesai praktik, aku akan jemput kamu disini. Aku mohon untuk tidak menghindar dariku kali ini.” Kata Dean dengan nada serius.
Kiara masih belum merespon kata-katanya. Tatapan mereka saling bertumbuk dan Dean ingin sekali merengkuh tubuh wanitanya dan memeluk tubuh itu dengan kedua tangannya. Ia benar-benar merasakan kerinduan yang mendalam pada wanita yang sekarang berdiri di depannya.
“Aku pergi dulu.” Kata Dean kemudian melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban dari Kiara.
**
Seperti yang sudah dikatakan Dean tadi, bahwa akan menjemput Kiara seselesainya pulang praktik dari Rumah Sakit. Dean langsung menuju gedung perkantoran yang tak jauh dari Hospi Hospital tempat ia praktik. Dean memasuki gedung itu dan memarkirkan mobil sedan hitamnya yang mewah itu. Di tempatnya memarkirkan mobilnya itu Dean bisa melihat dengan jelas siapa saja yang keluar masuk dari lobby utama. Gedung perkantoran itu sangat ramai karna ada beberapa perusahaan besar yang berkantor di gedung yang sama di gedung milik keluarga Ananda Jun!0r itu.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Kiarapun akhirnya membereskan beberapa berkas-berkas yang sedari tadi ada di depannya. Kemudian menaruhnya di lemarinya. Kiara kemudian izin pamit pulang kepada Ben yang juga sedang merapikan berkas-berkasnya. Kemudian mengambil handbagnya dan berjalan menuju tempar parkir yang sudah diberitahukan oleh Dean.
Turun dari lift kemudian keluar melalui lobby utama Kiara sedang mencoba mencari-cari mobil Dean. Setelah menemukannya dan Deanpun akhirnya turun dari balik kemudi sedan hitam mewahnya itu dan menemui Kiara.
“Silahkan masuk,” kata Dean tersenyum kemudian membukakan pintu untuk Kiara tepat di sebelah kemudinya.
“Terima kasih.” Kata Kiara yang mencoba bersikap ramah.
Dean masuk ke mobilnya dan memasangkan seatbelt untuk Kiara. Seketika Kiara langsung menahan nafasnya karna terkejut dengan perlakuan Dean. Wangi parfum kesukannya Dean yang ia kenakan langsung mengoar, masuk tanpa permisi ke hidung Kiara yang jelas-jelas hanya berjarak beberapa centi.
[Aku pergi dulu ya sebentar keluar sama temen. Janji ga pulang malem.] Kiara mengirimkan pesan singkat pada Hito, kekasihnya.
Tak membutuhkan waktu lama Kiara langsung mendapatkan jawaban persetujuan dari Hito. Kiara bernafas lega karna Hito mengizinkan dan Kiara berdoa dalam hatinya semoga Hito ga tau tentang ini. Karna ia ga mau bikin Hito jadi cemburu dan salah faham.
“WA ke Hito?” tanya Dean sambil terus memandang ke depan.
“Iya,” jawab Kiara menatap Dean yang tengah serius mengemudi.
“Kamu ga usah khawatir. Aku udah dapet persetujuan dari Hito. Tadi aku udah bilang minta dia untuk izinin kita pergi.”
“Hah?” Kiara membulatkan matanya dan menatap Dean penuh tanda tanya.
“Iya. Udah kamu ga usah khawatir.” Kata Dean masih tetap serius melihat ke arah depan.
**
Tiba di apartemen milik Dean, mereka berdua langsung masuk. Sejak dalam perjalanan pulang hujan sudah mengguyur daerah Jakarta dengan lebatnya dan disertai dengan angin yang cukup kencang. Beberapa kali malah terdengar suara petir. Dean mempersilahkan Kiara masuk ke dalam apartemennya. Lagi-lagi Kiara melihat foto mereka yang masih enggan dituruni oleh sang empunya rumah.
Kiara duduk seperti biasa di ruang TV yang dipampang foto mereka yang cukup besar.
“Cape ya?” kata Dean sambil duduk di sebelah Kiara dan membawa kaki Kiara kepangkuannya dan mulai memijit-mijitnya dengan lembut.
Kiara yang tidak enak langsung menurunkan kakinya, tapi Dean menahan kaki Kiara dan Kiarapun menurut.
“Ga perlu seperti ini Kio. Sampai kapan kamu akan seperti ini?” tanya Kiara.
“Aku Cuma ingin balikan sama kamu, Aikko. Dan kamu sudah tau apa yang aku inginkan. Apa cukup sulit untuk meninggalkan Hito yang hanya sebagai pelindung sementaramu?”
“Apa maksud kamu?” tanya Kiara kebingungan dan menggeser tubuhnya menjauh dari Dean.
Dean terdiam sesaat. Ia kemudian menatap lekat pada iris mata Kiara dan berusaha untuk duduk sedekat mungkin dengan wanitanya itu.
“Aku yang memintanya.” Kemudian berhenti sejenak.
“Apa maksudmu?” Kiara membulatkan matanya.
“Aku yang memintanya untuk menjaga dan menyayangi selama aku tak ada di sini. Dan dia sudah menjalaninya. Sekarang tugasnya telah selesai. Aku sudah kembali ke sini dan kamu harus kembali sama aku.”
Deg
Jantungnya langsung berdebar dengan keras. Rasanya begitu tertikam ribuan belati dan sangat sakit.
“Jangan bercanda, Dean!” menahan tangisnya.
“Aku ga bercanda. Semua yang aku katakan barusan memang benar. Aku yang memintanya untuk menjagamu selama aku menikah dengan Mischa. Aku tau dia mencintaimu sejak lama, tapi aku yang mendapatkanmu lebih dulu. Tapi perjodohan itu tiba-tiba diucapkan dan aku tidak tau kepada siapa harus menitipkanmu. Aku juga tidak mungkin melepaskanmu begitu saja untuk laki-laki yang hanya berpura-pura mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu. Dan aku tau dia sangat mencintaimu. Jadi aku memintanya untuk mencintaimu dan menjagamu selama aku tidak ada.”
Derai air mata Kiara turun begitu saja, setelah mendengar penjelasan dari Dean.
“Kamu jahat, Dean!” hanya kata-kata itulah yang bisa keluar dari mulutnya.
“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, Kiara. Setiap detik yang aku lalui selama pernikahanku dengan Mischa benar-benar membunuhku. Kami selalu berpura-pura saling mencintai di depan semua keluarga kami. Bahkan kami sendiri tidak mencintai satu sama lainnya dan menyiksa batin kami berdua. Setiap detik yang aku lalui tanpa kamu benar-benar menyakitiku, Kiara. Aku mohon, kembalilah padaku.” Pintanya kali ini benar-benar dengan nada memohon.
Kiara benar-benar tidak bisa menahan perasaannya. Hatinya begitu hancur mendengar penjelasan Dean. Tiba-tiba seseorang membunyikan bel. Dean langsung berdiri dan membukakan pintu untuk tamunya. Kiara berusaha menghentikan tangisannya tapi yang ia lihat adalah tunangannya yang baru saja datang ke apartemen itu.
“Hito!” Kiara berdiri dengan wajah penuh keterkejutan dan juga ketakutan.
Hito datang dan tersenyum lalu menghampirinya.
“Aku kesini …” kata Kiara ingin menjelaskan.
“Aku tau, Ra. Kita duduk dulu ya.” Hito kemudian merangkul Kiara dan mendudukkannya di sofa itu lagi.
“Aku kesini untuk menjelaskan semuanya, Ra. Aku mohon jangan salah faham dan aku mohon untuk tidak marah ataupun melakukan hal apapun yang dapat membuat dirimu terluka.” Pinta Hito dengan sangat lembut.
Kiara mengangguk.
“A-aku … sayang kamu, Ra. Aku mau kamu kembali lagi sama Bang Dean dan kita sudahi hubungan ini. Tugasku sudah selesai dan aku mohon untuk tidak berfikir bahwa aku tidak mencintaimu. Aku bahkan sangat mencintaimu, Kiara. Sejak aku diberitahukan jika Bang Dean akan dijodohkan. Aku sesungguhnya senang, karna itu mungkin akan menjadi kesempatanku untuk mendapatkan hatimu. Bang Dean memintaku untuk menjagamu. Karna dia tau aku juga mencintaimu sejak lama. Lalu, aku menyetujuinya. Setelah dia menikah dengan Mischa aku berusaha sebisaku untuk menjaga dan mencintaimu hingga akhirnya aku mendapatkan hatimu. Aku tau walaupun kita resmi bertunangan, tapi kamu tidak bisa menyembunyikan perasaanmu kalau sesungguhnya kamu masih mencintai Bang Dean. Setelah mereka bercerai, Bang Dean datang padaku dan memintamu. Maka sejak saat itu aku menyiapkan hatiku untuk kehilanganmu, Kiara. Sungguh, aku sama sekali tidak punya niat untuk menyakitimu atau bahkan mempermainkanmu. Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu. Tapi aku tidaklah pantas untuk mencintaimu, Ra. Karna aku tau kalian masih saling menyayangi walaupun kalian sudah terpisah lama. Jadi aku mohon kamu mau ya, kembali lagi sama Bang Dean.” Katanya sambil memegang pipi Kiara yang sudah dibasahi oleh air matanya yang belum mau berhenti.
“Lalu, pertunangan ini apa maksudnya?” kali ini Kiara bertanya dengan tubuh yang sudah terasa lemas.
“Pertunangan itu … itu karna memang murni aku menyayangimu dan aku ingin serius padamu, Ra.“ Berhenti sejenak dan memandang dalam iris mata Kiara yang masih terus menangis. “Aku tau, apa yang sudah Bang Dean lakukan memang sangat keterlaluan dan menyakitimu. Tapi aku bersumpah, jika dia melakukannya lagi setelah kalian berdua kembali bersama. Aku akan merebutmu lagi darinya dan aku akan memilikimu selamanya.” Lanjutnya.
Kiara benar-benar tak mengerti jalan fikiran dua lelaki yang berada di hadapannya itu. Hito merengkuh pinggang Kiara dan memeluknya dengan erat.
“Aku mohon kembalilah pada Bang Dean. Dia sangat menyayangimu, Ra.” Sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya.
“Lalu, bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Kiara sambil melepas pelukan Hito
“Orang tuaku biar aku yang beritahu. Kamu ga perlu khawatir. Dan lo Bang, tolong jaga Kiara seperti yang gw sudah lakukan. Jangan lakukan kesalahan yang bodoh lagi. Kalau sampai gw denger, dia nangis. Lo bakal berurusan sama gw.” Katanya sedikit mengancam.
Dean mengangguk dan berjanji.
**
Hito berdiri di balkon kamarnya. Memandang lurus ke depan dan diam termenung. Bulir air matanya turun begitu saja tanpa permisi. Hatinya benar-benar merasa sakit karna harus kembali menyerahkan Kiara, wanita yang ia cintai sejak kecil. Ben kemudian muncul di samping Hito dan melihat adiknya sedang bersedih. Ben menepuk bahu adiknya, mentransfer sedikit kekuatan agar ia bisa lebih baik.
“Gw udah putusin Kiara untuk bang Dean!” katanya sambil menyeka air matanya
“Terima kasih, It. Lo memang adik gw yang terbaik!” puji Ben sambil tersenyum tulus.
“Gw sayang banget Bang sama Kiara. Tapi lagi-lagi gw harus kehilangan dia demi bang Dean yang jelas-jelas lebih mencintainya lebih dari gw.”
“Gw salut sama lo, It. Lo bisa memenuhi janji lo sama Dean. Bahkan gw sendiri aja belum tentu bisa melakukannya demi wanita yang lo juga cintai sebenarnya.” Kata Ben sambil menepuk-nepuk bahu adiknya.
**
Hari ini Astrid meminta Kiara untuk menemaninya perawatan tubuh ke salon langganannya. Kiara diantar oleh Dean menuju salon & spa Tiara Beauty untuk bertemu dengan Astrid. Kiara dan Dean sampai lebih dulu dibandingkan Astrid dan Ben.
