Bab 1
Bisingnya jalanan pagi menemani langkah
anggun dari kaki jenjang berbalut sepatu
warna hitam tanpa tali. Tubuhnya
berlenggok gemulai, melewati gerbang
sekolah. Tas berwarna merah muda
disandangnya, rok berwarna abu-abu
di bawah lutut membalut pinggangnya
yang ramping. Semerbak harum sampo
beraroma vanila tercium ketika rambut
panjang berkilau itu tertiup angin. Bibir
merah muda yang selalu berkilau dan
terlihat lembut itu menyunggingkan
senyuman ramah. Semua orang yang
ditemuinya pasti akan disapa dengan
ramah.
"Gaziya!"
Beberapa anak laki-laki dengan lantang
meneriakkan nama model cantik itu
dan seketika si pemilik nama langsung
menoleh membuat rambut indahnya
berkibar kemudian tersenyum membalas
sapaan mereka. Sementara anak
perempuan akan berdecih kesal karena
merasa tersaingi.
"Mulai lagi tuh, cewek murahan tebar
pesona."
Bukan hanya sekali dua kali Zia
mendengar kalimat sindiran seperti itu. Tapi apa daya, baginya keramahan
memang sudah mendarah daging. Bukan
sesuatu hal yang sengaja dibuat-buat
hanya untuk menarik perhatian lawan
jenis.
Zia tidak akan bisa untuk tidak
menyapa atau mengajak bicara orang
di sekelilingnya. Sejak kecil, dirinya
sudah berkecimpung di dunia yang
mengharuskannya bekerjasama dengan
banyak orang. Bertemu orang-orang baru,
tersenyum di depan kamera, berlenggok
di atas catwalk, semua itu membentuk
pribadinya menjadi sosok yang ramah,
ceria, dan mudah bergaul dengan
siapapun.
"Kasian amat sih, udah jelek, pendek,
bisanya julid doang" sindir seseorang
yang tiba-tiba menggandeng tangan Zia.
Anak perempuan yang berdecih tadi
seketika menatap dua sahabat Zia yang
mucul dari arah pintu gerbang.
"Apa lu? Belum pernah kena colok sapu
lidi?" tanya Ayesha sambil mengacungkan
sapu yang dibawanya.
Zia menenangkan teman-temannya, dia
sangat bersyukur memiliki empat sahabat
yang selalu membela dan membantunya setiap saat.
"Udah dong, udah," kata Zia sambil
merangkul dua remaja yang setinggi
telinganya itu.
"Ayesa, kamu ngapain sih bawa-bawa
sapu lidi?" tanya Nabila yang baru muncul
ketika Zia menarik dua sahabatnya
menjauh dari anak yang menyindirnya
tadi.
"Ini buat praktikum. Kalian inget kan?"
"Lah, tapi kan cuma disuruh bawa lima
biji doang."
"Iya sih. Karena aku baik hati, makanya
aku bawa banyak, soalnya nanti kalau ada
yang kelupaan bawa kan bisa minta aku."
Ayesha terlihat bangga dengan ide
cemerlangnya dan keempat salhabatnya
terbahak melihat tingkah penuh kepedean
Ayesha. Mereka berjalan ke kelas sambil
terus mengobrol sampai tak sengaja
Gaziya menabrak seorang anak laki-laki
yang muncul dari perpotongan lorong
yang menghubungkan koridor sekolah
dengan gang sebelah parkiran. Tangan
anak laki-laki itu meraih tubuh Zia
yang terhuyung karena bertubrukan
dengannya. "Ma-maaf Mas," kata Zia terbata.
Zia mendongak menatap anak laki-laki
yang lebih tinggi darinya. Dari badge
nama yang berwarna biru, Zia tahu jika
anak laki-laki itu murid kelas tiga.
"Lain kali hati-hati."
"-iya, maaf ya."
Ayesha, Nabila, Tsabita dan Aliya tertegun
melihat kejadian itu.
“Aduh, ketua rohis pagi-pagi udah
dapet rejeki nomplok bisa meluk model
tercantik se-Solo raya."
Candaan siswa yang tadi berjalan di
belakang laki-laki yang ditabrak Zia
membuat tangan yang masih memegang
lengan Zia itu terlepas dan segera
menjauh dari adik kelasnya.
"Kak Ryo lemes amat mulutnya, kayak
ibu-ibu komplek lagi ghibah," sahut
Tsabita.
Nabila, Ayesha dan Aliya mendelik
menatap Tsabita. Ryo Junian Mahendra
adalah mantan ketua Osis yang baru
lengser minggu lalu karena masa
iabatannya telah berakhir. Tercatat sebagai salah satu senior yang ditakuti
di SMA 10 ini, sedang Tsabita dengan
santainya mengatai jika mulut Ryo lemes.
"Kamu bilang apa?" tanya Ryo dengan
tatapan mengintimidasi.
Tsabita menelan ludah dengan susah
payah setelah menyadari kesalahannya.
"Ngapain marah? Memang mulutmu
lemes kan? Dia nggak salah. Ayo cabut,"
kata Hafidz sambil mengajak temannya
pergi.
Ryo masih tidak terima, namun Hafidz
menyeretnya pergi.
"Bita, kamu ini kalau ngomong disaring
dulu dong. Malah cari gara-gara sama
orang judes kayak gitu," ujar Nabila.
Tsabita menyadari kesalahannya namun
semua sudah terlanjur. Kejadian pagi itu
membuat suasana hati rekan sebangku
Zia jadi tidak baik.
"Udah jangan dipikirin, tinggal minta
maaf aja. Nanti aku bantuin ngomong
deh."
"Bener?" tanya Tsabita, Zia mengangguk, kemudian kembali fokus
pada pelajaran yang tengah disampaikan
pak Dibyo di depan kelas. Bagi Zia,
bisa bersekolah seperti ini rasanya
menyenangkan, karena sejak SD dia
sering membolos akibat jadwal kerjanya
yang kadang berbenturan dengan jadwal
sekolah. Beruntung, Zia mempunyai
teman-teman yang baik dan selalu
membantunya mencatat materi sehingga
dapat mengejar ketertinggalannya di
kelas.
Sengatan matahari di luar sana mulai
merasuk ke dalam kelas. Jendela kelas
sudah dibuka namun tetap saja, posisi
kelasnya yang berada di sayap timur
membuat sinar matahari langsung masuk
ke dalam kelas yang semakin siang
semakin membakar. Nabila menendang
kursi Zia dan menunjuk ke laci
sahabatnya yang penuh makanan itu.
"s**u dong, haus," bisik Nabila sambil
memajukan tubuhnya.
Tanpa bicara Zia mengambilkan
sekotak s**u dan memberikannya
secara diam-diam pada Nabila yang
duduk di belakangnya. Setiap pagi, Zia
selalu menemukan seplastik makanan
di mejanya, entah dari siapa. Sejak dulu memang banyak yang diam-diam
memberinya hadiah. Beberapa malah
terang-terangan menyatakan rasa suka
padanya, tapi Zia tidak tertarik untuk
memiliki hubungan spesial dengan lawan
jenis. Baginya, karier yang dirintis sejak
kecil adalah hal utama yang menjadi fokus
hidupnya.
Dia adalah tulang punggung keluarga,
pasca sang ayah diberhentikan dari
perusahaan tempatnya bekerja akibat
kecelakaan yang membuat tangan sang
ayah harus diamputasi. Kala itu Zia baru
berumur lima tahun dan dipaksa sang ibu
mengikuti kompetisi model anak. Berawal
dari sebuah keterpaksaan, perlahan
modeling berubah menjadi sebuah profesi
yang sangat Zia cintai.
"Tabir, dalam KBBI artinya tirai penyekat
atau penutup dinding. Bisa juga berarti
penyekat yang memisahkan ruang kaum
wanita dan pria."
"Kalau tabir surya, kok buat dandan ibu
saya Pak," seloroh Ibnu yang duduk di
samping Ayesha.
Sontak seluruh siswa kelas XI.Sosial2
tertawa. Pak Dibyo, guru senior yang
sebentar lagi akan pensiun itu hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya. *Ya, kalau sudah disambung dengan
kata lain, menjadi frasa baru bisa
memunculkan makna baru. Macam tabir
surya, tabir besi, apalagi ya? Gaziya, kamu
tahu contoh lain?"
Zia yang sedang asik memainkan ujung
iilbab Tsabita terkejut.
"Tabir... cinta?"
"Aaaaa!!! Ziaaaaaa!!! Main cinta-cintaan!"
teriak Ayesha.
Wajah Gaziya memerah karena malu.
"Tabir cinta? Apa memangnya tabir
cinta?" tanya Pak Dibyo sembari
tersenyum.
"Batas, penyekat perasaan antara seorang
laki-laki dan perempuan?"
"Kenapa harus disekat?"
"Kalau tidak disekat, bisa berbahaya Pak.
Utamanya yang bukan mahram."
"Zia mau aku halalin nggak?" celetuk
salah satu temannya dan langsung
disambut dengan sorakan teman yang
lain. Zia hanya tersenyum. “Ngarep aja lu,"
sahut Tsabita membela temannya.
Bel berbunyi, menandai selesainya
pelajaran siang itu. Beberapa anak
berlari ke kantin, sebagian yang lain
mengeluarkan bekal makan siang yang
dibawa dari rumah, sisanya pergi ke
tukang penjaja makanan di luar pagar
sekolah.
"Sholat dulu yuk?" ajak Zia pada Tsabita.
Tsabita mnengangguk dan mengeluarkan
mukenanya dari tas.
"Kami bertiga libur," kata Ayesha. Nabila
dan Aliya hanya nyengir kuda sambil
membuka bekal mereka.
Dua siswi itu segera pergi ke masjid
sekolah untuk menunaikan kewajiban
mereka. Suasana masjid siang itu sepi,
hanya beberapa orang pengurus rohis
saja yang terlihat tengah berbincang. Di
usia-usia remaja, banyak orang sering
lupa pada kewajibannya sebagai seorang
hamba. Tipuan dunia fana memikat
mereka erat hingga terlepas dari ikatan
agama. Mata mereka tertutup buaian
logika tak berbalut agama, hingga jalur
neraka serasa surga dan jalan ke surga
terasa bak neraka. Selepas menangkupkan kedua tangan
dalam khusyuknya rajut pinta pada Sang
Khalik, dua siswi itu segera merapikan
mukena mereka dan kembali ke kelas
secepatnya untuk mengisi perut mereka.
Sepuluh menit waktu istirahat kedua
tersisa. Tsabita sudah lebih dulu selesai
memakai sepatu dan menuruni tangga
masjid ke arah pelataran.
"Cepetan Zi, keburu masuk."
Wajah sumringah Tsabita seketika
berubah saat melihat sosok yang
sedang menatap ke arahnya kini. Kurva
melengkung ke atas yang digarisnya tadi,
kini berubah mendatar dan membuatnya
mengambil langkah cepat.
"Ta, tungguin."
"Gaziya!" panggil sosok yang dihindari
Tsabita tadi.
Tubuh semampai itu memutar arah
kembali ke arah teras masjid. "Ya, Kak?"
Langkah tegap siswa itu memperpendek
jarak antara keduanya.
"Pinjem buku geografi dong, sama
ekonomi." "Buku diktat? Apa catatan?"
"Dua-duanya boleh."
"Oh, Tsabita yang rajin nyatet Kak, pinjem
dia saja."
Si empunya nama menarik lengan Zia
agar cepat pergi dari sana.
"Ayo cepetan, kalau nggak aku tinggal
loh," bisik Tsabita.
Zia malah gantian menarik tangan Bita
agar berdiri di antara dia dan Ryo.
"Ngapain sih?"
"Kakak mau pinjem buku, Dek. Geografi
dan ekonomi."
"Ta-tapi Kak Ryo anak IPA kan?"
"Kalau nggak boleh ya udah," sahut Ryo
ketus.
Zia menyenggol Tsabita, sedang Ryo
berbalik arah kembali ke pelataran masjid
tapi Bita menarik bagian belakang jaket
kakak kelasnya itu.
"Oke, iya, nanti aku siapin dulu. Ta-tapi .
tapi Kak Ryo mau maafin aku kan, soal tadi pagi?"
Ryo membalik tubuhnya, Tsabita
melepaskan tangannya dari jaket yang
dikenakan siswa itu.
"Dengan satu syarat."
Bita memberanikan diri untuk menatap
sang kakak kelas.
"Apa?"
"Ajari aku pelajaran ekonomi."
Zia terkikik geli melihat interaksi kedua
orang di depannya itu. Tsabita baru
membuka mulut untuk menolak dan
sahabatnya sudah mendahuluinya.
"Pas banget Kak, Bita kan pinter
ekonomi."
"Ryo, sini bentar!" teriakan terdengar.
Si empunya nama segera menjawab dan
mengakhiri percakapannya dengan dua
adik kelasnya.
"Nomer kamu?" tanya Ryo sebelum pergi.
Gaziya dengan senang hati menyebutkan
nomer Tsabita, membuat siswi berhijab itu sedikit kesal.
"Ta, kamu kok malah ngasih nomerku ke
dia sih."
"Nggak apa-apa, yang penting kan dia
maafin kamu."
Gaziya mengajak sahabatnya kembali ke
kelas dan menikmati bekal makan siang
mereka.
"Zia, kamu harus tanggung jawab,"
bisik Tsabita sambil memperlihatkan
ponselnya.
Zia melirik ke arah ponsel berwarna pink
itu sebelum tersenyum pada sahabatnya.
Di salah satu sudut, seseorang tengah
menatap penuh puja pada si pemilik
kurva lengkung berhias dua lesung dalam
nan manis yang tergambar simetris di
wajah ayu sang model.
"Zi, aku sekarang percaya jika bidadari itu
nyata, " batin siswa yang tengah merapal
untaian puja atas sosok cantik Gaziya.