"Aw.." teriak Syifa mengadu, pria yang sedari tadi berjalan didepannya kini berbalik arah menatap Syifa yang kini sudah terduduk lemas meratapi kakinya yang banyak keluar darah segar.
Pria itu mendekat dan karena tak tega pria itu lantas mengangkat tubuh Syifa dan membawanya ke tepi pulau dimana ada pohon yang melindunginya dari terik sinar matahari, Syifa didudukan disana, setelahnya pria itu berlari masuk kedalam hutan tanpa berucap sepatah katapun pada Syifa.
Tak lama pria itu kembali dengan segenggam daun yang berukuran besar, ia duduk bertumpu di depan Syifa sembari menumbuk daun itu menjadi berukuran kecil lalu membalur ke kaki Syifa yang terluka tak lupa sebelumnya ia bersihkan terlebih dahulu.
"Masih sakit?" Tanya pria itu, Syifa masih terdiam matanya tak berhenti menatap wajah indah pria itu.
"Hei?" Panggil pra itu lagi.
"Iya, iya" Jawab Syifa cepat.
"Masih sakit?"
"Nggak, sudah enak"
"Aku mau masuk kedalam cari kayu, kamu disini aja nggak papa?" Tanya pria itu sembari berdiri didepannya.
"Iya nggak papa" pungkas Syifa.
Di pulau ini hanya ada mereka berdua, orang-otang yang ada di kapal tadi ntah kemana mereka pergi Syifa nggak peduli.
Dalam diamnya ia memikirkan mamanya yang pasti sekarang sedang khawatir mencarinya, dan dapat dipastikan bahwa Vaele kena imbas dari kaburnya dia.
"Val, maafin gue ya nanti kalau gue pulang pasti gue akan jadi sahabat terbaik deh buat lo" gumamnya pada langit.
Terik yang tadi menusuk kulit putihnya kini perlahan berubah menjadi awan hitam yang menutupi langit. Syifa khawatir dan juga takut sedari tadi pria itu tak kunjung kembali padahal sudah lama ia pergi. Segala macam prasangka buruk menghantuinya.
"Mau kemana?" Teriak pria yang sedang berjalan kearahnya dengan banyak kayu dibahunya.
"l-lo dari mana?" Tanya Syifa cepat
"Kan tadi aku sudah bilang mau ambil kayu didalam" ucap pria itu sembari menyusun kayu kayu yang ia bawa tadi ditumpuknya menjadi satu seperti bentukan gunung.
"Mau diapakan?" Tanya Syifa yang sudah duduk disamping pria itu.
"Nanti malam pasti dingin, jadi harus ada api" jelas pria itu.
"Oh iya nama lo siapa? masa gue manggilnya lo lo aja dari tadi kan nggak enak"
"Regan" ucap pria itu singkat padat dan jelas
"Oh, gue Syifa"
"Hm"
"Btw, Aku bisa bantu apa?"
"Duduk aja disana"
"Kok lo gitu, gue kan mau bantu" ucapnya dengan wajah cemberut membekas diwajahnya.
Pria itu menarik napas pelan, "Emang kamu bisa apa?" Tanya pria itu seolah merendahkan Syifa. Syifa yang tak terima lantas berucap tanpa berpikir terlebih dahulu "Semuanya gue bisa, lo kasih aja gue satu perintah pasti gue bisa nyelesainnya"
"Yaudah, bangun tenda aja disana" tunjuk pria itu ketempat dimana tadi Syifa duduk.
"Dibawah pohon itu?"
Regan mengangguk sembari tangannya sudah kembali merangkai kayu-kayu yang tadi ia bawa.
"Bukannya kejauhan, kenapa nggak disana aja" tunjuk Syifa ketempat dimana letaknya dekat dengan pantai
"Kalau malam hujan, kamu mau tidur sembari menyelam"
"Ha! ya enggak lah"
"Makanya turuti omongan aku dan cepat kerja sebelum hujan"
"Ahh, oke oke" Syifa beranjak dari duduknya ia berjalan ke tempat yang ditunjuk pria tadi, ia berdiri disana sembari berpikir langkah apa yang harus ia lakukan agar bisa membangun tenda, jujur Syifa tak pernah ngelakuin itu kalaupun ia palingan tenda yang langsung otomatis terbuka sendiri hanya dengan pencet remot tentunya.
15 menit kemudian Regan sudah usai menghidupkan api, sembari berdiri ia sedikit dikit meregangkan tubuhnya jujur mata dan tangannya lelah karena terus berusaha sedari tadi tapi untungnya usaha tidak mengkhianati hasil, api hidup berkobar di sela sela kayu yang ia tumpuk. Regan melirik Syifa yang berada di belakangnya dan benar saja apa yang ia takutkan terjadi wanita muda itu sedari tadi hanya diam berdiri menatapi tanah ntah apa yang ia pikirkan.
"Lihat tanpa berusaha nggak akan jadi" celetuk Regan, pria itu lantas berjalan kembali masuk ke dalam hutan Syifa yang ditinggalkan segera berlari menyusul.
"Mau kemana?" Tanya Syifa yang berjalan seiringan dengan Regan
"Ambil kayu dan daun"
"Untuk apa?"
"Buat tenda"
Syifa ber oh ria, jujur ia juga sedikit malu karena berkata bohong tadi soal bisa mendirikan tenda tapi karena egonya tinggi ia tak berniat untuk minta maaf atau menyesali ucapannya tadi.
"Yang mana yang mau aku angkat?" Regan menunjuk ke daun-daun kelapa yang berjatuhan, Syifa yang mengerti lantas berjalan kearah sana dan membawa beberapa lembar daun kelapa dan membawnaya kembali ketempat awal. Regan yang berada dibelakangnya juga ikut kembali kesana, mereka bolak balik masuk keluar hutan untuk mengambil kayu dan beberapa lembar daun kelapa.
Bisa dibilang skill Regan emang mumpuni, lihat saja dalam waktu singkat tenda minimalis mereka sudah jadi, Regan membuat dua tingkatan tenda yang satu berada diatas yang tentu akan ditempati oleh Syifa dan dibawahnya akan menjadi tempat tidur Regan karena sangat tidak mungkin jika mereka akan tidur bersama kecuali dalam waktu mendesak nanti ya.
"Yeay selesai, lo hebat juga ya dirii tenda sering ikut pramuka ya dulu waktu sekolah" ucap Syifa, Regan yang berdiri disampingnya tak menanggapi ucapan wanita itu Regan malah memilih berjalan masuk kedalam hutan dan tentu saja Syifa mengekorinya dari belakang.
"Mau kemana lagi sih, kenapa nggak duduk manis aja di dalam tenda capek tau" adu wanita muda itu dengan wajah sedihnya yang dibuat-buat.
Regan lagi-lagi tak menanggapi ucapannya pria itu lebih fokus dengan sekitarnya matanya sedari tadi melirik atas bawah kiri dan kanan mencari sesuatu yang dapat mereka konsumsi.
"Hei! Regan! hei!" teriak Syifa kesal
Regan yang juga sudah lelah mendegar rintihan gadis itu kini membalik tubuhnya menatap Syifa lekat.
"Gue capek Regan!"
"Kalau capek kenapa ikut"
"Takut sendirian disana, kalau ada yang nyulik gue gimana"
"Emang ada manusia di pulau kecil gini, yang ada monyet yang nyulik kamu"
"Enak aja kalau ngomong lo aja yang diculik monyet sana kan lu saudaraan sama mereka!!" ejek Syifa yang tak terima dihina, sumpah selama ia hidup tak ada yang berani merendahkannya karena kuasa orang tua dan juga nenek kakeknya yang sangat kuat.
Regan tiba-tiba berlari masuk kedalam hutan larinya sungguh kencang Syifa yang tak siap lantas tak mendapati pria itu yang malah membuatnya tersesat didalam hutan.
"REGAN!! REGAN!! LO DIMANA! JANGAN TINGGALIN GUE!! REGAN" teriak Syifa berulang kali memanggil nama Regan namun sang empunya nama tak kunjung datang, Syifa menangis sesegukan sepanjang perjalanan, ia lupa jalan menuju ke tendanya ditambah suasana hutan yang mencengkam dab awan yang sudah berubah gelap.
To be Continue