SIX

2640 Words
“Mau dimasakin apa Kio?” tanya Kiara ketika sudah selesai mandi. “Apa aja, Sayang.” Kata Dean lembut sambil tersenyum. “Ok. Aku masakin sayur sama ikan goreng aja boleh?” “Iya, Sayang. Yang penting kamu yang masak, aku pasti suka.”                 Kemudian Kiara berjalan menuju dapurnya yang bernuansa scandinavian dan didominasi oleh warna putih dan coklat muda khas kayu. Sedangkan Dean masih asik bermalas-malasan di sofa sambil memainkan smartphonenya. Tak lama suara Bel berbunyi dengan kencangnya. Dean berjalan melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukakan tamu yang baru saja membunyikan belnya. “Deannnn!” sapanya sambil memeluk Dean menunjukkan keakraban.                 Dean langsung melirik Kiara yang sudah berdiri di belakang wanita yang kini memeluknya. Lelaki itu bahkan tidak membalas pelukannya. Kiara kini hanya menatap pemandangan itu tanpa berkata sepatah katapun. Kiara dan Dean kini hanya bertatapan. Kemudian wanita itu melepaskan pelukannya dan melihat sekitarnya. Tapi dia terkejut melihat Kiara yang menatap mereka. “Si-siapa dia?” tanyanya kemudian menatap Dean. “Kenalkan ini Kiara, calon istriku.” Kata Dean kemudian mendekat ke arah Kiara. “Calon istri? Apa maksudnya?” tanya Mischa sedikit bingung. “Halo, Mischa. Aku, Kiara!” kata Kiara sambil mengulurkan tangan, mengajaknya bersalaman. “Mischa!” katanya kemudian membalas uluran tangan Kiara. “Ayo bersiap. Kami akan makan malam.” Kata Dean dingin lalu membawa koper milik Mischa ke kamar Kiara. “Baiklah!”kata Mischa                 Kiara berjalan menuju meja makan dan menata piring untuk mereka makan bersama. Setelah mengantarkan Mischa ke kamar Kiara, Dean kemudian menuju meja makan untuk menemui Kiara. “Hari ini kamu tidur di kamarku. Ga apa-apakan, Ai?” tanya Dean sambil menyentuh dagu Kiara dengan sayang. “Selama kamu tidak macam-macam. Aku ga masalah.” Kata Kiara sambil tersipu. “Aku akan menjaga kamu, Sayang.” Kemudian tersenyum.                 Setelah menunggu beberapa saat Mischa datang dengan kaos putih transfaran dan short pants sehingga menampakkan br@ hitam yang dikenakannya. Dean langsung menatap Kiara, seolah tak enak. Dulu memang Mischa sering melakukan ini. Dean tak risih dengan itu. Tapi itukan dulu ketika mereka menjadi suami istri dan itupun hanya mereka berdua. Tapi kini ada Kiara di sana dan Dean merasa benar-benar tidak nyaman dengan kelakuan mantan istrinya itu. Dean pergi dan mengambilkan sweater miliknya dan memberikannya kepada Mischa. Kiara hanya diam saja karna benar-benar merasa canggung berada di tengah mereka berdua yang nampaknya sedikit kurang akur. “Pakai ini. Jangan buat aku ga nyaman lalu kemudian mengusirmu,” Kata Dean dingin. “Baiklah! Mantan Suamiku!” katanya tersenyum nakal. “Sayang, boleh ambilkan ikan gorengnya?” kata Dean kepada Kiara. “Ini!” Mischa memberikan ikan goreng ke piring Dean. “Aku minta Kiara yang ambilkan. Kenapa jadi kamu?” protes Dean. “Sudahlah Kio. Aku ga apa-apa.” Kata Kiara sambil tersenyum dan memegang tangan Dean lembut, “mungkin Mischa masih tidak terbiasa untuk tidak melayanimu seperti layaknya seorang istri.” Katanya kemudian tersenyum ramah. “Secara hukum kami masih sah menjadi suami istri.” Kata Mischa dengan nada ketusnya.   “Tapi secara agama kalian sudah resmi berpisah.” Kata Kiara menahan air matanya dan melemparkan tatapan sinisnya. “Tapi menurut hukum, kami masih sah menjadi suami istri. Dan sepertinya kami akan kembali. Bagaimana Dean? Apa kamu setuju untuk kembali padaku?” kata Mischa sambil menyentuh dagu Dean. Brak ... “Hentikan Mischa! Atau kau akan kuusir?” kata Dean sarkas. “Ok baiklah. Sepertinya setelah bertemu kembali dengan mantan pacarmu yang tidak direstui ibumu ini kamu semakin kasar padaku. Benar begitu Tuan Dean Ananta?!” kata Mischa sambil bersandar pada bangkunya dan melipat kedua tangannya di depan d@d@ sehingga menonjolkan d@d@ yang terlihat besar dan sintal itu. Bisa dibilang tubuh Mischa sangat proporsional dan d@d@nya sangat besar dan bisa dibilang. Dengan memakai baju apapun, pasti akan terlihat bagus apalagi jika mengenakan baju yang memperlihatkan belahan d@d@nya seperti sekarang ini sebelum mengenakan sweater milik Dean. “MISCHAAA!!!” bentak Dean. “Baiklah, baiklah … aku akan menikmati makan malamku kemudian akan tidur. Aku tidak akan mengganggu kalian malam ini.” Katanya kemudian mengedipkan matanya tanda menggoda.   * * * * * *                   Setelah makan malam selesai, Kiara merapikan semua peralatan makan dan mencuci yang kotor. Kemudian pergi ke kamar Dean untuk tidur di sana malam ini. Dean sedang mandi ketika Kiara masuk ke kamarnya. Dan menyiapkan pakaian Dean. Ia menuju dressing room yang terletak di kamar yang connecting dengan kamar Dean. Kemudian mengambil Piama berwarna biru dongker seperti dress baju tidur yang Kiara kenakan hari ini.                 Sebelum melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar Dean, langkahnya terhenti karna ada pelukan dari belakang yang ia rasakan. Kemudian Kiara hanya tersenyum karna melihat kekasihnya itu sedang menciumi lehernya yang jenjang. Dean hanya mengenakan handuk sebatas bawah perutnya saja. Dean terus menciuminya hingga membalikkan tubuh Kiara hingga mereka berhadapan. Lalu berlanjut kebagian sensitif di lehernya, bermain beberapa detik hingga meninggalkan kiss mark dan menuju bibir ranum kepunyaan kekasihnya itu. Mereka sangat menikmati ciuman yang agak panas itu. Lalu menghentikannya di sana dan Dean segera mengenakan piamanya.                     Kiara langsung pergi ke kamar Dean dan berbaring. Melihat Kiara berbaring di sana, Dean kemudian ikut berbaring dan memeluknya dengan erat. “Aduh ga bisa nafas Kio.” Canda Kiara begitu Dean memeluknya dengan sangat erat. “Masa sih?” kemudian mencium bibir kekasihnya lagi. “Aikko, aku mohon bersabar ya untuk mengahadapi Mischa. Aku akan usahakan mencari tempat yang tepat untuk mengusirnya. Aku ga mau dia terus mengganggu kita seperti tadi.” Kata Dean dengan nada kesalnya. “Akio, apa kamu sama sekali ga mencintai Mischa?” tanyanya tiba-tiba. “Tentu saja tidak Ai. Aku tidak pernah mencintainya. Bahkan sudah kucoba hingga kami memutuskan untuk bercerai. Tapi hanya ada kamu, Aikko yang memenuhi ini.” Katanya sambil membawa tangan Kiara ke d@d@nya, hingga Kiara bisa merasakan otot yang selama ini mati-matian ia bentuk.   “Understand, Sir!” kemudian mencium kilas bibir s3xy kekasihnya itu.   * * * * * *                       Dean sudah keluar dari apartemennya dan mengantar Mischa ke luar. Dean tampak cuek di depannya. Mischa sedang asyik memainkan smartphonenya. Beberapa kali Mischa mencoba untuk menyentuh tangan Dean yang sedang serius menyetir, tapi selalu ditepisnya setiap kali baru mendarat.                 Kini mereka berada di sebuah hotel. Dean sengaja mengantarkan Mischa untuk masuk ke dalam, namun ternyata Hito melihat keberadaan mereka berdua. Dan menegur sapa Dean. “Bang!” Kata Hito kemudian melambaikan tangannya. “It, ngapain lo disini?” katanya sedikit terkejut. “Harusnya gw dong, Bang yang nanya. Ngapain lo di hotel sama mantan istri lo? Kiara tau ga soal ini?” tanyanya bertubi-tubi. “Justru gw ke sini supaya dia keluar dari apartemen gw. Dia gangguin gw ama Kiara terus. Gw emang ga bilang It sama Kiara. Tapi gw bakalan kasih tau dia, seselesainya urusan gw sama Mischa.” “Ok bang, kalo sampe lo ga bilang sama Kiara. Abis lo sama gw n Ben.” Katanya sedikit mengancam. “Iya, It. Gw kan udah janji.” Ujar lelaki itu sedikit panik. Kemudian Dean menghampiri Mischa yang sedang check In di resepsionis. Hito masih tetap memperhatikan mereka. Lalu setelah semuanya ia merasa yakin kalau Dean tidak melakukan yang aneh-aneh. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari hotel itu dan pergi.   * * * * * *                   Sepulangnya dari kantor Kiara langsung pulang ke rumahnya. Ada yang ingin menyewa rumah Kiara. Mereka akan menempati rumah itu jika memang cocok. Mereka akan langsung membayar 2 tahun di muka. Kiara yang mendapat tawarannya itu langsung mengiyakan untuk melakukan pertemuan malam itu. Sekalian melihat keadaan rumah  itu. Rumah itu, terdiri dari 2 lantai dan ada taman di depan juga di belakang. Sirkulasi udaranya juga sangat bagus.                 Begitu ketemu dengan sepasang suami istri itu kemudian mengantar mereka berkeliling rumah. Akhirnya mereka menyetujui dan melakukan transaksi minggu depan untuk segera melunasinya. Kiara juga menerima DP atas pembayaran sewa rumah yang akan ditempati. Kiara langsung menuju apartemen Dean begitu selesai bertemu dengan penyewa rumah ibu.                 Dean menunggu di meja makan, di depannya sudah tersedia pecel ayam kesukaannya masakan khas mas bejo. Dean sengaja mampir tadi di tempat mas Bejo untuk membelikan makanan. Jadi Kiara tidak usah cape memasak hari ini, karna sudah pulang cukup malam setelah menemui penyewa rumah ibunya. “Aku tadi siang antar Mischa ke hotel. Dan ketemu Hito.” Katanya memulai pembicaraan. “Iya ga apa-apa Sayang.” Kata Kiara tersenyum sambil mengelus sayang lengan kekasihnya itu. “Kita makan yuk!” ajaknya. “Yuk! Makasih ya, kamu udah bawain makanan. Jadi cape-cape mampir kamunya. Harusnyakan aku yang masak untuk kamu.” “It’s ok Aikko.”   * * * * * *                    Sejak Mischa kembali ke Jakarta, rasa tidak tenang selalu ditunjukkan oleh Dean. Tapi Dean berusaha untuk tetap tenang dengan keberadaan mantan istrinya itu. Surat resmi perceraian mereka datang siang itu, diantarkan ke rumah sakit. Kebetulan siang itu Dean ingin menemui Kiara dan mengajaknya makan siang. Setelah membuka amplop yang dikirimkan oleh pengadilan agama kota Bandung, ia langsung mengambil smartphonenya dan menelpon Kiara. “Jadi makan siang bareng ga?” tanya Dean begitu tersambung dengan kekasihnya itu. “Sepertinya ga bisa Kio, aku tadi ditelpon untuk meeting di luar.” “Oke, baiklah kalau memang kamu ga bisa. Tapi kamu hati-hati ya. Nanti kabari aku kalau kamu udah pulang. Biar aku langsung menjemputmu,” “Iya, Sayang.”                 Kemudian menutup telponnya. Dan ada seorang yang mengetuk pintu ruangannya. Wanita itu adalah Mischa yang datang mengajaknya untuk makan siang. Tapi Dean menolak ajakan mantan istrinya itu. Dean mencoba untuk tidak emosi di sana saat Mischa bersandar ria di bahunya dan mencoba menggodanya. Beberapa suster yang menjadi rekan kerja Dean, melihat ketidaknyamanan yang Dean tonjolkan dari wajahnya. Kemudian membantunya, membohongi Mischa. “Maaf, Dok.” Kata suster Mia. “Ya, Suster.” “Sepertinya saya harus mendiskusikan beberapa history pasien dengan Dokter. Apa saya mengganggu?” katanya ramah. “Ohhh … tidak apa-apa Suster. Mari kita diskusikan.” Katanya menerima bantuan suster Mia tersirat. “Kamu dengarkan? aku masih ada pekerjaan. Jadi lebih baik kamu keluar ya.” kata Dean kepada Mischa dengan lembut agar tak menyinggung wanita cantik itu.                   Dengan tampang kesal karna keinginannya tidak tercapai, Mischa keluar dari ruangan Dean sambil memelototi suster Mia yang tadi mengganggunya. Begitu Mischa sudah pergi dari hadapannya. Suster Mia menutup pintu ruangan Dean rapat-rapat. “Terima kasih Suster Mia. Kamu menyelamatkan saya.” Kata Dean dengan senangnya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. “Ga apa-apa, Dok. Lagian juga itu kenapa mantan istri Dokter ke sini? Pasti mau goda-godain Dokter ya. Awas ya nanti saya laporin Mba Kiara loh kalo macem-macem.” Ancamnya dengan wajah dibuat galak. “Hahaha ... Ya enggalah, Sus. Sayakan sayang banget sama Kiara. Mana mungkin saya mau sama mantan istri saya lagi.” “Ya udah kalo gitu, sepertinya dia sudah ga ada Dok. Saya keluar dulu ya. Dokter mau pesan makanan apa untuk siang ini? “Boleh deh. Tolong pesenin saya nasi gudeg depan RS ya, Sus. Sepertinya enak.” Kemudian merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan.   * * * * * *                                 Malamnya Dean pulang bersama Kiara. Dean belum menceritakan tentang kejadiannya tadi siang. Bahkan sepertinya ia enggan untuk menceritakannya karna akan membuat moodnya hancur. Kiara juga tampaknya sangat lelah hari ini. Ia langsung pergi ke kamarnya dan membersihkan diri. Dean membuatkan s**u coklat panas untuk calon istrinya itu dan mengantarkannya ke kamar. Ketika masuk ke kamarnya, Kiara sedang membasuh dirinya di bawah shower dan tidak menyadari kalau Dean masuk ke kamarnya. Setelah selesai Kiara langsung mengenakan handuknya dan keluar dari kamar mandinya. Lalu melihat Dean yang sedang terduduk di kursi. “Astaga! Kio.” Katanya kaget.                 Melihat kekasihnya itu hanya mengenakan handuk sampai setengah pahanya, membuat ia dengan susah payah menelan salivanya. Mereka berdua masih saling memandang beberapa saat hingga akhirnya, Dean berdiri dan berjalan mendekati Kiara. Dean mulai merengkuh bibir ranum Kiara. Memperdalam ciumannya hingga tanpa sadar iapun merengkuh pinggang wanitanya itu secara posessive. “Mas!” panggil Kiara ketika mereka melepaskan ciumannya sebentar. “Hmmm …” jawab singkat Dean dengan mata yang masih berkabut akan 9@ir@h. “Bisakah kamu keluar sebentar. Aku mau pakai baju.”                 Dean tersenyum. Ia kemudian mengikuti perintah Kiara dan keluar dari kamarnya.   * * * * * *                 Dean dan Kiara tengah beregelung dengan ciuman panas mereka di sofa ruang tv. Entah sudah berapa lama mereka menautkan bibir mereka satu sama lainnya. Sesekali, Dean memberikan ciuman di leher Kiara dan membuat beberapa kissmark di sana. Wanitanya itu tidak keberatan, karna sesungguhnya ia juga menginginkan lebih sebenarnya. Tapi Dean masih bisa memberikan kenikmatan walau hanya melalui bibirnya saja. Bunyi cecapan terdengar memenuhi ruang tv di apartemen Dean. Dean sengaja membuka pintu geser pembatas untuk membuat suasana semakin romantis dengan angin yang sengaja dibiarkan keluar masuk dalam ruangan itu.                 Ketika sedang menikmati satu sama lainnya, seseorang di luar apartemen Dean membunyikan bel. Meminta segera di bukakan pintu. Karna tak kunjung di bukakan pintu, orang itu mengetuk pintu masuknya itu dengan sangat kasar. Kiara dan Dean langsung melepaskan pagutan bibir mereka dan memandang satu sama lainnya. Kiara juga melihat ke arah jam dinding yang sengaja digantung di atas TV LED berukuran besar. Sudah pukul 11 malam, saat itu.                    Dean kemudian beranjak dari sofanya dan membukakan pintu untuk tamu. Yang entah ada perlu apa malam-malam begini mengganggu kegiatan mereka. Matanya membulat ketika mendapati mantan istrinya sedang dipapah oleh seorang lelaki yang sama sekali tidak Dean kenal. Ketika sudah melihat Dean, Mischa langsung melepaskan pegangannya pada lelaki itu dan berjalan sempoyongan ke depan Dean dan mulai memarahinya. Karna takut semakin menjadi tontonan dan mengganggu tetangganya yang lain, akhirnya Dean memutuskan untuk membawanya masuk ke dalam. “Deannnnn … BRENGESEK KAMU!” kata Mischa mulai merancau. “Jangan teriak-teriak. Kamu bisa membangunkan seluruh orang di gedung ini!” katanya dingin. “Dingin sekali bicaramu. Aku mencintaimu Dean. Tapi kenapa kamu ga pernah bisa mencintai aku? Bukan aku yang menginginkan perceraian ini Dean. Tapi kamu yang menginginkan ini semua. Aku sudah mencintaimu dan kamu meninggalkanku demi Kiara, mantan kekasihmu yang kamu titipkan ke Hito.” Mischa mulai memaki-maki Dean. “Siapa, Ak-io?” tanya Kiara ketika sudah melihat siapa yang datang, Kiara menutup mulutnya yang terbuka karna terkejut melihat keadaan Mischa yang kacau. “INI SEMUA KARNA KAMU! DASAR WANITA TAK TAU DIRI, BERANI-BERANINYA KAMU MEREBUT DEANKU!” kali ini mulai memaki-maki Kiara. Kiara yang tidak tau apa-apa hanya bisa memandang Dean yang juga sedang memandang Mischa dengan wajah kesalnya. “KALAU KAMU TIDAK MUNCUL LAGI, KAMI BERDUA TIDAK AKAN BERCERAI KAU TAU! DAN KAMU DEAN ANANTA! BERANI-BERANINYA KAMU MASIH MENCINTAI WANITA INI, SETELAH APA YANG DIA LAKUKAN PADAMU. DENGAN BERANINYA DIA BERTUNANGAN DENGAN ADIKMU, HITO. DENGAR DEAN, HANYA AKU YANG DIRESTUI IBUMU. KALIAN BERDUA TIDAK AKAN BAHAGIA JIKA KALIAN BERDUA MENIKAH. KAU DENGAR!” Makinya dan kemudian memajukan langkahnya, meremas kerah baju Dean dan menatap marah lelakinya itu. “Kau boleh pergi.” Dean kemudian melepaskan tangan Mischa dari bajunya dan mengeluarkan dompetnya juga memberikan beberapa pecahan uang limapuluh ribuan untuk laki-laki yang sudah mengantarkan Mischa ke apartemennya.                 Setelah lelaki itu pergi dan meninggalkan mereka bertiga di sana. Dean langsung membawanya ke kamar tamu. “Menikahlah denganku lagi, Dean! Aku mohon!” Mischa kali ini merendahkan nada suaranya dan memohon pada Dean setelah lelaki itu membaringkan tubuh Mischa ke kasur king size yang di letakkan di sana. Tampak wanita itu sedang menangis dan benar-benar terlihat kacau, Mischa benar-benar mabuk.    “Dengarkan aku, Mischa! Bukankah kita sudah membahasnya sebelum akhirnya aku mengajukan gugatan cerai? Aku minta maaf kalau mungkin aku sudah menyakitimu, tapi wanita yang aku cintai bukan kamu, Mischa. Aku sudah mencoba untuk mencintaimu. Tapi rasanya sangat sulit untuk aku jalani, aku lelah bersandiwara. Aku lelah berbohong. Aku mohon kamu untuk mengerti Mischa. Aku akan secepatnya menikah dengan Kiara. Dan aku sudah bahagia dengannya sekarang. Jangan ganggu kami lagi, aku mohon!” Dean kali ini memohon pada mantan istrinya itu.      * * * * * * 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD