FIVE

2626 Words
Ruangan Dean dipenuhi dengan jeritan tangis anak perempuan berusia 2 tahun yang ketakutan karna harus melihat jarum suntik. Ya, hari itu ada jadwal imunisasi untuk pasiennya. Mangkanya hari ini Dean jam praktiknya diperpanjang hingga jam 7 malam. Namanya Carla, anak perempuan ini sangat menyukai pa dokter Dean. Karna apa? Dean selalu bisa menenangkan pasien-pasiennya yang bisa dibilang masih kecil itu untuk bisa bersikap kebapaan. Dean memang menyukai anak kecil, tapi sayangnya hingga usianya hampir menginjak kepala 4 dia masih belom memiliki seorang anakpun. Dean ini sangat sayang dengan anak kecil dan bahkan dia sempat kefikiran untuk mengadopsi seorang anak. Tapi sayangnya dia masih takut. Karna takut tidak bisa mengurus anak adopsinya itu dengan baik. Walaupun terkadang merasa kesepian, Dean biasa menghabiskan waktunya dengan mengurus tubuhnya yaitu dengan rajin berolahraga di tempat gym yang tak jauh dari apartemennya. Bisa dibilang Dean itu tidak terlihat seperti akan memasuki usia kepala 4. Karna kulitnya ia rawat dengan baik, badannya ia bentuk hingga membentuk otot-otot yang bagus. Sorenya setelah pulang bekerja, Kiara langsung menuju tempat parkir tempat Dean memarkirkan mobilnya tadi. Ia sengaja meninggalkan mobil sedan hitam mewahnya itu untuk Kiara pakai ketika menjemputnya nanti malam. Jadi Kiara tidak perlu repot-repot memesan taksi online dan menunggu lama. Kiara langsung pergi ke rumah sakit tempat Dean praktik sejak tadi pagi. Jarak dari kantornya ke rumah sakit itu hanya 30 menit. Tapi keadaan jalan sore hari itu tidak berpihak kepadanya. Jalanan macet parah, butuh waktu 1 jam untuk sampai ke rumah sakit itu. Kiara kemudian menelpon Dean untuk memberitahu agar tidak cemas. Dean mengiyakan dan menyuruhnya agar tetap hati-hati dalam mengendarai mobilnya. Kiara langsung memarkirkan mobilnya di tempat yang di khususkan untuk dokter. Tapi ia tak langsung turun. Setelah mengabari Dean, Dean yang jam praktiknya telah selesai semenjak 15 menit yang lalu langsung menghampiri mobilnya. Ia mengetuk jendela di sebelah kanan Kiara. Kemudian ia menurunkan kacanya. “Ayo, naik.” Ajak Kiara begitu melihat Dean sudah berdiri di sampingnya. “Turun dulu yuk, sebentar.” Dean membuka pintu di bagian kemudi, tepat Kiara kini duduk. “Ngapain?” tanyanya bingung. “Ketemu bu Nadya. Udah lama aku mau kenalin kamu, tapi ga sempet-sempet.” Tanpa menunggu aba-aba Kiara langsung mematikan mesin mobilnya dan segera turun dari tempat persinggahannya. Bu Nadya sengaja masih belum pulang karna Dean berjanji akan memperkenalkan Kiara kepadanya. Jadi ia menunggu. Sesampainya di lantai 10 ruangan manajemen rumah sakit itu, Kiara langsung dipersilahkan masuk oleh Dean untuk masuk ke ruangan bu Nadya. Bu Nadya masih menggunakan setelan kemeja lengkap dengan rok hitam. Sangat rapi dan masuk ke ruangannya sangat khas dengan parfum yang sangat manis. “Bu, kenalin ini Kiara.” Kata Dean setelah memasuki ruangannya kemudian duduk di sofa yang berada di ruangan bu Nadya. “Halo Sayang, akhirnya kita ketemu. Ibu sudah lama ingin sekali berkenalan denganmu. Semenjak kalian masih berpacaran dulu.” Katanya lembut, menonjolkan ibu-ibu yang lembut dan sangat keibuan. “Iya Bu. Maaf aku baru bisa kesini sekarang.” “Iya tidak apa-apa. Ibu tau semua yang terjadi dengan kalian. Dean ini anak ibu juga, jangan sungkan Kiara. Walaupun, Dean bukan keluar dari rahim ibu. Tapi ibu sangat menyayangi anak laki-laki ibu ini. Jadi kalian jangan sungkan ya.” Ujar bu Nadya. Dean dan Kiara saling menatap dan mengangguk. “Kiara, Dean ini sudah ga muda lagi. Cepatlah kalian berdua menikah. Dean mencintai kamu dengan setulus hatinya. Dia dokter anak terkenal tapi masih belom punya anak. Lihat aja, sudah mau kepala 4. Sebentar lagi dia beruban. Ibu juga ingin menimang cucu dari kalian berdua.” Pinta bu Nadya yang sangat terlihat mendukung sekali hubungan mereka berdua. “Sesegera mungkin Bu. Doakan saja ya.” Kata Dean menjawab dengan optimis. “Kapan-kapan kamu main ya, ke rumah. Nanti ibu kenalin sama anak ibu.” Katanya sambil mengelus kepala Dean sayang. “Baik Bu.” Sambil tersenyum. Kemudian mereka berpamitan karna sudah mempunyai janji makan malam dengan ibu Kiara yang sudah menunggu mereka di rumah. ** Sesampainya di rumah Kiara, ibu langsung menyuruhnya masuk. Mereka langsung bersih-bersih dan menuju meja makan. Di sana ibu sudah menyiapkan ayam bakar sambal korek kesukaan Kiara yang teramat pedas. “Dean!” panggil Ibu memulai pembicaraan malam ini. “Ya, Bu.” Dean menatap wajah ibu Kinanti. “Kapan kalian akan menikah?” tanya ibu serius dan langsung to the point. “Dean maunya secepatnya Bu. Tapi semua tergantung pada Kiara. Dean tidak mau memaksakan.” Memandang ibu Kinanti lalu beralih pada Kiara yang duduk di sampingnya. “Ra, kamu kapan kira-kir ...” “Maaf Bu, bukan Kiara mau lancang. Tapi Kiara sepertinya tidak bisa dipaksa untuk cepat-cepat menikah. Biarkanlah kami menjalani hubungan ini dulu. Lagi juga Kiara masih beradaptasi dengan semua ini, Bu. Jadi Kiara mohon sekali dengan Ibu. Jangan terlalu terburu-buru. Kiara ingin semuanya tiba waktunya dengan baik.” Kata Kiara sedikit memohon. “Baiklah, ibu tidak akan memaksamu. Hanya saja, ibu beritahukan ya Ean. Bulan depan kemungkinan ibu akan pindah ke Jogja. untuk merawat eyang putrinya Kiara di sana. Jadi ibu mohon untuk jaga Kiara dengan baik di sini. Ibu juga sudah bilang ke Ben dan Hito untuk menjaga Kiara. Tapi ibu lebih lega lagi kalau kalian berdua seandainya bisa menikah sesegera mungkin dan pindah dari sini atau tinggal di sini juga lebih baik.” Pinta ibu. “Iya Bu. Dean akan memperhatikan dan menjaga Kiara dengan baik. Untuk tinggal setelah Ibu pindah lebih baik Kiara tinggal di apartemen Dean saja. Di sana ada 3 kamar dan Kiara bisa menempati salah satunya. Juga ada 1 kamar untuk ART. Jadi Dean bisa lebih gampang mengawasi Kiara. Lagi juga si bibi kan ga setiap hari datang ke apartemen Dean Bu. Jadi dengan adanya Bi Onah, pasti akan sangat membantu. Gimana Ra, menurut kamu?” ucap lelaki itu. “Aku fikirkan nanti ya.” Kata Kiara sambil menyuapkan makanannya ke mulutnya dan membuang pandangannya ke arah lain. “Oke, selama ada bi Onah, kalian boleh tinggal bersama. Tapi kalau tidak ada orang lain, ibu tidak mengizinkan kalian bersama dalam satu atap tanpa adanya ikatan pernikahan, ya.” Jelas Ibu mengingatkan. “Baik Bu.” kata Kiara dan Dean bersamaan. ** Hari yang ditunggu Astrid dan Ben akhirnya datang juga, setelah siap dengan makeupnya dan sudah mengganti pakaiannya. Astrid dipersilahkan turun ke ballroom hotel itu. Di sana sudah ada keluarga dan kerabatnya yang menunggu kedatangan Astrid untuk melangsungkan inti dari acara hari ini. Ben yang sudah disambut oleh keluarga Astrid dan tengah duduk di kursi tempatnya untuk ijab kabul sedang gelisah menunggu Astrid. Jantungnya berdetak dengan kencangnya, mungkin jika mereka sepi bunyi dentuman jantung Ben sudah terdengar oleh semuanya. Astrid didampingi oleh Kiara dan adik sepupunya untuk sampai ke singgah sananya di sebelah Ben. Untuk akad nikah Astrid memilih kebaya putih dan kain batik coklat khas jawa juga dengan paes dikepalanya serta riasan flawless yang tetap manglingi. Karna Astrid jarang sekali bermake up tebal. Sedangkan Ben menggunakan beskap putih dan kain batik coklat serasi dengan yang dikenakan oleh Astrid saat ini. Begitu melihat Astrid hadir di sebelahnya hati ben sedikit lebih tenang dibanding sebelumnya. Terlihat dari gambaran senyumnya yang dipancarkan baru saja. Astrid kemudian dipersilahkan untuk mengucapkan maaf dan terima kasih kepada orang tuanya dan keluarganya. Di sana ada gambaran haru dan kesedihan karna nantinya harus berpisah dengan orang tuanya dan ucapan terimakasih yang diutarakan hingga meneteskan air matanya yang tidak dapat ia bendung lagi. Setelahnya, Kiara kemudian mengenakan selendang lace di kepala mereka berdua. Tanda akan segera dimulainya ijab kabul pagi itu. ** Sah sudah Ben dan Astrid hari ini. Malamnya mereka melanjutkan acara dengan resepsi pernikahan mereka hingga makan malam bersama. Acara resepsi Astrid mengenakan gaun berwarna putih tulang dengan payet swarovski lengkap dengan mahkota dan heelsnya yang membuat ia semakin terlihat tinggi. Lalu, Ben mengenakan setelan jas berwarna abu-abu dengan hint birunya lengkap dengan dasi dan pantofel hitamnya. Nuansa ruangan itu di d******i oleh abu-abu dan biru Dean dan Kiara bernyanyi bersama untuk memberikan sentuhan romantis malam itu. Bisa dibilang suara Dean dan Kiara sangat mengaggumkan. Karna mereka adalah pasangan duet yang saling melengkapi satu sama lainnya. Tamu undangan sangat terhibur bahkan Astrid request lagi dan lagi lagu-lagu untuk mereka nyayikan hingga waktunya berdansapun Dean dan Kiara yang menyanyikan lagu untuk mereka berdua. Begitu acara mereka berdua selesai, mereka berdua akan langsung pergi untuk honeymoon. Rencananya mereka akan pergi ke Bali untuk 2 hari kemudian mereka akan pergi ke Eropa. Ben sudah berpesan sebelum berangkat kepada Kiara dan Hito, lagi-lagi agar tidak mengganggu mereka selama pergi honeymoon. Hito hanya beriya-iya ria dengan pesan dari kakanya itu. Yang lain hanya tertawa dengan kecemasan Ben yang takut diganggu selama honeymoon. ** Hari ini, ibu Kinanti akan berangkat menuju Jogja untuk sementara menetap disana. Tepat pukul 5 subuh ibu berangkat bersama dengan Bi Onah dan Bi Ijah untuk membantunya membereskan barang-barang yang sejak kemarin dikirimkan ke Jogja. Kiara pun sudah memilah milih barang mana saja yang akan ia bawa ke apartemen Dean untuk dipakai. Kiara dan Dean sepakat untuk tinggal bersama sedangkan Bi Onah akan kembali ke Jakarta begitu sudah selesai membantu ibu untuk berbenah. Semenjak semalam Kiara sudah resmi tinggal bersama Dean di apartemennya. Ibu juga sudah bertemu dengan Hito dan Ben untuk menitipkan Kiara sementara waktu. Kiara memeluk sayang ibunya itu dengan erat. Seolah akan berpisah sangat lama. Kiara dan Dean mengantar ibunya hingga ke bandara. Kiara juga membawakan nasi goreng buatannya untuk ibu dan kedua ART kesayangannya itu. Itu salah satu menu favorite ibu dan kedua ARTnya itu, masakan Kiara. Ibu memberikan beberapa pesan yang harus dijalankan oleh Dean dan Kiara sementara tak ada Bi Onah di apartemen mereka. Ibu benar-benar tidak mau hal yang tidak sewajarnya mereka lakukan sebelum mereka sah sebagai suami istri. Memang agak kolot. Tapi itu memang prinsip ibu yang harus dipegang dan Kiara juga Dean harus menuruti jika tidak, maka mereka akan dapat akibatnya. Ibu tidak akan merestui mereka lagi jika hal itu terjadi. “Ibu berangkat dulu ya Sayang. Ingat pesan ibu.” Kata ibu mengingatkannya lagi. “Iya Bu. Aku inget.” Jawab Kiara tersenyum sambil memeluk ibunya lagi dan lagi. “Dean, jaga Kiara dengan baik. Ibu tidak mau anak ibu satu-satunya ini terluka lagi.” Ada nada peringatan pada kalimat yang ibu utarakan barusan. “Baik, Bu.” Kata Dean sambil memberi tanda hormat kepada calon ibu mertuanya. “Ya sudah, ibu dan Bibi-Bibi pergi dulu ya.” Ibu Kinanti berpamitan. “Hati-hati ya Bu, Bi” Kata Kiara dan Dean bersamaan. Kemudian melambaikan tangannya dan pergi untuk masuk menuju ruang tunggu. ** Kiara dan Dean langsung pulang menuju apartemen mereka untuk menghabiskan waktu bersama. Di jalan pulang mereka berdua membeli beberapa bahan makanan yang sudah habis untuk mereka simpan di kulkas. Kiara lumayan gemar memasak akhir-akhir ini. Apalagi semenjak balikan dengan Dean. Karna Dean sangat tidak suka jajan di luar dan agak pemilih soal makanan yang ia makan. Ia bisa beberapa kali makan di tempat yang sama jika sudah suka dengan makanan yang disajikan. Jadi Kiara harus membiasakan diri untuk kembali berkutat dengan dapur. Beda halnya dulu dengan Hito, yang bisa pergi makan dimana saja dan kapan saja. Lelaki itu bahkan tak menginginkan Kiara lelah memasak setelah seharian bekerja. “Aku suka kornet yang ini Kio. Yang ini aja, please.” Kata Kiara mencoba untuk merayu Dean. “Engga ini tuh banyak vetsinnya, Aikko. Yang merek itu aja.” Katanya sambil menunjuk ke jajaran yang di sebelah merek yang ditunjuk Kiara. “Ok-ok fine.” Katanya sambil cemberut dan meletakkan 2 buah kotak kornet yang Dean pilih ke dalam keranjang. Kemudian Kiara dan Dean menuju tempat daging dan sayur, memilih beberapa sayuran dan juga beberapa daging yang akan mereka bawa pulang. Setelahnya mereka langsung menuju apartemen. Mereka menaruh beberapa kantong belanjaan yang mereka bawa tadi di mini bar yang ada di dapur mewah milik lelaki tampan itu. Dean langsung masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Sedangkan Kiara hanya menaruh tasnya di kamar dan langsung berkutat dengan kantong-kantong belanjaan tadi dan menaruhnya di wadah untuk segera disimpan di kulkas agar tidak cepat rusak. Dean memperhatikan Kiara dengan seksama sambil beberapa kali memindahkan channel di layar TVnya. Karna tidak ada yang menarik akhirnya ia memutuskan untuk mematikan tvnya dan mulai browsing untuk mendengarkan lagu. Kini ia memutar Secondhand Serenade – Fall for you untuk ia dengarkan bersama dengan Kiara. Kiara suka dengan grup band ini karna rata-rata lagunya yang slow rock dan sangat enak didengar. Kemudian Dean membantu Kiara agar lebih cepat kekasihnya itu bersantai. Direngkuhnya pinggulnya kemudian dipeluknya erat. Kiara yang tidak sadar dengan kedatangan Dean yang berada di belakangnya itu langsung tersenyum. Ia hanya merasakan kehangatan yang Dean ciptakan karna adanya sentuhan di pinggulnya. Kiara mulai terbiasa dengan sentuhan-sentuhan yang Dean ciptakan ketika hanya mereka berdua saja. Dean senang sekali menciuminya. Padahal Kiara masih dalam masa penyesuaian dengannya setelah putus. Setelah selesai dengan barang belanjaan yang mereka beli tadi. Kiara langsung menuju kamarnya dan mengganti bajunya dengan celana pendek dan kaos ketat berwana pink. Dean yang melihat sontak tak kuasa menahan kekagumannya kepadanya yang kini duduk di sebelahnya. Yang tadinya ia mencari-cari film yang akan ditontonnya bersama dengan Kiara. Tapi kini pandangannya justru beralih kepada kekasihnya itu. Kiara yang menatap bingung kepada kekasihnya itu langsung menyentuh pipi kekasihnya itu dan menatapnya dalam. “hayooo kamu ngeres ya mikirnya,” kata Kiara kemudian menutup mata Dean dengan tangannya agar tak terus-terusan menatapnya. Tanpa menjawab Dean langsung merengkuh tengkuk Kiara dan mengecup bibir Kiara dengan lembut. Kiara tak melawan apalagi melepaskan ciuman yang diberikan kekasihnya itu. Dia malah terbawa suasana karna Dean begitu lembut menciumnya hingga ia terbuai. Tapi ada seseorang yang menekan bel, dan berharap agar segera dibukakan pintunya. Awalnya Dean ingin membiarkan orang yang ingin bertamu dan mengganggu kegiatannya bersama dengan kekasih tersayangnya itu. Tapi lagi-lagi orang ini menekan belnya hingga mereka berdua merasa terganggu. “Sebentar ya, Aikko.” Kata Dean sambil merapikan baju yang ia kenakan kemudian menuju pintu. “Lama banget sih, Bro.” Kata Andy yang kemudian nyelonong masuk. “Ih ngapain sih, lo?” kata Dean yang berusaha menghalangi Andy untuk masuk kedalam. “Duh sorry, Ra. Gw ganggu ya.” Kata Andy yang merasa tidak enak dengan melihat Kiara yang sedang duduk menonton TV. “Lagi, lo ngapain sih? Kaya orang kebelet aja.” Protes Dean dengan kesalnya. “Gawat Ean, gawat.” Kata Andy panik. “Apaan sih?” tanya Kiara menghampiri mereka berdua. “Mischa mau kesini, Ean” “Memangnya kenapa?” tanya Kiara bingung. “Dia belom tau kalo lo, udah tinggal berdua.” Kata Andy dengan nada paniknya. “Ya udah biarin aja. Toh gw ama dia udah ga apa-apa.” Dean berkata dengan acuh. “Iya sih. Cuma katanya dia mau nginep di sini.” Jawab Andy sambil mengatur nafasnya, “ya lo tau kan Mischa kan rada-rada. Kaya ga bisa lepas dari lo. Ga bisa lepas juga dari cowonya yang sekarang tuh siapa namanya lupa gw.” Lanjut lelaki dengan berprawakan baby face itu. “Ya udah, biar gw kasih tau aja sekalian kalo emang dia mau nginep di sini. Gw sama Kiara mau nikah. Biar dia bener-bener bisa lepas dari gw.” Kata Dean cuek. “Ya udah. Pokoknya gw udah ngasih tau ya. Lo jangan lupa kasih tau gw kalo butuh bantuan apa-apa.” Kata Andy yang kemudian meninggalkan Kiara dan Dean berdua. Mereka lanjut menonton film romantis yang sudah dipilih Kiara tadi ketika Andy masuk dengan paniknya. Mereka berdua duduk dan saling berpelukan di sofa. Oiya, Andy itu adalah salah satu sahabat Dean juga. Mereka tinggal bertetangga. Tapi Andy lebih dulu menikah dan kini sudah memiliki dua anak kembar yang sangat lucu – sepasang anak berumur 5 tahun. Tapi dari ceritanya kedua anak itu dekat banget dengan Dean hingga beberapa kali menginap di apartemen Dean waktu itu. Si kembar itu namanya Dilla dan Damar. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD