“Ma, Cipa nggak mau dijodohkan!”
Teriakan itu memecah keheningan ruang tamu. Seorang gadis berusia dua puluh enam tahun berdiri dengan napas memburu, menatap mamanya yang sedang sibuk merangkai bunga.
Ratih menghentikan tangannya. Perlahan ia menoleh, menatap lekat anak bungsunya.
“Keputusannya sudah bulat, Syifa,” ucapnya tegas.
“Jangan asal bicara. Kemarin kamu bilang setuju. Kenapa sekarang berubah?”
Syifa menggigit bibirnya. “Sekarang beda, Ma.”
“Beda apa?”
“Aku baru saja naik jabatan. Nggak mungkin langsung menikah, apalagi dengan orang yang sama sekali belum aku kenal. Aku nggak mau, Ma.”
Ratih menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Syifa, dengarkan Mama. Setinggi apa pun jabatanmu, kamu tetap perempuan. Akan ada saatnya kamu membutuhkan pasangan hidup.”
Ia melangkah mendekat, suaranya semakin dalam.
“Tiga tahun Mama beri kamu kebebasan. Tapi hasilnya? Kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri sampai lupa memikirkan masa depan.”
Syifa menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. “Ma…”
Namun Ratih tetap teguh. Sekali ia berkata iya, maka tak akan berubah menjadi tidak.
“Mama jahat!” teriak Syifa akhirnya, sebelum berbalik dan berlari ke lantai atas.
Pintu kamarnya tertutup keras.
Ratih yang tertinggal hanya bisa mengusap d**a pelan.
“Demi kebaikanmu, Syifa…” gumamnya lirih.
Di dalam kamar, Syifa terduduk lemas di tepi ranjang. Ia merenung meratapi dirinya yang harus segera menikah sebentar lagi sedangkan dirinya masih belum siap melangsungkan itu. Bukankah orang menikah harus siap mental dan batin juga, bagaimana jika ia tak punya itu. Akankah pernikahannya akan tetap berlangsung.
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya dari nakas. Nama seseorang langsung ia cari, lalu menekan tombol panggil.
Tak lama, sambungan terhubung.
"Kenapa Cipa anak manis mamak, kamu kenapa menelponku di hari minggu yang cerah ini kau tau aku sedang berhibrenasi di kasur empukku!!" teriak Vale teman dekat Syifa, mereka sudah berteman sejak bangku sekolah menengah pertama dan masih berlangsung sampai sekarang tentu saja keluh kesah semua masalah yang dihadapi keduanya pasti sudah tau satu sama lain
Syifa menghela napas. "Vale titisan Valak bantuin Cipa dong" sahut Syifa dengan suara merdu
"Valak, palak lo peyang maap yak nyokap bokap gue masih manusia belum dikutuk tu!" ucap Vale tak terima
"Ya deh iya, bantuin gue dong"
“Hah? Bantuin apa?”
“Gue mau kabur dari rumah.”
"APA!! NGGAK GUE NGGAK MAU TANTE RATIH YANG BAIK HATI MEMUSUHI KU KARENA MEMBANTU ANAKNYA KABUR!" tolak Vale mentah-mentah.
“Heh, lo teman gue atau teman nyokap gue sih?”
Vale mendecak. “Jangan ngaco, Cipa.”
"Gue nggak mau dijodohkan bodoh! mana orangnya belum ketemu gimana kalau yang dijodohkan sama gue duda anak lima atau gue jadi istri kesekiannya, Nggak nggak mau gue!"
“Nyokap lo nggak sejahat itu kali…”
“Ya bisa aja!”
Hening sejenak.
“Tolong gue, Valee…” suara Syifa melemah.
"Nama gue Valeria bukan Vale-vale tolong ya panggil tu yang lengkap jelek banget tau panggilan Vale vale tu,gara-gara lo anak kantor gue ikutan manggil Vale vale!"
"Ya maaf, soalnya kalau manggil Valeria kepanjangan, enakkan Vale"
Vale mendesah panjang. “Yaudah… tunggu. Gue ke sana.”
Wajah Syifa langsung sedikit cerah. “Makasih, Madam Vale!”
Ia buru-buru mematikan telepon sebelum sahabatnya kembali mengomel.
Sembari menunggu Vale datang, Syifa menyiapkan dirinya dengan mandi dan berpakaian rapi. Jujur ia tak ingin kabur dari rumah apalagi meninggalkan mamanya seorang diri tapi ia juga tak ingin menikah dengan tanpa hati didalamnya, pernikahan itu adalah sakral ia hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidupnya tentunya dengan orang pilihan dirinya sendiri orang yang benar-benar ia cinta bahkan ia sanggup menukarkan jiwanya untuk orang itu.
Tok… tok…
Pintu diketuk.
Syifa langsung membukanya dan benar saja, Vale berdiri di sana.
“Sahabat terbaik!” serunya, mengacungkan dua jempol.
Vale menyeringai. “Udah siap?”
“Udah… ayo pergi.”
Mereka turun bersama. Namun baru sampai anak tangga terakhir, langkah mereka terhenti.
Ratih sudah berdiri di sana.
“Mau ke mana?” tanyanya datar.
Jantung Syifa hampir copot.
Vale maju cepat. “Ini, Tante… aku mau buka toko baru. Butuh bantuan Syifa buat milih dekorasi. Boleh ya pinjam Syifa sebentar tan?”
Tak disangka, Ratih tersenyum.
“Oh, ya sudah. Tapi setelah selesai, langsung antar Syifa pulang.”
“Iya, Tante.”
Mereka segera keluar.
Begitu mobil menjauh dari halaman rumah
“WOAH! Gila, lo keren banget, Vale!” seru Syifa.
Vale terkekeh. “Valeria, please.”
Namun kegembiraan itu tak bertahan lama.
“Ke mana sekarang?” tanya Vale.
“Ke pelabuhan.”
BRAK!
Mobil direm mendadak.
“GILA YA LO?!” bentak Syifa sambil memegangi dahinya.
“LO yang gila! Ngapain ke pelabuhan?!”
“Kan mau kabur! Masa setengah-setengah!”
“Kenapa nggak naik pesawat?!”
“Lo yang bodoh! Kalau pesawat gampang dilacak!”
Vale menatapnya tak percaya. “Ya Tuhan… kenapa teman gue pintar banget kalau soal beginian…”
“Makanya,” sahut Syifa santai.
Akhirnya, dengan setengah hati, Vale kembali melajukan mobil.
Di pelabuhan, keduanya berjalan menuju loket.
“Lo serius?” tanya Vale sekali lagi.
“Iya.”
“Masih bisa mundur, Cipa.”
Syifa menggeleng pelan. “Nggak bisa.”
Di depan loket, petugas bertanya, “Mau ke mana, Mbak?”
Syifa menarik napas.
“Kalimantan Selatan.”
Vale langsung menepuk kepalanya. “Jauh banget, Syifa!”
“Biar nggak ketangkep.”
Tiket dibeli.
Tak ada jalan kembali.
Mereka duduk berdampingan menunggu kapal.
Tiba-tiba Vale menangis.
“Lo kenapa sih?” tanya Syifa pelan.
“Gimana nggak nangis… lo pergi…”
Syifa tersenyum tipis. “Kan lo tahu gue ke mana.”
“Tapi tetap aja…”
Syifa menggenggam tangan sahabatnya. “Nggak lama kok. Kalau semuanya sudah tenang, gue pulang.”
Vale hanya mengangguk, menghapus air matanya.
Kapal akhirnya datang.
Perpisahan itu terasa jauh lebih berat dari yang dibayangkan.
Lima belas menit berlalu hanya untuk saling menenangkan diri.
“Gue pergi ya, Val. Jaga diri.”
“Harusnya gue yang bilang gitu, bodoh…”
Syifa tertawa kecil, lalu memeluknya erat untuk terakhir kali.
“Bye, sahabat.”
Ia melangkah naik ke kapal, melambaikan tangan.
“Jaga diri baik-baik, Syifa!” teriak Vale.
Dan untuk pertama kalinya
Syifa benar-benar meninggalkan rumahnya.
To Be Continued…