Lama lama aku pikir tidak ada gunanya kalo aku terus ada di aplikasi Tinder deh. Bukan dapat pasangan malah buat aku kecewa terus. Jadi aku memutuskan menghentikan pencarianku pada sosok lelaki yang aku harapkan. Lebih baik fokus kerja dan tanggung jawabku yang lain. Bijaksananya seperti itu. Tapi kedua bestiku sepertinya tidak setuju, padahal aku merasa aku baik baik saja.
"Gimana kabar love story elo, Til ?" tanya Nadine yang akhirnya punya waktu bertemu aku dan Pipit.
Jadi kita nongkrong bertiga di sebuah coffee shop. Jangan tanya di mana anak Nadina atau Pipit, kalo mereka bisa punya waktu untuk me time, artinya anak anak mereka sudah ada yang urus. Entah bersama kedua orang tua mereka, atau bersama kedua mertua mereka. Mereka tidak pernah membiarkan anak mereka di bawah asuhan suster tanpa pengawasan.
"Gak tau deh" jawabku malas membahas soal ini sebenarnya.
"Lah kok, Pitak bilang elo mulai aktif di Tinder" kata Nadine yang melirik Pipit yang tertawa menanggapi dan aku berdecak menanggapi.
"Srintil bete yang ngangkut laki yang otaknya s**********n doang" jawab Pipit lalu dia tertawa berdua Nadine.
"Mending deh kalo otaknya s**********n doang. Lah ini bad etitude juga" jawabku lalu akhirnya bercerita juga soal kelakuan para lelaki yang aku temui langsung.
Nyimak dulu sih kedua bestieku tanpa ada yang berani menjeda. Kerennya mereka berdua memang begitu sekalipun, putri wong sugih banget.
"Tau gak lo, semua kejadian dan pengalaman yang gue alamin dengan lekong dari Tinder tuh, akhirnya bikin gue semakin yakin, kalo kelakuan laki lokal tuh emang seburuk itu" kataku akhirnya.
"Gak semua" sanggah Pipit dan aku lihat Nadine mengangguk.
"Memang, tapi masalahnya lelaki lokal baik pasti udah ada yang punya. Kalo gak pacar, pasti punya bini" kataku.
Kedua bestieku lantas tertawa. Sampai akhirnya diam karena aku menghela nafas lagi.
"Okeylah, kalo menurut pandangan elo laki lokal memang gak baik. Anggap pukul rata begitu. Tapi apa laki luar juga sebaik yang elo pikir, kan sebelumnya elo malah kena modus terus" sanggah Nadine bersuara lagi.
"Iya lagi...." keluhku lalu menghela nafas.
"Jadi masalahnya bukan laki lokal not good, begitu juga laki bule, Til. Tapi soal elo yang belum ketemu yang cocok aja, yang sesuai ekpektasi atau harapan elo...."
"Atau karena elo belum ngerasa jatuh cinta sama laki" potong Pipit pada Nadine.
Lalu aku lihat keduanya menanggung saat aku tatap.
"Gimana gue mau jatuh cinta kalo dari kesan pertama aja gue udah gak sreg" keluhku memberikan alasan.
"Kadang kesan pertama buruk, akhirnya gak buruk kok. Gue dulu sama Boy kesel banget, tapi akhirnya malah jadi suami gue" kata Nadine.
"Nah itu, Til " sambar Pipit.
Lagi lagi keduanya tertawa dan aku memutar mataku.
"Loh benarkan yang gue bilang. Soal kesan pertama gue sama Boy dulu?. Masa elo lupa?. Tapi begitu biarin Boy mendekat, terus gue mencari tau, malah gue jatuh cinta. Jadi sekali lagi, kesan pertama yang buruk belum tentu berakhir buruk selamanya. Begitu juga kalo awalnya terkesan baik, akan baik juga akhirnya" kata Nadine.
"Lupa kali dia Nad, kalo banyak perempuan yang akhirnya terjebak sama laki kasar, laki mokondo, atau laki tukang selingkuh. Kalo kata gue sih, itu semua terjadi karena tuh perempuan gak benar benar berusaha kenal tuh laki, karena udah termanipulasi sama kesan baik di pertemuan pertama. Malah better ketemu laki yang kesan pertamanya gak baik, tapi ujungnya malah berakhir baik" kata Pipit sekarang.
Aku lihat Nadine yang mengangguk.
"Hati hati ah Til. Jangan langsung terjebak sama kesan baik pertama kali dari siapa pun. Kalo ternyata orang itu jago manipulasi, kelar hidup elo kalo akhirnya terjebak sama penilaian baik tuh orang tanpa elo mengabaikan kalo setiap orang punya sisi buruk. Mau perempuan atau laki sama aja. Terutama laki kalo buat elo, karena yang elo cari laki. Zaman sekarang banyak banget laki yang berusaha kelihatan baik padahal sialan" kata Pipit lagi.
Iya juga sih.
"Tapi gue yakin elo cukup pintar buat gak terjebak sama laki manipulatif" kata Nadine menjeda diamku.
"Masa?" komenku sambil tertawa.
"Iya dong Til. Kita berdua sangat mengakui elo paling pintar di antara kita dan elo tipe perempuan paling realitis alias gak gampang baper. Sampai elo gak pernah pacaran, artinya elo gak mempan rayuan" komen Pipit dengan nada mengejek.
Nadine yang tertawa dan aku memutar mataku.
"Makanya Pie, jangan belum apa apa elo denial dulu" kata Nadine kali ini.
"Gimana gue gak denial kalo yang dekatin gue tukang gorden, driver mobil online, sampai laki gak punya sopan santun. Masa iya gue mesti rendahin diri gue, saking butuh laki sampai gue mau aja di dekatin laki yang modelnya kaya gitu?. Rugi di gue gak sih?. Dan gue gak maksud rendahin pekerjaan orang ya?" tuhkan muntah juga akhirnya.
Kedua bestieku lalu menghela nafas menanggapi. Lalu aku ikutan.
"Di umuran gue sekarang kaya gak ada pilihan gak sih?. Secara umur, secara penampilan fisik, secara laki pasti lebih suka yang lebih muda dan penampilannya oke. Iya gak sih?" tanyaku pada kedua bestieku.
"Ya iya sih. Tapi bukan berarti gak ada laki yang bakalan suka sama elo dan elo suka dia" bantah Nadine.
Ya benar lagi aja. Jadi aku diam. Semua jadi ikutan diam.
"Sekarang gini deh Til. Kalo sejak awal elo memang niat cari laki bule, coba fokus di situ. Tinder banyakkan laki bule" kata Pipit.
"Laki Bule jompo maksud elo?" ejekku.
Baru deh keduanya tertawa lalu suasana cair lagi.
"Anggaplah begitu. Memang gak bisa elo temuin di Tinder?. Laki bule yang elo suka?. Coba jangan elo tunggu tuh laki bule like foto elo. Coba elo duluan" kata Pipit.
"Ada sih, tapi ujungnya mesti bayar" jawabku ingat aturan di aplikasi Tinder yang memang ada mengharuskan bayar untuk jadi member yang harganya ratusan ribu.
Lupa aku berapa duit, karena ada dua atau tiga pilihan dan jumlah pembayaran. Ya macam member, silver, gold atau platinum gitu.
"Why not, siapa tau elo malah dapat yang elo cari. Berapa sih paling bayarnya, gue yang traktir deh" kata Nadine.
Aku sontak tertawa dengan Pipit dan Nadine ikutan.
"Tuh bini bos elo udah mau jadi sponsor" ejek Pipit.
Aku yang tertawa sendirian kali ini.
"Masalahnya buat apa?. Gue gak segitu seriusnya nyari laki lewat aplikasi online dating" sanggahku bukan menolak ya.
"Lah laki urusan masa depan, kenapa elo gak serius carinya?" kata Nadine.
"Logikanya Pie kalo yang serius bayar buat jadi members gitu, bisa jadi memang serius cari pasangan dan bukan mau main main. Ya macam elo gini deh yang di saranin bayar sama Nad Nad, artinya elo memang serius nyari lakikan?" kata Pipit lagi.
Aku diam dulu menatap mereka.
"Ya kalo elo memang iseng, ya udah gak usah bayar. Tinggal elo berdoa dan pasrah aja dapat laki di real life sesuai ekpektasi elo. Atau ta'aruf gitu deh" kata Nadine lagi.
Pipit yang tertawa menanggapi saat aku menggeram kesal dengan saran ta'aruf. Hadeh...masa iya mesti ta'aruf?. Siapa juga yang mau ta'aruf sama aku?.
"Lupa dia Nad, kalo apa aja mesti ada usahanya, termasuk soal jodoh. Iya gak sih?" komen Pipit.
Dan buat aku akhirnya bersedia membayar untuk jadi member di aplikasi Tinder. Membayar yang paling murah aja dulu, untuk memastikan kalo dengan cara membayar aku dapat kesempatan dapat lelaki yang aku suka dan bisa aku harapkan.
Lalu entah karena aku sudah jadi member atau memang akhirnya di beri jalan untuk berkenalan langsung dengan bule lewat aplikasi Tinder, pokoknya akhirnya aku kenalan dong dengan laki bule asal Turki dan dia bersedia bertemu denganku setelah kami mengobrol beberapa waktu di aplikasi lalu pindah ke aplikasi WA.
Nanti aku cerita lagi ya soal lelaki Turki ini. Ganteng sih....tapi....