bc

Buah Kebencian untuk Ayah

book_age12+
22
FOLLOW
1K
READ
others
dark
drama
tragedy
twisted
sweet
heavy
lighthearted
serious
mystery
like
intro-logo
Blurb

Rey pergi meninggalkan rumah karena merasa tak berharga. Hidup dengan orang lain yang lebih menganggap keberadaannya. Dalam perjalanannya ia bertemu Naya, wanita yang menyatakan cinta padanya. Kedatangan Eza, kakaknya yang meminta pulang menguak cerita lama dan luka yang dipendamnya. Akankah ia pulang dan menemui ayah yang begitu dibencinya?

chap-preview
Free preview
Ikatan
Buah kebencian untuk ayah #cerbung Laki- laki yang tengah tertidur itu meremas selimut kasar dan melenguh sesekali. Keringat membanjiri dahinya lalu sekejab ia tersentak. Bangun dari mimpi buruk yang selalu menghantui hari- harinya. Nafasnya terengah dan bayangan mimpi masih dibawanya dalam ingatan yang tak mau juga amnesia. Ia menutup muka dengan tangan dan berusaha mengatur nafas yang memburu. Berkali- kali menghela nafas, menenangkan pikirannya yang kalut dalam melawan siluet masa silam. Bersamaan dengan itu, suara gawai berdering. Rey Dian Dwi Atmaja, lelaki yang tengah bergumul dengan pikirannya tersentak kaget. Menatap gawai yang terus bergetar, menebak dari siapa panggilan dini hari. Hingga panggilan terhenti, Rey tak juga beranjak dari ranjang. Kembali, gawai berdering, pertanda yang di seberang masih belum menyerah. Setelah raga mulai diajak kompromi ia pun bangkit. Berusaha mengacuhkan panggilan namun tangannya tak mau menuruti. "Ya, halo" katanya setengah malas. "Rey. Apa kamu baik- baik saja?" ada nada khawatir dalam pertanyaannya. Seolah tahu benar yang tengah terjadi dengannya. "Ya, aku baik- baik saja" bohongnya. "Kamu tidak sedang berbohong kan?" tanya dari seberang memastikan. Rey terdiam. Sekuat apapun ia menutupi, entah bagaimana caranya dia bisa tahu. Ray Sakti Gumilang. Orang lain yang hadir dalam hidupnya sejak kecil. Bukan kakak atau pun keluarga namun telah menjadi bagian paling penting. Menggantikan sosok kakak yang pernah ada. "Kenapa telepon pagi- pagi. Ini baru jam 3" tanyanya mengalihkan pembicaraan. "Ntahlah, perasaanku tidak enak. Jadi aku telepon untuk memastikan. Apa kamu bermimpi buruk lagi?" tanyanya ingin tahu "Aku baik- baik saja. Bahkan aku tidur nyenyak jika tidak ada telepon yang mengganggu. Kakak harus bertanggung jawab karena setelah ini aku pasti tidak bisa tidur lagi" omel Rey. "Ya sudah kalau begitu. Istirahatlah. Maaf mengganggumu. Aku hanya khawatir. Bagaimana kalau nanti pulang kerja ku jemput. Kita makan di tempat biasa" tawarnya. Rey berpikir sejenak sebelum mengiyakan permintaan Ray. Dimatikannya panggilan dan keheningan malam menyergapnya. Lagi. Di langkahkan kaki menuju kamar mandi. Ketika dibuka, terlihat seember rendaman cucian yang sudah beberapa hari dibiarkan. Aroma tak sedap menguar membuatnya terpaksa mencuci di pagi buta. Rey Dian Dwi Atmaja, anak bungsu dari keluarga Atmaja. Di saat ia hampir menempuh ujian kelulusan SMA, tiba- tiba menghilang. Pergi menjauh dari kemewahan. Menikmati hidup yang diinginkan sejak lama. Menyeberang ke pulau yang jauh dimana hanya ada seorang yang tahu. Ray, teman masa kecil yang juga menjadi kakak angkat baginya. Setelah urusan mencuci selesai, ia pun bergegas mandi walau jam baru menunjukkan pukul 5 pagi "Tumben mau mandi jam segini?" tanya Arya teman satu kost yang juga teman kerja. Dia adalah anak yang taat beribadah, sebelum melaksanakan salat subuh ia akan mandi terlebih dahulu. "Kamu mimpi basah ya?" tanya Jaka tiba- tiba datang menatap penuh curiga. "Makanya kalau tidur itu berdoa. Biar gak mimpi aneh- aneh, jadinya ditemeni mbak kunti sampe basah" ejek Jaka yang mengacak- acak rambutnya. "Teros- teross"kata Rey tak mau kalah. Jaka pun tertawa tanpa rasa bersalah sedang Arya yang merasa tidak enak dengan suasana memarahi Jaka yang usil menggoda Rey ******* "Eh, kita sarapan di warung mbok Darmi aja yuk. Makan nasi pecel. Bosen aku makan nasi kuning setiap hari" gerutu Jaka ketika mereka tengah bersiap berangkat kerja. "Aku mah gak masalah makan apa saja untuk sarapan" Arya menimpali dan memandang Rey yang tengah melamun. "Kamu gak apa- apa Rey ko lesu gitu?" tanya Arya khawatir melihat Rey yang terus- menerus diam. "Dia mah gitu kalau habis tidur sama mbak kunti. Bawaannya loyo terus" ejek Jaka entah keberapa kali. Tapi yang diejek dari tadi hanya diam tak berniat membuka mulutnya. Arya menyikut Jaka dan menggunakan bahasa isyarat untuk menghentikan sikap menyebalkannya sedang Rey yang mengetahui tengah diperbincangkan menepuk pundak kedua sahabatnya. "Ayok, kita makan pecel" ajaknya. Jarak antara rumah kost dengan tempat kerja tak begitu jauh. Sekitar 10 menit berjalan kaki. Jaka dan Arya bekerja sebagai mekanik disebuah dealer mobil dan Rey sebagai sales senior. Perjalanan mereka terhenti ketika sebuah mobil bmw keluaran terbaru berhenti di depan mereka. Kaca mobil turun dan seorang lelaki dengan wajah yang bersih mencopot kaca mata dan tersenyum. "Sudah lama gak ketemu Rey" sapa lelaki itu membuat Jaka dan Arya bengong. Seketika wajah Rey memucat. "Kalian berangkat saja dulu. Ada yang mau ku bicarakan. Bilang sama pak Iwan, sepertinya aku telat" kata Rey. Wajahnya berubah tegang membuat Arya paham apa yang harus dilakukan "Dia siapa Rey. Jangan bilang kamu buat masalah ya. Atau dia tukang nagih hutang atau jangan- jangan klien yang kemarin diceritakan Mas Irwan" cecar Jaka sedang Arya berusaha membawa Jaka untuk pergi menjauh. Lelaki yang berada dalam mobil turun dan menatap Rey. "Sudah empat tahun aku mencarimu" katanya mendekat dan memeluk adik yang telah lama hilang. Rey mematung, wajahnya membeku meski denyut jantungnya bertalu. "Apa kabar kak?" tanya Rey sinis.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
22.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
48.7K
bc

Kali kedua

read
222.9K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
4.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.9K
bc

TERNODA

read
204.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook