bc

Tabir Cinta Suci

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
goodgirl
stepfather
blue collar
bxg
lighthearted
highschool
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Mengisahkan 2 Insan yang jatuh cinta tapi terhalang Keluarga si kaya dan si miskin walaupun banyak rintangan 2 insan ini tetap memperjuangkan, akan kah berakhir bahagia?

chap-preview
Free preview
Bab 1
Bisingnya jalanan pagi menemani langkah anggun dari kaki jenjang berbalut sepatu warna hitam tanpa tali. Tubuhnya berlenggok gemulai, melewati gerbang sekolah. Tas berwarna merah muda disandangnya, rok berwarna abu-abu di bawah lutut membalut pinggangnya yang ramping. Semerbak harum sampo beraroma vanila tercium ketika rambut panjang berkilau itu tertiup angin. Bibir merah muda yang selalu berkilau dan terlihat lembut itu menyunggingkan senyuman ramah. Semua orang yang ditemuinya pasti akan disapa dengan ramah. "Gaziya!" Beberapa anak laki-laki dengan lantang meneriakkan nama model cantik itu dan seketika si pemilik nama langsung menoleh membuat rambut indahnya berkibar kemudian tersenyum membalas sapaan mereka. Sementara anak perempuan akan berdecih kesal karena merasa tersaingi. "Mulai lagi tuh, cewek murahan tebar pesona." Bukan hanya sekali dua kali Zia mendengar kalimat sindiran seperti itu. Tapi apa daya, baginya keramahan memang sudah mendarah daging. Bukan sesuatu hal yang sengaja dibuat-buat hanya untuk menarik perhatian lawan jenis. Zia tidak akan bisa untuk tidak menyapa atau mengajak bicara orang di sekelilingnya. Sejak kecil, dirinya sudah berkecimpung di dunia yang mengharuskannya bekerjasama dengan banyak orang. Bertemu orang-orang baru, tersenyum di depan kamera, berlenggok di atas catwalk, semua itu membentuk pribadinya menjadi sosok yang ramah, ceria, dan mudah bergaul dengan siapapun. "Kasian amat sih, udah jelek, pendek, bisanya julid doang" sindir seseorang yang tiba-tiba menggandeng tangan Zia. Anak perempuan yang berdecih tadi seketika menatap dua sahabat Zia yang mucul dari arah pintu gerbang. "Apa lu? Belum pernah kena colok sapu lidi?" tanya Ayesha sambil mengacungkan sapu yang dibawanya. Zia menenangkan teman-temannya, dia sangat bersyukur memiliki empat sahabat yang selalu membela dan membantunya setiap saat. "Udah dong, udah," kata Zia sambil merangkul dua remaja yang setinggi telinganya itu. "Ayesa, kamu ngapain sih bawa-bawa sapu lidi?" tanya Nabila yang baru muncul ketika Zia menarik dua sahabatnya menjauh dari anak yang menyindirnya tadi. "Ini buat praktikum. Kalian inget kan?" "Lah, tapi kan cuma disuruh bawa lima biji doang." "Iya sih. Karena aku baik hati, makanya aku bawa banyak, soalnya nanti kalau ada yang kelupaan bawa kan bisa minta aku." Ayesha terlihat bangga dengan ide cemerlangnya dan keempat salhabatnya terbahak melihat tingkah penuh kepedean Ayesha. Mereka berjalan ke kelas sambil terus mengobrol sampai tak sengaja Gaziya menabrak seorang anak laki-laki yang muncul dari perpotongan lorong yang menghubungkan koridor sekolah dengan gang sebelah parkiran. Tangan anak laki-laki itu meraih tubuh Zia yang terhuyung karena bertubrukan dengannya. "Ma-maaf Mas," kata Zia terbata. Zia mendongak menatap anak laki-laki yang lebih tinggi darinya. Dari badge nama yang berwarna biru, Zia tahu jika anak laki-laki itu murid kelas tiga. "Lain kali hati-hati." "-iya, maaf ya." Ayesha, Nabila, Tsabita dan Aliya tertegun melihat kejadian itu. “Aduh, ketua rohis pagi-pagi udah dapet rejeki nomplok bisa meluk model tercantik se-Solo raya." Candaan siswa yang tadi berjalan di belakang laki-laki yang ditabrak Zia membuat tangan yang masih memegang lengan Zia itu terlepas dan segera menjauh dari adik kelasnya. "Kak Ryo lemes amat mulutnya, kayak ibu-ibu komplek lagi ghibah," sahut Tsabita. Nabila, Ayesha dan Aliya mendelik menatap Tsabita. Ryo Junian Mahendra adalah mantan ketua Osis yang baru lengser minggu lalu karena masa iabatannya telah berakhir. Tercatat sebagai salah satu senior yang ditakuti di SMA 10 ini, sedang Tsabita dengan santainya mengatai jika mulut Ryo lemes. "Kamu bilang apa?" tanya Ryo dengan tatapan mengintimidasi. Tsabita menelan ludah dengan susah payah setelah menyadari kesalahannya. "Ngapain marah? Memang mulutmu lemes kan? Dia nggak salah. Ayo cabut," kata Hafidz sambil mengajak temannya pergi. Ryo masih tidak terima, namun Hafidz menyeretnya pergi. "Bita, kamu ini kalau ngomong disaring dulu dong. Malah cari gara-gara sama orang judes kayak gitu," ujar Nabila. Tsabita menyadari kesalahannya namun semua sudah terlanjur. Kejadian pagi itu membuat suasana hati rekan sebangku Zia jadi tidak baik. "Udah jangan dipikirin, tinggal minta maaf aja. Nanti aku bantuin ngomong deh." "Bener?" tanya Tsabita, Zia mengangguk, kemudian kembali fokus pada pelajaran yang tengah disampaikan pak Dibyo di depan kelas. Bagi Zia, bisa bersekolah seperti ini rasanya menyenangkan, karena sejak SD dia sering membolos akibat jadwal kerjanya yang kadang berbenturan dengan jadwal sekolah. Beruntung, Zia mempunyai teman-teman yang baik dan selalu membantunya mencatat materi sehingga dapat mengejar ketertinggalannya di kelas. Sengatan matahari di luar sana mulai merasuk ke dalam kelas. Jendela kelas sudah dibuka namun tetap saja, posisi kelasnya yang berada di sayap timur membuat sinar matahari langsung masuk ke dalam kelas yang semakin siang semakin membakar. Nabila menendang kursi Zia dan menunjuk ke laci sahabatnya yang penuh makanan itu. "s**u dong, haus," bisik Nabila sambil memajukan tubuhnya. Tanpa bicara Zia mengambilkan sekotak s**u dan memberikannya secara diam-diam pada Nabila yang duduk di belakangnya. Setiap pagi, Zia selalu menemukan seplastik makanan di mejanya, entah dari siapa. Sejak dulu memang banyak yang diam-diam memberinya hadiah. Beberapa malah terang-terangan menyatakan rasa suka padanya, tapi Zia tidak tertarik untuk memiliki hubungan spesial dengan lawan jenis. Baginya, karier yang dirintis sejak kecil adalah hal utama yang menjadi fokus hidupnya. Dia adalah tulang punggung keluarga, pasca sang ayah diberhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja akibat kecelakaan yang membuat tangan sang ayah harus diamputasi. Kala itu Zia baru berumur lima tahun dan dipaksa sang ibu mengikuti kompetisi model anak. Berawal dari sebuah keterpaksaan, perlahan modeling berubah menjadi sebuah profesi yang sangat Zia cintai. "Tabir, dalam KBBI artinya tirai penyekat atau penutup dinding. Bisa juga berarti penyekat yang memisahkan ruang kaum wanita dan pria." "Kalau tabir surya, kok buat dandan ibu saya Pak," seloroh Ibnu yang duduk di samping Ayesha. Sontak seluruh siswa kelas XI.Sosial2 tertawa. Pak Dibyo, guru senior yang sebentar lagi akan pensiun itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. *Ya, kalau sudah disambung dengan kata lain, menjadi frasa baru bisa memunculkan makna baru. Macam tabir surya, tabir besi, apalagi ya? Gaziya, kamu tahu contoh lain?" Zia yang sedang asik memainkan ujung iilbab Tsabita terkejut. "Tabir... cinta?" "Aaaaa!!! Ziaaaaaa!!! Main cinta-cintaan!" teriak Ayesha. Wajah Gaziya memerah karena malu. "Tabir cinta? Apa memangnya tabir cinta?" tanya Pak Dibyo sembari tersenyum. "Batas, penyekat perasaan antara seorang laki-laki dan perempuan?" "Kenapa harus disekat?" "Kalau tidak disekat, bisa berbahaya Pak. Utamanya yang bukan mahram." "Zia mau aku halalin nggak?" celetuk salah satu temannya dan langsung disambut dengan sorakan teman yang lain. Zia hanya tersenyum. “Ngarep aja lu," sahut Tsabita membela temannya. Bel berbunyi, menandai selesainya pelajaran siang itu. Beberapa anak berlari ke kantin, sebagian yang lain mengeluarkan bekal makan siang yang dibawa dari rumah, sisanya pergi ke tukang penjaja makanan di luar pagar sekolah. "Sholat dulu yuk?" ajak Zia pada Tsabita. Tsabita mnengangguk dan mengeluarkan mukenanya dari tas. "Kami bertiga libur," kata Ayesha. Nabila dan Aliya hanya nyengir kuda sambil membuka bekal mereka. Dua siswi itu segera pergi ke masjid sekolah untuk menunaikan kewajiban mereka. Suasana masjid siang itu sepi, hanya beberapa orang pengurus rohis saja yang terlihat tengah berbincang. Di usia-usia remaja, banyak orang sering lupa pada kewajibannya sebagai seorang hamba. Tipuan dunia fana memikat mereka erat hingga terlepas dari ikatan agama. Mata mereka tertutup buaian logika tak berbalut agama, hingga jalur neraka serasa surga dan jalan ke surga terasa bak neraka. Selepas menangkupkan kedua tangan dalam khusyuknya rajut pinta pada Sang Khalik, dua siswi itu segera merapikan mukena mereka dan kembali ke kelas secepatnya untuk mengisi perut mereka. Sepuluh menit waktu istirahat kedua tersisa. Tsabita sudah lebih dulu selesai memakai sepatu dan menuruni tangga masjid ke arah pelataran. "Cepetan Zi, keburu masuk." Wajah sumringah Tsabita seketika berubah saat melihat sosok yang sedang menatap ke arahnya kini. Kurva melengkung ke atas yang digarisnya tadi, kini berubah mendatar dan membuatnya mengambil langkah cepat. "Ta, tungguin." "Gaziya!" panggil sosok yang dihindari Tsabita tadi. Tubuh semampai itu memutar arah kembali ke arah teras masjid. "Ya, Kak?" Langkah tegap siswa itu memperpendek jarak antara keduanya. "Pinjem buku geografi dong, sama ekonomi." "Buku diktat? Apa catatan?" "Dua-duanya boleh." "Oh, Tsabita yang rajin nyatet Kak, pinjem dia saja." Si empunya nama menarik lengan Zia agar cepat pergi dari sana. "Ayo cepetan, kalau nggak aku tinggal loh," bisik Tsabita. Zia malah gantian menarik tangan Bita agar berdiri di antara dia dan Ryo. "Ngapain sih?" "Kakak mau pinjem buku, Dek. Geografi dan ekonomi." "Ta-tapi Kak Ryo anak IPA kan?" "Kalau nggak boleh ya udah," sahut Ryo ketus. Zia menyenggol Tsabita, sedang Ryo berbalik arah kembali ke pelataran masjid tapi Bita menarik bagian belakang jaket kakak kelasnya itu. "Oke, iya, nanti aku siapin dulu. Ta-tapi . tapi Kak Ryo mau maafin aku kan, soal tadi pagi?" Ryo membalik tubuhnya, Tsabita melepaskan tangannya dari jaket yang dikenakan siswa itu. "Dengan satu syarat." Bita memberanikan diri untuk menatap sang kakak kelas. "Apa?" "Ajari aku pelajaran ekonomi." Zia terkikik geli melihat interaksi kedua orang di depannya itu. Tsabita baru membuka mulut untuk menolak dan sahabatnya sudah mendahuluinya. "Pas banget Kak, Bita kan pinter ekonomi." "Ryo, sini bentar!" teriakan terdengar. Si empunya nama segera menjawab dan mengakhiri percakapannya dengan dua adik kelasnya. "Nomer kamu?" tanya Ryo sebelum pergi. Gaziya dengan senang hati menyebutkan nomer Tsabita, membuat siswi berhijab itu sedikit kesal. "Ta, kamu kok malah ngasih nomerku ke dia sih." "Nggak apa-apa, yang penting kan dia maafin kamu." Gaziya mengajak sahabatnya kembali ke kelas dan menikmati bekal makan siang mereka. "Zia, kamu harus tanggung jawab," bisik Tsabita sambil memperlihatkan ponselnya. Zia melirik ke arah ponsel berwarna pink itu sebelum tersenyum pada sahabatnya. Di salah satu sudut, seseorang tengah menatap penuh puja pada si pemilik kurva lengkung berhias dua lesung dalam nan manis yang tergambar simetris di wajah ayu sang model. "Zi, aku sekarang percaya jika bidadari itu nyata, " batin siswa yang tengah merapal untaian puja atas sosok cantik Gaziya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.1K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
18.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.3K
bc

TERNODA

read
203.2K
bc

Kali kedua

read
222.6K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook