Oke, aku mulai berusaha santai saat menggunakan aplikasi Tinder. Mulai aku layani chat lelaki yang masuk. Walaupun tetap tidak semua aku tanggapi. Pokoknya yang aku balas, chat yang buat aku tertarik juga. Tapi karena terlalu fokus menjawab chat, malah aku lupa untuk melihat foto foto profil lelaki di Tinder. Bukan apa, ternyata cukup banyak lelaki yang tertarik padaku. Sejujurnya aku agak kaget juga.
Aku : Bukannya lelaki lebih suka perempuan berbody kutilang ya?.
Sampai aku tanya soal ini pada lelaki yang bilang aku pulen lagi. Anggap namanya Danu.
Danu : Aku pribadi sih gak suka ya cewek terlalu kurus, rasanya tulang semua.
Jawab si Danu dan buat aku tertawa.
Bina : Cewek yang bodynya kurus tuh, malah kelihatan kaya perempuan penyakitan.
Jawab Bina, lelaki yang lain.
Mario : Apa yang mau di pegang kalo cewek terlalu kurus?. Cewek kurus tuh kebanyakan yang suka kokoh PIK. Kalo lokal asli mah sukanya yang gemoy deh, Pulen rasanya.
Jawab Mario lelaki yang lain lagi. Dan masih banyak lelaki lain yang memberikan alasan tidak suka perempuan berbody kutilang layaknya model. Aku malah baru tau soal ini.
Pada akhirnya aku pikir, standart cantik kebanyakan orang Indonesia tidak bisa di pukul rata. Semua kembali ke soal selera juga ya. Tapi bukan berarti gak suka perempuan berbody kutilang. Mungkin suka. Tapi kalo pilihannya ada perempuan gemoy macam aku, kalo lelaki penyuka perempuan berbody gemoy, pasti yang berbody kutilang akhirnya tidak akan di pilih.
Bisa jadi standart kecantikkan versi Indonesia tergantung si perempuannya sendiri yang memang lebih suka berbody kurus, atau karena dia akhirnya menghargai bentuk fisiknya sendiri. Soalnya ada juga kok perempuan yang malah berusaha menaikkan berat badannya, di sambing banyak sekali perempuan yang berusaha diet ketat supaya tubuhnya kurus.
Boleh gak sih, kalo akhirnya aku mulai merasa percaya diri?. Sampai aku akhirnya bersedia memberikan nomor WA bisnisku pada lelaki yang minta nomor WA, dan aku nilai dia cukup sopan.
Tapi apa mungkin mesti langsung melakukan panggilan video call?. Lagi lagi rasa penasaran juga yang mendorongku mengangkat panggilannya.
"Hai, neng. Ternyata gak beneran no filter ya?" sapa lelaki bernama Berto.
Aku tertawa saja menanggapi.
"Eh abang serius neng, banyak yang pake filter, jadi aslinya gak sama kaya foto" katanya lagi menjeda tawaku di layar handphone.
"Ya biar aja bang. Suka suka dia lah" jawabku mencari aman.
"Iya sih. Tapi kamu suka gak sama abang. Abang gak pake filter juga nih, apalagi AI" tanya dan jelasnya.
Lagi lagi aku tertawa dan dia juga kali ini.
"Suka..." jawabku mengambang.
Kalo gak suka, mana mungkin aku berikan nomorku. Tapi untuk bener benar suka, rasanya terlalu cepat deh.
"Kalo gitu boleh dong kita ketemuan?" tanyanya.
"Sekarang?" tanyaku masih dengan mode video call.
"Ya nggak, nanti nanti. Abang kabarin deh kalo memang mau ketemuan" jawabnya.
Aku mengangguk saja. Sampai aku salfok pada apa yang ada di belakangnya.
"Abang di mana sih?" tanyaku.
Eh dia malah menoleh ke bagian belakangnya juga lalu menatapku.
"Di toko" jawabnya.
"Toko?" tanyaku.
"Iya, toko neng Opie, abangkan kerja di toko gorden. Neng Opie mau beli?. Baru datang nih, bagus bagus banget. Soal harga, bisa nego" jawabnya.
Aku sontak tertawa miris. Bukan aku merendahkan pekerjaannya, tapi masa iya aku menjalin hubungan dengan lelaki yang bekerja di toko hordeng sih?. Kok ya...agak gimana gitu.
"Oh gitu..." komenku lalu membiarkan dia menjelaskan gorden gorden yang memang tergantung rapi di belakangnya.
Hadeh...mau jeda gak enak. Akhirnya aku biarkan sampai aku tiba di timing yang tepat untuk mengakhiri obrolan kami.
"Eh bang udah dulu ya. Ngantuk nih, aku besok kerja" jedaku.
"Iya neng, maaf ya. Met rehat deh. Nanti kita ngobrol lagi ya" jawabnya ternyata tidak menahanku.
Bisa jadi alasanku tepat.
"Oke bang" jawabku.
Tapi tentu tidak segitu antusiasnya aku untuk menjawab chat darinya. Bukan aku tidak sopan, tapi aku bermaksud memberikan sinyal kalo aku tidak berniat melanjutkan hubungan tanpa perlu aku bilang secara gamblang. Aku tetap jawab chatnya sesekali, tapi aku menolak panggilan video call darinya, dan malah sibuk di aplikasi TInder, sampai dia berhenti menghubungiku.
Sebagai perempuan kita tetap mesti punya atitude menolak secara baik pada lelaki yang kita tidak suka. Dan lelaki yang baik pun akan faham soal itu. Apalagi aku semakin jarang menjawab chatnya dan menolak telponnya. Ngeri say, jutek jutek ke lelaki. Iya kalo dia bisa nerima atau marah marah pada kelakuan jutek kita, kalo ternyata diam diam dia sakit hati, lalu main halus dengan minta bantuan orang pintar, apa gak akan bahaya untukku?. Sekalipun aku tidak sepenuhnya percaya soal santet atau pelet. Tapi nyatanya hal seperti itu ada kok. Apa yang tidak ada di negara kita?. Dan harus kita selalu berhati hati, kalo kejahatan ada di mana mana, dan alasan orang berbuat jahat kebanyakan berawal dari rasa sakit hati.
Lalu berakhirlah, episodeku dengan si kang hordeng. Aku tidak merasa kapok kok, malah aku tetap memberikan nomor WA bisnisku pada lelaki di Tinder yang aku anggap sopan.
"Ketemuan yuk. Ngopi di mana gitu" ajaknya.
Namanya Rudy. Anggap aja begitu.
"Boleh. Kapan?" tanyaku menjawab.
"Sekarang boleh. Lagi arah ke dekat rumah kamu nih. Tinggal cari tempat ngopi yang enak dan murah meriah" ajaknya.
"Okey" jawabku.
Tapi aku tidak ekpektasi kalo dia malah mengajakku ngopi beneran di tempat yang enak dan murah menurut versinya. Dimana lagi kalo bukan ngopi di depan minimarket gitu. Okey aku turuti, toh dekat juga apartemanku. Beneran di dalam komplek apartemanku. Aku pikir biar aku gampang pulang juga yakan?. Apalagi kami baru bertemu.
"Opie?" sapanya setelah keluar dari mobil yang merknya banyak di pakai orang.
Tau dong mobil untuk keluarga dan terkenal merk yang di pakai sejuta umat.
"Hai" sapaku menyambutnya lalu menyalaminya.
"Sorry ya jadi nunggu, sampai udah pesen kopi sendiri" katanya lagi karena melihat segelas kopi yang sudah aku beli sendiri.
"Gak apa" jawabku.
"Mau beli yang lain gak?. Sekalian aku pesen kopi juga" tanyanya.
"Cukup ini aja. Masih kenyang" jawabku menolak lalu membiarkan dia masuk minimarket untuk beli kopi dan rokok lalu duduk di hadapanku.
Minta izin juga untuk merokok sebelum dia bakar, dan aku izinkan. Sejauh ini aku nilai sopan.
"Kamu tinggal di aparteman ini?" tanyanya memulai.
"Ya bareng temanku. Dan ini fasilitas kantor" dustaku.
Aparteman tempat aku tinggal termasuk yang cukup elite dan semua orang tau itu.
"Sekarang temanmu ada?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk saja. Nyatanya ada mba yang suka membersihkan apartemanku sedang menginap malam ini. Besok harus kembali ke rumah ibuku untuk membantu ibuku mengurus rumah.
"Sayang sekali ya..." komennya sambil tertawa.
Aku ikutan tertawa karena mengerti maksudnya.
"Kamu sebenarnya dari mana sih?. Kok malam malam masih di jalan?. Pulang kantor?" tanyaku walaupun penampilannya cukup santai untuk ukuran orang pulang kantor.
Kok ya malah tertawa.
"Kantorku memang di jalan kok" jawabnya dan buat aku menmgerutkan dahiku.
"Maksudnya?" tanyaku.
"Kerjaanku taksi online. Ini lagi ngalong, jadi bisa istirahat dulu jam segini, nanti setelah jam orang berangkat kerja, baru aku ngandang" jelasnya.
Aduh...lagi lagi aku bukan merendahkan pekerjaannya. Malah aku respect karena dia niat sekali sampai mengambil kredit mobil hanya untuk menjadi taksi online yang di sediakan aplikasi. Dan cukup berat kalo dengar ceritanya. Harus setoran tagihan mobil setiap minggu sementara bonus bonus hampir sebagian besar di hilangkan dan potongan setiap dapat order cukup besar per trip.
Tapi masa iya dengan pekerjaanku yang sekarang, dan keadaan sosial ekonomiku, lalu aku menjalin hubungan dengannya?. Lagi lagi aku bukan bermaksud merendahkan kalo aku berpikir, kami tidak sepadan dari sisi sosial ekonomi. Dua hal bisa terjadi kalo aku memutuskan menjalin hubungan dengan lelaki yang standart kehidupannya jauh di bawah aku. Pertama dia akan terus menerus merasa rendah diri karena jomplangnya penghasilan kami, atau dia akan memanfaatkan aku karena tau aku cukup mapan sebagai perempuan, alias mokondo. Gak deh, amannya aku close saja pendekatan kami. Jauh lebih baik mulai mengabaikan chat dan telponnya dengan bermacam alasan. Sampai akhirnya dia berhenti menghubungiku.
Tidak parah sih, kalo hanya soal perbedaaan penghasilan aku dengan lelaki yang buat aku tertarik di aplikasi Tinder. Yang parah tuh yang akhirnya aku temui lagi lelaki lain di aplikasi Tinder. Udah mah aku di biarkan menunggu lama dia datang di kafe janjian kami. Aku juga yang inisiatif memesankan kopi dan cemilan untuk dirinya. Eh masa aku juga yang mesti bayar kalo dia diam saja saat pelayan memberikan tagihan makan dan minuman kami.
"Mau di antar Vi?. Aku bawa motor kok" katanya saat aku pamit pulang dengan rasa kecewaku.
Bukan masalah uang yang aku keluarkan untuk membayar makanan dan minuman yang dia nikmati, tapi ini soal ETITUDE sebagai lelaki. Masa biarkan aku yang menunggu lama, aku yang inisiatif pesan. Harusnya gimana kek. Belum apa apa udah buat aku mual.
"Aku bawa mobil sendiri" jawabku sambil bergegas pulang karena membuang waktuku saja.
"Keren" pujinya.
Aku sudah terlalu malas menanggapi.
"Kapan kapan kita ketemu lagi ya" katanya lagi.
"Okey, kalo aku punya waktu luang lebih dari sejam cuma buat nunggu kamu datang" jawabku lalu bergerak meninggalkannya.
Gila kali, dia pikir aku masih bersedia menemuinya?. Ogah amat. Sekalipun aku tidak secantik bidadari setidaknya hargai usaha dan effortku untuk menemuinya.
Pada akhirnya aku semakin underestimed berkenalan dengan pria lokal. Kok ya kelakuannya beneran buat aku muak, selain munafik dan penuh basa basi. Apa aku udahan main online dating ya??.