“Aku mau temanya rustic aja, Ka.” kata Kiara kepada Emil perwakilan dari WO yang akan memegang acara wedding mereka di Jakarta.
“Tapi aku mau tetap yang romantis, ya!” pinta Dean kali ini.
“Dan intim, pastinya.” Emil menambahkan tema untuk pernikahan mereka berdua.
“Iya!” kata Dean dan Kiara berbarengan.
“Ok … aku akan mencari vendorsnya. Dan minggu depan siap-siap untuk melihat tempatnya, ya. Aku ga mau kesalahan sama si Ibu. Karna ga kasih liat tempat yang satu ini. Dijamin kalian bakalan suka.” Emil berceloteh di depan mereka berdua. “Nih, aku kasih bocoran ya beberapa fotonya.” Emil menambahkan kemudian mengeluarkan tabletnya dan memperlihatkan beberapa foto.
“Aku suka! Ini di mana?” kata Kiara setelah melihat foto-foto tempat yang direkomendasikan oleh ka Emil.
“The Royale Hotel & Suites.” Jawab Emil mantab sambil tersenyum sumringah.
“Hotelnya Hito, Sayang.” Kiara menatap Dean dengan perasaan tidak enak.
“Kalian mengenal ownernya?” Emil yang melihat ekspresi wajah clientnya langsung bingung.
“Ehmm … Hito adalah adik saya.” Dean tersenyum.
“Oh, jadi lebih gampang untuk kalian mendapatkan tempat itu kan?” Emil langsung tersenyum.
“Bagaimana Aikko? Kamu mau di sana?” tanya Dean memastikan.
“Aku suka dengan tempatnya. Tapi kalau kamu mau menggantinya juga tidak apa-apa.” Kiara tersenyum memandang suaminya itu.
“Kalau kamu sudah suka, aku ga ada alasan untuk menolakkan?” kata Dean mendukung Kiara dan mengenggenggam tangan istrinya.
“Ya, aku tidak akan memaksa jika kamu mau menolak permintaanku kali ini.” Kata Kiara tersenyum.
“Ok, Emil. Ikuti semua permintaan Kiara. Di manapun akan aku turuti.” Dean langsung mengkonfirmasi keinginan istrinya.
“Baiklah … Besok siang aku akan menghadap manager hotel itu dan mengurus semuanya untuk kalian berdua. Semoga di tanggal yang kalian inginkan belum ada jadwal.”
Mereka berdua mengangguk dan menyetejui perkataan Emil sebagai WOnya.
“Kalau begitu aku pamit dulu ya.” Kata Emil kemudian cupika cupiki dengan Kiara.
Setelah Emil pergi, Kiara dan Dean tetap stay di coffee shop itu dan duduk saling berhadapan.
“Sayang, apa kamu benar tidak masalah jika kita melakukan resepsinya di hotel Hito?” tanya Kiara sekali lagi.
“Tentu saja tidak masalah Sayang. Dengar aku, apapun yang kamu minta. Selama, aku bisa mengabulkannya. Aku akan dengan senang hati mengabulkannya. Aku dan Hito tidak ada masalah. Kenapa aku harus mempermasalahkan kamu memilih tempat itu untuk acara kita. Kamu itu sudah menjadi istriku dan ga mungkin juga kan Hito akan ambil kamu dari aku.” Dean mengerlingkan matanya.
“Ya, hanya saja aku takut kamu menganggap aku seperti tidak ingin kehilangannya.”
“Hahahaha … kamu bercanda. Aku tau kamu sayang. Tidak mungkin kamu masih menginginkan lelaki yang sekarang sudah menjadi mantanmu. Aku sayang kamu, Aikko.”
Kiara tersenyum lalu menyeruput coffeenya.
“Ai, nanti kalau sudah selesai dengan wedding kita yang di Jakarta ini. Kamu mau kita tinggal di mana?” tanya Dean mencari tau.
“Di apart kamu seperti biasa juga ga masalah. Aku sih yang penting kalau ibu mau berkunjung ada kamar aja. Dan buat dia nyaman kalau kita tinggal kerja.” Ucapnya singkat sambil menyuapkan cheesecake ke mulutnya.
“Oh begitu.”
“Iya. Aku ga mau macem-macem Kio. Aku udah suka banget tinggal di apart kamu kok. Itu udah bikin aku nyaman. Cuma untuk dapur, nanti aku mau kamu bolehin aku beli beberapa barang tambahan, ya. Jadi kalau kita libur aku bisa baking atau bisa masak makanan yang kamu suka.”
“Iya, Aikkoku. Anything for you.”
* * * * * *
Dean dan Kiara sekarang tengah berada di supermarket untuk membeli beberapa barang-barang yang sudah habis di kulkas dan beberapa stock makanan. Dean asyik mendorong trolly dan Kiara tengah berkonsentrasi untuk memasukan barang-barang yang ia cari sambil menyocokkan dengan catatannya yang ia tulis di smartphonenya. Sesekali Dean bersenandung mengikuti lagu yang diputar.
Mereka berdiri di depan stand fresh food yang menyajikan berbagai macam sayuran segar, buah-buahan, juga daging dan ayam. Ketika sedang memilih, seseorang menghampiri Kiara dan Dean.
“Hai Dean!” sapa Wanita cantik itu sambil menggandeng lelaki di sampingnya.
Kiara langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat sumber suara yang memanggil nama suaminya itu.
“Mischa!” kata Kiara.
“Hai, Ra. Selamat ya ...” katanya kemudian mengulurkan tangan pada Kiara.
“Terima kasih!” kata Kiara kemudian tersenyum.
“Selamat ya, Bro!” kali ini Putra memberikan selamat kemudian berpelukan akrab dengan Dean.
“Terima kasih.” Kata Dean.
“Oiya, karna undangannya belum jadi. Gw infoin aja ya. Gw bakalan nikahin Mischa bulan depan. Gw harap kalian bisa datang ya.” Kata Putra mencoba seramah mungkin.
“Baiklah! jika kalian mengundang kami, kami akan datang jika ga ada halangan,” kata Kiara ramah.
“Kami juga akan melakukan resepsi di Jakarta. Tapi masih persiapan. Semoga kalian juga bisa datang ke resepsi kami.” Kata Kiara.
“Kami tunggu undangannya, Kiara. Kalau begitu kami pergi dulu.” Kata Mischa Kemudian cupika cupiki dengan Dean dan Kiara bergantian.
* * * * * *
Kiara dan Dean sedang berjalan menyusuri jalanan ibukota yang sangat lenggang. Hari itu adalah hari sabtu dan kebetulan juga memang Kiara dan Dean mengambil jalan lumayan pagi untuk bisa cepat sampai dan melihat tempat yang akan mereka pakai untuk resepsi pernikahan mereka yang akan digelar dalam hitungan minggu. Kiara dan Dean lagi-lagi ingin mengusung tema outdoor seperti acara pernikahan yang mereka adakan di Jogja.
Emil dan krunya sudah menunggu Kiara dan Dean. Ketika sudah sampai diparkiran Kiara dan Dean langsung berjalan menuju lobby. Tak lupa juga Dean mengamit tangan Kiara dengan penuh sayang. Karna sekarang sudah menjadi kebiasaan kalau mereka akan berjalan beriringan dan selalu bergandengan tangan.
“Halooo … pagiii!” sapa Kiara pada Emil yang sedang menyesap morning coffeenya.
“Hai, Sayangku.” Kata Emil yang kemudian berdiri menyambut Kiara dan Dean lalu cupika cupiki, “duh pengantin baru, benar-benar deh. Mesra terus.” Sambungnya begitu melihat Dean yang berdiri di samping Kiara dan tak melepas genggaman tangan pada wanita cantik itu.
“Hahaha, bisa aja Ka Emil.” Kiara tersipu.
“Yuk, kalian juga pasti udah ga sabar dong pengen liat tempat untuk resepsi kalian.”
“Heeh …” jawab Kiara dengan anggukan kepalanya.
“Ok, kita mulai dari pintu masuk yang di sebelah sana ya. Di sana ada kolam renang. Terserah kalian. Mau pakai juga kolam renangnya juga boleh. Jadi nanti pelaminannya kita pakai di atas kolam renangnya itu. Nanti kalian jalan dari sini lalu pelaminannya di sebelah sana, dan nanti kolam renang ini akan kita tutup pakai glass step. Jadi kalian berasa jalan diatas air kan? Hehehe …” katanya menjelaskan detail.
“Trus meja-meja buat tempat makan tamu-tamunya di sana?” tanya Dean yang menunjuk hamparan taman di dekatnya.
“Yup … setelah mereka memberikan kalian selamat, mereka akan jalan ke buffet kita. Lalu, mereka akan duduk di meja-meja di halaman itu. Tapi terserah kalian, mau jalan nemuin tamu-tamu atau stay di pelaminan,”
“Ehmmm ... kayanya sih kita mau yang sekalian bisa nemuin tamu-tamu sambil ngobrol-ngobrol kali ya. Biar, ga kaku-kaku amat Ka.” Kiara memberikan pendapatnya.
“Good! Ok kalau gitu nanti aku kasih tau ke wardrobenya jangan pake heels yang terlalu tinggi kalau begitu.” Emil menjentikkan jarinya karna menyetujui ide Kiara.
Kiara dan Dean tersenyum.
“Lalu, nanti tetap dekornya sesuai dengan keinginan kalian, tetap ada lampu di gantung berwarna kuning. Lalu bunga-bunga juga sebagai pelengkap dekornya.”
“Pokoknya turutin Nyonya Ananta maunya apa dan bagaimana. Aku tinggal nurut aja.” Kata Dean sambil tersenyum.
“Ukkhhh … sweet banget sih! dapet di mana sih Ra, kamu suami kaya gini. Aku mau dong satu.” Katanya menggoda.
Kemudian mereka semua tertawa bersama.
* * * * * *
“Aikko, hari ini kamu bawa mobil sendiri aja ya. Aku hari ini ada meeting sama Ibu di RS setelahnya ada praktek sampai malam, temen aku lagi cuti jadi dilimpahin semua ke aku.” Kata Dean sambil mengancingkan kemeja abu-abunya.
“Tapi, makan malam di rumah kan?” tanya Kiara memastikan bahwa tidak akan sendirian di apartemennya saat pulang kerja.
“Mudah-mudahan sih tetap bisa makan malam bareng ya, Ai. Aku juga pengennya cepet-cepet pulang kok. Belom pisah aja aku udah kangen.” Sambil mencium kilas bibir istrinya itu dan memeluknya sebentar.
“Uhhh … senengnya, dicium sama Pa Dokter.” Dengan nada manjanya.
“Udah, ah. Nanti yang ada kamu aku kurung nih ga boleh kerja.” Kemudian meraih tas kerjanya yang berwarna hitam.
“Iya, Sayang. Ati-ati, ya. Setelah sarapan aku langsung berangkat. Ini untuk makan siangnya udah aku taruh di sini. Trus ini ada coklat hangatnya.” Kemudian memberikan sebuah tas makan berbahan katun yang sudah diisikan bekal makan siang dan juga tumbler yang diisikan coklat hangat.
“Makasih ya, Sayang. Aku berangkat duluan. Jangan ngebut-ngebut ya, bawa mobilnya santai aja.” Kata Dean kemudian berjalan menuju pintu, “Oiya, jangan lupa juga buat ngabarin aku kalo udah sampe kantor dan kalo udah sampe rumah.” Katanya kemudian balik badan melihat istrinya yang masih berdiri di dekat meja makan.
“Iya, Akio!” memberikan tanda hormat.
Dean tersenyum lalu berangkat ke Hospi Hospital. Selesai sarapan, Kiara membereskan piring makan mereka berdua dan kemudian pergi ke kantor. Akan ada ART yang mengurus apartement mereka dan segala urusan apart mereka setiap harinya. Jadi ketika pulangpun apartnya tetap bersih dan rapi.
* * * * * *
Dean melihat keadaan sekitar rumah milik Dino. Dino adalah salah satu teman Dean sesama dokter yang sekarang di pindah tugaskan di Bandung. Dean mengenal Dino sejak di bangku SMP. SMA mereka berpisah dan kuliah dipertemukan kembali. Sekarang Dino sudah memiliki 2 orang anak dari hasil pernikahannya.
Rumah itu tidak terlalu besar namun cukup untuk dirinya dan Kiara memulai kehidupan yang baru. Dean langsung jatuh cinta dengan rancangan arsitekturnya, walaupun baru sekali ini melihat rumah itu. Rumah itu memiliki 3 kamar, banyak ruang terbukanya dan memudahkan udara juga cahaya masuk dengan leluasa ke ruangan di dalamnya. Juga ada halaman yang lumayan besar tak lupa ada kolam renang yang terletak di samping ruang keluarga. Di dalam hatinya ia yakin bahwa Kiara, istrinya juga suka dengan rumah yang akan dibelinya sebagai hadiah atas pernikahan mereka berdua.
“Gimana, Ean?” tanya Dino setelah menjelaskan detail rumahnya itu.
“Gw suka! Deal … nanti untuk pembayarannya gw langsung transfer ke lo, ya. Lo ke Bandung kapan memangnya?” tanya Dean.
“Minggu depan, Ean.”
“Ya udah. Lusa kalo lo ga ada acara, gw boleh ke sini lagi sama Kiara?”
“Bolehlah. Ini juga gw mau angkutin barang-barang ke rumah nyokap gw dulu. Tapi, lo sabar-sabar ya. Soalnya gw mesti nunggu embanya anak-anak datang buat beresin ini.”
“It’s ok, gw juga ga buru-buru pindah kok. Anak sama istri lo udah di Bandung duluan?” tanya Dean.
“Iya, soalnya anak gw yang gedekan harus masuk sekolah. Sebenernya nanggung juga pindah di tengah-tengah gini. Tapi semoga Alesya bisa ngikutin pelajarannya.”
“Trus, lo tinggal di mana?”
“Sementara di rumah mertua gw dulu. Soalnya gw sama dia belom nemu rumah yang pas jadinya nebeng mertua dululah sementara. Lagi juga mertua gw cuma berdua doang di rumah segede gitu. Pas liat gw sama bini gw mau pindah ke Bandung, senang banget mereka.”
“Seneng ya, bisa ngumpul sama keluarga gitu. Jadi rame.” Kata Dean terlihat sedih karna tak bisa berkumpul dengan orang tuanya lagi.
“Yahh … jadi sedih kan lo. Lo juga kan ada mertua yang sayang banget sama lo, Ean. Ada ortu angkat lo yang sayang-sayang banget sama lo. Malah, lo banyak punya orang tua kan jadinya?” memegang bahu Dean.
“Iya sih. Dan gw beruntung banget punya mereka di hidup gw.” Jawabnya tersenyum.
“Ya udah Bro, gw cabut dulu ya. Masalah pembayaran nanti gw langsung transfer ke lo setengahnya. Trus lo langsung atur dengan notaris ya untuk balik nama sertifikatnya.” Dean tersenyum sambil berdiri dari sofa di ruang keluarga.
“Siap, Ean. Makasih banyak ya.”
“Sama-sama Bro!”
* * * * * *