Berenang

1104 Words
Selama perjalanan di atas kapal, kondisi Syifa benar-benar tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin ia bisa tenang, jika seumur hidupnya ia bahkan belum pernah menginjakkan kaki di atas kapal? Kini, ia harus bertahan berjam-jam di tengah lautan luas yang tak ia kenal. Angin laut berembus kencang, membawa aroma asin yang menusuk hidung. Gelombang yang mengguncang kapal membuat tubuhnya ikut terombang-ambing. Kepalanya pusing, perutnya mual, dan pandangannya berkunang-kunang. Ia bahkan sudah beberapa kali hampir muntah, namun ditahannya mati-matian. Dari percakapan samar para penumpang di sekitarnya, ia mendengar bahwa perjalanan menuju Kalimantan Selatan bisa memakan waktu hampir dua puluh sembilan jam. Dua puluh sembilan jam. Angka itu terasa seperti hukuman panjang baginya. “Ini.” Sebuah suara memecah lamunannya. Syifa menoleh, mendapati seorang pria berdiri di sampingnya sambil menyodorkan sapu tangan bersih. Syifa mendongak, menatapnya dengan bingung. “Buat gue?” “Iya,” jawab pria itu singkat. Syifa ragu sejenak, lalu menggeleng. “Nggak, ambil aja.” Ia segera memalingkan wajah, menatap ke arah lain, seolah laut di kejauhan lebih menarik daripada pria asing itu. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapa pun, apalagi orang yang tidak dikenalnya. “Oh, oke,” balas pria itu datar. Langkah kakinya menjauh, meninggalkan Syifa yang kembali larut dalam rasa tidak nyamannya. Di tempat lain, jauh dari laut yang bergolak, mama Syifa diliputi kecemasan yang tak kunjung reda. Ruang tamu yang biasanya terasa hangat kini dipenuhi ketegangan. “Gimana sih, Val?” suaranya bergetar, menahan emosi. “Tante sudah menitipkan Syifa sama kamu. Kok bisa dia kabur?” Vale berdiri dengan kepala tertunduk. Rasa bersalah menekan dadanya begitu kuat hingga ia hampir tak sanggup mengangkat wajah. Ia tahu ini salahnya. Ia tahu seharusnya ia bisa mencegah semuanya. “Maaf, Tante…” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar. Mama Syifa menghela napas panjang. Ada amarah, ada kecewa, tapi lebih dari itu ada rasa takut yang tak bisa ia sembunyikan. “Sudahlah. Kamu pulang saja. Biar Syifa tante yang cari.” Vale mengangguk pelan. Tanpa berani menatap lebih lama, ia segera berpamitan dan pergi. Setiap langkahnya terasa berat, seolah membawa beban penyesalan yang tak bisa ia lepaskan. Sementara itu, di tengah laut yang semakin gelap, sore perlahan berganti malam. Langit berubah kelam, hanya dihiasi cahaya redup dari lampu kapal. Syifa masih terduduk lemas di kursinya. Tubuhnya terasa dingin, sementara kepalanya terus berputar. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menguatkan diri, meski sebenarnya ia hampir menyerah. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, suasana berubah drastis. Orang-orang mulai berteriak. Suara langkah kaki terdengar berlarian ke segala arah. Kepanikan menyebar seperti api yang membakar. Syifa yang kebingungan segera mendongak. Dengan tubuh yang masih lemas, ia memaksakan diri melihat ke luar melalui jendela. Dan detik itu juga Matanya membelalak lebar. Di depan sana, tampak jelas sebongkah batu besar yang menghalangi jalur kapal. Jantungnya serasa berhenti berdetak. “Ah…” suaranya bergetar. “Benar kata orang… kalau melawan ibu… nasibnya bakal begini…” Penyesalan memenuhi dadanya. Namun, semuanya sudah terlambat. Ia memejamkan mata, pasrah. Mungkin ini akhirnya. Namun tiba-tiba Seseorang menarik tangannya dengan kuat. Syifa tersentak. Tubuhnya terhuyung saat pria itu menyeretnya berdiri dan membawanya keluar dari dalam kapal. “Cepat!” ujar pria itu tegas. Syifa hanya bisa mengikuti, meski langkahnya tak stabil. Saat mereka tiba di luar, pemandangan yang ia lihat jauh lebih kacau. Orang-orang berdesakan, berteriak, bahkan saling dorong demi mencapai kapal-kapal kecil yang diturunkan oleh awak kapal. Namun jumlahnya terlalu sedikit. Tak semua orang akan selamat. “Bisa berenang?” tanya pria itu. Syifa tidak langsung menjawab. Ia terlalu fokus pada pemandangan mengerikan di hadapannya. “Hei!” bentak pria itu, membuatnya tersadar. “Iya?” jawabnya gugup. “Kamu bisa berenang?” Syifa menggeleng cepat. Wajahnya pucat pasi. Ketakutan terpancar jelas dari matanya. Ia takut laut. Selalu takut. “Kita harus loncat. Nggak mungkin bisa naik itu,” ujar pria itu sambil menunjuk ke arah sekoci yang sudah penuh sesak. “T-tapi gue takut…” “Lihat sana.” Syifa mengikuti arah telunjuknya. Di kejauhan, tampak samar sebuah daratan. “Maksud lo?” “Kita berenang ke sana.” “Gue nggak bisa…” suaranya melemah. “Ya sudah, terserah kamu. Saya tinggal.” Pria itu melepaskan genggaman tangannya. Namun Syifa segera menariknya kembali. “Mau ke mana? Jangan tinggalin gue!” “Tadi sudah aku bilang. Kalau mau ikut, kita harus berenang.” “Nggak ada cara lain?” awar Syifa “Nggak ada. Jadi, kamu ikut… atau tinggal?” Syifa terdiam. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. “Jangan lama-lama mikir. Kapal ini sebentar lagi tenggelam.” “I-iya… gue ikut. Tapi bantu gue…” Pria itu menghela napas. “Ya sudah. Ayo.” Ia menarik Syifa ke ujung kapal, lalu mengambil dua pelampung. Satu dikenakannya sendiri, satu lagi diberikan pada Syifa. “Pakai.” Syifa menurut, meski tangannya gemetar. Pria itu bersiap melompat, tapi lagi-lagi Syifa menahannya. “Apa lagi?” tanyanya. Syifa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Napasnya tak teratur. Tubuhnya bergetar hebat. Ia lalu terduduk, seolah kakinya tak lagi sanggup menopang tubuhnya. Kilasan masa lalu berputar di kepalanya kenangan, penyesalan, semuanya bercampur menjadi satu. Pria itu menatapnya sejenak, lalu menghela napas pelan. Ia berjongkok dan menepuk punggung Syifa dengan lembut. “Jangan takut. Aku bantu kamu.” Syifa mendongak. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Kalau ada paus… atau hiu?” tanyanya lirih. Pria itu hampir tertawa, tapi ditahannya. “Hiu nggak suka tulang.” Syifa langsung berdiri, menatapnya kesal. “Lo ngatain gue tulang?” “Nggak.” “Tadi—” “Mau selamat atau lanjut berantem?” Syifa terdiam, lalu mengangguk kecil. “Selamat…” “Bagus. Kita loncat hitungan ketiga.” Pria itu menggenggam tangannya erat. “Satu… dua—” Belum sempat tiga, Syifa mencoba menahan. Namun pria itu lebih cepat menariknya. Mereka terjun ke laut. Air dingin langsung menyelimuti tubuh mereka. Syifa panik. Ia meronta, menangis, hampir tenggelam karena gerakannya yang tak terkendali. “Diam!” bentak pria itu. “Kalau kamu panik terus, kamu bakal tenggelam!” “Gue takut…” suaranya serak. “Kalau kamu terus nangis, tenaga kamu habis! Kita harus sampai ke sana!” Suasana di sekitar mereka kacau. Teriakan, suara air, dan kepanikan bercampur menjadi satu. “Sekarang tarik napas!” lanjut pria itu tegas. “Buang semua pikiran buruk. Fokus ke tujuan!” Syifa mencoba menurut. Ia menarik napas dalam-dalam, meski dadanya masih sesak. Perlahan, tangisnya mereda. Dengan bantuan pria itu, ia terus bergerak. Menembus dinginnya air, melawan rasa takut yang sejak tadi menguasainya. Daratan di kejauhan terasa sangat jauh. Namun mereka tetap bergerak. Sedikit demi sedikit. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai Syifa berhenti melawan ketakutannya. Ia memilih bertahan. To Be Continued…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD