Karma, you are a b***h!

3753 Words
What's wrong with you, Jessica Veranda Tanumihardja? Aku, The Queen Bee kebanggaan SMA Global Persada, Miss Popular, It girl, Yang Maha Elok, The Definition of The Perfection, Miss Perfect, memeluk Ghada Farisha? Me??? Bukan hanya pelukan biasa, aku bahkan memeluknya erat. It was just a hug. Stop being such a drama queen. Selama di perjalanan, aku terus memikirkan mengapa aku memeluk Farish. Apa yang merasuki diriku hingga aku berinisiatif untuk memeluknya? Aku dan Farish bahkan tidak sedekat itu untuk saling berbagi pelukan sebagai teman. Hingga tiba di rumah, aku terus mencoba mencari alasan yang masuk di akal. Jessica Veranda tidak pernah memberikan pelukan pada siapa pun! Aku bisa menghitung dengan jari berapa orang yang biasanya aku peluk dan itu tidak banyak. Hanya Mom, Pop, Judith dan ketiga sahabatku. "Lo kenapa Jess?" Judith yang biasanya tidak pernah bertanya setiap kali aku menunjukkan keresahan bahkan memecahkan rekornya hari ini. "Coba deh lo ngaca," sarannya. Ia lalu membimbingku ke cermin besar di kamar. Aku melihat sendiri dengan tidak percaya penampilanku disana. I'm freaking blushing! Oh tidak. Aku benar-benar dalam masalah besar. Aku masih bisa mendengar jantungku terus berdentam-dentam tidak menentu. Dan aku masih bisa mengingat bagaimana Farish balas memelukku. Bagaimana tubuhnya terasa begitu pas saat mendekap tubuhku yang kecil. Bagaimana kedua lengannya yang kupikir jauh dari berotot bisa dengan kuat merengkuh diriku dan membuatku merasa nyaman sekaligus bergetar tak menentu. Bagaimana aroma tubuhnya membuatku hanyut setiap kali menarik nafas saat berada begitu dekat dengannya. Wake up Jessica Veranda! Mungkin ini adalah salah satu dari rencana Farish untuk membuatku jatuh cinta padanya. Aku tidak boleh jatuh dengan mudah ke dalam perangkapnya. Bukan aku yang seharusnya jatuh cinta padanya, tapi Ghada Farisha yang harus bertekuk lutut dan mengemis cinta padaku. Aku harus fokus pada rencanaku semula. Fokus. Fokus. Fokus! "Jess?" Judith menepuk bahuku sambil terus memperhatikan wajahku yang terpantul di cermin. "Are you okay, Sissy?" "Right. Don't worry. I'm totally fine Jude." *** Aku tiba di sekolah 10 menit setelah bel masuk berbunyi. Ketiga sahabatku sempat menunjukkan raut wajah heran ketika aku masuk ke kelas. Untungnya jam pertama pagi ini adalah olahraga dan guru olahraga kami bukanlah tipe guru yang suka mengabsen seluruh siswanya satu persatu. Pak Yono, si guru olahraga, lebih suka membiarkan kami memilih olahraga apa yang akan kami lakukan setiap minggunya asalkan masih sesuai kurikulum yang berlaku. Beliau juga tidak mengharuskan seluruh siswa untuk ikut berpartipasi. Menurutnya, asal saat pengambilan nilai olahraga kami semua dapat melakukannya dengan baik itu sudah cukup. "Tumben lo telat." Rossie lebih dulu menegurku setelah aku meletakkan tas ku di atas meja. Aku hanya tersenyum masam padanya. "Kalian gak ganti baju olahraga?" tanyaku sambil membuka isi tas untuk mengambil baju olahragaku. "Gak perlu Ve. Lagian Pak Yono gak akan marah kalau kita di kelas. Ada berita heboh hari ini dan kita baru aja bahas itu saat lo dateng." Kimmy yang memang selalu punya cerita untuk dibagikan kepada kami lantas menarikku untuk duduk kembali. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik mengenai berita-berita seputar sekolah yang selalu disampaikannya beberapa hari ini. Namun, jika aku menunjukkan ketidaksukaan ku secara terang-terangan, sudah pasti Kimmy akan sangat kecewa. Tidak hanya itu, Rossie dan Cla juga akan memborbardirku dengan berbagai macam pertanyaan ya tidak ingin aku jawab. Karena sejak dulu, aku selalu tertarik dengan semua berita yang diceritakan Kimmy pada kami. This is because of Ghada Farisha! Aku bahkan sulit memejamkan mata semalaman hanya karena memikirkannya! "Mau dengar berita hebohnya?" Kimmy bertanya dengan wajah antusias. Kunaikkan alisku bertanya-tanya. Tidak biasanya Kimmy se-antusias ini. Aku jadi dibuat penasaran berita macam apa kali ini. Cla yang duduk sebangku denganku langsung meraih lenganku dan menggandengnya. "Ve, taruhan lo dengan Ghada Farisha masih berlaku kan?" Aku memutar bola mataku mendengar pertanyaan bodoh Cla. Dia tentu sudah tahu jawabannya. "Of course! Kalian paling tau seperti apa gue kalau sudah menyangkut taruhan. Gue akan berjuang sampai akhir dan memperoleh kemenangan." Once again, in fact, I'm Jessica Veranda. Ketiga sahabatku mengangguk hampir bersamaan. Aku jadi tidak mengerti kenapa tiba-tiba Claressa bertanya mengenai Farish. Apakah berita ini menyangkut Ghada Farisha? The ultimate nerd? God. Kenapa hidupku tidak bisa lepas satu menit saja dari dirinya. Kupikir jika bersama ketiga sahabatku, aku bisa melupakan bayang-bayang Farish dari pikiranku. "Ya, Ghada Farisha pagi ini-" "Ghada Farisha?" ulangku memotong ucapan Kimmy. Kimmy mengangguk mengiyakan. "Ya, Ghada Farisha, si ultimate nerd. Who else?" "Ini karena lo telat. Lo gak liat gimana hebohnya tadi anak-anak satu sekolah ketika ngeliat si nerdy tadi. Dia.." "Stop stop.. " Kimmy segera membekap mulut Cla dengan telapak tangannya. "Yang ini bagian gue buat ngomong," tandasnya. Mungkin merasa hal ini adalah spesialisasinya. "Lo gak akan percaya dengan apa yang kita lihat tadi pagi Ve." Ia terdiam sejenak lalu menatap wajahku dengan sangat serius. Seolah berita yang akan disampaikannya lebih penting daripada berita kedatangan Raja Arab Saudi ke Indonesia beberapa waktu yang lalu. "Gue juga gak mengira the geek of the century bakal buat heboh satu sekolahan," celetuk Rossie. Mendengar ketiganya mengejek Farish seperti itu membuat dadaku mendadak panas dan ingin melumat habis ketiganya. "So what is this all about?" "Well.." Kimmy masih berpikir mencoba mencari kalimat yang pas untuk memberitahuku. "Well what?" tanyaku memaksa. Terlihat jelas sudah kejengkelan yang sempat ingin aku sembunyikan. "Ghada Farisha ngelepas kacamatanya. And he is looking so hot without them!" Finally, Kimmy mengatakannya. "Julukan The ultimate nerd sepertinya udah gak cocok lagi kita kasih buat dia." Cla menambahkan. "Siapa yang bakal mengira kalau dia bakal terlihat keren hanya dengan menanggalkan kacamatanya dan sedikit merapihkan rambutnya." Rossie ikut sepakat dengan kedua sahabatku yang lainnya. Ketiganya terus meluncurkan berbagai komentar mengenai betapa menariknya Ghada Farisha di mata mereka. Aku hanya bisa duduk di antara ketiganya dengan mulut menganga tak percaya. Like an i***t. What the hell are they talking about? "Stop.. Stop!" Aku mengangkat tanganku ke atas meminta ketiganya untuk segera berhenti bicara. "Are you guys talking about Ghada Farisha? The Ultimate Nerd from XII science 1? Ghada Farisha yang pernah di bully Jody?" Aku bertanya meminta konfirmasi pada ketiganya. Tanpa perlu menunggu lebih lama, mereka mengangguk hampir berbarengan. "Ya, Ghada Farisha yang punya taruhan sama lo. Siapa lagi yang punya nama seperti itu selain dia di sekolah ini?" kata Kimmy mantap. "And sorry to tell Ve, sepertinya lo juga akan kalah dalam taruhan kali ini. Bukan cuma karena perubahan penampilannya, pagi ini gue juga ngelihat dengan kedua mata gue yang indah ini kalau dia jalan di koridor dengan si anak baru!" "Yep!! Gue gak mengira anak baru itu ternyata mengincar Farish dari dulu. Bukan cuma itu, info yang gue dapet dari sumber terpercaya, Ghada Farisha pernah punya hubungan spesial dengan Melody!" timpal Cla penuh bersemangat. "Ow.. wait.. wait.. talk slowly," pintaku mencoba mencerna satu persatu informasi yang aku dapat. Mendengar ketiga sahabatku memuji Farish saja sudah tidak masuk akal bagiku, di tambah lagi informasi kalau dia pernah dekat dengan Melody, the runner up miss popular of Global Persada, of course after me. And also, who is this new girl they are talking about? Kimmy menarik nafas kuat kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Setelah beberapa kali mengulangi hal tersebut, ia lalu mulai bicara. Kali ini dengan intonasi yang sengaja ia buat sejelas mungkin. "Jadi, pagi tadi gue, Cla dan Rossie ke kelas duluan tanpa lo. Saat kita baru mau masuk kelas.. Kita bertiga ngeliat-" "Farish sama anak baru itu lagi jalan di koridor." Cla memotong cerita Kimmy dengan tidak sabar. "Farish kelihatannya nganterin anak baru itu ke kelasnya. Tapi yang buat kita makin gak percaya adalah penampilan Farish yang jauh berbeda dari nerd yang biasanya sering kita lihat." Kimmy mengangguk mengiyakan. "Lo inget kan? Anak baru kelas sebelah yang pernah gue ceritain waktu itu? Shinta Naomi." "Dia memang oke, tapi penggemarnya gak sebanyak lo Ve. Lo jauh lebih cantik daripada dia." Kali ini Rossie yang bicara. "Tapi tetap aja ini Shinta Naomi yang kita bahas," tukas Kimmy. "Kita gak tau jurus apa yang akan dia keluarin untuk memikat Farish. Kita belum tau seperti apa si Naomi ini. Sehari setelah kehadiran dia di sekolah, dia bisa buat geger satu sekolah." "Kim, please.. Ve jauh lebih menarik daripada this Naomi girl." Cla menunjukkan ketidaksetujuannya. "Dia memang cantik dan punya badan proporsional. Tapi Ve masih nomor satu." "Tapi setidaknya Ve gak boleh lengah hanya karena itu. Shinta Naomi langsung menduduki posisi ketiga sebagai the best girl di sekolah semenjak kedatangannya di hari pertama. Selain itu, kita juga gak boleh lupa dengan Melody." "Kimmy bener. Ve bukan hanya punya 1 rival, tapi 2." Rossie mengangguk sambil menyentuh ujung dagunya. "Kita semua tahu, sebelum Ve, Melody Nurramdhani adalah the queen bee Global Persada." Oke. Mendengar ketiganya berbicara bergantian membuatku semakin bingung dan bertanya-tanya. Aku pernah mendengar nama-nama yang mereka sebutkan padaku namun hingga hari ini aku bahkan tidak pernah tahu seperti apa rupa keduanya. What do you think? I'm Jessica Veranda. I never care about such things! Bagaimana seorang nerd, geek, ordinary guy seperti Ghada Farisha bisa mengenal kedua perempuan itu? Cowok nerd itu benar-benar menyimpan banyak rahasia yang sama sekali tidak aku ketahui. Dia bahkan pernah punya hubungan spesial dengan Melody? Hubungan macam apa? How? Seolah menjawab pertanyaan yang berkecamuk di dalam diriku, Cla kembali bicara. "Gue dapat informasi rahasia ini dari ketua osis saat gue mencoba mengecek mengenai latar belakang Farish. Dia bilang kalau Farish memang pernah punya pacar saat SMP. Tapi karena alasan tertentu mereka putus. And it turn out that his ex girlfriend is Melody. Wow, right?" Cla membelalakkan kedua matanya menunjukkan ekspresi tak percaya mengenai informasi yang ia dapat. "Gue gak mengira kalau Farish memang benar pernah punya pacar and it's more shocking because his ex is Melody!!" Right. It's really unbelievable! "Apa yang Naomi dan Melody lihat dari dia?" gumamku pada diri sendiri. "Oh c'mon Jessica Veranda! That nerd guy is unbelievable hot! He is a total hottie!" seru Kimmy sambil menepuk pundakku. "Mungkin keduanya sudah menyadari ini dari dulu. Karena selama ini Farish selalu menutupi penampilannya dengan kacamata jelek dan model rambut anehnya itu." "Intinya, Ghada Farisha termasuk cowok keren yang bisa masuk daftar lo sebagai the most wanted guy at school. Case close." Rossie menutup pembicaraan kami sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Aku masih ingin bertanya banyak hal pada ketiganya saat Cla menarik lenganku untuk keluar dari kelas. Ia sepertinya menyadari bahwa aku masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang mereka katakan barusan. Wajahnya terlihat khawatir melihat gelagatku. Bagaimana tidak? Pikiranku masih diliputi berbagai macam pertanyaan dan rasa kebingungan atas semua informasi yang baru saja aku dengar. "Ini memang susah buat dipercaya, tapi lo harus lihat sendiri sehingga lo mengerti kenapa Cla dan Rossie bisa heboh seperti itu. Oke, termasuk gue." Setelah berkata demikian, Cla membawa diriku menuju deretan kelas XII. Beberapa meter sebelum kami tiba di kelas Farish, aku sudah melihat teman-teman perempuan sekelasku yang seharusnya berolahraga bergerombol di depan pintu kelas Farish. Semuanya! What's wrong with them? "See," tunjuk Cla mengarahkan dagunya pada gerombolan itu. "Mereka semua disana untuk ngeliatin Farish." Aku tahu aku seharusnya tidak boleh merasakan hal ini. Tapi apa yang aku lihat dan aku dengar barusan membuatku merasa tidak tenang. Seolah aku akan kehilangan Farish sebelum aku bisa memilikinya. Kenapa aku merasa tidak rela jika Farish dekat dengan Naomi dan Melody? Sadar Jessica Veranda. Semua ini hanya taruhan. Ini hanyalah sebuah permainan. Selamanya Ghada Farisha akan tetap menjadi seorang cowok nerd yang menyebalkan. Tidak ada yang menarik dari dirinya. Nothing. "Ve?" Rossie menyentuh bahuku. "Lo ngelamun?" Entah sejak kapan ia dan Kimmy berada disana. "Gue sama Kimmy mau sarapan di kantin. Lo sama Cla mau ikut?" "Oh okay." Cla tertawa pelan melihat reaksiku. Ia sepertinya menyadari pergolakan batin di dalam diriku. Di antara ketiga sahabatku, Cla yang paling dekat denganku. Dia bisa dengan mudah menyadari suasana hatiku. "Ve, lo gak bisa sembunyiin apapun dari gue. Cepat atau lambat lo akan mengakui semuanya. Gue hanya tinggal menunggu kapan hari itu akan datang. Saat lo dengan sukarela menceritakan semua isi hati lo ke gue," bisik Cla dekat telingaku. "Oh coba lihat siapa yang muncul. Panjang umur tuh cowok." Cla mengarahkan pandangannya ke depan, ke arah seseorang yang tadi menjadi topik hangat pembicaraan kami pagi ini. Aku mengalihkan pandanganku ke arah yang dimaksud Cla. Disana, aku melihat seseorang yang langsung membuat mataku terbuka lebar dan hatiku jatuh dari ketinggian sekian meter. Seperti di adegan film dimana semuanya seakan bergerak slow motion diiringi backsound dan seseorang yang awalnya tidak menarik dimatamu mendadak terlihat bersinar terang menyilaukan. That's how it is! Sekarang aku mengerti kenapa sahabat-sahabatku begitu antusias mengenai Ghada Farisha. Kenapa perempuan seisi kelas mendadak heboh ingin melihatnya. Ghada Farisha is freaking.. freaking.. Oh God, where did my vocabolaries go? Dia berdiri di koridor menatapku. Saat kedua pasang mata kami bertemu, ia melambaikan tangannya sambil melemparkan senyum padaku sebelum akhirnya berbalik pergi ke arah yang berlawanan denganku. Untuk beberapa saat, aku lupa bagaimana caranya untuk bernafas. Aku merasa seolah tidak ada udara disekitarku. Dia seolah mengambil semua udara tersebut dariku. Dan ini pertama kalinya aku mengalami perasaan seperti ini. No freaking way! Oh-my-God! What did you do to Ghada Farisha? I'm in very deep deep deep deep trouble right now. *** Sama seperti hari-hari Jum'at yang lalu, istirahat siang ini kembali gue habiskan dengan membaca buku di perpustakaan. Tapi yang membuat hari ini sedikit berbeda adalah gue gak sendirian. Sejak pagi tadi gue selalu di usik dengan beberapa orang siswa yang terus mengikuti kemana pun gue pergi. Bukannya gue gak menyadari atau pura-pura gak mengetahui apa yang mereka pikirkan. Hanya aja gue merasa terganggu dengan ulah mereka. Gue jadi merasa gak nyaman untuk belajar atau makan siang di kelas. Curse you Jessica Veranda! Semua ini karena perjanjian bodoh yang gue sanggupi dengannya. Gue terpaksa harus menanggalkan kacamata gue hari ini. Dan sialnya, ketika Firash mengetahui hal ini, adik gue itu lantas ikut ber-eksperimen dengan tatanan rambut dan gaya berpakaian gue. Firash sempat heran kenapa gue mendadak gak mau memakai kacamata ke sekolah. Untungnya alasan gue membuat adik gue yang tengil itu cukup percaya. Gue mengatakan padanya kalau kacamata gue akan gue betulkan pagi ini di optik mata terdekat. Dia akan berteriak heboh kalau tahu Jessica Veranda-lah yang menyebabkan gue dengan sangat terpaksa mengaktifkan mode non-glasses-look hari ini. "Sepertinya ada seseorang yang lagi menikmati ketenarannya." Gue menoleh menatap gadis yang baru aja gue pikirkan itu. Dia muncul dan sudah berdiri di samping kursi gue dengan salah satu tangan berkacak pinggang. Sikapnya sungguh arogan sekali. "Dan sepertinya ada seseorang yang juga sedang menikmati kemenangannya." Jessica Veranda menatap gue sejenak kemudian berdecak jengkel. "Ngapain lo disini?" "Seharusnya gue yang bertanya ngapain lo disini? Nyariin gue? Kangen?" Gue balik bertanya sambil menyunggingkan senyum. Gue edarkan pandangan sejenak ke sekeliling gue. Tampaknya gerombolan yang dari tadi pagi terus mengikuti gue pergi dengan sukses karena kehadiran Queen. Matanya terbelalak seketika kemudian detik berikutnya dia duduk di samping gue. "Dengar Rish, gue kesini hanya karena mau memastikan satu hal sama lo." "Memastikan apa?" "Well.." Queen terlihat bingung menjawab pertanyaan gue. Bibirnya tampak kehabisan kata-kata. Berkali-kali ia menyentuh ujung-ujung bibirnya berpikir untuk mencari kalimat yang pas yang ingin dia sampaikan ke gue. "Memastikan kalau gue gak lupa sama lo?" Queen terhenyak di kursinya. Dia menatap gue dengan wajah kesal. Setelah menarik nafas panjang, menggembungkan kedua pipinya kemudian meniup poninya dengan asal-asalan, ia lantas berseru, "what are you thinking?! There is no way that I will.." It's really fun to tease her! Sebelum dia sempat melanjutkan kalimatnya, gue sudah tertawa lebih dulu melihat reaksinya. "You are never failed to entertain me, Queen." "Gue disini bukan untuk jadi bahan lelucon lo, Ghada Farisha," desisnya semakin jengkel. "Gue hanya mau memastikan apa taruhan kita masih berlaku atau enggak. Gue dengar dari teman-teman gue kalau lo dekat dengan Naomi. Bukan cuma itu. Gue bahkan dengar gossip murahan kalau Melody itu-" "Mantan gue?" potong gue kalem. "Ya." "Sebelum gue menjawab pertanyaan lo, Queen, gue juga akan memberitahu lo satu hal. Sebenarnya gue gak berkewajiban untuk menjawab pertanyaan lo mengenai hubungan gue dengan Naomi maupun Melody. Dan kalaupun gue menjawabnya, bukan berarti gue melakukan itu karena gak mau lo salah paham," kata gue padanya. "Mengenai taruhan kita, ya itu masih berlaku. Gue bukan seseorang yang suka lari dari permainan yang sudah gue mulai, Queen. Kedua, gue dekat dengan Naomi hanya karena dia adalah kakak dari sahabat Firash. Naomi juga meminta gue untuk menjadi tutornya dalam bahasa inggris." "Lalu Melody?" tanyanya sambil menaikkan salah satu alisnya. Gue diam sejenak memperhatikan sikapnya. Meskipun terlihat tenang di luar, gue merasa Jessica Veranda gelisah ingin mengetahui jawaban dari pertanyaannya yang terakhir barusan. Pembicaraan ini adalah hal yang paling ingin gue hindari sejak lama. Tapi gue sadar, bukan Jessica Veranda namanya jika ia gak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia akan terus menerus meminta jawaban dari semua pertanyaannya. Bukan karena dia peduli atau ingin tahu. Gue rasa Jessica Veranda hanya tidak ingin ego dan harga dirinya di pandang sebelah mata oleh seseorang yang dia anggap gak pernah ada, geek, nerdy, weirdo, cupu, atau apapun sebutan yang dia sematkan untuk orang-orang seperti gue yang jauh dari standar kelasnya. "So?" tanyanya tidak sabar. Kedua tangannya bersidekap di depan d**a. Seolah menunjukkan pada gue kalau dia akan terus menunggu hingga gue mau menjawabnya. "Ya, she is my ex girlfriend." Reaksi Queen sungguh di luar dugaan. Gue mengira dia akan berseru kaget atau menolak untuk mempercayainya. Gue bahkan sudah menyiapkan berbagai kemungkinan yang terjadi jika dia bereaksi demikian. Tapi kenyataannya, Jessica Veranda justru duduk terpaku menatap gue. Tidak berkata-kata. Cukup lama gue menunggu reaksi darinya. Tapi Queen masih gak bergerak dari tempatnya. Dia tetap diam sambil terus menatap gue dengan pikiran yang entah melayang kemana. Satu menit, dua menit, tiga menit, masih gak ada reaksi hingga gue memutuskan untuk kembali bicara. "Are you still here, Queen?" Gue ketuk meja di hadapannya berkali-kali. Untungnya the queen bee itu langsung tersadar dengan mengerjapkan matanya berkali-kali. Gue dekatkan wajah gue ke arahnya mencoba memeriksa apakah ada yang salah dengan Jessica Veranda hari ini. Dia tampak sangat tidak sehat. "What do you want?" protesnya begitu menyadari wajah kami hanya tinggal berjarak beberapa inchi. Gue bisa melihat dengan jelas raut kemerahan disana. Is she not feeling well? Sick? "I only want your attention, Queen," jawab gue sambil tersenyum tenang menatapnya. Wajah Queen semakin memerah. Gue merasa gadis ini benar-benar sakit. Gue sentuh pipinya dan merasakan rasa hangat dari kulitnya yang lembut. Seriously, this girl makes me worry. "Apa lo baik-baik aja?" Tanpa bisa gue cegah, pertanyaan itu meluncur begitu aja dari bibir gue. Tersadar, Queen menepis tangan gue yang masih menyentuh pipinya. "I'm totally fine." What is it? Mendengar ucapannya membuat gue sedikit gak terima. Gue lirik tangan gue yang baru saja dia tepis. Ada rasa sakit yang mendadak menyelimuti hati gue. Kenapa? Ada apa dengan gue? Kenapa semua perkataan Jessica Veranda selalu mengena dalam pikiran gue. Gue gak pernah ambil pusing dengan semua komentar orang-orang mengenai gue. Gue bahkan gak perduli dengan semua julukan aneh yang mereka berikan ke gue. Tapi kenapa hanya dengan satu kalimat dari Jessica Veranda membuat gue merasa.. uncomfortable? "Sorry, gue gak bermaksud-" "It's fine Queen. After all, gue hanyalah seseorang yang lo temui hanya untuk mengusir kejenuhan lo." "Listen, Rish. Gue gak pernah menganggap lo sebagai bahan olokan gue apalagi untuk mengusir rasa jenuh gue. What do you think am I? Gue masih punya banyak hal yang bisa gue lakukan di luar sana dengan sahabat-sahabat gue. Gue sudah menganggap lo sebagai.. sebagai.." Queen terlihat tidak ingin melanjutkan kata-katanya. "Sebagai.. sebagai.. salah satu teman gue. That's it!" "Fakta bahwa lo dekat dengan Naomi dan pernah jadian dengan Melody membuat gue kaget. Gue akui itu. Tapi bukan berarti kalau gue gak percaya. Gue tahu lo berkata jujur mengenai keduanya. Gue hanya gak mengira kalau-" "Kalau gue bisa kenal dengan mereka?" lanjut gue memotong ucapannya. "There is always more than one ruler to measure things, Queen. Satu penggaris aja gak akan mendeskripsikan dengan tepat ukuran yang sebenarnya. Lo harus menggunakan beberapa alat ukur yang lain untuk menilai suatu benda. Sama seperti ketika lo ingin menilai seseorang. Lo gak bisa menilai seseorang hanya dari satu sisi yang mereka tunjukkan di depan lo. Lo harus memeriksa dari sisi yang lainnya. Lo juga gak bisa menilai hanya dengan sekali melihat. Sifat manusia terlalu kompleks untuk lo pahami dengan mudah." "Dan lo adalah salah satunya," ucapnya dengan penuh percaya diri. "Semua mengenai diri lo membuat gue bingung, Ghada Farisha. Lo membuat gue bingung. Gue bahkan gak tahu kenapa gue bisa merasakan.." Ucapannya mendadak terhenti. "Merasakan?" tanya gue sambil menaikkan kedua alis. "Don't tell me that you're already fall for me, Jessica Veranda." *** Ghada Farisha tersenyum memamerkan gingsulnya. Matanya yang semakin terlihat jelas tanpa tertutup kacamata dan rambut yang biasanya acak-acakan kini kembali menantangku. Seolah memintaku untuk mengaku bahwa aku sudah kalah olehnya. Dan sebelum aku sempat mengelak dari pertanyaannya, dari balik rak buku di belakang kami terdengar suara bisik-bisik yang jelas sangat mengangguku. "Sejak kelas X gue memang sudah suka sama tampang cute-nya Farish. Dan sekarang dia semakin kelihatan keren dengan model rambutnya yang baru." Suara perempuan. Aku menoleh sekilas untuk melihat si pembicara, salah satu dari teman sekelasku. Liar. Setahuku cewek itu adalah siswa pindahan di saat kami menginjak kelas XI. Get your fact straight, b***h. "Farish itu model. Selama ini dia cuma nyembunyiin penampilannya dari orang-orang karena gak ingin di ekspos media," timpal salah satu perempuan lainnya. Wrong. Aku seorang model dan aku tahu benar Farish tidak pernah terjun ke dalam dunia itu. Pekerjaannya hanyalah belajar di sekolah. The same school ground you are walking, cow. Seriously? Kenapa cewek-cewek i***t ini mengarang cerita yang tidak benar mengenai Farish? You all do not know him so stop acting like you do! "Gue dengar dia ikut kelompok belajar di jam istirahat. Mungkin sebaiknya gue join kelompoknya untuk bisa belajar bareng dia. Banyak yang bilang kalau dia pintar hampir di semua pelajaran." Suara perempuan lain kembali terdengar. Hampir saja aku menghampiri gerombolan cewek itu dan menjambak rambut mereka satu persatu jika tidak mengingat Farish masih berada di hadapanku dengan senyum di kulum. Ada apa denganku? Kenapa aku jadi bersikap kasar dan sangat tidak waras seperti ini? Aku harus menyadarkan diriku sendiri dan membuat pikiranku kembali lurus ke jalan yang benar! This is so not me! Kutarik nafas dalam-dalam kemudian kembali membawa fokusku pada sosok fenomenal yang masih duduk tenang seolah tanpa beban di depanku. "Sepertinya lo akan kalah dengan taruhan ini, Queen." Farish menyunggingkan bibirnya membentuk senyuman. Again? Is he planning to make me feel suffer just because of his smile? Bayangan Farish bersama dengan perempuan lain mendadak muncul di kepalaku. Dan hal ini membuat darahku mendidih. No way. Apakah karena aku takut kalah taruhan dengannya? Atau karena aku takut kehilangannya? Oh karma, you are a b***h! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD