SEVEN

1813 Words
               Tadi malam begitu Dean sampai di kamarnya, ia melihat Kiara yang sudah terlelap dengan tidurnya dan memunggunginya. Dan Kiara tadi pagi berangkat pagi-pagi sekali, meninggalkan notes juga sarapan di nakas Dean. Dean kemudian meraih smartphonenya dan mencoba menghubungi Kiara. Namun ia tidak bisa dihubungi. Dean kemudian menelpon ke kantor Kiara minta disambungkan kepadanya. Lagi-lagi nihil. Kiara sedang berada dalam meeting dengan salah satu client besar kepunyaan Ben. Karna sampai saat ini Ben masih belum kembali dari honeymoonnya, jadi Kiara harus mewakilinya bersama dengan Hito.                  Dean menelpon toko bunga langganannya dan memerintahkan untuk mengirimkan bouquet bunga mawar merah kesukaan Kiara ke kantornya, tak lupa dengan ucapan maafnya yang ia sematkan. Pukul 11 salah satu kurir dari toko itu mengantarkannya dan diterima oleh resepsionis. Setelah Kiara keluar dari ruang meeting dan mengantarkan tamunya keluar. resepsionis tersebut menyerahkan bouquet bunga itu.                 Kiara membawa bouquet bunga itu kemejanya dan membaca pesan yang tercantum disana dan siapa pengirimnya. Di sisi lain Dean sedang menunggu telpon maupun pesan dari Kiara bahwa ia telah menerima bunga yang ia kirimkan. Tapi nihil hingga pukul 12, setelah sejam bunga itu sampai di kantornya. Tak ada tanda-tanda bahwa Kiara sudah menerima dan membaca pesannya. Beberapa kali di tengah ia break, Dean mencoba mengirimkan pesan. Tapi tak ada satupun yang ia balas. Bahkan dibaca pun tidak.                 Jam prakteknya sudah selesai, kemudian ia bergegas menjemput Kiara dan sesegera mungkin untuk sampai di kantornya. Ia tak ingin Kiara pergi kemana-mana setelah ia pulang kerja. Untungnya, jadwal prakteknya lebih cepat selesai dibandingkan jam pulang kantornya Kiara. Sesampainya di kantor, Dean langsung memasuki ruangan Kiara. Ia yang sedang asyik bekerja kemudian terkejut melihat kedatangan Dean secara tiba-tiba bahkan tanpa pemberitahuan. Biasanya Dean hanya menjemputnya dan menunggu di tempat parkir lalu setelahnya mereka pulang bersama. Namun kali ini berbeda.                 Kiara langsung berdiri mengucapkan salam, salah satu SOP di kantornya untuk menyambut tamu yang datang atau ketika tamunya akan pulang. “Kio,” katanya sambil berdiri dengan wajah penuh keterkejutannya. “Kenapa ga balas telpon aku? Kenapa sampai bunga yang aku kirimkan kamu terima, ga ada kabar dari kamu juga.” Kata Dean mulai membrondong Kiara dengan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi mengusik fikirannya.                 Ruangan Kiara dan Ben berbeda dengan ruangan lainnya, jadi di sana bisa dibilang sangat sepi dan minim orang. Hanya ada beberapa ruangan petinggi yang jarang sekali dihuni orangnya dan tentunya terpisah dari ruangan mereka.   * * * * * *                   Di perjalanan pulang mereka mengambil makanan yang sudah dipesankan di rumah makan milik mas Bejo. Jadi mereka bisa langsung pulang ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Kiara masih tak mengeluarkan sepatah katapun, Deanpun tau kalau kekasihnya itu sedang tidak ingin diganggu. Dan lagi-lagi Dean ikutan diam kemudian mengganti pakaiannya di dressing room miliknya.                 Setelah menaruh tasnya, Kiara membersihkan wajahnya dari make up dan membersihkan tubuhnya. Ia memakai dress mini berwarna hitam polos dengan tali spageti lalu keluar dari kamarnya dan menyiapkan makan malam untuk dirinya dan kekasihnya. Kemudian tak lama setelahnya Dean keluar dari kamarnya dengan mengenakan celana pendek dan juga kaos hitam polos kesukaannya.                 Dean duduk di meja makan sambil memainkan smartphonenya dan kemudian mencuri pandang kepada Kiara yang sedang menyiapkan makan malam mereka. Kiara menghidangkan makanan yang tadi ia beli di kios mas Bejo, di hadapan Dean. Kemudian duduk di kursi tempat biasa duduk, di depan Dean. Kiara kemudian menundukkan kepalanya sejenak kemudian berdoa. Lalu menyuapkan suapan pertama makanannya itu. Dean masih dengan tajam menatap Kiara tanpa berkata sepatah katapun. “Mau ngomong apa?” tanya Kiara memulai pembicaraan. “Nanti saja. Makalah dulu”. Kata Dean kemudian memainkan ibu jarinya di smartphonenya. “Baiklah.” Katanya menurut.                 Setelah mereka berdua selesai makan, Kiara mencuci peralatan makan yang kotor kemudian duduk di sebelah Dean yang sedang menonton channel berita malam itu. Melihat Kiara sudah berada di sampingnya Dean langsung menghadapkan wajahnya ke Kiara dan menatapnya sayang. Kiara yang merasa diperhatikan itu langsung melihat ke arah Dean. “Ada apa?” tanyanya bingung. “Weekend minggu depan, kita pergi ke Jogja ya.” Katanya sambil mengambil tangan Kiara ke dalam genggamannya. “Untuk?” kali ini ia menoleh ke lelaki yang berada di sebelahnya itu. “Aku ingin bicara serius dengan ibumu dan keluargamu.”                 Kiara terdiam masih mempersilahkan lelaki itu menjelaskan tujuannya. “Aku ingin melamarmu secara resmi. Aku tidak ingin berlama-lama lagi Kiara. Aku sungguh-sungguh tidak ingin kehilanganmu. Aku sudah lelah harus menahan rasa untuk memilikimu.” “Tapi, Kio!” “Aku mohon, Kiara. Aku tidak ingin ada lagi yang mengganggu hubungan kita. Aku ingin menikahimu. Aku mohon, menikahlah denganku!” Katanya kemudian mengeluarkan sebuah kotak cincin berbentuk oval.                 Di dalamnya berisi sebuah cincin yang terlihat sangat cantik. Kiara langsung menutup mulutnya yang terbuka lalu menatap secara bergantian kepada Dean dan cincin itu. “Bagaimana? apa kamu mau, Kiara?” tanya Dean mengkonfirmasi pada Kiara yang sedang menatap bahagia pada kekasihnya itu. “Aku mau!” katanya kemudian memeluk Dean dengan penuh sayang.   * * * * *                     Siang itu, Kiara dan Dean tiba di Bandara Internasional Adisutjipto. Kemudian mereka memesan taksi online untuk bisa cepat sampai dikediaman ibunya itu. Ibu tidak tau kalau mereka akan datang siang itu. Yang ia tau Kiara dan Dean akan berlibur beberapa hari ke Bali untuk sekaligus menemani Dean pergi ke seminar dengan dokter-dokter seIndonesia. Memang rencananya besok mereka akan pergi ke Bali untuk menghadiri seminar itu. Jadi mereka ga bohong-bohong amat kan? ^_^.                 Sesampainya dirumah, ibu tampak sangat terkejut melihat anak satu-satunya itu datang ke rumahnya bersama dengan kekasihnya itu. Ia langsung menyambut anaknya itu dengan pelukan hangatnya dan kemudian memeluk calon menantunya juga. Bagaimanapun juga Dean juga sudah tidak memiliki siapa-siapa. Orang tuanya sudah meninggal, jadi sekarang prioritasnya hanya Kiara dan membuatnya bahagia. Bahkan kaka atau adik saja Dean juga tidak punya. Hanya keluarga Ben dan ibu Nadyalah yang ia miliki untuk saat ini. “Ibu sehat?” tanya Kiara begitu menghambur kepelukan ibunya. “Sehat Sayang. Kamu gimana?” tanya ibunya membalas pelukan sang anak.   “Halo, Ibu.” Kata Dean kemudian memeluk calon Ibu mertuanya itu juga. “Hallo, calon menantu ibu.” Sambil tersenyum ramah dan membalas pelukannya, “kalian bohongi ibu? katanya mau ke Bali? kok malah kesini?” lanjutnya. “Besok siang Bu, kita berangkat ke Bali.” Jawab Dean kepada ibu dari kekasihnya itu. “Masuk Sayang, masuk …” katanya mempersilahkan. “Mana eyang putri?” tanya Kiara sambil celingukan ketika sudah masuk ke ruang keluarga. “Di kamar. Mungkin sedang sholat. Kalian ganti baju dulu gih ke kamar.“                 Setelah mengganti bajunya dan bercengkrama dengan eyang putrinya. Mereka dipersilahkan untuk makan siang. Lalu mereka pergi ke ruang makan bersama. Di sana sudah dihidangkan ayam bakar kesukaan Kiara. Walaupun ibu tidak tau kalau mereka akan datang, tapi ada ayam bakar favorite Kiara yang biasa dibeli di tempat makan dekat rumah eyang putrinya itu.                 Dean akhirnya memulai pembicaraan setelah memulai makan siangnya itu. Kiara yang duduk bersebelahan dengan Dean agak tegang. Karna Dean baru saja memberitahukannya di Bandara tadi kalau ia mau Kiara menjadi istrinya bulan depan. “Bu, Eyang. Sebetulnya kedatangan Dean dan Kiara kesini, tanpa pemberitahuan kekeluarga di sini karna kami ga mau ngerepotin Ibu dan Eyang.” katanya memulai pembicaraan. “Bicara apa kamu, Ean? Kamu sudah ibu anggap anak ibu sendiri. Kenapa masih bicara seperti itu?” kata ibu Kinanti kemudian menatap calon menantunya itu dengan sayang. “Terima kasih banyak, Bu. Lalu alasan kami datang kesini ... Dean ingin melamar Kiara secara resmi ke Ibu dan Eyang. Dean ingin secepatnya Kiara menjadi istri Dean. Apa Ibu dan Eyang mengizinkan?” “Alhamdulillah, akhirnya kamu menerima lamaran Dean, Sayang?” mata ibu jelas berbinar mendengar perkataan Dean barusan. Kiara mengangguk sambil tersenyum dan memperlihatkan cincin yang diberikan Dean beberapa hari lalu, saat lelaki itu melamarnya di apartemen. “Ibu senang sekali mendengarnya, Sayang.” Jawab ibu penuh haru. “Baiklah, kapan kalian akan menikah?” tanya Eyang to the point. “Bagaimana kalau bulan depan Bu, Yang? Apa boleh?” tanya Dean agak sedikit takut melihat reaksi ibu dan eyang putri. “Bulan depan? Ada apa secepat itu? Apa Kiara …” terlihat jelas senyum ramahnya memudar terganti dengan sorot mata kesedihan. “Hamil maksud ibu? Tidak Bu, tidak. Kiara 100% tidak hamil. Hanya saja Mas Dean sudah tidak mau lagi menunda pernikahan ini.” Jelas Kiara. “Syukurlah, ibu sudah takut saja.” Wajahnya langsung berseri kembali setelah mendengar penjelasan Kiara. “Dean sudah berjanji untuk menjaga Kiara dengan baik. Maka Dean harus lakukan itu dengan baik.” Tambah Dean kemudian menatap calon istrinya itu bergantian dengan menatap calon ibu mertuanya. “Baiklah! nanti akan eyang carikan hari baiknya untuk kalian. Kalian mau adakan acaranya dimana?” tanya Eyang kali ini. “Kalau boleh kami hanya ingin mengadakan akad nikah di sini dan acara resepsi di Jakarta 2 bulan kemudian.” Dean tersenyum. “Baiklah ... ibu setuju. Bagaimana dengan Eyang Putri?” “Ya, eyang juga setuju. Kalian memang sudah seharusnya cepat menikah. Eyang ingin melihat mirip siapa cicit eyang. Mirip Dean atau mirip Kiara.” Kemudian memegang tangan cucu kesayangannya itu.   * * * * * *                   Di pantai Kuta, ketika sang fajar mulai beranjak pergi. Kiara dan Dean duduk berdampingan dengan ditemani tiupan angin yang sangat menyejukan. Sore itu Dean telah selesai dengan segala kegiatannya. Kemudian ia mengajak Kiara untuk duduk di pantai sambil berbincang dan merencanakan tentang pernikahan mereka yang akan digelar beberapa minggu lagi. Kemudian seorang pelayan mengantarkan minuman kepada mereka untuk mereka nikmati sembari mengobrol santai. “Ai, terima kasih banyak karna kamu sudah menjadi bagian dalam hidupku. Jangan tinggalkan aku yang hanya sebatang kara ini, ya.” Kemudian mencoba menatap kekasihnya itu. “Sama-sama, Kio. Terima kasih karna kamu sudah mau bersabar dengan kelakuanku, mengabaikanmu.” “Aku minta maaf ya. Atas semua kesalahanku yang dulu-dulu. Aku janji ga akan melakukan itu lagi.” Katanya kemudian mengeluarkan sebuah kotak perhiasan.“Ini sebagai permintaan maafku, sebagai tanda kalau aku sudah melamarmu dan sebagai tanda kalau kita seharusnya bersama sampai jadi nene dan kake.” Lanjutnya sambil mengeluarkan isi dari kotak perhiasan itu yaitu sebuah gelang emas putih yang kemudian ia pakaikan untuk Kiara.                 Gelang itu berhiaskan beberapa berlian dengan rantai yang kokoh berwarna silver yang melindungi berlian di tengahnya. Kiara masih saja menatap dengan tatapan haru ketika lelakinya itu memasangkan gelang yang kini melingkar di tangan kanannya. Kiara masih saja menahan keharuan dan memikirkan betapa manisnya Dean saat itu. Dean kemudian mencium bibir ranum Kiara dengan lembut. “Terima kasih untuk semuanya, Kiara. Aku hanya ingin membahagiakanmu untuk saat ini hingga seterusnya. Tolong jangan tinggalkan aku. Hanya kamu yang aku punya. Dan aku sangat menunggu kamu menjadi istriku dan milikku seutuhnya.” Katanya kemudian mencium pucuk kepala Kiara dengan sangat sayang. Kekasihnya itu tidak bisa berkata-kata karna terlalu bahagia. Ia kemudian memeluk Dean dengan sangat erat dan menumpahkan air mata kebahagiaannya di sana, sambil memandang sunset.   * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD