Xiara Zulvany

1006 Words
Deru ombak dan sinar matahari pagi menyorot disela-sela dinding dedauan. Semalam Regan mengiyakan ajakan dari Syifa untuk tidur bersama walau terdengar ambigu namun pria 29 tahun itu menyanggupinya. Toh sebelumnya mereka juga sempat tidur bersama jadi tak ada yang salah bukan. Kedua insan itu kini masih berada di alam mimpi mereka, Sepertinya mereka berdua menolak untuk terbangun. Seolah keduanya sudah nyaman dan terbiasa tinggal di pulau. Lambat laun terik matahri mulai menyengat, Syifa terbangun akibatnya. Ia yang terbiasa tidur beralaskan ranjang empuk dengan harga dibandrol 10 juta kini harus terbiasa tidur diatas dedauan dan yang lebih buruknya sekarang tak ada lagi alat elektronik yang membuat dirinya sejuk dari hawa panasnya sinar matahari. "Panas!!" raungnya sembari mengipasi dirinya dengan tangannya. Regan yang semula tertidur kini ikut terbangun karena kehebohan yang dibuat oleh Syifa. "Ada apa?" Regan mendudukan dirinya disamping Syifa. "Panas!" Regan mengernyit mendengarnya. Ia sendiri juga tau kalau sekarang panas terus untuk apa perempuan disampingnya ini meraung seperti orang gila. "Kok lo diam aja?!" Pekik Syifa karena tak ada pergerakan dari Regan. "Terus saya harus ngelakuin apa?" "Gue panas Regan! lo kan tau semuanya pasti lo tau cara Supaya nggak panas lagi " Sumpah demi paus di laut, Syifa adalah gadis bodoh yang ia kenal. Ia pikir Regan keturunan Albert einsten atau Tesla apa! kalaupun iya Regan juga tak sepintar mereka. Karena merasa diabaikan, Syifa kini mendorong tubuh Regan kuat. Sampai-sampai pria itu tersungkur. "Kamu kenapa mendorong saya!" Bentak Regan dengan nada naik 1 oktaf. "Lo ngabain gue ngomong!" balas Syifa tak mau kalah. "Ck, coba kamu pikir pakai otak kamu, emang saya bisa ngabulin permintaan aneh kamu tadi! dan satu lagi saya nggak sepintar seperti yang kamu pikir" Setelahnya Regan keluar meninggalkan Syifa yang masih terpaku di dalam tenda. Pria itu keluar demi mendinginkan otaknya yang tiba-tiba mengepul awan panas karena ulah dari Syifa. Ia sadar ia juga aneh karena tiba-tiba marah padahal apa yang Syifa ucapkan bukanlah hal yang patut untuk diberantemkan namun mood yang sedang tak baik-baik saja menjadikan mereka berantem tiba-tiba padahal baru saja semalam mereka baik kan. Syifa ikut keluar gadis itu merasa tak enak hati apalagi melihat wajah Regan barusan yang menurutnya sangat menakutkan. "Hei" Panggil Syifa ketika ia sudah berada disamping Regan. Pria itu tak menjawab, sorot matanya kini sedang fokus pada laut sana. "Maaf gue tadi keterlaluan, tapi kan ini juga salah lo!" Regan yang mendengarnya lantas menoleh dengan ekspresinya yang masih sama. Marah. "Iya salah lo, lagian kan gue juga ngomongnya nggak beneran kok tapi lo udah marah-marah, nggak asik banget diajak becanda. Dan Gue juga nggak bodoh kali sampai nganggap lo sepintar itu!" "Udah jangan marah lagi, gue kan udah minta maaf" Tambahnya. Ia ikut memutar tubuhnya menghadap Regan. Dengan tinggi badan yang berbeda jauh keduanya saling menatap dengan sorot mata yang berbeda. 1 2 3 4 5 6 --- "Ais.. Kenapa masih marah sih! aku kan sudah minta maaf" Ucap Syifa kesal. "Kamu lapar?" Tak nyambung bukan? dan begitulah Regan diciptakan. "He?" "Kamu lapar nggak?" Syifa mengangguk dengan wajah polosnya, ia yang tadi ikut kesal tiba-tiba berubah. "Yasudah, ayok kita cari makan" "Aaa ayok" ucapnya penuh semangat. **** Di lain tempat, Ratih Mama dari Syifa kini sedang sibuk mencari keberadaan anaknya, sudah banyak orang ia perintah untuk mencari Syifa yang hilang. Dan sudah lebih dari satu minggu putri kesayangannya meninggalkan rumah. Pada hari saat ia tau kapal yang Syifa tumpangi tenggelam pada saat itu pula kakinya tak bisa lagi terpijak dengan mudah tiap hari wanita paruh baya itu menangis dan terus memanjat doa demi kembalinya anak semata wayangnya. Jujur dari dalam lubuk hatinya terdalam ia menyesal sudah memaksakan kehendaknya untuk menjodohkan Syifa dengan orang pilihannya. Jika saja saat itu ia tak egois mungkin Syifa saat ini masih bersama dengannya. "Maaf kan mama ya sayang" ucapnya sembari mengelus bingkai foto yang ada Syifa disna. Tok.. tok.. Seseorang wanita masuk dengan berbagai macam berkas ditangannya. "Pagi bu Ratih" ucapnya sopan saat sudah berada di depan Syifa. Ratih yang tadi menutup rapat matanya kini perlahan membuka menatap gadis muda didepannya. "Ada apa kamu kemari Xia?" Iya nama nya adalah Xia lebih panjangnya Xiara Zulvani. Umurnya masih 25 tahun lebih muda satu tahun dari Syifa namun sifat dan tingkah dari Xia 180 derajat berbeda dari Syifa. "Ini bu Ratih saya membawa beberapa berkas yang harus mendapat persetujuan dari ibu" Ucapnya sembari menyerahkan semua berkas yang ia bawa. "Kamu letakkan saja disitu saya masih bersedih sekarang!" "Maaf ibu, ibu sudah berucap demikian lebih dari 3 kali hari ini. Jika terus ditunda saya takut ada masalah dengan perusahaan" "Kamu nggak lihat saya lagi sedih! kamu lupa anak saya sedang kabur sekarang! bahkan kapal yang ia tumpangi sekarang sedang tenggelam" 'Ck.. anak sama mak sama aja' ucap Xia dalam hati. Sangat tak logis jika ia berbicara gamblang depan Ratih, Ia tak ingin dipecat oleh ratih sebab sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari ini bahkan yang memberi gaji sebesar yang diberikan oleh Ratih sangat sulit di temukan. Dengan jumlah dua dijit yang ditawarkan bukankah sudah sangat menggiyurkan bukan. "Saya turut bersedih bu, meski saya belum punya anak saya juga dapat merasakan apa yang ibu rasa namun maaf jika saya memberi saran yang membuat ibu tersinggung. Bukankah kita sudah menggerakkan banyak orang untuk mencari nona Syifa dan sekarang kita hanya tinggal menunggu sembari berdoa, dan selama menunggu ini sangat tak baik jika waktu yang ada kita buang secara sia-sia hanya untuk menangis dan meratapi. bukankah tuhan sangat membenci hal itu" jelas Xia panjang lebar. "Kamu banyak bicara ya Xia" "Maaf bu" "Ya sudah, kamu tinggalkan saja berkas-berkas itu disini nanti saya cek" "Baik bu" "Sekarang kamu keluar" "Iya bu, saya permisi" Setelah kepergian dari Xia, Ratih mulai membuka satu persatu map yang yang diberi oleh Xia tadi. Ia juga tak menapik jika yang ia lakukan beberapa hari ini benar-benar membuang waktu. Padahal ia suah mengerahkan semuanya untuk Syifa. Benar kata Xia tadi tugas dari Ratih adalah hanya menunggu dan berdoa demi keselamatan anaknya, dan selama menunggu itu ia akan menggunakan waktunya untuk tetap bekerja demi kelangsungan hidup karyawan dan juga dirinya. ###
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD