Orang lain yang lebih mengerti

973 Words
"Emang orang tadi siapa?" tanya Jaka tanpa basa basi ketika mereka sampai di kantor. Rey yang tengah memakan nasi pecel yang dibelikan Arya menghentikan kegiatannya. Arya menyenggol Jaka untuk bersikap lebih sensitif. "Oh, dia kakakku" kata Rey terus mengunyah. Jaka dan Arya saling memandang, tak percaya dengan yang dikatakan karena selama ini Rey hampir tak pernah menceritakan kehidupan keluarganya. Jaka tertawa sambil memukul meja. "Kamu ini emanglah jagonya kalau bohong. Jelas tidak mungkin kalau dia kakakmu. Dia naik mobil, pakai jas mahal mungkin jabatannya ceo atau sejenisnya. Sedang kamu cuma sales mobil, pakaian belinya kalau ada diskonan. Langit bumi banget. Gimana aku mau percaya" Jaka langsung menghentikan tawanya ketika Pak Iwan tiba- tiba masuk ke ruangan. "Lihat nih pak kelakuan mekaniknya, kerjaan cuma santai- santai saja" Rey mengadukan Jaka membuat ia langsung ngacir keluar ruangan. Pak Iwan menatap jengkel dengan kelakuan Jaka. "Kenapa kamu makan di sini?" tanya Pak Iwan tak suka. "Kenapa? Apa bapak mau juga? sini kita makan bareng" kekeh Rey membuat Pak Iwan menggeleng melihat kelakuannya. "Bulan depan akan ada meeting di Jakarta, kamu yang berangkat" "Ogah" tolak Rey tegas. "Ini kesempatan bagus agar kamu cepat naik jabatan" "Aku gak gila jabatan. Kasih saja ke anak baru agar mereka berkembang" tolak Rey kedua kalinya. "Kalau kamu naik jabatan akan lebih mudah bagimu melamar si Naya" rayu Pak Iwan masih belum menyerah. "Aku belum ada niatan berkomitmen. Sekedar suka bukan berarti aku mau membangun hubungan" elak Rey. Pak Iwan menatap Rey yang sudah dianggap anak sendiri. "Aku tak peduli kamu mau atau tidak. Aku sudah menulis namamu dan kamu harus tetap berangkat" tegas Pak Iwan memutar kursinya. Rey menghela nafas panjang. Tak mau lagi membantah namun hatinya enggan untuk mengiyakan. Ke Jakarta, kota yang dulu ditinggalkan. Ia hanya perlu di mess, tak usah pergi kemana pun yang akan mengingatkannya dengan kenangan, pikirnya. "Baiklah tapi sebagai gantinya hari ini aku pulang cepat" tawar Rey. Pak Iwan tersenyum penuh kemenangan. "Kamu mau pulang sekarang pun tidak apa- apa yang penting berkas dokumen kemarin sudah selesai diproses" Lelaki dengan badan tambun itu melunak. Rey beranjak keluar ruangan. "Kamu mau kemana?" tanya Pak Iwan. "Katanya boleh pulang" kata Rey dengan wajah tak berdosa. "Memang sudah selesai?" tanya Pak Iwan memastikan dan Rey mengangguk membenarkan. "Bukannya tadi kami cuma makan pecel, bagaimana mungkin sudah selesai?" Pak Iwan beranjak menyusul Rey. "Ra-ha-sia" kata Rey sambil menjulurkan lidah. Ia berjalan menuju tempat Jaka dan Arya yang tengah bekerja. Merebahkan badan di sofa yang disediakan lalu mengeluarkan gawai. Sambungan langsung terhubung. "Aku sudah selesai, kapan menjemputku. Kita makan siang kah nonton?" tanya Rey membuat Jaka mendongakkan kepala. Tak terima dirinya masih bekerja sedang temannya seenaknya masuk dan pulang. "Ya sudah kita makan siang di palm spring saja. Sebentar kakak kesana" suara di seberang menjawab. "Ok" Rey menutup telepon dan Jaka sudah di sampingnya "Busyet anak ini, habis masuk makan eh udah mau pulang makan lagi" Jaka berkacak pinggang. "Pak Iwan aja gak masalah kenapa kamu yang sewot. Bilang aja minta dibungkusin ikan bakar kan?" tebak Rey yang disambut dengan senyum manis Jaka. "Kamu emang teman yang paling tahu isi perutku. Jangan lupa ya. Aku saja, Arya gak usah. Dia mah makan tempe gak masalah" Jaka duduk di sampingnya namun Pak Iwan langsung berteriak membuatnya kembali menekuni kerjaan. "Ingat ya Rey, minta sambal yang banyak ok" Rey tersenyum melihat kelakuan Jaka si tukang makan yang badannya gak nambah. Tetep kecil seperti tiang listrik membuat Rey sering membawakan cemilan ketika pulang bepergian dan ia akan histeris layaknya anak kecil yang dibelikan donat dari pasar. Hampir setengah jam, akhirnya yang ditunggu datang. Sebuah mobil Land Roover berhenti di parkiran. "Duluan ya, nikmati waktu kerjamu. Aku mau makan enak" ejek Rey membuat Jaka mencebik. Rey membuka pintu dan seorang lelaki berumur 35 an tersenyum. Ray Sakti Gumilang, teman kecil yang menjelma sebagai seorang kakak. Bekerja sebagai direktur di salah satu perusahaan. Meski jadwalnya padat, ia akan memberikan waktu untuk Rey. Mobil meluncur di jalanan yang mulai ramai. ***** "Bulan depan aku akan ke Jakarta" keluhnya saat hendak menyantap makan siang. Berkali- kali ia mengaduk nasi yang tak membuatnya berselera. "Kebetulan sekali, bulan depan kakak juga ada acara di Jakarta. Bisa samaan ya? Apa ini dinamakan sehati?" canda Ray membuat Rey tak percaya. "Pasti kakak akan sibuk, kita tidak akan punya waktu bertemu" Rey menyeruput minumannya dengan kesal membayangkan keinginannya tak akan selaras dengan jadwal. "Pasti kakak sempatkan untukmu" kata Ray memandang Rey yang tiba- tiba tak bersemangat. "Pasti kamu sedikit tertekan" kata Ray seolah tahu yang dipikirkan adik yang tak memiliki hubungan darah itu. Rey menghela nafas seolah mengeluarkan beban yang baru saja menghantam. "Kak Eza tadi datang" mata Ray membulat mendengar perkataan Rey, gerakannya terhenti seketika. "Untuk apa dia datang?" ada perubahan intonasi ketika Ray bertanya. Rey tak langsung menjawab. Ia berdiri menuruni tangga menuju bibir pantai yang berada di sebelah restoran sedang Ray mengikuti dari belakang. "Yah, sepertinya aku disuruh sungkem karena sudah beberapa lebaran tak minta maaf" canda Rey berusaha mencairkan suasana yang tiba- tiba berubah. Ray mendekat dan memeluk Rey. Tak peduli beberapa orang menatap seakan tahu apa yang dirasakan Rey. Ketakutan. "Jangan pergi. Aku tak mau terjadi sesuatu denganmu" kata Ray. "Tenanglah kak, aku akan minta biar namaku dicoret dari KK saja" canda Rey tapi sesuatu yang hangat telah memenuhi kaos Ray. Badan Rey bergetar. Ia begitu rapuh hanya dengan menyebut nama Jakarta membuat air mata datang. Berulang merutuki dirinya yang begitu pengecut. "Aku tak ingin pulang" kata Rey menatap kosong ke laut lepas. Ray tak bisa berbuat apapun kecuali mencegah Rey pulang. Masih terbayang ketika Rey datang setelah sadar dari koma. Menangis sesenggukan di depan rumah, memintanya membawa pergi meski tubuh belum sembuh benar. "Aku ingat semuanya. Bawa aku pergi disini" katanya dan tanpa pikir panjang Ray membawa ke Batam. Berharap Rey menemukan bahagia. Setelah empat tahun berlalu, neraka itu kembali datang. "Kakak akan bersamamu" kata Ray.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD