ELEVEN

2092 Words
                 Kiara masih menimang-nimang permintaan suaminya itu. Ia kemudian meminta Dean untuk meninggalkannya dan segera membersihkan tubuhnya juga sebelum mereka bertemu di kamar. Dean akhirnya menurut dan segera mengambil handuk yang baru saja diambil oleh Kiara di lemari dressing room kamar hotel yang mereka tempati.  “Baiklah, kalau sudah selesai. Tunggu aku di kamar ya.” Katanya kemudian mencium pucuk kepala istrinya itu.                   Kiara kemudian datang ke kamarnya yang sudah di matikan lampu utamanya dan hanya diberikan lampu berwarna kuning yang menambah hangat dan romantis suasana di kamar itu. Kiara kemudian berdiri dan mengabadikan tempat tidur yang sengaja dihias untuk dirinya dan Dean. Dean yang juga sudah mengganti bajunya dan mengenakan celana tidur tanpa mengenakan baju. Sehingga memperlihatkan d@d@nya yang bidang dan absnya yang sangat ingin digigit Kiara karna seperti roti sobek. “Ini!” Dean menghampiri Kiara yang sedang duduk di sisi ranjang sambil membalas satu per satu pesan yang masuk ke ponselnya. “Ini apa, Kio?” tanya Kiara bingung kemudian memegang kotak kecil yang diberikan Dean barusan. “Buka aja!” titahnya pada istrinya.                 Lalu Kiara membuka kotak itu. “Itu untuk kamu!” kata Dean kemudian menatap wanitanya.                   Kiara speechless hanya tersenyum dan menatap Dean juga kunci yang dipegangnya secara bergantian. Kemudian, Dean menggandeng Kiara menuju jendela besar kamarnya. Dean menunjuk sebuah mobil sedan mewah keluaran terbaru dengan seri SClass berwarna putih yang sangat diinginkan Kiara. Kiara yang melihatnya langsung naik ke pinggang Dean mengeratkan kakinya dan melingkarkan tangannya di leher suaminya itu. Ia mulai menciumi lelakinya dengan sangat senang. “Sumpah itu untuk aku?” tanya Kiara tersenyum sumringah setelah puas menciumi Dean.                  Dean mengangguk dan membalas senyumnya. “Aku tau kamu butuh itu. Kamu juga menginginkannya. Jadi aku membelikannya untukmu.” Ujar lelaki itu sambil menggendong istrinya yang sepertinya masih betah dalam gendongannya.   “Terima kasih Sayang. Tapi apa tidak terlalu berlebihan?” tanya Kiara merasa tidak enak dan kini menunduk dalam.   Dean menggeleng dan kemudian mencium kilas bibir ranum Kiara. “Dengarkan aku, sekarang kamu dan aku sudah menjadi ‘KITA’. Jadi tidak ada lagi namanya berlebihan dan keberatan atau merasa tidak enak, apapun yang kamu inginkan dan kamu minta. Aku akan berusaha memberikannya selama aku bisa. Aku bekerja untuk membahagiakan istriku. Dan jika kamu sudah memberikan anak-anak yang lucu, maka aku juga akan membahagiakan mereka. Bagaimanapun caranya. Jadi kamu ga boleh ya ngomong ga enak, ga enak sama aku lagi. Kalau sampai aku dengar itu lagi dari bibir kamu. Aku akan menghukummu!” katanya tersenyum. “Hukum? Memangnya aku anak kecil.” Katanya mengerucutkan bibirnya.                 Dean kemudian mencium kilas bibir ranum istrinya yang sangat menggemaskan itu. Karna mereka merasa udara cukup dingin, akhirnya Dean menggendong Kiara masuk ke kamar mereka lagi. Dan sepertinya Kiara juga masih betah berada di gendongannya sejak tadi. Dean mulai menciumi Kiara, dan istrinya itupun mulai membalas ciuman yang dilakukan lelakinya itu. Dean benar-benar merasa sangat senang hari itu. Akhirnya Kiara bisa menjadi istrinya dan menjadi miliknya seutuhnya.                 Dean merengkuh tengkuk Kiara dan mulai memperdalam ciuman di bibir Kiara. Setelah puas dengan ciuman di bibirnya, Dean kemudian mulai turun dan mulai menciumi leher mulus istrinya itu. Malam itu, menjadi saksi kebahagiaan mereka menjadi satu. Setelah sekian banyak rintangan-rintangan yang mereka hadapi sebelum akhirnya mereka menjadi sepasang suami istri dan saling mencintai satu sama lainnya.             Keesokan harinya Kiara dan Dean pergi ke Bali untuk melanjutkan honeymoon mereka selama beberapa hari.  Namun sebelum pergi ke Bali mereka mengunjungi rumah eyang putrinya dan memohon pamit. Karna setelah mereka menyelesaikan liburan dan honeymoon, mereka akan akan langsung pulang ke Jakarta dan menyiapkan pesta pernikahan mereka yang akan diadakan 2 bulan lagi.   * * * * * *                   Hari ini, Dean dan Kiara tiba dari Honeymoon di Bali. Tiba di Jakarta, mereka akan disibukkan oleh beberapa urusan salah satunya dengan menyiapkan pesta resepsi yang akan mereka gelar di Jakarta. Bukan pesta meriah yang akan mereka langsungkan dan hanya teman-teman terdekat mereka yang undang. Dean sudah menyerahkan kepada WO untuk membantu Kiara untuk seluruh persiapan resepsi di Jakarta itu. Dean juga sudah mentitahkan kepada WO untuk menuruti semua yang diinginkan Istrinya itu.                 Besok mereka akan mulai kegiatan mereka. Dean akan kembali bertemu dengan bayi-bayi dan anak-anak kecil lucunya itu, sementara Kiara harus berkutat kembali dengan kertas-kertas yang biasa ia sentuh dan perlakukan dengan baik. Sesampainya di Bandara Internasional Soekarno – Hatta. Kiara meminta Dean untuk mengantarnya ke tempat SPA yang biasa ia datangi. Kiara sudah memesan tempat untuk merelaksasi tubuh mereka sebelum kembali ke apart mereka.                 Tiba di tempat SPA, mereka langsung disambut oleh Astrid dan Ben yang juga sudah menunggu mereka untuk ikut nimbrung dengan kegiatan relaksasi mereka di hari yang menyenangkan itu. Astrid langsung memeluk erat tubuh Kiara. Tampaknya setelah dipisahkan seminggu Astrid sudah tidak sabar bertemu dengan Kiara. Ia ingin mendengar cerita-cerita mereka selama honeymoon. Apalagi mereka berdua sangat menyukai Bali. Dan beberapa tahun yang lalu Astrid dan Kiara sempat pergi berlibur bersama dengan Hito dan juga Rino, mantannya Astrid ke Bali. “KIARAAAAAA!” teriak Astrid kegirangan melihat Kiara yang sudah berdiri di depannya dan memeluknya senang. “Ihhh … Cici berisik hahahah,” kata Kiara sambil membalas pelukan kaka angkatnya itu. “Aku seneng banget abisnya kamu udah pulang. Tapi sudah dalam keadaan berbeda dong sekarang.” Goda Astrid melihat ke arah Dean dan Kiara bergantian. “Ihhh … Cici kamu berisik, Sayang.” Protes Dean berbisik tapi masih terdengar Astrid dan Ben. Mereka kemudian tertawa bersama begitu mendengar celotehan Dean. “Udah yuk masuk.“ Ajak Ben.   * * * * * *                 Setelah pergi ke SPA, mereka berempat memutuskan untuk makan malam bersama. Kiara dan Dean mengenakan pakaian dengan warna senada yaitu biru muda. Mereka juga selalu berpegangan tangan seakan-akan takut berjauhan walau sebentar saja. Ben dan Astrid selalu meledek mereka. Sesampainya di resto yang terletak di Jakarta Selatan, mereka berempat langsung menuju meja yang sudah dipesan oleh Ben tadi sore. Mengingat ini adalah weekend dan mereka malas mencari resto yang tidak ramai, mangkanya Ben menggunakan the power of kolega. Kebetulan yang punya resto ini adalah teman Ben jadi mereka dapat service yang special untuk malam ini. “Mau pesen apa?” tanya Ben kepada Astrid, Dean dan Kiara. “Sayang, aku boleh pesen steak yang medium rare ga?” kata Astrid manja. “Boleh!” kata Ben mengiyakan keinginan istrinya itu. “Kamu mau apa, Aikko?” tanya Dean.  “Pilihin aku aja. Aku ga laper-laper banget Kio.” “Ehmmm … kalo gitu aku pesenin kamu salad sayur sama smoked chicken.” Katanya sambil melihat-lihat menu yang tadi dberikan oleh salah satu pelayan di resto itu. “Boleh!” kata Kiara sambil tersenyum dengan pilihan makanan suaminya itu. “Udah siap pesen?” tanya Ben                 Kiara mengangguk. Kemudian Ben memanggil pelayan resto dan memesan makanan dan minuman untuk mereka santap bersama. Sambil menunggu pesanan mereka mengobrol bersama dan tiba-tiba Astrid merasakan ada hal aneh dalam dirinya. Tiba-tiba saja ia mual mencium steak yang baru saja dihidangkan di hadapannya. Ia langsung pergi menuju toilet ditemani dengan Kiara. Ben tidak memiliki firasat apapun. Ia hanya terheran-heran dengan perilaku Astrid ini. Dean hanya tersenyum melihat sahabatnya itu kebingungan. “Kayanya, lo harus periksain Astrid deh.” Kata Dean sambil menyuapkan makanan kemulutnya. “Maksudnya?” tanya Ben masih dengan nada kebingungan sambil meneguk orange jus yang ia pesan. “Masa sih, lo engga sadar juga?” “Duh … Ean, jangan berbelit-belit please.” Mohon Ben pada sahabatnya itu. “Hahahaha … Feeling gw Astrid hamil, Ben.” “Hamil? Masa sih?” Ben mengernyitkan dahinya. “Coba aja periksa. Semoga feeling gw ga meleset.” Katanya sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum. “Semoga deh! Gw udah pengen banget punya anak. Apalagi Hito mau berangkat ke US. Pasti nyokap bokap gw makin ngerasa kesepian aja nih.” “Ke US?” tanyanya terkejut. “Iya … Alasannya sih katanya mau riset. Dia belum tau kapan pulangnya. Ya, mudah-mudahan sih ga lama ya. Mungkin karna patah hati ditinggal nikah sama lo berdua.” “Ngaco lo!” Dean terkekeh. “Gw sih sebenernya ga pengen bilang ke lo dulu. Tapi jangan bilang  dulu ya sama Kiara, kalo Hito mau pergi ke US. Gw takutnya Kiara ngerasa bersalah atau gimana gitu. Emang sih dia nutupin dari kita-kita. Tapi gw yakin pasti ada galaunya tuh anak. Gw beberapa kali mergokin dia lagi ngelamun soalnya. Tapi lagi ngeliatin foto Kiara.”                 Dean tak berbicara apapun. Ia hanya membatin dan merasa bersalah dengan kenyataan yang baru saja dilontarkan oleh sahabatnya. Kiara dan Astrid kembali dari toilet dan segera duduk di tempat mereka semula. Begitu Ben mengetahui istri dan adiknya kembali dari toilet ia kemudian langsung menghentikan pembicaraannya dengan Dean. “Bang Ben, nanti bawa Cici ke RS, ya.” kata Kiara dengan wajah cemas. “Kalo ga kalian langsung ke RS aja nanti. Ga usah anter kita pulang. Periksain Astrid ya, Ben.” Titah Dean. “Gimana, Sayang? kamu mau ke RS?” tanya Ben dengan mengelus punggung wanitanya.   “Ehmm ... kayanya nanti dulu aja deh. Aku engga apa-apa kok. Mungkin karna telat makan aja tadi siang.” Cicit Astrid sambil meminum air putih hangat yang baru saja diambilkan oleh seorang pel@y@n.   “Aku sih ga yakin kalo kamu cuma telat makan aja,” kata Ben sambil tersenyum. “Ih kamu apaan sih, aku beneran cuma telat makan doang. Aku engga apa-apa. Kita abis ini langsung anter Kiara sama Dean dulu. Trus pulang ya.” Astrid kini mencoba untuk menyuapkan steak yang belum tersentuh itu. “Siap Bos!” kata Ben kemudian memberikan tanda hormat dengan tangannya.                 * * * * * *                 Kiara sudah siap dengan dress formalnya yang berwarna hitam polos dengan lengan sebatas siku tak lupa ia menambahkan scarf bermotif berwarna cream merah pada bagian lehernya. Dean mengantar istrinya itu pagi ini ke kantor sebelum akhirnya ia berangkat ke RS untuk bertemu dengan bayi-bayi lucu yang sudah membuat janji untuk ditemuinya.                 Sesampainya di kantor Kiara langsung disambut dengan teman-teman kantornya yang memberikan pesta sambutan kecil-kecilan sebagai pengantin baru. Dean juga turut serta hadir di sana dan melakukan pesta perayaan kecil untuk menyambut pengantin baru. Ben sudah memberikan izin kepada pegawai-pegawainya itu untuk melangsungkan acara sambutan itu ketika Wanda dan Lena mengusulkannya. Ben juga turut hadir dan bergabung di sana. “Selamat menempuh hidup baru Kiara dan Dokter Dean!” kata teman-teman kantor Kiara berbarengan ketika mereka berdua masuk ke dalam ruangan Kiara sambil bergandengan tangan.   “Oh, astaga! Terima kasih banyak teman-teman.” Jawab Kiara terkejut ketika melihat teman-temannya berada di ruangannya tak terkecuali Ben yang sudah memegang kue tart dan juga menghias ruangan Kiara dengan pernak pernik pesta. Tak lupa juga foto-foto Dean dan Kiara di cetak dan digantung di seluruh ruangan. “Terima kasih banyak teman-teman!” Kata Dean pada semua orang yang hadir pada pesta penyambutan mereka.                 Kiara dan Dean kemudian diminta untuk memotong tumpeng. Setelah memberikan potongan pertama kepada Ben, Kiara juga memberikan potongan tumpeng kedua untuk Wanda dan Lena sebagai biang kerok terselenggaranya perayaan kecil-kecilan itu. “Terima kasih banyak ya, Mba-mbaku.” Kata Kiara kepada Wanda dan Lena yang sedang berdiri di hadapan Kiara sambil memakan sarapan mereka yang sengaja dihidangkan. “Sama-sama. Maaf ya, Ra. Dadakan begini jadi ala kadarnya.” Jawab Lena tersenyum membalas pelukan Kiara. “Ga apa-apa, Mba. Aku senang banget. Kalian memang yang terbaik.” Puji Kiara.                 Setelah 1 jam melakukan pesta sambutan. Mereka semua akhirnya kembali bekerja dan Dean pun undur diri dan langsung berangkat ke Hospi Hospital tempatnya praktik pagi itu. Letak Hospi Hospital memang tidak terlalu jauh dari gedung kantor Kiara. Mungkin sekitar 25 menit dari sana, jadi Dean bisa dengan cepat pergi ke rumah sakit tanpa harus takut terlambat setelah pesta kecil-kecilan itu. “Sayang, aku pergi praktik dulu ya. Kalian lanjutkan. Nanti malem, habis pulang kerja. Langsung ke restonya Ben ya. Aku sudah booking untuk kita makan malam semuanya di sana.” Ucap Dean pada Kiara. “Serius kamu, Kio?” tanya Kiara terkejut. “Iya, tadi aku sudah bilang sama Ben. Dia langsung urus ke managernya yang di cabang Dharmawangsa. Aku suruh booking semuanya. Biar kamu sama temen-temen kamu bisa makan malam di sana. Sama Astrid dan Hito sudah aku suruh datang juga.” “OOHH! Terima kasih sayang!” Kiara kemudian tersenyum dan memeluk suaminya itu karna terlalu senang. “Terima kasih ya, Ean!” kata Lena tersenyum. “Sama-sama. Selamat makan ya, Kalian. Aku pamit dulu. See you, Sayang” Dean kali ini cupika cupiki pada istrinya itu dan undur diri.                 Kiara kemudian mengantarkan Dean sampai lift dan berpisah di sana.   * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD