“Aw…” teriak Syifa meringis kesakitan.
Pria yang sedari tadi berjalan di depannya langsung menghentikan langkah. Ia berbalik, menatap Syifa yang kini sudah terduduk lemas sambil memegangi kakinya. Darah segar mengalir dari luka di telapak kakinya, kontras dengan kulitnya yang pucat.
Tanpa banyak bicara, pria itu mendekat. Tatapannya berubah serius. Ia berjongkok di depan Syifa, lalu tanpa permisi mengangkat tubuh gadis itu.
“Eh—” Syifa terkejut, tapi terlalu lemah untuk protes.
Pria itu membawanya ke tepi pulau, tepat di bawah rindangnya pohon yang cukup besar untuk melindungi mereka dari terik matahari. Ia menurunkan Syifa dengan hati-hati.
“Tunggu di sini,” ucapnya singkat.
Sebelum Syifa sempat bertanya, pria itu sudah berlari masuk ke dalam hutan.
Syifa hanya bisa menatap punggungnya yang menghilang di balik pepohonan. Rasa bingung bercampur cemas perlahan merayapi pikirannya.
Beberapa menit kemudian, pria itu kembali dengan segenggam daun berukuran besar. Napasnya sedikit terengah, tapi ia langsung duduk di depan Syifa tanpa banyak bicara.
Dengan cekatan, ia menumbuk daun-daun itu menggunakan batu kecil hingga hancur, lalu membersihkan luka di kaki Syifa terlebih dahulu sebelum membalurkan tumbukan daun tersebut.
Sentuhannya hati-hati, meski tetap terasa perih.
“Masih sakit?” tanyanya singkat.
Syifa tidak langsung menjawab. Matanya justru terpaku pada wajah pria itu. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan rahang tegas, alis yang sedikit berkerut, dan tatapan fokus yang entah kenapa terasa menenangkan.
“Hei?” pria itu memanggil lagi.
“Iya.. iya,” jawab Syifa cepat, sedikit gugup karena ketahuan melamun.
“Masih sakit?”
Syifa menggeleng pelan. “Nggak… sudah enakan.”
Pria itu mengangguk singkat, lalu berdiri. “Aku masuk ke dalam lagi. Cari kayu. Kamu di sini saja, nggak apa-apa?”
“Iya… nggak apa-apa,” jawab Syifa.
Pria itu pergi lagi, meninggalkan Syifa seorang diri.
Pulau itu terasa sunyi.
Terlalu sunyi.
Tak ada tanda-tanda penumpang lain dari kapal tadi. Seolah hanya mereka berdua yang terdampar di tempat asing ini.
Syifa memeluk lututnya. Dalam diam, pikirannya melayang.
Ia membayangkan mamanya.
Pasti sekarang sedang panik mencarinya.
Dan Vale…
Syifa menggigit bibirnya pelan.
“Val… maafin gue ya. Nanti kalau gue pulang, gue bakal jadi sahabat terbaik buat lo dehh, gue bakal nuruti mau lo dehh janji gue Val. Sekarang tahan-tahan dulu ya marah lo dan bantu tenangin nyokap gue ya Val” gumamnya lirih, menatap langit.
Namun langit yang tadi cerah perlahan berubah. Awan hitam mulai berkumpul, menutupi cahaya matahari.
Perasaan Syifa ikut berubah.
Cemas.
Takut.
Sudah cukup lama pria itu pergi, tapi belum juga kembali. Berbagai kemungkinan buruk mulai memenuhi kepalanya.
Tiba-tiba
“Mau ke mana?”
Suara itu membuat Syifa tersentak. Ia menoleh cepat.
Pria itu sudah kembali, berjalan ke arahnya dengan tumpukan kayu di bahunya.
“L-lo dari mana?” tanya Syifa buru-buru.
“Kan tadi aku bilang mau ambil kayu,” jawabnya santai.
Ia menurunkan kayu-kayu itu, lalu mulai menyusunnya menjadi tumpukan seperti gunung kecil.
“Mau diapakan?” tanya Syifa, kini sudah duduk di dekatnya.
“Nanti malam pasti dingin. Kita butuh api.”
“Oh…” Syifa mengangguk kecil.
Ia terdiam sejenak, lalu kembali membuka suara. “Eh, nama lo siapa sih? Masa dari tadi gue manggil ‘lo’ terus, nggak enak.”
“Regan,” jawab pria itu singkat.
“Oh… gue Syifa.”
“Hm.”
“Hm doang?” Syifa mendengus pelan. “Btw, aku bisa bantu apa?”
“Duduk aja di sana.”
Syifa langsung cemberut. “Kok gitu sih? Gue kan mau bantu.”
Regan menarik napas pelan, lalu menatapnya. “Emang kamu bisa apa?”
Nada suaranya terdengar meremehkan.
Syifa langsung tersulut. “Semuanya gue bisa! Lo kasih aja satu perintah, pasti gue selesain!”
“Ya sudah,” ujar Regan tenang. “Bangun tenda di sana.”
Ia menunjuk ke arah bawah pohon tempat Syifa tadi duduk.
“Di bawah pohon itu?”
Regan mengangguk tanpa menoleh.
“Bukannya kejauhan? Kenapa nggak di dekat pantai aja?”
Regan berhenti sejenak, lalu menatapnya. “Kalau hujan, kamu mau tidur sambil berenang?”
“Ha? Ya enggak lah!”
“Makanya, turuti saja. Cepat kerja sebelum hujan turun.”
“Ah… oke, oke…”
Dengan enggan, Syifa berjalan ke tempat yang ditunjuk. Ia berdiri di sana, memandang sekitar dengan bingung.
Membangun tenda?
Seumur hidupnya, ia bahkan belum pernah menyentuh tenda manual. Yang ia tahu hanya tenda otomatis yang tinggal tekan tombol dan jadi deh, tapi ini.. .
Lima belas menit berlalu.
Di sisi lain, Regan berhasil menyalakan api. Ia berdiri, meregangkan tubuhnya yang pegal. Matanya kemudian melirik ke arah Syifa.
Dan benar saja.
Gadis itu masih berdiri di tempat yang sama.
Tidak melakukan apa-apa.
“Lihat,” celetuk Regan, “tanpa usaha, nggak akan jadi apa-apa.”
Tanpa menunggu jawaban, ia kembali berjalan ke dalam hutan.Syifa yang kesal langsung berlari menyusul.
“Mau ke mana lagi?” tanyanya sambil berjalan di samping Regan.
“Ambil kayu dan daun.”
“Untuk apa?”
“Buat tenda.”
“Oh…”
Syifa mengangguk-angguk, meski dalam hati ia malu sendiri. Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengaku.
“Yang mana yang harus aku angkat?” tanyanya akhirnya.
Regan menunjuk daun-daun kelapa yang berserakan di tanah.
Syifa langsung mengambil beberapa lembar, lalu membawanya kembali. Mereka bolak-balik keluar masuk hutan, mengumpulkan bahan seadanya.
Perlahan, sebuah tenda sederhana mulai terbentuk.
Meski sederhana, hasilnya cukup rapi.
Regan bahkan membuat dua tingkat bagian atas untuk Syifa, dan bawah untuk dirinya.
“Yeay! Selesai!” seru Syifa. “Lo hebat juga ya. Dulu sering pramuka?”
Regan tidak menjawab. Ia malah kembali berjalan ke dalam hutan. Syifa mendengus, tapi tetap mengikutinya.
“Mau ke mana lagi sih? Nggak capek apa?” keluhnya.
Regan diam saja. Matanya sibuk menyapu sekitar, mencari sesuatu.
“Hei! Regan! Hei!” teriak Syifa kesal.
Akhirnya Regan berhenti dan menatapnya. “Apa?”
“Gue capek!”
“Kalau capek, kenapa ikut?”
Syifa cemberut. “Takut sendirian. Kalau ada yang nyulik gue gimana?”
Regan menghela napas. “Di pulau sekecil ini? Yang ada monyet yang nyulik kamu.”
“Enak aja! Lo aja sana yang diculik! Kan lo saudaraan sama mereka!” balas Syifa kesal.
Tiba-tiba
Regan berlari.
Cepat.
Sangat cepat.
“Eh—Regan?!”
Syifa panik. Ia mencoba mengejar, tapi terlambat. Dalam hitungan detik, pria itu sudah menghilang di balik pepohonan.
Sunyi kembali menyelimuti.
“REGAN!” teriaknya. “REGAN! LO DI MANA?!”
Tak ada jawaban.
Hutan terasa semakin gelap. Angin bertiup pelan, membuat dedaunan bergesekan menimbulkan suara yang menyeramkan.
“Jangan tinggalin gue…” suara Syifa mulai bergetar.
Ia berjalan tanpa arah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“REGAN!!”
Namun tetap
Tak ada jawaban.
Langkahnya semakin cepat, tapi justru membuatnya semakin tersesat.
Ia tak lagi tahu arah.
Tak tahu jalan pulang.
Dan yang tersisa hanyalah
Rasa takut yang perlahan menguasainya sepenuhnya.
To Be Continued…