Malam ini Noumi habiskan untuk merilekskan otaknya di diskotik langganannya setelah seharian ia uring iringan dengan dirinya sendiri dan juga Manda. Dentuman suara musik di DJ bsa mengobati sedikit emosinya, di temani dengan gelas berisi minuman alkohol dan sebatang rokok di tangannya.
" udah 4 gelas loe gak usah tambah lagi, mabuk loe bentar lagi." cegah Arya sang bartender di diskotik itu karena sudah lama sekali ia tidak pernah lihat Noumi minum sebanyak itu dan merokok.
" loe kenapa hah." tanyanya
" berisik loe, gue disini bayar. loe kasih lagi gak ?." bentak Naomi
" ha ha ha... steres loe mii usia udah matang masih aja betah melajang." suara khas mengejek Madam Melinda yang sudah duduk di sebelahnya.
" diem loe wanita jadi jadian, melajang itu pilihan gue." Naomi yang sudah terpengaruh oleh alkohol mulai terpancing emosi dan meninggikan octaf suaranya.
" biar gue wanita jadi jadian tapi gue bisa dapet pria brondong yang ganteng, nah loe cantik body bohai bin seksi masih melajang. Loe masih normal kan, secara nih ya yang gue tau, hari hari loe cuma sama si Manda itu. Apa jangan jangan loe..." Mata Naomi menatap Melinda dengan tajam seakan akan ingin memakan Melinda hidup hidup.
Melinda yang terkenal sebagai madam petasan alias kalau ngomong ceplas ceplos tanpa berfikir orang itu tersinggung atau tidak sampai tidak berani melanjutkan kata katanya
" sekali lagi loe keluarin satu kata saja dari mulut loe, gue pastikan ini minuman akan jatuh dari atas kepala loe." ancam Naomi yang sudah mengambil gelas tamu di sebelah kursinya, bahkan Naomi tidak tau siapa tamu di sebelah kursinya.
" singa betina lagi ngamuk gue kabur aja, udah banyak tamu sekarang." Bagi Melinda itu hanya candaan tapi bagi Naomi itu suatu hinaan.
Baru berjalan 2 langkah, tangan Melinda sudah di tarik mundur oleh oleh Naomi, Melinda yang pakai helgs tak bisa menjaga kesinambungannya dan akhirnya jatuh terpentok meja bartender. Udah kepentok ke siram minum berwana biru ke merahan pula.
" udah gue bilang jangan keluarkan satu kata lagi dari mulut loe."
Melinda yang kepalang malu, tak mau kalah dengan Naomi, ia langsung berdiri dan mengambil gelas minuman di sampingnya. Saat Melinda akan menyiramkan minuman itu tiba tiba tubuh Naomi di peluk seseorang dari depan dan minuman itu pun membasahi jas mahal yang di kenakan pria tersebut.
Mata Melinda langsung terkunci oleh pria yang memeluk Naomi, wajahnya pucat pasih. Di tarik tisu meja untuk membersihkan jas pria itu.
" maaf pak, saya tidak sengaja. Maaf pak sekali lagi saya minta maaf." berkali kali Melinda minta maaf tapi mata pria itu bak elang yang mengintai mangsanya. Sedikit memberi kode pada Melinda yang bisa di pahami.
Pria itu melepas pelukannya pada Noumi. Sedikit kesadaran Noumi melihat siapa pria yang memeluknya baru saja. Ia mendongakkan kepalanya, dan...
Plak....
Noumi malah menampar pria itu dengan kuat sampai wajahnya berpaling. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sekali, beberapa jari terukir indah di pipi kirinya.
" terima kasih nona cantik." ucap pria itu tersenyum devil.
Pria yang belakangan ini mengisi otaknya untuk kembali ke masa lalu tiba tiba muncul lagi di depannya bahkan melindunginya dari siraman alkohol.
Naumi meninggalkan tempat itu tanpa rasa bersalah setelah meletakkan beberapa kertas berwarna merah bergambar pak Presiden Soekarno beserta wakilnya di meja bartender.
Sepanjang perjalanan Noumi keluar dari club banyak mata memandang, ada rasa kagum karena kecantikannya ada pula yang memandang ngeri karena kelakuannya.
Ia membuka mobilnya dengan kasar berniat untuk menutupnya kembali, tapi tangan pria itu malah menggendong Noumi keluar dari mobil.
" turunkan atau aku akan teriak." ancam Noumi, pria itu enggan menjawab, dengan wajah datarnya ia memasukan kembali ke kursi samping kemudi.
Pria itu memutari mobil Noumi dan masuk duduk di kursi kemudi, Mobil meninggalkan tempat parkir. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus saja menyaksikan kejadian itu dengan senyum devilnya ia membuang puntung rokoknya.
Dalam mobil Noumi terus memberontak menyuruh pria itu keluar dari mobilnya bahkan Noumi juga tidak tau kemana tujuan pria itu membawanya.
" apa kamu tidak lelah menghindari aku terus Rum." tanya pria itu yang masih fokus ke arah jalan raya
" apa yang loe mau dari gue hah.." bentak Noumi.
" tidak kah kau ingin bicara padaku, masih ada masalah yang belum kamu jelas kan padaku." pria itu menepikan mobil tidak jauh dari tribun pantai.
Pintu mobil di buka, pria itu menyuruh Noumi untuk keluar. Bicara santai di pinggir pantai.
Noumi mencoba menguasai keadaan, ia tidak ingin terbawa emosi dan suasana. Benar apa yang di kata Mak Asih masalah harus di hadapi bukan di hindari karena masalah tidak akan pernah selesai jika hanya berlari dari kenyataan. Kini mereka duduk di kursi bawah pohon kelapa.
Noumi menyandarkan tubuhnya di badan kursi, mengelah nafas dengan kasar. Pria itu masih terus menatap Noumi.
" mau penjelasan apa lagi, semua sudah berlalu dari beberapa tahun yang lalu dan aku tidak ingin mengingatnya lagi. sudah cukup aku terluka saat itu dan sekarang aku sudah bangkit dari masa lalu kenapa kamu kembali datang. kemana kamu saat aku susah dulu." sekuat kuatnya Noumi menahan air matanya agar tidak keluar.
" lihat aku." pintanya
Noumi enggan menatap wajah pria yang pernah mengisi hidupnya dulu ia takut akan lemah jika menatap manik mata itu.
" kamu sudah berubah sekarang Rum. semuanya yang ada di dirimu sudah kamu ruba. Hampir aku tidak mengenali saat itu, tapi hati ku tidak bisa di bohongi. Kamu sudah bukan Arumi ku lagi tapi hati ku tidak bisa di pungkiri. Aku masih mencarimu dan aku masih mencintaimu." jujur pria itu tanpa ke bohongan sama sekali.
Naoumi tertawa sumbang, sungguh konyol terdengar kata kata pria di sampingnya itu.
" lupakanlah, semua sudah berlalu. Jika kamu tidak ingin masuk dalam daftar orang orang yang akan ku balaskan dendamku, sebaiknya kamu menjauhlah." Noumi beranjak dari bangku tangan pria itu langsung menahannya.
Pria itu langsung memeluk Noumi dari belakang, Noumi dengan kasar melepaskan pelukan itu. Bukan terlepas malah pria itu dengan kasar mencium bibir Noumi. Dari jauh Bayu yang terus mengikuti mereka merasa terbakar panas di dalam dadanya. Entah itu perasaan apa, cemburu atau hanya sekedar kalah saing dengan pria yang tidak ia ketahui siapa.
Pohon kelapa yang tidak tau menahu menjadi sasarannya. Sudah di pukul di tendang pula, namun Tuhan maha adil bukan pohonnya yang mengeluh sakit tapi tangan dan kakinya. Ia berjanji dalam hatinya, akan mencari tau siapa yang berani mendahuluinya untuk merebut hati Noumi.
" sial gue." desisnya menendang udara meninggalkan pantai.
Noumi gelapan saat ciuman itu tak kunjung di lepaskan, pria itu tau kalau Noumi sedang kesulitan mengatur nafasnya saat ini. Ia melepaskan ciumannya, dan...
Plak...
Plak...
Dua kali Naomi menampar pria itu, ia mengusap pipinya yang panas akibat tangan cantik Noumi.
" aku akan berusaha mendapatkanmu kembali Rum." teriak pria itu yang tak di hiraukan Noumi terus saja berjalan ke tempat parkir mobilnya.
=======
Rapat antara PT Manohari dan HNS Grup Tbk sedang berlangsung. Noumi jenuh rasanya, sebagian besar desain Manda yang menjelaskanya. Ia masih mengingat kejadian semalam, sedangkan Bayu sedari tadi juga tidak fokus pada presentasi Manda, ia hanya fokus pada Noumi yang sedang memandang kosong layar leptopnya.
Bagi Bayu ini adalah kontrak kerja yang kecil hanya saja ia perjuangkan demi mendapatkan simpati Noumi. Ia sendiri juga jengah melihat Noumi dengan keadaan seperti itu, ia malah terbakar sendiri mengingat kejadian semalam.
Saat rapat tegang tegangnya, Bayu malah membanting map di mejanya. Semua mata tertuju padanya bahkan Noumi juga meninggalkan lamunannya karena kaget dengan tindakan Bayu.
" apa ini yang di sebut meeting penting, sedangkan partner yang akan saya ajak kerja sama malah tidak fokus pada meeting kali ini. Yang menangani project ini Bu Noumi atau asistennya. Lebih baik di tunda dulu sampai pemilik perusahaan ini bisa lebih fokus karena dana yang saya keluarkan bukan sedikit jika hanya di buat main main." Bayu membenarkan letak dasinya kemudian meninggalkan ruang meeting.
Suara pelan namun bersahut sahutan memenuhi ruang meeting, hanya Noumi lah yang di salahkan di sana karena itu adalah ulahnya yang tidak fokus seakan akan meremehkan kontrak besar seperti ini.
Kemarin Bayu menambahkan lagi dana yang ia keluarkan untuk perusahaan Noumi, bahkan ini lebih besar dari dana yang di keluarkan oleh perusahan dari Paris sebulan yang lalu.
Noumi meminta maafkan pada para klien dan pemegang saham lainnya atas kejadian baru saja yang ia lakukan hingga Bayu Ahmad Rosyid marah. Sebagian besar dari mereka meminta Noumi meminta maaf secara pribadi pada Bayu. Ingin menolak pun Noumi tidak bisa, dengan dukungan dari Manda akhirnya Noumi menyetujui permintaan dari mereka.
Mungkin itulah cara Bayu untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, atau memang ia sedang marah beneran. Entahlah hanya Bayu sendiri yang tau.
Kini Bayu telah kembali di kantornya, duduk santai sambil menikmati pemandangan kendaraan berlalu lalang di bawah sana. Tidak ketinggalan pula segelas win ia mainkan di dalam gelasnya yang sengaja ia putar putar sebelum ia minum.
Pintu ruangannya terbuka, ia meletakkan gelasnya di atas meja. Postur tubuhnya berbalik melihat siapa dia yang baru datang ke ruangannya.
" apa ini usahamu untuk mendapatkan Noumi Bay.." Bu Indah yang sudah melipat kedua tangannya di d**a. Ia menggeleng melihat anaknya yang bisa bisanya minum di lingkungan kantor saat jam kerja.
Bayu berjalan mendekati ibunya dan memeluk ibunya dari belakang. " ibu tenang saja, usaha Bayu akan membuahkan hasil Bu." ucapnya tenang penuh arti.