Berenang

1028 Words
Selama perjalanan diatas kapal keadaan Syifa sedang tidak baik-baik saja bagaimana bisa, dia sama sekali tidak pernah naik kapal kini harus berada disana dalam waktu yang lama. Siur-siur ia mendengar dari penumpang lain bahwa perjalanan menuju kalimantan selatan bisa memakan waktu kurang lebih 29 jam perjalan. "Ini" seseorang menyodorkan Syifa sapu tangan bersih. Syifa lantas mendongak menatap pria itu dengan tatapan bingung. "Buat gue?" tanya Syifa. "Iya" "Nggak, ambil aja" tolak Syifa lalu ia membalikkan wajahnya menatap tempat lain, enggan menatap pria itu yang masih berdiri ditempatnya dengan sapu tangan ditangannya. "Oh ok" pungkas pria itu lalu meninggalkan Syifa seorang diri. Di tempat lain mama Syifa sedang khawatir dengan anaknya, ada rasa tak enak kala mendengar penjelasan dari Vale tentang Syifa yang tiba-tiba kabur. "Gimana sih Val, kan tante sudah menitipkan Syifa sama kamu kok bisa kabur sih Val" ucap Mama Syifa penuh dengan raut kecewa. Vale yang tak enak hati hanya bisa menunduk takut, bodoh emang mengikuti kemauan temannya tapi nasi sudah jadi bubur jadi untuk apa menyesal. "Maaf tante" cicit Vale pelan. "Ya sudah Vale pulang aja nanti biar Syifa tante yang cari" Vale mengangguk mengerti ia pun cepat-cepat berdiri tak lupa mengucap pamit dan maaf pada Mama Syifa. Sore sudah berganti malam, Syifa sedari tadi masih merasa pusing karena mabuk perjalanan dan dia hanya bisa terduduk lemas dikursi kapal. Tiba-tiba orang-orang pada berlarian keluar kapal, Syifa yang kebingungan lantas mendongak kearah luar lewat jendela sampingnya, matanya sontak terbelalak kaget bagaimana tidak sebongkah batu besar nampak jelas di depannya, "Ah, benar kata orang kalau melawan ibu nasibnya akan jadi seperti" gumam Syifa penuh penyesalan dalam hati. Syifa memejamkan matanya siap menerima ajalnya namun beberapa detik kemudian tangannya ditarik oleh seseorang. Tubuh Syifa terhuyung huyung saat seseorang itu menariknya keluar dari kapal, Syifa menatap lekat tangan pria itu yang sedang menggenggam tangannya ia tak tau kenapa pria itu mau membantunya. Syifa tak berontak ia mengikuti kemana tubuhnya ditarik, saat ia dan pria itu sudah berada diluar, sungguh disana sedang ramai manusia banyak dari mereka yang berlari kesana kemari, para awak kapal sedang sibuk menyiapkan kapal-kapal kecil sebagai bantuan untuk para penumpang namun kapal kapal kecil yang mereka siapkan hanya beberapa tak cukup menampung semua penumpang yang ada. "Bisa berenang?" Tanya pria itu pada Syifa. Syifa tak mendengarnya karena masih fokus dengan orang-orang yang sedang meloncat ke kapal-kapal kecil yang disiapkan para awak kapal. "Hei!" teriak pria itu mengkagetkan Syifa, Syifa yang terkejut lantas memiringkan kepalanya menatap pria itu. "Iya?" "Kamu bisa berenang?" tanyanya lagi Syifa menggeleng pasti dengan wajah takutnya, bagaimana tidak ia adalah seorang Thalasshopibia, orang yang takut dengan laut namun memilih laut untuk kabur. "Kita harus loncat, sangat nggak mungkin untuk naik itu" tunjuknya pada orang-orang yang sedang desak-desakan naik kapal-kapal kecil yang disiapkan. "T-tapi gue takut buat loncat" "Lihat sana" pria itu menunjuk ke satu tempat, Syifa mengikuti arah tangannya dan .. "Maksud lo?" "Kita berenang sampai sana" ungkapnya "G-gue gak bisa" tolak Syifa mentah-mentah sungguh ia sangat takut dengan air segala macam kemungkinan buruk sedang bersarang dikepalanya. "Ya sudah terserah kamu, saya tinggal" ucap pria itu setelahnya ia melepas genggaman tangannya pada Syifa, Syifa yang takut lantas menarik kembali tangan pria itu. "Mau kemana? jangan tinggalin gue" "Tadi kan sudah aku bilang kalau mau ikut aku kita harus berenang" "Nggak ada pilihan lain?" "Nggak" pungkas pria itu. "Jadi gimana mau ikut atau tinggal?" tambahnya Syifa diam sejenak, "Jangan kelamaan mikirnya bentar lagi kapal ini bakal tenggelam" "I-iya gue ikut lo, tapi bantui gue" Pria itu mendesah pelan, "Ya sudah ayok" ucapnya lalu menarik tangan Syifa ke ujung kapal, pria itu sebelumnya mengambil beberapa dua pelampung yang bertengger di dekatnya. Ia memakainya satu dan memberi Syifa satunya agar dipakai oleh gadis itu. Setelahnya ia memasang kuda-kuda untuk bersiap-siap melompat namun lagi-lagi Syifa menahan tangannya. "Apa lagi?" tanya pria itu sembari menatap lekat mata Syifa yang kini sudah berlinang air mata, jantung gadis itu bahkan tak berdegup dengan normal karena efek takutnya yang mendominasi. Syifa tak kuat ia mendudukkan dirinya ke lantai kapal, kilas memori masa lalu terus berputar cepat di kepalanya seperti kaset kusut yang tak tau awal dan akhirnya gimana. Pria itu tak tega ia pun mencoba menengkan Syifa dengan menepuk nepukan punggungnya, "Jangan takut, aku akan bantu kamu" ucap pria itu. Syifa mendongak, dengan matanya yang sudah sembab ia berucap "Bagaimana kalau ada paus dan hiu?" Pria itu menahan untuk tidak tertawa bagaimana tidak Syifa terlihat lucu ketika berucap demikian, "Hiu tak suka tulang" pungkas pria itu lalu berdiri dan tidak lagi menatap wajah Syifa takut gadis itu akan kembali menangis kembali. Syifa berdiri didepan pria itu dengan bersedekap d**a "Lo ngatain gue Tulang ya?" "Nggak" "Tad-- "Mau selamat? atau lanjut berantem?" pungkas pria itu agar Syifa tak lagi ngomong. "Selamat" "Ya sudah ayok loncat, hitungan ketiga kita loncat dari sini" ucap pria itu ia memengang erat tangan Syifa sembari memasang kuda-kuda bersiap untuk meloncat ke dalam air. "Satu du--- Syifa lagi-lagi menahan tangan pria itu agar tidak meloncat namun ia kalah kuat karena pria itu sedah menariknya duluan untuk loncat ke dalam air. Mereka sudah berada di laut lepas, Syifa yang takut terus menangis sejak tadi ia bahkan hampir saja tenggelam karena terlalu hyperaktif bergerak untung saja pria itu menahan tubuhnya agar tak tenggelam. "Diam! jangan nangis kalau nangis terus kamu akan tenggelam" ucap pria itu dengan intonasi yang bisa diblang keras karena tak mungkin berucap lembut pada gadis yang sedari tadi menangis tiada henti mana sekitar mereka sedang berisik, dimana orang-orang sedang sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing. "Gue takut" cicit Syifa yang tak berhenti menangis bahkan suara sudah serak kini. "Kalau nangis terus tenaga kamu akan habis kita harus bisa berenang sampai sana, jadi berhenti nangis kalau nggak kamu akan tenggelam dan aku nggak bisa bantu kamu karena aku mau hidup" ungkap pria itu, ia tak peduli Syifa sakit hati atau tidak yang terpenting gadis itu bisa diam dan tak lagi menangis karena semunya demi dirinya juga. "Sekarang tarik napas, buang semua pikiran buruk tentang nanti dan fokus untuk bisa sampai sana" ucap pria itu tegas, Syifa perlahan menurut ia tak lagi nangis bahkan tubuhnya sudah mulai terbiasa berenang dengan bantuan pria itu yang menariknya sampai ketepi pulau. To Be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD