Malam menjelang, Syifa dan Regan kini sedang duduk bersejajar di depan api unggun dadakan yang dibuat Regan 30 menit yang lalu dengan susah payah, angin malam yang terlalu kencang membuat pria itu kesusahan mempertahankan api, ditambah rengekan Syifa yang meminta makan terus menerus membuatnya ingin melempar gadis itu kedalam laut sana.
Dengan beralaskan batang pohon tua mereka menunggu ubi singkong tersebut matang. Ubi yang mereka dapatkan setelah satu jam berkeliling mencari makan, meski yang mereka inginkan tak mereka dapat namun keduanya tetap bersyukur.
"Masih lama ya?" Tanya Syifa yang perutnya sedari tadi sudah demo minta diberi asupan.
Regan menggeleng pelan sembari terus memutar ubi-ubi di depannya agar semua ubi itu matang dengan sempurna.
"Perut gue lapar banget Gan" Adu wanita muda itu dengan terus mengelus perutnya, ditambah wajah melasnya yang tampak sebelas duabelas dengan anak kecil yang merengek minta dibelikan lolipop sama mama mereka.
Regan berdecak pelan, "Sabar, kalau kamu nggak mau nunggu yaudah makan aja itu, kalau keras jangan marah sama saya"
Syifa lantas menggeleng pelan ia tak mau gigi nya yang rapi dan cantik rusak karena memakan ubi yang keras seperti batu itu. Ditambah ancaman Regan yang membuatnya jadi takut.
"Mau?" Tanya Regan memastikan.
"Nggak"
"Yaudah, sabar ya" ucap Regan lembut.
Syifa memilih diam, gadis itu menselonjorkan kedua kakinya kedepan dengan tangannya menjadi tumpuan dibelakang tubuhnya dan dua manik matanya berselancar menatap langit malam yang sedang indah-indahnya, di atas sana banyak bintang bertaburan dan ditambah bulan sabit yang bertengger disisi barat mereka membuat penampakan tersebut menjadi sempurna.
Syifa berdecak kagum, dulu waktu ia masih tinggal dirumah tak pernah sekalipun Syifa memandang langit yang indah ini bahkan ketika melihatnya sekilas pun ia merasa biasa saja dan tak ada yang menarik menurutnya, bisa dibilang Syifa tak suka dengan unsur alam malahan ia dulu sering menganggap remeh orang-orang yang mengikuti kegiatan alam waktu duduk dibangku sekolah dan kuliah. Menurutnya mengikuti hal seperti itu hanya menghabiskan waktu dan tergolong sia-sia.
"Indah banget ya ternyata langit malam" ucap Syifa yang matanya masih fokus pada langit.
Regan yang merasa diajak bicara lantas melirik ke gadis disampingnya setelah itu ia mengikuti arah mata Syifa yang menatap langit, "Hm"
"Hm maksudnya? lo setuju atau nggak?"
"Iya"
"Makanya kalau ngomong itu panjang dikit napa!" celoteh Syifa, setelahnya ia kembali diam dan menatap langit malam lagi.
"Bodoh banget ya gue baru tau sekarang kalau langit itu seindah ini"
"Bukan bodoh, mungkin fokus kamu dulu nggak seperti sekarang"
Syifa mengalihkan pandangnya ke arah Regan, meminta pria itu memberikan penjelasan atas ucapan yang baru saja ia dengar, "Maksudnya?"
"Mungkin kamu dulu tidak ada waktu untuk memandang lama kearah langit dan ditambah kesibukanmu dulu jadi penampakan seindah ini tak mengubris hatimu" jelas Regan dengan tangannya yang masih sibuk membolak balikan ubi.
"Kalau lo gimana?" Tanya Syifa balik, Regan lantas mengalihkan perhatiannya dari ubi yang ia bakar. Tatapannya bertemu dengan manik mata Syifa yang malah membuat hatinya berdesir tak tau tempat.
"Sial!" Makinya dalam hati, kalau sampai Syifa dengar tak tau lagi apa yang akan diucapkan gadis itu padanya.
"REGAN!!" Panggil Syifa karena merasa diabaikan oleh pria itu.
"Hm"
"Menurut lo gimana? jangan ham hem ham hem!" gerutunya
"Saya suka dengan alam tentu saya sering takjub dengan semua yang berunsur alam, bahkan dirumah saya punya teleskop untuk lihat benda yang sedang kamu lihat itu" Jelas Regan.
"Lo punya teleskop?"
Regan mengangguk pelan, "Iya"
"Wah, boleh dong gue pinja----- gadis itu tiba-tiba amenjeda ucapannya dan secepat kilat ekspresi wajahnya berubah yang tadi semangat 45 kala mendengar teleskop milik Regan kini menjadi sendu tiba-tiba.
Regan yang melihat perubahan gadis disampingnya tentu merasa bingung.
"Ada apa?" Tanya pria itu lembut.
"Apa kita akan selamat dari pulau ini?" Tanya Syifa dengan wajah sendunya.
Regan mengehela napas pelan, tangannya terangkat mengelus lembut surai rambut Syifa, "Tentu, kita hanya perlu bertahan dan berusaha dan jangan lupa berdoa"
"Gue takut kita akan selamanya disini"
"Tidak akan, orang-orang pasti mencari kita"
Syifa menjulurkan jari kelingkingnya ke depan wajah Regan, "Apa ini?"
"Lo harus janji sama gue kalau kita nggak akan selamanya disini"
"Baik saya akan janji tapi kamu harus merubah nada bicaramu pada saya"
Syifa mengerutkan dahinya bingung, "Maksud lo?"
"Ganti panggilan lo gue jadi saya dan kamu, bukankah itu terdengar lebih sopan"
Syifa melipat bibirnya kedalam sungguh ucapan pria itu tuba-tiba menggelitik perutnya. Dengan susah payah gadis itu menahan tawanya yang akan meledak apalagi wajah Regan yang kini sudah sangat jelas tersirat keseriusannya dalam bicara.
"Kamu kenapa?" Tanya Regan yang mulai merasa aneh dengan perubahan wajah gadis itu. Baru aja beberapa menit lalu wajahnya sendu dan sekarang sudah mau berubah lagi.
"Ngg-- ais haha hahah hah ah hah " Syifa yang tak tahan lantas tertawa lepas, ia bahkan memegang perutnya sangking lucunya.
Regan yang tak paham mengerutkan dahinya bingung. Ia memilih mengabaikan Syifa, menurutnya itu pilihan yang tepat daripada mendegar rengekan gadis itu meminta makan.
"Kok lo nggak ketawa si!" gerutu Syifa lalu memukul sebelah tangan Regan.
"Nggak ada yang lucu menurut saya"
"Datar banget si, padahal tadi lucu banget jadinya nggak lucu lagi gara-gara ekspresi lo"
"Ini, sudah matang" Regan memberikan satu ubi bakar pada Syifa, Syifa yang mendegarnya pun lantas menerima uluran ubi yang diberikan oleh Regan.
Gadis itu lantas langsung memasukkan ubi bakar itu kedalam mulutnya namun buru-buru ditahan oleh Regan.
"Apa lagi si! gue lapar Regan!!"
"Kamu mau makan langsung?" Tanya pria itu takjub.
Dengan wajah polosnya Syifa mengangguk.
"Kamu nggak pernah makan ubi bakar?"
"Pernah dong" Jawab Syifa sombong dengan mengibaskan rambutnya kebelakang.
Regan mengerutkan dahinya tak percaya. "Saya tidak percaya"
"Apaansih Gan, gue lapar ni"
Dengan tenang Regan mengambil ubi yang ada ditangan Syifa, kemudian ia mengupas ubi itu dengan telaten lalu memberikannya pada Syifa.
"Hehe.. makasih Regan" ucap gadis itu dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Hm"
***
Malam sudah semakin larut, dua orang sejoli yang sudah kenyang makan ubi bakar itu kini duduk termenung didepan api unggun sembari menatap indahnya langit malam.
"Hoam..." Regan yang duduk disampingnya lantas melirik ke kanannnya dimana disana ada Syifa yang sedang menahan kantuknya.
"Ck, Kalau ngantuk masuk"
"Nggak berani" jawab Syifa dengan tampang polosnya.
"Ha?"
"Tidur bareng yuk Gan"
###