13. Memperluas Pencarian

1405 Words
Setelah dua pria Turki, lagi lagi aku belum juga kapok berkenalan dengan pria berdarah arab. Tapi kali ini bukan WN Turki lagi tapi beneran laki arab asli kalo WN Saudi Arabia. Let say namanya Faruq. Faruq : Aku bekerja di kedutaan Saudi Arabia untuk Indonesia. Aku sudah hampir 4 tahun di Jakarta. Itu yang dia ceritakan padaku. Aku : Kamu bekerja di bagian apa?. Tanyaku mencari tahu, selain itu aku mau memastikan kalo dia berbeda kondisinya dengan dua pria Turki sebelumnya. Ya seperti kalian tau, kalo dua sebelumnya tidak cukup mapan secara ekonomi. Dan lupakan mereka berdua, karena sekalipun mereka masih chat aku, aku tidak lagi menanggapi. Faruq : Aku bagian mengurus quota Haji dan Umroh juga. Kamu mau umroh?. Kamu bisa pergi denganku, asal bersedia jadi pacarku. Atau jadi istriku lebih baik lagi. Aku tertawa menanggapi sebelum aku membalas chatnya. Apa mesti aku bilang kalo aku sudah beberapa kali pergi umroh?. Aku pun sudah berhasil membiayai haji ibu dan bapakku. Tapi rasanya tidak perlu aku bilang. Aku : Boleh kalo memang kamu bersedia mentraktirku. Sebenarnya aku bergurau. Tapi mungkin dia tanggapi serius dengan langsung mengajakku bertemu setelah kami chat terus secara intens. Lalu kami janjian bertemu di sebuah restoran masakan arab. Dan aku cukup nyaman kalo dia semua yang menanggung biaya kami makan. "Kamu suka masakan inikan?" tanyanya saat aku menikmati nasi kebuli yang masih panas. Aku lantas mengangguk. "Sambil aku berdoa semoga kadar kolestrolku tidak melonjak setelah ini" gurauku. Dia lalu tertawa. "Apa kamu tidak pernah bermasalah makan seperti ini terus?" tanyaku. Dia lalu menggeleng. "Sejauh ini aman. Dan bukankah masakan indonesia juga banyak yang mengandung kolestrol macam masakan Padang?. Selalu bersantan semua" balasnya. Gantian aku mengangguk. Memang cukup aman kalo menjalin hubungan dengan pria mapan. Setidaknya tidak harus merasa tidak enak kalo sedang menikmati acara makan. Pria mapan selalu punya etitude untuk provide perempuankan?. Iya gak sih?. Itu kenapa penting untukku punya pasangan yang mapan secara finansial. Mungkin perempuan lain juga begitu. Tapi ada juga yang tidak beruntung karena terjebak dengan lelaki yang tidak punya cukup uang untuk sekedar mentraktir makan. Untuk itu saranku pastikan benar lelaki yang berusaha kalian kenal mapan secara finansial. Bukan soal matre, tapi soal rasa nyaman saat menjalin hubungan, karena segala sesuatu yang berhubungan dengan uang pasti sensitif sekali yakan. Dan entah apa bentuk hubungan kami sekalipun kami dua atau tiga kali bertemu untuk makan malam bersama, lalu masing masing dari kami pulang ke rumah masing masing. Sama sama tinggal di aparteman juga, hanya beda aparteman tentunya. "Bolehkah aku mampir ke apartemanmu atau kamu mampir ke apartemanku?" tanyanya. "Boleh, kapan kapan aku atau kamu bisa mampir" jawabku. Tapi siapa yang bisa menduga kalo dia tiba tiba muncul di lobi apartemanku tanpa mengatakan apa pun sebelumnya. Tentu aku persilahkan masuk dong ke unit apartemanku. "Kamu tinggal sendiri di sini?" tanyanya. Aku mengangguk. "Artinya tidak ada yang mungkin ganggu kencan kita kali inikan?" tanyanya setelah kami duduk di sofa apartemanku. "Aku rasa begitu" jawabku sebelum dia menyerangku dengan ciumannya yang menurutku tergesa. Apa aku bisa menolak. "Aku sebenarnya sudah cukup susah menahan diri untuk tidak menciummu" katanya setelah ciuman kami terlepas. Aku tertawa saja dengan deru nafas yang masih tersengal. Gila kali, udah nyipok tanpa aba aba terus langsung serang aku lagi sampai menindihku di sofa. Dan jujur ini sudah sebuah warning. Masa iya aku bisa dengan mudah di tiduri apalagi dengan status kami yang belum jelas. Jadi aku hentikan sekalipun aku hampir menyerah dengan serangannya. "Why?" tanyanya saat aku mendorong dadanya menjauh dari atas tubuhku. "Aku pikir ini terlalu cepat untukku" jawabku dengan senyum semanis mungkin di posisi nafasku yang masih tersengal. Dia menatapku dulu sebelum akhirnya bangkit dari atas tubuhku lalu duduk lagi di sofa. Aku jadi ikutan diam. "Kamu mau kopi?" tanya menjeda diamnya. Lalu dia mengangguk. "Wait" jawabku lalu bangkit ke dapur aparteman untuk buat kopi sambil berpikir reaksinya yang mendadak diam. Tapi lalu aku berusaha tenang dengan tetap membuatkannya kopi lalu aku berikan padanya. "Kamu kenapa?" tanyaku menjeda diamnya. "Kamu suka aku gak sih sebenarnya?" tanyanya. "Suka" jawabku sambil mencari tau apa yang dia inginkan dariku. "Hanya suka?" tanyanya lagi sambil menatapku. Aku mengangguk. Dan dia bertahan menatapku. "Okey" jawabnya lalu memutuskan kontak tatapan kami dan meminum kopinya lagi sampai langsung habis. Aku sampai meringis melihatnya. "Aku pamit ya, aku pulang dulu" katanya lalu begitu saja bangkit dari duduknya dan aku menyusul. "Aku pikir kita akan ngobrol" kataku. Dia hanya tersenyum lalu mencium pipiku. "Kita sudah cukup lama mengobrol banyak hal sayang" jawabnya lalu bergerak menuju pintu keluar apartemanku. Dan entah kenapa aku tidak juga berusaha mencegahnya. "Nice to meet you Opie" katanya sebelum mengucap salam lalu berlalu begitu saja dari apartemanku. Aku hanya menatap punggungnya sampai dia menghilang masuk lift. Dan entah kenapa aku merasa semua selesai saat itu. Kalian tau?. Tentu aku cukup mengerti penolakannya kalo dia tidak lagi antusias menanggapi chatku seperti yang aku lakukan pada lelaki sebelumnya untuk menunjukkan kalo aku tidak benar benar tertarik. Jadi ya sudahlah. Aku pikir mungkin hubungan kami memang tidak mungkin di lanjutkan kalo dia tidak menginginkan itu. Yang lalu kepo siapa lagi kalo bukan Pipit karena aku selalu cerita apa pun padanya di banding Nadine. "Dia kesel kali karena elo nolak making love?" komen Pipit. "Ya terus elo pikir gue mesti mau aja gitu di sosot sama laki arab yang mulutnya bau banget kambing?" komenku. Sudah pasti Pipit terbahak. "Salah elo kenapa demen banget PDKT sama laki berdarah arab" komen Pipit lagi. Aku hanya menghela nafas menanggapi. "Ya gue tau mereka keceh, dan katanya mereka punya yang gede di balik semvak. Elo udah cari tau soal itu juga gak sih, Til?" ledek Pipit kali ini. Aku tentu menoyor kepalanya karena dia terbahak setelah mengatakan itu. "Penting amat gue tau punyanya gedong apa gak. Yakali udah jadi lekong gue" omelku. "Eh penting tau kalo udah jadi laki bini mah. Banyak tuh perempuan yang ngerasa kecewa sama lakinya karena kurang gedong, apalagi gak bisa kenceng" ledek Pipit lagi. Lagi lagi aku toyor kepalanya karena dia terbahak lagi sampai dia terdiam. "Elo takut kena masalah karena agama ya kalo PDKT sama laki bule dari benua lain selain arab ya?" tanya Pipit lagi. Aku diam kali ini. "Soal ini udah elo pikirin belum sih?. Yakan kemungkinan ke sana adakan, Til. Secara kebanyakan bule dari benua lain rata rata Kristen, katolik, atau malah agnostik yang cuma percaya adanya Tuhan tapi mereka gak percaya agama apa pun" kata Pipit lagi. Aku belum sampai tahap memikirkan soal perbedaan agama atau keyakinan spiritual sih. Aku masih yang fun fun aja mencari laki internasional impianku. "Gue gak pikirin sampai sejauh itu sih Pit. Masih sekedar nyari aja. Kalo akhirnya mentok di agama, gak ada yang bisa larang jugakan kalo tetap pegang agama dan kepercayaan masing masing?" tanyaku. "Ya iya sih. Dan memungkinkan banget buat ngajak log in kalo elo berhasil yakinin laki bule yang akhirnya jadi pasangan elo. Laki bule kan rata rata berpikiran terbuka. Kalo masuk akal buat mereka biasanya mereka akan nurut, walaupun gak bisa elo berharap laki bule yang jadi pasangan elo bisa jadi muslim yang baik, kalo kita singkirkan kemungkinan dia dapat hidayah dari Tuhan" kata Pipit. Aku lalu tersenyum menatapnya. "Jadi gak masalah dong kalo gue tetap nyari laki bule yang mendekati ekpektasi gue?" tanyaku pada Pipit. "Gak masalah sih. Itu hak elo. Sebagai teman gue cuma bisa kasih dukungan dan masukan. Yang penting elo happy" jawab Pipit. Aku mengangguk sambil tersenyum menatapnya. "Tapi mungkin perluas lagi kali pilihan elo dengan gak cuma bergaul dengan laki bure berdarah arab. Banyak banget kali laki bule dari benua lain. Setau gue, kata bule itu sebenarnya gak mengikat sama laki dari benua lain yang berambut pirang dan bermata warna warni. Laki dari asia juga bisa masuk kategori bule kalo dia berbeda warga negara sama kita. Iya gak sih?" kata Pipit. Mungkin benar yang Pipit bilang. Aku harus memperluas pencarian. Toh banyak laki bule lain di dalam aplikasi. Ada laki asal benua Australia, benua Eropa, benua Afrika, atau laki benua Amerika. Dan siapa sangka malah aku di pertemukan dengan laki dari benua Eropa. Setelah aku di pertemukan dengan banyak laki dari benua Eropa sakit jiwa di aplikasi Tinder. Penasaran dengan kelakuan gila mereka yang aku temui?. Mau aku ceritakan?. Boleh, tapi sabar ya. Aku mesti cooling down dulu dari rasa kecewaku pada laki laki bule berdarah arab yang aku temui sebelumnya. Bukan aku rasis, tapi sepertinya memang spesies mereka tidak cocok denganku, jadi tidak masalah dong kalo aku cari spesies yang lain?.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD