Sepulangnya dari kantor, Kiara janjian dengan MUA pilihannya untuk ia ajak meeting tentang riasannya untuk acara akad nikahnya nanti di Jogja. Untuk saat ini Kiara hanya membicarakan untuk akad nikahnya dengan MUA yang terkenal. MUA itu adalah mba Sintia, ia adalah teman Dean semasa sekolah tingkat akhir di Bandung. Ya, Dean memang sempat tinggal di Bandung ketika ia masuk SMA dan kemudian melanjutkan di Universitas kedokteran di Jakarta lalu kuliah profesi di luar negeri.
Kiara dan Dean janjian untuk bertemu dengan Sintia malam itu disebuah coffee shop dekat apartemennya. Kebetulan Sintia juga tinggal di dekat situ. Jadi ia tidak akan merasa direpotkan dengan tempat janjian yang terlalu jauh. Dean tiba terlebih dahulu lalu. Hari itu Kiara gak dijemput Dean karna ada meeting di luar bersama Ben di dekat jam pulang kantornya. Kemudian Ben mengantarkan Kiara sampai di depan Dean. Tak lama setelah Kiara datang, Sintia datang bersama dengan beberapa staffnya. Dean melambaikan tangannya begitu melihat kedatangan Sintia di pintu coffee shop itu.
“Hai, Pa Dokter. Apa kabar?” kata Sintia kemudian cupika cupiki.
“Baik Ibu MUA terhits. Kamu apa kabar?” kata Dean ramah.
“Totally good. And she must be Kiara, right?” Katanya sambil tersenyum pada Kiara yang berdiri di samping Dean.
“Iya, kenalin ini Kiara.” Dean memperkenalkan Kiara pada Sintia.
“Kiara.” Katanya kemudian mendekati Sintia kemudian cupika cupiki.
“Sintia.” Membalas cupika cupiki Kiara. “Mudah-mudahan kalian ga keberatan ya kalo aku bawa staffku. Nanti mereka berdua yang akan mendampingi aku ketika acara kalian.”
“Tidak masalah, ayo silahkan duduk.” Ajak Dean mempersilahkan.
“Ok kita mulai dari konsep apa yang kalian mau pakai untuk akad?” kata Sintia memulai meetingnya.
“Sepertinya kita mulai dari pre-wedding deh, Mba.” Kata Kiara meralat.
“Oh, pre-wedding. Dean ga ada omongan. Jadi aku ga tau. Ok kalian maunya gimana?” sambil tersenyum.
“Aku serahin semua ke Kiara, ya. Kamu turutin aja. Ok?” kata Dean tersenyum.
“Ukhhh ... sweet banget sih kalian. Ada ga sih laki yang kaya loe lagi, Ean? Gw susah banget cari yang kaya loe. Kamu beruntung Kiara.” Kata Sintia kemudian mengedipkan matanya ke arah Kiara.
Kiara hanya tersenyum sumringah tanpa membalas.
* * * * * *
Setelah bertemu dengan Sintia tadi malam, keesokan harinya Kiara dan Dean bertemu dengan photographer yang akan mereka pakai di acara mereka. Setelah membicarakan konsep pre-wedding dan akad nikah mereka berdua langsung pulang ke apartemen milik Dean. Kiara menyiapkan makan malam mereka kemudian menghampiri Dean yang sedang tiduran di kasur miliknya. Ketika perjalanan pulang ke rumah Dean mengeluhkan sakit kepalanya, lalu Kiara yang mengambil alih untuk menyetir.
Tidak seperti biasanya Dean hari ini tampak tidak terlalu bersemangat. Sudah beberapa hari ini Dean sering mengeluhkan pusing di kepalanya. Tapi ia bilang bahwa ia tidak apa-apa. Kemudian Kiara membawa makanan yang ia sudah siapkan tadi ke kamar Dean.
“Masih pusing ya Akio?” tanya Kiara, “Ke dokter yuk.” Ajaknya.
“Kamu lupa ya kalau aku dokter juga?” kata Dean sambil menerima suapan demi suapan yang diberikan Kiara.
“Hehehe … engga sih, cuma aku takut aja kamu kenapa-kenapa. Karna ga biasanya begini kan?” balasnya sambil cengar cengir.
“Percaya aja sama aku. Aku baik-baik aja. Ini kalau lagi kecapean ya begini, ini.”
“Okelah. Setelah ini kamu harus istirahat.” Kata Kiara kemudian membereskan peralatan makan Dean dan menyiapkan air untuk ia minum.
“Aikko, kamu bisa menemaniku malam ini? Mungkin dengan memberikan aku sedikit pelukan malam ini, sakit kepalaku bisa cepat sembuh.” Katanya sambil mengedipkan matanya sambil tersenyum manja.
“Baiklah! setelah aku membereskan ini aku akan kembali lagi ke sini dan memelukmu sepanjang malam.” Kemudian mencium kening lelaki tampan di depannya itu
Setelah membereskan peralatan makan dan membawa persediaan air putih, Kiara kembali ke kamar Dean. Kiara sudah mengenakan dress tidurnya yang berwarna biru muda. Dean masih menatap layar tv yang menghadap ke tempat tidurnya. Ia masih belum bisa tidur karna Kiara masih belum datang dan memeluknya.
“Kenapa masih belum tidur juga Akio?” kata Kiara dengan memasang wajah kesalnya.
“Kamu masih belum kembali. Jadi aku masih belum bisa tidur.” Jawab Dean enteng.
“Maaf ya, lama. Oke sekarang kamu bisa tidur.” Kemudian berbaring di lengan kekar calon suaminya itu.
“Ga apa-apa Sayang.” Mencium bibir ranum wanita kesayangannya itu.
Lalu mereka tidur dan menikmati waktu kebersamaan yang mereka lalui malam ini.
* * * * * *
“Aku mau baju yang ini untuk masuk keseserahan boleh ga?” kata Kiara sambil menenteng 2 dress di salah satu butik.
“Boleh, Sayang. Tapi warnanya jangan yang itu boleh ga?” jawab Dean yang sedikit tidak setuju dengan pilihan warna Kiara pada dressnya.
“Ada warna lain ga selain warna ungu?” tanya Kiara kepada salah satu pegawai yang mendampinginya.
“Ada. Sebentar saya ambilkan ya.” Kata pegawai tadi kemudian pergi meninggalkan Kiara dan Dean di sofa berwarna abu-abu.
“Sayang, besok kita harus sudah urus surat-surat pernikahan kita loh.” Sambil memainkan jari kekasihnya yang duduk tepat di sebelahnya.
“Iya ... nanti aku minta pak Maman yang urus semua surat-suratku.”
“Ya pokoknya, harus selesai dalam waktu sesegera mungkin ya. Kamukan tau akad kita tinggal beberapa minggu lagi. Aku mau semuanya itu bisa siap dengan segera!”
“Siap Boss!” katanya sambil memberikan tanda hormat dan tersenyum.
“Sayang, sepatunya boleh yang ini?” kemudian memberikan high heels berwarna abu-abu.
“Boleh! tasnya yang di sebelahnya aja, sayang. Itu senada kok warnanya. Aku suka kalau kamu pake handbags gitu.”
“Iya bagus juga ini. Aku suka modelnya.”
“Mba, dress ini hanya ada warna abu-abu dan yang ini berwarna hijau tosca.” Kata pegawai tadi kemudian membawa baju dengan warna lain tapi model yang sama.
“Gimana, Sayang?”
“Ok! beli aja.”
Setelah membayar barang-barang yang dibeli untuk seserahan Kiara dan Dean pulang ke apartemen.
* * * * *
Kiara sedang melakukan packing beberapa barang-barang yang akan dia bawa untuk pernikahannya di Jogja akhir pekan ini. Kiara dan Dean akan berangkat rabu malam dan akan melakukan fitting baju pengantin mereka. Dean sudah mengajukan cutinya untuk beberapa hari dan akan langsung mengambil cuti setelahnya untuk melakukan fast honeymoon karna akan hanya beberapa hari di Bali.
-ting nong ting nong-
Kiara kemudian keluar dari kamarnya menuju pintu. Namun, Dean sudah lebih dulu membukakan pintu untuk tamu yang datang. Dean sudah berdiri diambang pintu dan berhasil menutupi orang yang datang malam-malam dan mengganggu mereka malam itu.
“Mischa!” kata Kiara yang kemudian mendekati Dean.
Mischa dan Dean langsung menoleh ke arah Kiara. Di sana Mischa kelihatan risau, ia menangis dan ketika melihat ke arah Kiara ia langsung menyeka air matanya.
“Ada apa ini?” tanya Kiara bingung.
Tapi Dean dan Mischa tidak membalas pertanyaan Kiara, kemudian Mischa mendekati Kiara.
“Boleh, aku masuk?” tanya Mischa berbicara sopan kepada Dean dan Kiara.
“Silahkan!” jawab Kiara yang tak kalah sopan kemudian menyuruhnya duduk di ruang tv.
Mereka bertiga duduk berhadapan. Sedangkan Kiara duduk di sebelah Dean dan memegang tangan calon suaminya itu. Suasana ketegangan muncul di sana. Kiara masih bertanya-tanya tentang tujuan kedatangan Mischa malam ini.
“Aku hamil, Kiara!” kata Mischa dengan berderai air mata.
“Bagus dong? Bukankah itu berita bahagia?” kata Kiara mencoba tetap tenang dan berdoa semoga yang ia maksud anak itu bukan hasil dengan hubungannya dengan Dean.
“Untukku mungkin bahagia, tapi untuk Dean dan kamu pasti ini bukan berita baik.” Jawabnya dengan nada suara yang dibuat semenyedihkan mungkin.
“Apa maksudmu?” tanya Kiara dengan wajah tegang lalu menoleh kepada Dean yang masih terus memegang erat tangannya.
“Anak ini, anakku bersama dengan Dean.”
DEG-
Jantung Kiara seperti ingin mencelos keluar. Matanya membulat dan tubuhnya lemas seperti kehilangan tulang-tulang penyangga. Kiara mencari penjelasan pada Dean. Dan Dean masih belum bersuara hingga beberapa saat.
“Mungkin kamu fikir ini bohong, Ean. Tapi aku berkata yang sesungguhnya.”
“Bisa kamu jelaskan ini semua?” tanya Kiara meminta penjelasan pada lelaki yang duduk di sebelahnya itu.
“Sungguh ini mungkin terjadi kesalahpahaman. Ini bukan anakku Kiara. Sungguh! Bahkan menyentuhnya saja aku tidak pernah!” kata Dean bersihkeras walaupun terlihat di wajahnya kalau ia benar-benar merasa tidak yakin dengan hal itu.
“BOHONG! Kamu sering sekali menyentuhku, Dean. Kalau kamu bilang selama ini pada Kiara, jika kamu tidak pernah menyentuhku. Itu BOHONG Kiara! Dean berkata seperti itu, hanya untuk membuatmu cepat kembali padanya.” Mischa berbicara dengan penuh emosi.
Kiara makin membulatkan matanya, hingga air matanya ikut menetes mendengar penjelasan dari Mischa yang terlihat sangat sedih dengan pengakuan yang barusan Dean berikan.
“Aku bersumpah, Kiara! Aku tidak pernah menyentuhnya.”
“Hentikan kebohongan kamu, Dean!” Maki Mischa pada Dean dan menunjuk lelaki itu.
“Aku mohon percaya padaku, Kiara. Aku tidak pernah menyentuhnya. Aku bersumpah!” Dean kali ini berlutut di depan Kiara yang sudah berderai air mata.
Kiara benar-benar tidak tahu harus percaya atau tidak pada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Wanita di depannya itu bahkan sangat berbahaya.
“Sungguh, Kiara. Aku tidak pernah menyangka jika Dean meminta kamu secepat ini untuk menikah dengannya. Aku benar-benar tidak menyangka, jika lelaki yang sangat kamu cintai ini. Ternyata adalah seorang pembohong ulung.”
“Mischa! Tolong jangan bicara yang tidak-tidak!” Dean berbicara tanpa melihat mantan istrinya itu,
“Kita buktikan saja Kiara. Kenapa tidak kita tes DNA saja untuk membuktikannya.” Lanjut Dean.
“Cukup-cukup aku tidak mau kalau kalian tes DNA dengan sembarangan! Aku tau kamu dokter, Dean. Tapi apa tidak lebih baik kau menikahiku lagi sebelum anak ini lahir?” kata Mischa sambil menangis.
“Apa katamu? Aku akan menikahi Kiara, akhir pekan ini. Kenapa aku harus menikahimu? Dengarkan aku baik-baik Mischa! Selama pernikahan kita bahkan tak pernah melakukannya. Katakan sekarang jika kita tidak pernah berhubungan. Bilang pada Kiara, jika barusan kamu yang berbohong hanya untuk memintaku menikahimu!” Bentak Dean.
“Apa kamu tidak ingat ketika kamu mabuk dan kita melakukannya? Tepat sebelum kita berpisah.”
“Tapi aku yakin itu bukan anakku Mischa. Tolong jangan fitnah aku! Biarkan aku bahagia dengan Kiara!”
“STOP! Dean urus masalahmu dulu dengan Mischa sampai selesai! Dan aku mau, fikirkan lagi tentang pernikahan kita!” Kata Kiara kemudian pergi ke kamarnya dengan berderai air mata.
* * * * * *
Kiara terduduk lemas di kasur king size di kamarnya itu. Kiara benar-benar tidak menyangka jika kebohongan Dean akan terkuak sebelum hari pernikahannya. Kiara benar-benar merasa dibohongi dan menyesal dengan memilih lelaki itu untuk menjadi suaminya. Dean menyusul wanitanya ke kamar dan melihatnya sedang menangis. Dean kemudian duduk di depan Kiara dan berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan masalah itu malam ini juga. Biar bagaimanapun kebenarannya dia yang tau, dan Kiara sedang termakan kebohongan yang Mischa lontarkan tadi.
“Aikko, mungkin penjelasanku ini tidak akan membuatmu tenang. Tapi sumpah demi Tuhan aku tidak pernah melakukannya. Jangan undur pernikahan kita Aikko. Aku mohon!” kata Dean.
“Boleh aku menenangkan diri dulu, Kio?” pinta Kiara sambil menyeka air matanya.
“Tapi ini tidak adil untukku, Kiara!”
“Lalu, apakah ini adil untukku Akio?”
“Aku tau, Aikko. Tapi kumohon jangan undur pernikahan kita.”
“Lakukan tes DNA. Jika tidak, aku tidak mau mengambil keputusan sebelum kita tau hasilnya.” Kata Kiara kemudian mengambil tasnya lalu beranjak pergi
“Kamu mau kemana?” tanya Dean
“Untuk hari ini aku akan menginap di rumah Mba Wanda. Nanti aku akan memberitahumu alamatnya. Jadi kamu tidak perlu khawatir.” Kata Kiara kemudian memakai sepatu flat hijau tuanya dan berlalu pergi.
* * * * * *
Tiba di rumah Wanda, Kiara langsung mengirimkan lokasinya kepada Dean. Pukul 10 Wanda baru saja pulang dengan anaknya. Kiara kemudian dipersilahkan masuk ke rumah Wanda. Setelah menemani Puput tidur, Wanda kemudian menemui Kiara di kamarnya. Terlihat Kiara sedang merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya.
“Kamu kenapa? bertengkar dengan Dean?” tanya Wanda memulai pembicaraan ketika baru saja masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya.
“Iya.” Jawabnya singkat.
“Bukankah wajar jika ingin menikah akan banyak cobaannya? Kamupun tau itu kan, Ra.”
“Tapi ini beda, Mba.” Kata Kiara kemudian bersandar di bahu sahabatnya itu.
Wanda tak langsung menjawab, ia membiarkan sahabatnya itu bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan calon suaminya itu.
“Dean menghamili mantan istrinya, Mba!” dengan air mata yang sudah menetes, Kiara kemudian menatap Wanda dengan sangat sedih.
“Apa? kamu serius, Ra?” Wanda terkejut dan membulatkan matanya.
Kiara mengangguk dan terus menangis.
“Sekarang, kamu istirahat dulu. Nanti aku coba bantu cari tau.”
“Tapi bagaimana caranya, Mba?”
“Sudah kamu istirahat saja.” Katanya buru-buru berdiri dan memasangkan selimut sampai d@d@ untuk sahabatnya itu.
* * * * * *
Kiara dan Wanda pergi ke kantor bersama setelah mengantarkan Puput ke sekolahnya. Kiara masih terlihat sedih. Setelah memarkirkan mobilnya, Kiara dan Wanda langsung masuk ke dalam gedung mewah kantornya. Wanda langsung memisahkan dirinya begitu lift yang mengantarkan mereka tiba di lantai 11 tempat ruangannya berada. Begitu sampai di ruangannya Ben sudah datang terlebih dahulu dan sudah berada di ruangannya. Namun ia tidak sendiri di ruangannya. Ia bersama dengan Dean yang sedang duduk menatap ke arah Kiara yang baru saja datang dan langsung beranjak untuk menemui Kiara. Ben yang melihatnya langsung menahannya sebentar.
“Tunggu … tunggu duduk dulu.” Kata Ben kemudian menarik tangan Dean.
Lalu Dean menuruti Ben.
“Apa Ben?” tanya Dean.
“Gw bakalan cari cara supaya si Mischa ngaku. Lo jangan emosi atau bikin keributan ya, disini. Inget di sini kantor. Dan Kiara adalah salah satu karyawan teladan gw.”
“Iya gw tau!”
“Tunggu disini dulu.” Kemudian Ben memanggil Kiara untuk masuk ke ruangannya.
Kiara melihat Dean yang tengah duduk di sofa ruangan Ben dengan wajah yang tak kalah kacau. Terlihat sorot kesedihan dari matanya. Kiara bahkan tak tega melihat lelakinya itu dalam kondisi seperti ini. Kiara kemudian berjalan menuju meja kerja Ben.
“Selamat Pagi, Pa. Bapa panggil saya?” kata Kiara begitu menghadap pada bossnya itu.
“Pagi, Kiara!” Ben kemudian berdiri dan mengajak Kiara untuk duduk di samping Dean. “Ra, abang tau kamu sedih dan terkejut dengan kejadian ini. Sama abangpun begitu. Dan kita semua juga terpukul dengan hal ini. Tapi kamu ga usah khawatir. Abang akan menyelidiki ini semua. Abang minta sekarang kamu bereskan barang-barang kamu dan kamu sekarang pulang sama Dean ke apart. Kalian bicarakan baik-baik dan abang minta kamu, untuk percaya sepenuhnya pada Dean. Karna abang tau sahabat abang tidak mungkin akan mengecewakan kamu lagi.”
Kiara masih terdiam memandang abang angkat sekaligus bossnya itu.
“Tapi, Bang!”
“Daripada kamu di sini, tapi fikiran kamu malah kemana-mana. Lebih baik kamu pulang, bicara baik-baik dengannya dan jangan terlalu memusingkan tentang Mischa. Abang yang akan urus semuanya. Ok?”
Kiara mengangguk setuju dan memeluk sayang Ben.
“Terima kasih, Bang!”
“Sama-sama, sudah sekarang kamu pulang ya.”
* * * * * *