Dengan mengenakan stelan santai celana pendek diatas lutut dan kaos Hitam juga sendal flip flop kesayangannya Astrid turun dari mobil silver dan terparkir di sebelah mobil sedan hitam milik Dean. Kiara turun dan menghampiri kakanya itu dengan agak sedikit cemas. Astrid belum diberitahukan masalah yang terjadi antara Dean, Hito dan juga dirinya. Ia terkejut karna Dean ikut turun dari mobil yang ditumpangi Kiara saat itu.
“Hai, sayangku.” Sapa Astrid sambil cupika cupiki pada adiknya itu.
“Hai, Ci.” Membalas cupika cupikinya.
“Kamu dianter Dean?” tanyanya memulai pembicaraan.
“Iya, Ci.” Jawabnya salah tingkah
“Hai Dean apa kabar?” tanya Astrid kemudian menyapanya.
“Baik. Lo apa kabar Trid?” sapanya ramah.
“Baik juga. Gw pinjem Kiara dulu ya. Nanti malem pas bridal shower lo dateng kan Ean? Biar Kiara sama gw aja datengnya. Sekalian! ” sambil mengedepipkan matanya ke arah Kiara seperti menggodanya.
“Iya, ga apa-apa. Ntar malem juga gw bareng Ben sama Hito kok. Memang udah janjian juga.”
“Oh ok ... Ya udah kita masuk dulu ya. Sampai ketemu ntar malem.” Kemudian berlalu masuk ke lobby.
“See you, Kio.” Kata Kiara sambil cupika cupiki.
“See you, Aikko. Jangan lupa kabarin aku ya.” Katanya sambil mengecup pucuk kepala wanita tersayangnya itu.
“Iya, Sayang.” Kiara langsung menyusul Astrid ke dalam dan melambaikan tangannya ke arah Dean yang sudah beberapa langkah darinya.
**
Malam harinya di resto Hito, pihak WO sudah menghias ruangan dengan bunga dan beberapa tulisan. Tidak banyak yang hadir. Hanya beberapa orang saja yang mereka undang untuk bridal shower. Dean datang dengan Hito dan Ben. Kemudian Kiara datang bersama dengan Astrid. Tema warna hari itu adalah pink soft dan putih.
Astrid mengenakan dress pink soft dan sangat pas dengan badannya yang tinggi semampai, dengan rambut diikat setengah juga dihiasi beberapa bunga yang diikatkan di kepalanya. Ben mengenakan kemeja berwarna putih dan celana panjang abu-abu yang sangat terlihat kontras dengan dress yang dikenakan Astrid malam itu. Tamu yang datang diberikan kotak yang berisi souvenir dan seragam untuk mereka kenakan ketika pernikahan mereka minggu depan.
Kiara dan Dean duduk berdampingan. Sedangkan Hito duduk berdampingan dengan teman masa kecilnya. Wanita itu menyukai Hito. Terlihat dari gerak geriknya wanita itu memperhatikan satu sama lainnya. Gadis itu berumur lebih tua dari Kiara dan seorang gadis blasteran Indonesia dan Jerman, namanya Anna. Tapi dia sangat lancar berbahasa Indonesia. Sejak lahir hingga dewasa Anna tinggal di Indonesia dan sesekali pulang ke Jerman untuk menengok ayah dan ibunya yang kini menetap di sana. Anna merupakan anak satu-satunya dari keluarganya. Anna bekerja sebagai seorang model karna terlihat dari bentuk badannya yang sangat proporsional. Bahkan Kiara saja kalah tinggi sedikit dengannya.
Setelah selesai menyantap makan malam yang disajikan tamu undangan termasuk Kiara dan Dean memilih untuk pamit dari sana. Besok Dean masih ada jadwal praktik pagi hari, jadi ia ingin mendapatkan tidur yang cukup malam ini. Di mobil mereka seperti biasa hanya diam tanpa berbicara sedikitpun. Cuaca pada malam ini mendukung banget, mereka berada di dalam mobil dan jalannya sangat lenggang. Tiba-tiba Dean menggenggam tangan Kiara dan mencium punggung tangannya lembut. Kiara kaget melihat Dean melakukan ini. Walaupun mereka pacaran sudah cukup lama sebelumnya tapi Kiara masih harus beradaptasi dengan kelakuan Dean yang kemarin-kemarin sempat lenyap dari hidupnya.
Sampai di depan rumah Kiara memohon diri untuk masuk ke rumah dan membiarkan Dean pulang. Tapi tangannya masih ditahan Dean. Kiara langsung menatap kekasihnya itu dengan senyumnya.
“Kenapa?” tanya Kiara.
“Masih kangen!” kata Dean manja.
“Besok ya kita ketemuan lagi. Kamu praktik jam berapa besok?”
“Selesai jam 7 malam Sayang.”
“Ya udah, besok pulang kerja aku ke rumah sakit ya.”
“Ok ...” Seraya melepaskan tangannya dan menyentuh pucuk kepalanya
Namun lagi-lagi Dean memberikan kejutan yaitu dengan menautkan bibir seksinya itu ke bibir Kiara. Kiara yang juga sama kangennya itu langsung membalas perlakuan manis kekasihnya itu.
**
“Ra, ibu mau ngomong dulu ya,” kata ibunya yang tiba-tiba memanggilnya ketika ia sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
“Kenapa Bu?” kemudian duduk di sebelah ibunya.
“Ehmm … sepertinya ibu harus pindah ke Jogja.” Dari raut wajahnya terlihat jelas ibu sepertinya ragu untuk mengatakan hal itu.
“Loh? Kenapa mendadak sekali Bu? Ada apa?” katanya kaget.
“Ibu kasian pada eyangmu. Eyang putrimu tidak ada yang menjaga. Jadi ibu sudah rembukan dengan pa’de, bu’de juga bu’lemu untuk ibu yang mengurusnya. Ibu yakin kamu bisa menjaga dirimu dengan baik di Jakarta. Lagi juga di sini banyak yang menjagamu. Jadi ibu tidak khawatir. Kalau kamu tidak mau tinggal di sini karna sepi kamu boleh pindah ke apartemenmu. Bi Onah akan tetap di sini bersamamu. Dan kamu bisa kontrakan rumah ini. Jadi rumah ini tidak kosong. Tapi terserah kamu, Ra. Ibu tidak melarang.” Ujarnya dengan nada penuh kelembutan.
“Kapan Ibu akan pindah?”
“Bulan depan. Karna pa’lemu kemungkinan akan dipindah tugaskan ke Bali bulan depan. Jadi ia bisa sambil menunggu ibu ke sana. Kamu ga apa-apa kan, Ra?” tanya ibu dengan sedikit cemas.
“Ga apa-apa, Bu. Lagi juga disini kan ada Mas Dean, Bang Ben sama Hito yang jaga aku. Masa iya kurang? Tenang aja. Aku juga ga akan ngerepotin mereka.” Katanya sambil tersenyum mengambil tangan ibunya dan mengenggamnya.
“Lalu kamu mau tinggal dimana?”
“Nanti aku pikirkan lagi Bu. Kemungkinan di apartemenku. Karna rumah ini sejujurnya terlalu besar untukku hanya berdua dengan Bi Onah. “
“Baiklah. Sudah sana kamu berangkat. Ga enak kalau terlambat sama bang Ben.”
Suara bel rumah berbunyi dengan nyaringnya. Dean muncul di pintu kamarnya sambil bersalaman dengan ibu.
“Nanti malam, kalau bisa kamu makan di sini ya, Ean. Ada yang mau ibu bicarakan.” Pinta Ibu.
“Iya, Bu.” Jawabnya menurut.
“Ya udah, sana berangkat. Kasian Kiara nanti terlambat.”
Kemudian mereka berdua berpamitan dan langsung berangkat ke kantor Kiara. Dean mengantar Kiara sampai lobby kantornya lalu berpamitan pergi ke rumah sakit. Ben baru saja datang ketika Dean memasuki lift yang ia tumpangi. Kemudian hanya menyapanya dan janjian makan siang bersama siang ini.
**