Aku harus menghimpun kepercayaan diriku kembali. Fokus Jessica Veranda! Aku tidak bisa membiarkan diriku kehilangan kendali hanya karena seorang nerd yang kini mendadak berubah menjadi hottie. Aku tidak bisa membiarkan diriku gagal hanya karena sedikit perubahan atau sedikit kata-kata penyulut api asmara, ralat, maksudku penyulut api membara yang keluar dari bibirnya.
"Oh, really? Kenapa lo begitu yakin kalau gue akan kalah dalam taruhan ini, nerdy boy?" tanyaku padanya sambil menaikkan alis dan dengan kedua tangan dilipat di d**a.
Farish terdiam sejenak sebelum menjawab, "Sejauh yang gue lihat, saat ini lo bahkan sedang mencoba untuk menahan rasa cemburu lo ke gerombolan cewek-cewek tadi." Bibirnya kemudian membentuk sebuah senyuman, senyum yang terlihat seperti senyum penuh kemenangan. "Admit it that you are jealous, Queen."
Harus kuakui, senyuman Farish barusan merusak kepercayaan diri dan citra yang baru saja kubangun dihadapannya. Semua kekuatan yang aku kumpulkan beberapa saat lalu mendadak runtuh seketika. "Je-, what? Jealous? Me? Seorang Jessica Veranda Tanumihardja jealous??" Aku mencoba mengelak dari tuduhannya. "Are you kidding me?"
"Ya, gue memang bercanda," jawabnya cepat. "Jadi gak usah bereaksi berlebihan, Queen." Farish bangkit dari duduknya kemudian berjalan mendekat kearahku. "Lo cukup ingat satu hal, gue hanya tertarik sama lo."
Oh my God! Bahkan dari jarak sedekat ini pun Ghada Farisha mampu membuat jantung ini tidak menentu! Sampai kapan dia ingin bermain-main dengan perasaanku? Farish benar-benar membuatku ketakutan setengah mati. I'm afraid that I might be really fall head over heels for him!
"Are you.. flirting with me? The Ultimate Nerd, Ghada Farisha, flirting?"
"Flirting?" ulangnya kemudian mendengus pelan. "Gue hanya mengatakan yang sebenarnya, Queen."
Jawabannya semakin membuatku kehilangan kata-kata. "Lo tertarik sama gue?" ulangku berusaha menyakinkan apa yang aku dengar darinya barusan.
Farish tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia justru menatapku lekat-lekat. Apa itu artinya kalau cowok nerd ini akhirnya jatuh cinta padaku? Menyukaiku?
Mungkinkah yang Farish maksud tertarik disini ialah bahwa ia hanya tertarik padaku karena taruhan kami? Hanya untuk membuatku jatuh cinta padanya? Get your head together, Jessica Veranda!
But, why I can't stop thinking that he's cute?
"Oh, btw.. Karena gue udah menunjukkan ke lo kalau gue tipe orang yang selalu menepati konsekuensi dari setiap deal yang kita buat, boleh kalau sekarang gue pake lagi kacamata gue?" tanyanya yang langsung membuatku kembali bingung.
Aku tidak mengerti apa maksud dari kalimatnya barusan. "What's deal?" tanyaku seperti orang bodoh.
Farish menarik napas panjang. "Bukankah sudah jelas? Atau lo memang sengaja ingin dengar langsung dari mulut gue, Queen?" tanyanya mencoba menahan rasa jengkel. "Nyokap gue suka sama lo. Jadi sebagai konsekuensinya, gue ke sekolah tanpa memakai benda yang lo sebut menyeramkan ini." Farish berbicara kemudian mengeluarkan kacamata yang biasa ia kenakan dari balik saku celananya.
"Nyokap lo suka sama gue?" Aku langsung tersenyum selebar mungkin begitu mengingat kesepakatan kecil yang kami buat tempo hari.
"Yeah..."
Senyumku semakin lebar mendengarnya. "Gue juga suka dengan nyokap lo. Beliau benar-benar sosok ibu idaman," kataku jujur.
Tante Nida menyukaiku.. Tante Nida menyukaiku.. Tante Nida menyukaiku. Ibu dari seorang Ghada Farisha menyukaiku! Aku tidak bisa menahan bibirku untuk berhenti sumringah.
Freakin weirdo! Ini baru orangtuanya, bagaimana reaksiku nantinya jika Farish yang menyukaiku? Oh, aku tidak bisa membayangkan hal itu akan terjadi. Mungkin hal semacam itu akan terjadi di kehidupanku yang selanjutnya, atau di dimensi lain saat dimana diriku cukup menarik dimata seorang Farish.
"Mama memang sosok ibu terbaik yang gue punya," akunya. "So, taruhan kita sudah selesai kan? Gue sudah bisa pakai kacamata gue lagi kan?" Farish kembali melirik kacamatanya.
Sebagai jawaban, aku cepat mengangguk memperbolehkan.
Put them soon! Aku tidak ingin pesona Farish semakin menjalar ke seisi sekolah. Ghada Farisha akan lebih aman jika memakai kacamatanya sehingga penyakit yang baru saja timbul di lingkungan sekolah akibat dirinya akan segera menghilang.
Tanpa menunggu lebih lama, Farish meletakkan kembali kacamata yang selalu dikenakannya ke atas hidung. Cowok itu kemudian menyunggingkan salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman. Tanpa disadari Farish, gesturenya barusan membuat jantungku semakin berdentam tidak menentu.
Why? He already put his glasses on! Why?!
Kenapa pesonanya masih tidak mau pergi? Kenapa aku justru semakin merasa bahwa Farish terlihat semakin menarik dan memikat dimataku? Kenapa aku justru terjerat semakin dalam dan tidak bisa lepas? What kind of curse is this?!
Jessica Veranda, what is wrong with you?
"Look better," gumamku tanpa bisa dicegah.
Farish menaikkan salah satu alisnya kemudian kembali menyunggingkan senyum. "Jadi lo lebih suka sosok gue sebagai The Ultimate Nerd, Queen?" tanyanya dengan nada mengolok.
'Honestly, gue gak pernah mempermasalahkan bagaimana cara lo berpenampilan. It doesn't matter or bother me. As long as you're Ghada Farisha, me, Jessica Veranda more than okay with that.'
Wait.. wait, stop there creepy little mind on my head!
"Maksud gue," aku berdeham sejenak. "Gue hanya gak mau cewek-cewek seperti tadi berkeliaran di sekitar lo di saat taruhan kita masih berlaku, Farish. Mereka gak akan berusaha deketin lo kalau..," aku mencoba mencari kalimat yang pas untuk menjelaskannya. "Kalau penampilan lo seperti sebelumnya."
Aku lalu maju selangkah membuat jarak di antara kami hanya beberapa inchi dari sebelumnya. Dengan sedikit berjinjit, kuangkat kedua tanganku kemudian mengacak-acak rambutnya hingga kembali terlihat normal. At least, seperti sebelumnya. Setelah aku rasa cukup, aku turunkan kedua tanganku dari kepalanya kemudian mundur sedikit mencoba untuk menilai hasil karyaku.
"Nah, begini lebih baik."
***
"Nah, begini lebih baik." Veranda tersenyum puas melihat hasil kerjanya.
Whoa, what did she do to me? Untuk sesaat jantung gue hampir mencelat jatuh dari tempatnya. Gak bisakah Jessica Veranda menyadari apa yang baru saja dia lakukan? She freakin-touched me!
Untung aja perpustakaan sudah sepi sejak tadi. Kalau tidak, gue gak tau bagaimana komentar yang lainnya jika melihat gue dan Queen Bee kebanggaan mereka sedekat barusan. Mereka bisa makin salah paham. Dan mereka mungkin akan menyadari bahwa wajah gue sempat memanas karena jarak yang begitu dekat dengannya. Karena sentuhan jari-jarinya yang panjang dan lentik di rambut gue. Karena aroma tubuhnya yang begitu merangsang indra penciuman gue. Gue bahkan sempat merasakan sengatan-sengatan listrik mengalir saat kedua tangannya bersentuhan dengan helai demi helai rambut gue.
"Firash pasti akan ngomel kalau lihat rambut gue berantakan lagi." Akhirnya gue buka suara setelah sempat beberapa detik mencoba mengatasi keanehan yang tiba-tiba muncul dalam diri gue.
"Firash?" ulangnya tak mengerti.
Gue mengangguk. "Ya, dia yang punya peran besar mengubah gaya rambut gue pagi ini." Gue usap rambut gue yang baru saja bersentuhan dengan jari-jarinya. Masih terasa percikan listrik disana.
"Harus gue akui kalau dia punya bakat," komentar Queen singkat.
Gue abaikan ucapannya kemudian kembali duduk dan menatap halaman buku yang masih belum selesai gue baca. Queen melirik sekilas ke arah buku tersebut kemudian ikut duduk di samping gue. Bahunya terjulur sedikit mencoba mengintip buku apa yang menarik perhatian gue dibandingkan dengan dirinya. Dan lagi-lagi aroma tubuhnya kembali tercium oleh hidung gue.
I should get use to her parfume.
"You see.." Gue kembali buka suara. "Setelah gue pikir-pikir, sudah beberapa minggu taruhan kita berjalan dan gak ada tanda-tanda kalau salah satu dari kita mulai tertarik dengan satu yang lainnya. Gue rasa kita harus buat taruhan kita more challenging. Gimana pendapat lo? Gue rasa kalau taruhan ini lebih menantang, lo dan gue akan lebih termotivasi untuk menang." Gue memberi saran.
Jessica Veranda mengerjapkan matanya mencerna kalimat gue barusan. Untuk sekilas, raut wajahnya terlihat kecewa. Namun detik berikutnya wajahnya kembali berubah normal. "Lo ada ide yang menarik?" tanyanya.
"Yang gue lihat sejauh ini, lo udah gak terlalu peduli dengan Jody. Masalah kalian sudah selesai dan biar gue tebak, lo udah gak terlalu menginginkan Jody untuk keluar dari sekolah," gue berhenti sejenak menunggu reaksinya.
Queen hanya mengangguk.
"Jadi gimana kalau rewardnya diganti?" lanjut gue lagi. "Kalau lo menang, gue akan tetap bantu lo dengan melaporkan bullying dan blackmailed yang dilakukan Jody selama ini. Mungkin itu hanya akan membuat dia di skors atau diberi peringatan dari sekolah. Toh, masalah kalian juga sudah selesai. Jadi gue kira itu hukuman yang setimpal buat dia. Gue juga akan mengakui kalau lo memang pantas di sebut Queen Bee kebanggaan Global Persada di depan seluruh penghuni sekolah. Selain itu, gue juga akan kasih tutor gratis sehingga lo bisa apply beasiswa atau masuk perguruan tinggi yang lo mau dengan nilai terbaik seangkatan."
"Wait, tutor gratis?" ulangnya tak percaya. "Listen, Ghada Farisha. Gue gak sebodoh itu sehingga butuh belajar gratis dari lo untuk lanjut ke perguruan tinggi yang gue mau. Dan kalaupun gue butuh, kalau..," ucapnya dengan menekankan kata 'kalau' di setiap intonasinya. "Gue akan ikut les private dan membayar dengan biaya sendiri apa yang gue butuhkan untuk bisa sukses masuk perguruan tinggi!" serunya. "Gue akui kalau lo memang cukup pintar dan mampu untuk mendongkrak nilai-nilai gue but sorry to say, I don't need your help. Do you get it?"
"Gue hanya menawarkan Queen, lo gak perlu merasa tersinggung. Lagipula tawaran gue cukup menggiurkan. Dengan nilai terbaik seangkatan." Gue tutup buku dihadapan gue kemudian balik menatapnya dengan serius. "Tapi kalau lo gak tertarik dengan tawaran gue, lo bisa ajukan reward yang lain."
Veranda terlihat berpikir sejenak. Setelah menggembungkan pipinya, yang gue rasa sudah menjadi gaya tersendiri baginya kalau sedang kesal atau stress, gadis itu lalu membalas tatapan gue.
Why does she still look gorgeous with that face?
"Fine." Diluar dugaan, Queen menyetujui saja saran yang gue berikan padanya. "Tapi gue punya tambahan lainnya."
"Apa itu?"
"Kalau gue menang, lo juga harus mau ke prom night sama gue. Gue mau lo mengakui ke seisi sekolah di saat prom nanti kalau lo tergila-gila sama gue."
Un-freakin-believable!
Gue gak bisa membayangkan bagaimana nantinya kalau gue kalah taruhan dan melakukan semua yang dia inginkan. Itu akan jadi hal paling memalukan yang pernah gue lakukan seumur hidup gue.
"Kenapa? Lo takut?" Seolah mengerti kekhawatiran gue, Queen bertanya seolah sudah merasa menjadi pemenang dari taruhan ini. Dan gue gak akan membiarkan gadis itu semakin merasa di atas angin.
Sebagai balasan dari pertanyaannya, gue hanya tertawa. "Bukannya justru lo yang takut, Queen?"
Harus gue akui kalau gue memang sedikit khawatir dengan reward yang diminta olehnya. Tapi sekali lagi, there is no way that I will fall for her. Apa yang dia inginkan gak akan pernah terjadi. Tidak hari ini ataupun di masa mendatang. Jessica Veranda harus tahu kalau gak semua orang bisa dia pikat dengan mudah. Veranda harus mengerti bahwa, semua hal gak bisa dibeli dengan uang dan kecantikannya. Dan gue sendiri yang akan mengubah mindset itu di dalam otaknya.
Jessica Veranda mengibaskan rambutnya sebelum kembali membawa fokusnya ke arah gue. "Jessica Veranda? Me? Takut?" ulangnya mencemooh. "Gue gak pernah takut dengan apapun, Farish." Nada bicaranya mantap seolah menekankan bahwa apa yang baru saja dia katakan memang benar.
"Okay, sekarang gue tanya sama lo," lanjutnya lagi. "Kalau lo yang menang, yah meskipun gue tahu kalau gue yang akan menang pada akhirnya," tambahnya seakan yakin kalau ia sudah bisa melihat akhir dari taruhan kami. "Kalau lo yang menang, apa lo masih ingin gue berhenti untuk ganggu dan mengusik hidup lo?"
Pertanyaan Queen cukup membuat gue terhenyak sesaat. Memang pada awalnya gue merasa risih karena cewek itu selalu muncul dan meminta hal yang sama ke gue. Tapi belakangan ini, gue gak mendapati diri gue merasa terganggu akan kehadirannya. Gue justru merasa terhibur dengan sikapnya yang arogan dan keras kepala.
She's always amuse me.
"Don't tell me that you are enjoying my company, nerdy boy." Queen berbicara sambil tersenyum puas seolah ia berhasil membuat gue satu langkah untuk kalah darinya.
"Kalau gue yang menang, lo harus mengaku ke seisi sekolah kalau lo gak cukup menarik untuk membuat gue tertarik, Queen," gue abaikan perkataannya barusan. "Dan satu lagi, gue juga mau kalau lo mengakui dengan jujur ke semua penggemar fanatik lo itu kalau lo nolak Erick tahun lalu bukan karena lo belum mau punya hubungan spesial, tapi karena lo memang nerd-hater dan gak mau citra dan status sosial lo sebagai Queen Bee sekolah jadi tercoreng."
"What??!" Queen berseru sambil menatap gue dengan wajah ngeri. "Listen, Rish. Sampai kapan lo akan terus beranggapan kalau gue gak sebaik penampilan gue?" tanyanya sambil berkacak pinggang. "Bukankah lo sendiri yang bilang we need more than one ruler to measure things?"
Gue gak mengira gadis itu mengingat hal-hal kecil yang gue katakan padanya. Apakah semua yang gue ucapkan menjadi begitu penting baginya? Biasanya, dia hanya akan mencemooh dan berusaha untuk gak mempedulikan apapun yang orang-orang nilai dari dirinya. Baik itu hal-hal yang baik ataupun buruk.
Apakah ini berarti dia mulai menyadari keberadaan gue?
Does she taking my words into consideration? Her? Unbelieveable.
"Jadi menurut lo, ucapan gue tadi salah? Lo beneran nolak Erick karena memang lo belum mau punya pacar?" Gue tatap matanya lekat-lekat seolah meminta dirinya untuk menjawab dengan jujur pertanyaan gue barusan.
Queen terlihat tergagap sejenak. Matanya berpendar ke sekeliling ruangan, mencoba menghindar dari tatapan gue. Mencoba menghindar dari pertanyaan yang gue ajukan padanya.
"See?" Gue tersenyum kecil mendapati reaksinya. "I'm right."
Wajah Queen mulai terlihat jengkel. "Fine," dengusnya mencoba menahan emosi. "Gue akui kalau gue nolak cowok culun itu karena gue memang gak mau pacaran sama dia. Tapi, alasannya bukan karena gue seorang nerd-hater seperti yang lo pikir! Pada dasarnya, gue gak punya perasaan khusus ke Erick. Bagaimana mungkin gue nerima dia jadi pacar gue sedangkan perhatian gue justru untuk cowok lain?"
Mendengar kata 'cowok lain' keluar dari mulutnya, gue mendadak ada sesuatu di dalam tubuh gue yang terasa ngilu. What is it?
"Cowok lain?" ulang gue.
Jessica Veranda menatap gue seolah gue makhluk paling gak terupdate menurut sejarah kepopulerannya di Global Persada. Ia mendengus jengkel setelah kembali menggembungkan kedua pipinya tanpa sadar. "Waktu itu gue lagi deket sama Jody, remember? Seisi sekolah tau soal hal itu, termasuk Erick!" serunya terlihat frustasi. "Dan temen lo yang aneh itu seharusnya belajar gimana cara mendekati cewek dengan benar! Dia tau kalau gue lagi deket sama Jody, dan dia.." Veranda berhenti sejenak sambil mengangkat salah satu tangannya ke udara mencoba mencari kalimat yang pas. "Dia dengan bodohnya made his move then confessed to me!"
"Setiap cewek juga akan melakukan hal yang sama seperti yang gue lakukan saat seorang cowok yang gak gue kenal mendadak datang ke gue dan minta gue untuk jadi pacarnya. What did you expect me to do? Of course, gue bakal nolak dia. Dan gak mungkin gue bilang ke dia alasan gue nolak dia karena gue tertarik dengan cowok lain! I'm not that mean." Selesai berkata demikian, Jessica Veranda berbalik pergi meninggalkan gue.
I think I made her mad again. Ugh, good job me.
Gue berpikir haruskah gue menyusulnya kemudian langsung minta maaf atau meminta maaf padanya lain kali di saat emosinya sudah reda. Namun belum sempat gue memutuskan, gadis itu sudah menghilang dari pandangan gue. Dan detik berikutnya, rasa bersalah mulai memenuhi pikiran gue. Gue rasa, gue sudah cukup keterlaluan kali ini. Dan apa yang Veranda bilang cukup masuk akal. Erick datang padanya saat dia sedang dekat dengan Jody.
Kenapa gue gak bisa melihat hal ini sebelumnya? Kenapa gue selalu berpikiran buruk mengenai Jessica Veranda? Apakah ini karena pengaruh Melody, mantan gue yang dulu juga sama populernya seperti Queen? No, Melody gak sepopuler Queen saat kami berpacaran. Dulu, ia hanya gadis biasa yang manis dan menyenangkan.
Okay, no more thinking about Melody right now. Shall we, the stupid brain of mine? This is Jessica Veranda we are talking about.
Miss Popular, Jessica Veranda.
***
Aku keluar dari perpustakan masih dengan perasaan yang sama, jengkel. Beberapa menit menatap sosok yang mendadak fenomenal hari ini membuat wajahku seakan memanas. Masih teringat dengan jelas oleh memoriku ketika melihat ekspresi Farish yang you-know-what, make me want to punch him. Jemarinya yang baru aku sadari terlihat, oh well, masculine dan sexy, sesekali sibuk membolak-balikkan lembaran buku yang tadi sempat ia baca dengan serius. Dan harus aku akui, Farish punya charm tersendiri. Oh, wait.. wait.. Stop thinking like that Jessica Veranda!
Seriously, I'm here to make him fall for me, not the other way around!
Aku berjalan memasuki kantin dimana keempat sahabatku sudah menungguku lebih dulu disana. Baru saja aku duduk di samping Cla, ketika Kimmy kembali membuka pembicaraan.
"Coba lihat mereka," Kimmy menyikut lengan Cla sambil mengarahkan tatapannya ke meja seberang kami yang berisi gerombolan senior perempuan yang, yah.. menurutku tidak lebih menarik dari diriku. "Mereka dari tadi rebutan mau cari perhatian ke Farish."
"No way! Gue duluan yang pertama kali ngeliat dia tadi pagi," seru Claressa cepat. Seolah Farish adalah tas branded limited edition keluaran terbaru yang harus segera ia miliki.
"Lo udah punya Vinno, Cla."
"Lo juga udah punya Brad," balas Cla tidak mau kalah.
"Brad kan jauh, jadi gue masih bi-."
"Kalian berdua sama-sama udah punya pacar. Jadi gue yang lebih pantas buat curi perhatiannya Farish." Kali ini Rossie juga ikut menyela. Rossie yang biasanya tidak terlalu peduli dengan cowok-cowok yang berebut untuk menarik perhatiannya juga ikut menginginkan Farish?
Ada apa dengan mereka? Mereka bertiga sibuk berdebat hanya karena Ghada Farisha! Apakah mereka lupa jika aku yang lebih dulu mengenal Farish? Apa mereka sengaja ingin mencari ribut denganku? Aku bahkan tidak pernah mengira jika seorang Ghada Farisha bisa dengan sukses membuat ketiga sahabatku berselisih hanya untuk mendapatkan perhatiannya!
"Stop.. Stop. He's mine, okay?" Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak turut serta dalam perdebatan mereka.
"Ehem, ada yang posesif," komentar Cla dengan senyum penuh arti.
"No, I mean.. Gue seharusnya memang posesif, right? Farish dan gue masih punya taruhan," jelasku buru-buru. Takut mereka menyalahartikan ucapanku barusan. "Kalau Farish tergoda oleh salah satu dari kalian, fokusnya akan beralih dari gue dan otomatis gue akan kalah taruhan. Jadi untuk sementara, sebaiknya gak ada seorangpun yang mencoba untuk deketin Farish, kecuali gue, Jessica Veranda." Aku berkata dengan nada tegas.
Kimmy dan Rossie mengangguk mendengar alasanku. Hanya Cla yang masih terlihat tidak yakin dan tetap menatapku seolah mengisyaratkan bahwa ia bisa membaca apa yang berkecamuk di dalam kepalaku dengan jelas.
"Jadi, gimana perkembangan taruhan lo dengan Farish?" tanya Rossie setelah meneguk minuman dingin pesanannya. Sambil menunggu jawabanku, ia merapikan cepolan rambutnya yang agak terlihat sedikit berantakan.
Sebagai gantinya, kuangkat kedua bahuku memberi tanda bahwa tidak ada perkembangan yang berarti. Yang artinya, belum ada tanda-tanda yang menyakinkan jika Ghada Farisha mulai tertarik padaku. Jangankan tanda, semua usaha yang aku, Jessica Veranda gunakan justru berbalik menyerang diriku sendiri!
"Gue harap lo masih punya Plan B. Buat jaga-jaga kalau rencana yang tempo hari kita susun ga-," ucapan Kimmy terputus.
"Gue gak butuh Plan B. Bagaimanapun berubahnya penampilan Ghada Farisha, dia tetap aja seorang nerd! Kita lihat aja. Ghada Farisha akan bertekuk lutut menyatakan cintanya ke gue sebentar lagi."
"Terus? Apa rencana lo selanjutnya?"
Pertanyaan Rossie membuatku tersadar bahwa aku memang tidak memiliki rencana apapun saat ini. Semua rencana yang aku susun, actually, berakhir dengan hasil yang tidak memuaskan. Justru aku yang dibuat kelabakan dengan senjataku sendiri. So, what's now? Jessica Veranda biasanya tidak pernah kehilangan akal seperti ini.
"How about a date?" Kimmy yang seolah mengerti kebingunganku mendadak mengusulkan ide jenius.
"That's it!" Aku berseru girang kemudian memeluk Kimmy dengan senang. "Kenapa gue gak pernah kepikiran untuk ngajak Farish nge-date?"
Kimmy memutar kedua bola matanya dengan malas. "Itu karena lo terlalu sibuk berpikir gimana caranya membuat Farish jatuh cinta sama lo tanpa merhatiin hal-hal kecil atau cara-cara yang simple seperti date," jawabnya.
"Lo terlalu sibuk memikirkan hasilnya tanpa peduli dengan caranya," tambah Cla.
"Well, whatever. At least, I have plan now."
"Ve, bukannya gue mau menghancurkan kebahagiaan lo yang mendadak datang, tapi..." Cla menatap padaku dengan wajah menyelidik. "Apa lo inget kalau Ghada Farisha bukanlah tipe cowok yang bisa lo ajak nge-date ke tempat-tempat manis dan romantis?"
She's right. Aku hampir saja lupa bahwa saat ini aku berhadapan dengan Ghada Farisha. The Ultimate Nerd is hard to please.
"Dia gak seperti Vinno atau Jody yang suka hang out ke mall atau kafe," komentar Kimmy.
"Gue bahkan sangsi kalau dia pernah nongkrong di coffee shop atau tempat sejenis. Gue selalu lihat dia di perpustakan." Kali ini Rossie ikut berkomentar. "Gue juga sangsi apa dia pernah menginjakkan kakinya di kantin sekolah."
"Rose, he might be nerd but.. at least he was here once or twice." Cla menggelengkan kepalanya tak percaya menatap Rossie. "He needs to eat."
"Cla, bahkan para penjual di kantin pun gak ada yang tau kalau dia salah satu siswa Global Persada. Selama sejarah gue bersekolah disini, gue gak pernah lihat dia berada di kantin. I know it for sure because, gue selalu ke kantin setiap kali istirahat dan setiap ada jam kosong."
"Mungkin karena dia terlalu transparan to get caught by your eyes," balas Cla. "You see, we never pay attention at nerds or geeks."
"Oke, intinya Farish bukan tipe cowok yang suka hang out." Kimmy mulai menengahi perdebatan kecil yang mulai sengit di antara kedua sahabatku yang lainnya.
"Right," anggukku akhirnya. "Farish bukanlah cowok yang suka dengan tempat-tempat semacam itu."
In fact, I'm not really sure what he likes. Why everything about him is so hard to understand?
***