12.Suaka

1321 Words
Memang aku tidak ada kapoknya kalo kemudian aku bersedia bertemu dengan pria asal Turki lagi. Bukan soal gantengnya, bukan soal aku bermaksud mencari pasangan lagi. Tapi penasaran saja dengan sosok pria Turki lain di aplikasi online dating yang cukup banyak aku temui setelah sosok pria India. Sayangnya aku belum bisa bertemu dengan sosok pria asal India, kalo mereka tidak ada yang menetap di Jakarta. Hakan : Aku tinggal di aparteman dekat Pluit. Itu katanya, soal tempat tinggalnya di Jakarta. Daerah yang menurutku cukup bonafite di utara Jakarta sejak dulu sebelum ada kawasan PIK atau Pantai Indah Kapuk. Jadi menurutku mungkin dia lelaki Turki yang cukup punya uang ya. Tapi sekali lagi, tujuanku bukan lagi mencari pasangan ya. Lebih ke rasa penasaran. Aku : Lalu kita bertemu di apartemanmu?. Tanyaku sempat ragu kalo bertemu dengannya di apartemannya. Tapi lalu aku pikir lagi, untuk apa aku takut bertemu dengan orang asing di negaraku sendiri?. Di daerah yang cukup aku kuasai sekalipun aku jarang sekali berada di daerah utara Jakarta. Setidaknya aku tau jalan pulang. Hakan : Aku akan masak nasi briyani. Kamu harus coba. Jawabnya begitu dan aku merasa harus menghargai usahanya untuk menjamuku makan siang karena aku bersedia bertemu dengannya siang hari. Cukup sopan dan welcome juga waktu aku temui di lobi apartemannya. "Opie...kamu cantik sekali. Di luar dugaanku" pujinya lalu memeluk dan mencium pipiku kanan kiri. Aku tertawa saja. "Kamu juga ganteng" jawabku yang mendadak suka cowok berambut plontos. Gak tau ya seksi aja di lihatnya. Gantian dia tertawa lalu menggenggam tanganku dan menuntutku menuju lift. "Ayo kita langsung ke tempatku saja ya?. Aku sudah selesai masak" undangnya dengan mode ramah. Dan terus menatapku seakan aku bidadari selama kami dalam lift sampai aku merasa risih. "Kamu lihatin aku terus" tegurku. "Kamu cantik sekali" pujinya lagi. Aku tertawa saja. Salah satu yang aku suka berkenalan dan berusaha mengenal pria bule. Mereka ekspresif dan sopan. Setidaknya dua yang akhirnya aku temui. Lalu mulailah aku memperhatikan kondisi aparteman yang dari area lobinya cukup bonafite lalu perlahan penilaianku bergeser pelan pelan. Kok ya lama lama aparteman yang aku datangi ini, aparteman milik Hakan maksudku, lama lama terlihat seperti aparteman murahan ya?. Jadi lebih mirip rumah susun. Tapi maaf, aku tidak akan mengatakan nama apartemannya. Yang pastinya letaknya tidak jauh dari tepi pantai atau laut. Apa karena ini tipe unit yang kecil jadi terlihat seperti rumah susun kalo antar pintu yang satu ke pintu lain jaraknya cukup pendek. Atau lebih mirip kamar kos kosan??. "Welcome to my apart" kata Hakan saat akhirnya kami masuk apartemannya yang seukuran studio. Ngertikan maksudku aparteman tipe studio yang memang lebih mirip kamar kos kosan?. Yang begitu masuk langsung penampakan kamar mandi dan di sebelahnya ada dapur kecil lalu tempat tidur di dekat jendela atau balkon kamar?. Nah aparteman Hakan penampakannya begitu. Cukup rapi sih, tapi tetap aja tidak sesuai ekpektasiku. Pikirku setidaknya dia tinggal di aparteman yang punya dua kamar jadi tidak terasa pengap dan sumpek. Belum lagi aroma wangi masakan yang dia buat untuk kami makan. Bahkan tidak ada sofa sama sekali untuk duduk selain tempat tidur tanpa ranjang yang artinya kasur lesehan doang. "Kamu sudah lama tinggal di aparteman ini?" tanyaku berusaha santai dengan melepas sepatuku lalu bergerak menuju tempat tidur mengikuti Hakan yang melepas sendalnya dulu sebelum akhirnya duduk di karpet yang cukup empuk untuk duduk. Tapi aku memilih duduk di tempat tidurnya. "Ya cukup lama karena hanya aparteman ini yang akhirnya sanggup di bayar sewanya oleh kakakku" jawabnya. "Kakakmu?" tanyaku. Dia mengangguk. "Kamu tidak kerja?" tanyaku. "Kerja membantu suami kakakku yang punya usaha jual beli rempah khas Turki di sini. Dan cukup banyak peminatnya lewat online shop" jawabnya. Aku mengangguk saja. "Jadi aku hanya harus mencari uang untuk biaya makanku sehari hari selama di sini. Bisa dengan membantu temanku di kedai kopi miliknya di bawah aparteman ini, atau ikutan berjualan online rempah rempah dari Turki pada teman temanku asal Turki juga" jelasnya lebih lanjut. "Jadi banyak orang orang Turki di sini?. Aparteman ini maksudku?" tanyaku lagi. Dia mengangguk. Dan buat aku berpikir jadinya. "Cukup banyak Pie. Terutama orang orang Turki yang tidak punya kesempatan dapat pekerjaan di negara kami. Lalu dia sana menganggur, sementara biaya hidup tinggi. Jadi banyak yang memilih tinggal di Asia yang biaya hidupnya rendah macam di Indonesia ini" jelasnya lagi. Aku jadi memilih mode menyimak. "Apalagi sepertiku yang aslinya orang Syiriah" tambahnya. "Syiriah?" ulangku memastikan. Dia lalu mengangguk. "Kami minta suaka pada pemerintahan Indonesia sebagai korban perang" jawabnya. Baru aku mengerti maksudnya. "Tapi sampai kapan orang macam kamu meminta suaka pada pemerintah negaraku?" tanyaku mencari tau. Kalian mengertikan konsep meminta suaka pada pemerintah Indonesia?. Ya semacam perlindungan pada orang orang yang minta pertolongan dari perang di negaranya. Memang ada hal semacam ini dari pemerintahan kita, apalagi sama sama muslim, macam suka Rohingya asal Myanmar yang juga minta suaka pada pemerintah kita karena merasa terancam tinggal di negaranya sendiri dan mereka juga muslim. "Kalo aku dan beberapa temanku di sini sampai kami dapat visa kerja di Australia" jawabnya. "Jadi kamu berniat bekerja di Australia?" tanyaku. Dia mengangguk. "Gajinya cukup besar walaupun hanya untuk tukang cuci piring di resto tidak seperti di indonesia dan jam kerjanya cukup manusiawi" jawabnya. Nah masuk akal. "Hanya masalahnya untuk dapat Visa kerja di Australia sangat sulit tidak seperti di Indoesia yang kakakku cukup menjadi sponsor atas nama perusahaan yang dia buat untuk menjual rempah rempah asal Turki. Kamu pasti tau juga soal isu ras, agama yang cukup berpengaruh mengingat aku muslim dan aku berasal dari negara arab" katanya lagi. Aku semakin mengerti maksudnya. Kenapa dia harus transit dulu di Indonesia bertahun tahun lalu berusaha dapatkan visa kerja di Australia. "Kalo memungkinkan memang lebih baik bekerja di negara negara eropa atau Amerika. Tapi lebih susah lagi untuk dapat visa kerja di sana kalo kental soal isu ras, agama dan pertimbangan lain untuk menerima emigran di negara mereka. Pemerintah di Indonesia termasuk cukup welcome untuk menerima emigran sepertiku. Apalagi muslim" lagi lagi katanya. Dan buat aku menyadari semudah itu pemerintah di negara kita menerima orang asing tanpa berusaha lebih ketat melakukan pemeriksaan. Ini bukan kategori welcome yang cukup positif menurutku, jadi tidak usah heran kalo negara kita mudah di susupi oleh orang asing yang berniat melakukan hal buruk. Tapi bisa apa kita sebagai warga negara kalo pemerintah kita begitu mudahnya menerima orang asing masuk tanpa proses yang ketat. Cukup berlebel Muslim atau turis yang di artikan punya banyak uang dan berniat liburan untuk menghabiskan uang di negara kita. Di banding negara lain macam Amerika atau negara negara Eropa yang cukup ketat dalam menyaring orang orang yang berniat masuk ke negaranya. Tidak usah menetap, untuk tembus Visa jalan jalan sebagai turis pun butuh waktu lama untuk mendapatkan Visa itu apalagi untuk dapat visa kerja dan menetap lama di negara mereka. Entahlah siapa yang mesti di persalahkan, kalo ada kuasa yang selalu mempermudah itu semua. "Kalo kamu memang berniat bekerja di Indonesia, lalu kenapa kamu berniat mencari teman atau pacar orang Indonesia?" tanyaku lagi. "Oh come on Pie. Di mana lagi kami bisa bertemu gadis gadis kalo bukan lewat online dating. Apalagi terkait masalah bahasa, dan sejujurnya aku tidak cukup percaya diri untuk melakukan pendekatan langsung di luar online dating kalo aku tidak punya cukup uang" jawabnya. Aku langsung menghela nafas menanggapi dan dia tertawa pelan tapi lalu diam menatapku. "Apa kamu hanya mencari perempuan untuk sekedar s*x?" tanyaku lagi. Dia bertahan menatapku. "Apa aku harus menjawabnya kalo sebelumnya aku punya pacar perempuan orang Indonesia yang tidak masalah dengan isi dompetku?" jawabnya. Hadeh...aku harus jawab apa?. Satu hal yang aku sadari. Apa perempuan sepertiku yang berniat punya pasangan bule, sampai sebegitu putus asanya sampai bersedia jadi pacar lelaki bule yang jauh dari standart kelayakan kalo hanya untuk sekedar s*x?. Lalu menurut kalian, apa Hakan termasuk lelaki mokondo juga kalo ternyata dia tidak berharap apa aku bersedia jadi pacarnya atau tidak, atau ternyata dia menolak menemuiku di luar karena dia tau tidak punya cukup uang untuk sekedar mentraktirku secangkir kopi. Menurut kalian gimana?.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD