11.Bule Mokondo

1489 Words
Akhirnya aku membayar juga untuk menjadi member di aplikasi Tinder. Masih yang paling murah untuk coba coba saja sih. Setelah itu aku fokuskan mencari lelaki yang menjadi tujuanku sejak awal. Yaitu lelaki bule. Yang menglike fotoku pun masih sama sebelum aku jadi member, masih lelaki lokal yang akan aku like balik fotonya kalo aku suka juga sampai kami jadi MATCH, atau jadi berpasangan. Tapi tidak sebegitunya juga aku serius untuk menjawab chat lelaki lokal. Bukan aku tidak suka, tapi mau fokus pada tujuanku. Lalu mulailah aku menglike lelaki bule tanpa menunggu mereka menglike fotoku duluan. Beberapa ada yang balas like fotoku, ada yang mengabaikan. Ada yang lalu chat aku, atau aku yang chat mereka duluan. Masih sama sih cara kerjanya. Hanya memang harus mulai mengasah kemampuan bahasa Inggrisku, karena lelaki bule, rata rata berbahasa Inggris. Dan aslinya tidak perlu harus berbahasa inggris aktif banget juga sih. Kalo bicara dengan bule, bahkan beberapa dari mereka akan mengerti kemampuan bahasa inggris kita yang pas pas-an. Tidak harus pas banget juga soal grammar, tenses, sekalipun mesti jelas perkataannya karena kalo beda satu huruf saja, pasti beda arti. Kira kira begitu. Jadi masih cukup aman untuk aku berkomunikasi bahasa Inggris dengan mereka. Ahmed : Hai Pie. Nice to meet you. Sapa seorang pria Turki yang aku bilang. Selanjutnya bahasa Indonesia aja ya, biar gampang aku ceritanya. Aku : Hai, nice to meet you juga. Jawabku lalu lanjut berbasa basi, saling menanyakan kabar, dan tempat tinggal saat ini. Aku : Jadi kamu tinggal di Jakarta?. Tanyaku setelah tau dia tinggal di Jakarta. Ahmed : Ya. Sudah cukup lama karena aku bekerja di sini. Aku : Jadi kamu bisa berbahasa Indonesia?. Ahmed : Sedikit. Aku : Kerja di mana?, apa kamu penjual kebab?. Gurauku dengan emot tertawa. Dia juga membalas hal sama. Ahmed : Aku kerja di restorant makanan arabia. Turki kan termasuk negara arab, sekalipun wilayahnya separuh eropa. Jelasnya dan aku tau soal ini. Untuk itu Turki termasuk negara Islam yang cukup moderat karena pengaruh budaya eropa juga. Cukup banyak juga rakyatnya yang beragama kristen, walaupun tetap memegang teguh budaya arab. aku : so...bisa kita pindah ke WA aja, kalo kamu tidak keberatan?. Aku cukup jarang aktif di Tinder. Ajakku setelah kami cukup intens ngobrol. Pindah dong ke aplikasi WA untuk komunikasi kami selanjutnya. Dan yang aku suka, tidak terlalu posesif atau drama dengan chat aku terus di hari hari depan. Aku pun begitu. Kalo sedang suntuk tidak ada yang aku bisa ajak bicara sepulang aku kerja, baru deh aku chat Ahmed. Namanya itu. Jarang juga bicara di telpon, paling chat dan aku tidak masalah setelah kami pernah video call. "Untuk memastikan penampakanmu sama dengan yang ada di aplikasi" alasannya dan aku setuju. Tapi setelah itu komunikasi lewat chat. Sampai akhirnya janjian bertemu di sebuah mall di daerah Blok M, dan aku iyakan. "Sorry aku kelaperan sepulang kerja. Kamu mau makan juga?" tanyaku saat dia akhirnya menemuiku di sebuah restoran tempat aku berada. "No, aku sudah kenyang. Sudah makan tadi" jawabnya karena sebenarnya aku juga sudah selesai makan waktu dia datang. Tidak masalah jadinya aku menunggunya lama datang. "So, jadi kita mau kemana?. Mau jadi nonton?" tanyaku. Lalu dia mengangguk dengan tatapan yang terus tertuju padaku. "Come on" ajakku bangkit berdiri. Lalu aku sempat kaget saat dia akhirnya merangkul bahuku. Tapi lalu aku biarkan toh kami sedang kencankan?. "Aku tidak sangka ternyata kamu lebih cantik aslinya" katanya memujiku. Aku tertawa saja. Cantik?. Yang benar aja. "Dan aku sebenarnya tidak suka perempuan terlalu kurus. Aku suka sepertimu" lanjutnya. Entah beneran atau hanya sekedar merayuku. Jadi aku tertawa saja. Aslinya dia juga ganteng. Ya ganteng khas lelaki arab. Tinggi banget juga seperti bule kebanyakan, kalo tinggiku hanya sebatas dadanya saja. "Mau nonton film apa?" tanyanya di depan meja kasir sekaligus untuk membayar. Aku pilihlah film yang mau tonton, dan mengabaikan tatapan orang di sekeliling kami. Aku pikir wajar mengingat Ahmed cukup ganteng dan termasuk lelaki bule kalo kami terus bicara dengan bahasa Inggris. "Okey selesai, tapi kita mesti tunggu dulu sampai filmnya di putar" katanya padaku. Lalu duduklah kami menunggu seperti pengunjung lain. "Kamu suka aku gak sih?" tanyanya tiba tiba. Apa karena aku diam saja. "Suka?. Alasan apa yang buat aku gak suka kamu?" tanyaku. Dia hanya tersenyum menanggapi. "Maaf kalo aku tanya. Aku takut kamu tidak menyukai lalu aku akan di tinggal begitu saja di sini" katanya lagi dan buat aku tertawa. "Aku hanya canggung karena ini pertama untukku" alasanku. Tapi sebenarnya aku tidak secanggung itu. Hanya bingung aja untuk mengajaknya bicara terus. Nanti di pikirnya aku bawel. Nah yang justru buat aku canggung, justru saat kami sudah berada di dalam bioskop lalu di tengah film dia mulai menyentuhku. Bagian ini yang buat aku bingung untuk menanganinya. Mau marah, tapi kok aku merasa norak. Tapi aku biarkan, tapi aku .... Toh ujungnya kami berciuman cukup lama. Bukan ciuman pertamaku sih. Tapi bagian tangannya yang mulai meremas dadaku, baru buat aku sadar kalo semua mesti aku hentikan. "Kenapa?" tanyanya karena tau penolakanku. Aku menggeleng saja lalu pura pura fokus menatap layar bioskop. "Apa kamu mau tempat lebih private?. KIta bisa check in" bisiknya padaku. Aku tertawa saja dengan pikiranku yang kemana mana. Memikirkan aku harus bereaksi apa. "Aku pikirkan nanti" jawabku balas berbisik juga. Dia lalu tertawa menanggapi. Lalu kami lanjut menonton sampai filmnya selesai. Lalu aku pamit ke kamar mandi setelahnya. "So, kamu mau kita kemana?. Soalnya aku merasa kamu tidak menyukaiku" katanya lalu kembali merangkul bahuku. Aku sampai menghentikan langkahku untuk berbalik menatapnya. "Boleh aku jujur?" tanyaku dulu. Dia mengangguk dengan bertahan menatapku. "Hal seperti ini baru untukku. Maksudnya kencan dengan pria bule sepertimu. Jadi bukan aku tidak suka kamu. Hanya soal aku yang belum terbiasa. Jadi aku harap kamu mengerti" jelasku. Dia diam dulu lalu tak lama mengangguk. "Okey, aku mengerti" jawabnya sambil tersenyum. "Gimana kalo kita cari secangkir kopi lalu kita mengobrol?" tanyaku. "Okey" jawabnya lalu merangkul bahuku lagi dan aku biarkan. Lalu kami pesen dulu kopi yang kami mau. Lalu yang buat aku jadi menatapnya karena kondisi isi dompetnya yang beneran hampir kosong dengan uang cash, sekalipun ada beberapa kartu bank yang aku kenali sebagai kartu debit atau kartu kredit. "Gimana kalo aku saja yang bayar?" tanyaku menjedanya mengorek isi dompetnya. "No, ada kok" tolaknya. Aku sampai meringis saat dia beneran membayar kopi pesenan kami dengan uang recehan. Beneran uang recahan. Jadi penasaran dong aku, sekalipun aku berhasil menahan diri untuk bertanya saat itu. Cuma ya agak malu dengan mba yang melayani pesanan kami. Terus sebenarnya aku tidak masalah gantian bayar, karena dia sudah traktir aku nonton. Sempat diam diaman dulu beberapa saat sebelum akhirnya mulutku tidak tahan bertanya juga. "Kamu sebenarnya sudah berapa lama di Indonesia?" tanyaku. "Sudah cukup lama. Sekitar 3 atau 4 tahun" jawabnya. "Wow lama juga" komenku karena akhirnya dia cukup mengerti bahasa Indonesia walaupun dia campur bahasa Inggris. Dia lalu mengangguk. "Aku tidak punya pilihan" katanya kemudian. "Kenapa?" tanyaku. "Sebenarnya gaji bekerja sebagai koki di restoran tempatku bekerja kecil sekali" keluhnya. "Iyakah?" tanyaku mencari tau. Dia mengangguk lagi. "Seberapa kecil?. Tapi bisa untuk biaya hidupmu di Jakarta kan?. Termasuk mungkin mengirim uang untuk keluargamu di Turki" tambahku. Kok ya malah tertawa. Sampai aku bingung menatapnya. "Aku sudah lama sekali tidak pulang ke Turki, termasuk juga tidak mungkin bisa mengirimi mereka uang, Pi" jelasnya. Iyakah?. Tapi aku tahan pertanyaanku. "Asal kamu tau, gajiku di restoran yang aku maksud sebulannya hanya sekitar 3 juta rupiah. Dan bagusnya aku tetap di beri makan dan tempat tinggal" jelasnya dan buatku kaget tentunya. "Mana mungkin?. Mengingat kamu...." "Bule?" tanyanya dengan nada mengejek. Aku tapinya mengangguk. "Kenyataannya begitu Pi" katanya lagi padaku. "Lalu gimana kamu bertahan hidup di sini?" tanyaku memikirkan gajinya yang tidak mungkin mencukupi biaya hidupnya di Jakarta. Plus aku juga jadi mengerti kenapa dia tidak punya cukup uang di dompetnya. "Aku kadang di bantu temanku yang juga orang Turki, atau dari perempuan Indonesia yang jadi pacarku" jelasnya. Nah bagian akhir buat aku melongo. "Tapi sekarang aku sedang tidak punya pacar. Dan sepertinya kamu tidak suka aku" katanya lagi sambil tertawa. Aku jadi terpaksa ikutan tertawa sambil aku berpikir. Ternyata tidak semua lelaki bule itu kaya atau beruang. Buktinya di hadapanku terlihat kasihan juga. Terlepas banyak laki bule kaya dari hasil kerjanya di perusahaan asing di Indonesia yang banyak di sebut orang dengan sebutan bule Ekspatriat. Lalu bukan soal aku suka atau tidak suka pada Ahmed, ini soal aku yang tidak mungkin membiarkan diriku di manfaatkan oleh lelaki tipe mokondo sekalipun dia ganteng, dan termasuk bule kalo dia pria asing dari negara lain. Lantas aku ingat cerita cerita orang soal bule bule di jalan jaksa yang sering di sebut bule gembel. Atau bule bule yang banyak di Bali dan di sebut bule backpacker. Katanya juga termasuk bule yang tidak banyak uang. Kalo kalian jadi aku, kalian akan semakin penasaran gak?. Jujur aku semakin penasaran dengan pria pria asing yang ada di Indonesia khususnya Jakarta. Rasa penasaran juga yang buat aku menemui lagi seorang pria Turki lewat aplikasi Tinder tentunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD