" Amora, masihkah aku punya kesempatan untuk menepati janjiku?" Tanya Alex namun tetap fokus pada setirnya.
"Alex,sebaiknya kau mengetahui dulu siapa aku yang sekarang. Kau harus mengetahui semua yang terjadi padaku dan apa yang kulakukan selama kita tak bertemu bertahun-tahun ini. Setelah kau tahu pikirkanlah kembali apakah kau masih butuh kesempatan dariku atau tidak." Jawab Amora yang tak dimengerti oleh Alex.
"Amora....aku tak peduli dengan masa lalumu, aku ingin mengajakmu hidup di masa kini dan masa depan." Ucap alex namun tetap ditolak oleh Amora.
"Tidak! Tidak Alex!!! Kau harus tau semua tentang diriku bertahun-tahun ini!!!" Bentak Amora kesal.
"Baiklah...baiklah...Amora, aku akan mencari tahu tentang kau saat ini, katakan dari siapa aku bisa mengetahuinya? Kenapa tidak kau langsung saja yang mengatakannya padaku sekarang?!" Ucap Alex.
"Tidak, aku tak sanggup menceritakan hidupku yang gelap padamu langsung saat ini, aku belum siap Alex.." Sahut Amora menahan air mata yang sudah mulai menumpuk di matanya dan akan mengalir ke pipinya.
"Kita sudah sampai Amora....kita makan disini saja ya?" Tanya Alex lalu Amora melihat keluar jendela.
"Bakso pak Man?! Kau yakin???" Seru Amora tak percaya kalau Alex membawanya ke bakso kesukaan Amora saat SMA dulu.
Sudah lama sekali Amora tak mendatangi daerah perumahan ini, tempat tinggalnya yang dulu mewah saat ayahnya masih berjaya. Ayah Amora meninggal saat di dalam penjara. Ayahnya divonis 12th penjara karena kasus korupsi proyek pembangunan jalan tol, dan saat tahun ke-5 di dalam penjara ayahnya meninggal karena TBC.
Alex sudah mengetahui berita ayah Amora dari pemberitaan media.
"Ayo turun Amora...jangan diam saja disitu.." ucap Alex dan Amora terkejut karena Alex sudah duduk di kursi di dalam tenda kaki lima bakso Pak Man. Amora pun turun dari mobil dan langsung memesan lalu duduk disebelah Alex.
"Alex...kau tak melanggar pantangan dietmu?" Tanya Amora mengingatkan.
"Tak masalah....lagipula sepertinya sekarang aku ingin berubah jadi gembul lagi." Sahut Alex sambil tertawa, amora juga ikut tertawa.
Makan bersama, penuh cerita dan canda tawa, persis seperti dulu...
Amora menyadari Alex belum berubah,masih gembul yang dulu. Namun Amora lah yang sudah berubah kini..., Mungkinkah mereka masih bisa kembali seperti dulu lagi??? Pikiran Amora melayang ke masa lalu.
"Amora...??? Whoeiii!!! Amora...???" Panggil Alex menyadarkan Amora dari lamunannya.
"Eh maaf Alex...apa?" Tanya Amora linglung.
"Kau melamun apa? Kau sedang ada masalah berat??? Seperti pikiranmu berkelana ke tempat yang jauh." Ucap Alex khawatir.
"Katakan Amora, apa yang mengganggu pikiranmu saat ini? Siapa tahu aku bisa membantu.." ucap Alex lagi benar-benar khawatir.
"eh..ehm gak ada apa-apa Alex, aku baik-baik saja." Jawab amora menutupi.
"Kau tak akan pernah bisa berbohong padaku Amora..." Ucap Alex dan Amora hanya tersenyum.
" Aku Minggu depan mulai syuting bersama luke, dan kau tau pasangan mainku di film itu? Matthew Jasona! Actor yang masih naik daun dan digandrungi gadis-gadis ABG!! Aku jadi merasa sedikit minder." Celoteh Amora sengaja menutupi pikirannya dihadapan Alex.
Alex sebenarnya mengetahui Amora hanya mengalihkan pembicaraan, namun dia tak mau memaksa Amora untuk jujur, jadi Alex ikut tersenyum menanggapi cerita Amora.
"Oops...Alex sudah sore aja nih...kau nggak perlu balik ke kantor ya? Aku ada pemotretan nih jam 7 di studio Harvier, kita pulang yuukkk aku harus bersiap-siap." Ajak Amora dan beranjak untuk membayar bakso mereka.
"Eits..tunggu biar aku yang traktir. Aku boleh ikut kau saat pemotretan nanti?" Tanya Alex dan seketika Amora terkejut setengah mati. Alex tak boleh mengetahui pemotretan seperti apa yang akan dilakukan Amora. Pemotretan untuk majalah pria dewasa.
"hmm...lain kali aja deh ikutnya, soalnya ini modelnya banyak banget jadi akan selesai tengah malam." Ucap Amora menolak dengan halus.
"Tak apa Amora, aku hanya akan duduk diam menunggumu. Aku juga biasa tidur tengah malam. Tenang saja ya...aku ikut ya..boleh kan?" Alex memohon untuk tetep menemani Amora pemotretan.
Amora sedikit berpikir lalu mengangguk. Amora pasrah, bukankah Amora sendiri yang ingin Alex mengetahui amora sekarang seperti apa.
****
Alex terus menatap tajam ke arah Amora, tangannya mengepal keras disamping, rahangnya terlihat mengeras menahan emosi amarah yang meningkat. Namun Alex terus menahannya, dia sudah berjanji untuk duduk diam selama Amora pemotretan.
"Gila!!! Pemotretan apa yang Amora lakukan ini?!" Hanya dengan bikini two pieces, bahkan kadang dengan bra yang hampir terlepas hanya ditahan oleh tangan saja dibagian depan, bahkan dengan celana dalam yang sedikit diturunkan dari tempatnya. Sial!!! Pekerjaan apa yang Amora lakukan ini?!!!" Gerutu emosi dalam batin Alex melihat Amora memamerkan molek tubuhnya di depan fotografer.
"Oke Amora, good job tonight... Do you want to see your pictures before you go?" Tanya sang fotografer yang seorang bule.
"No Martin, I've trusted to your senses." Sahut Amora langsung ke ruang ganti dan keluar dengan pakaian normal lagi.
"Bye Martin, see you later..thank you for tonight." Ucap Amora sambil mengecup pipi Martin sang fotografer lalu berjalan ke arah Alex duduk.
"Yuukkk aku sudah selesai...kau pasti sangat bosan duduk disini berjam-jam kan." Ucap Amora santai, namun wajah Alex berubah total penuh amarah dan disadari oleh Amora.
Amora tak mampu berbuat apapun, dia sudah pasrah apapun keputusan Alex saat dia sudah mengetahui kebenaran amora sekarang.
Hening selama di perjalanan pulang.
Amora merasa canggung dengan keheningan di dalam mobil ini. Alex masih menampakkan amarah di wajahnya.
"Alex....kau marah? Kau benci padaku?" Tanya Amora tak tahan dengan keheningan diantara mereka.
Ciiiitt...
mobil berhenti mendadak dipinggir.
"Amora, aku tak membencimu, aku marah iya, tapi aku tak membencimu. Katakan padaku mengapa kau mau difoto seperti itu? Kemana Amora yang dulu takut akan hukuman Tuhan?" Cecar Alex mengubah posisi duduknya menghadap ke samping ke arah Amora dan menatapnya tajam menantikan jawaban Amora.
"Alex, itu tadi belum seberapa dari pekerjaanku yang lainnya. Marthin itu gay, jadi aku nyaman di foto olehnya dalam busana apapun." Sahut Amora tetap dengan tenang.
"BELUM SEBERAPA???!!! APA MAKSUDMU??!! KATAKAN!!! APA PEKERJAANMU SELAIN INI?!!!" teriak Alex tak mampu lagi menahan emosinya, membuat Amora terkejut mulai ketakutan.
"Aku menjual tubuhku alex, demi kesuksesan karierku melesat cepat. Supaya aku cepat menambah saldo di rekeningku." Jawab amora sambil menunduk menangis. Emosi Alex semakin labil. Alex ingin memeluk gadisnya namun hatinya semakin penuh emosi mendengar penjelasan Amora barusan.
"SIAAALLL..!!!!! SIAL!!!SIAL!!!SIAL!!!!" teriak Alex memukul setir mobilnya berkali-kali.
"Apa yang terjadi padamu Amora?! Kenapa kau tak menghubungi aku?! Kau punya emailku!!! kau punya semua akun sosmed ku!!! kenapa kau tak mencariku?! Kenapa kau mengambil jalan hidup ini?!!!" Marah Alex meluap semakin membuat Amora menangis ketakutan bercampur kesedihan dan kekecewaan.
"Aku mau pulang Alex...maafkan aku..." Ucap Amora dalam isak tangisnya.
Alex menuruti permintaan Amora, langsung menyalakan mesin mobilnya dan mengantarnya pulang ke apartemen Amora.
Alex tidak turun dari mobil, hanya Amora yang langsung turun setelah mengucapkan terima kasih lalu berlari sambil terus menangis.
Alex langsung melaju pergi meninggalkan Amora yang berlari memasuki lobby apartemen.
Alex tak siap dengan kenyataan pahit yang Amora ungkapkan padanya. Alex kecewa, kecewa pada dirinya sendiri yang terlambat menjemput amora. Alex menyesali dirinya yang bertahun-tahun ini hanya memikirkan bisnisnya tanpa peduli gadis tujuan hidupnya telah jatuh dalam gelapnya dunia.
Alex tak kecewa pada Amora, Alex menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi di hidup Amora. Alex merasa terlambat datang untuk menjemput amora.
Ciiiitt!!!! Aaaacchhhh!!!!!
BRAAAKKK!!!! Mobil Alex kecelakaan karambol dalam kecepatan tinggi tak terkendalikan.