8.Pulen

1525 Words
Rasanya aku memang harus coba mendowload aplikasi online dating sesuai saran Pipit deh. Alasannya ya karena situs online dating tuh, terlalu banyak drama mengarah ke modus penipuan. Kalo seperti itu terus, nanti gimana aku bisa dapat pasangan sesuai yang aku harapkan?. Tapi lalu aku bingung download aplikasi online dating apa, kalo yang aku tau baru sebatas TINDER yang entah Pipit atau Nadine bilang isinya pria bule jompo. Terserahlah apa kata mereka kalo aku yakin mereka tidak pernah benar benar tau isi aplikasi online dating itu. Bukan tanpa alasan tebakanku, karena aku tau. Baik Pipit atau Nadine rasanya tidak butuh aplikasi online dating. Secara mereka berdua cantik, anak konglomerat dan punya rasa percaya diri yang tinggi juga. Di tambah sejak SMA sudah menemukan pasangan yang akhirnya jadi suami mereka. Jadi apa salahnya aku coba mendownload aplikasi online dating macam TINDER. Selesai aku download, cara untuk punya akunnya pun sama seperti situs online dating yang pernah aku ikuti. Tetap harus memasukkan data pribadi, walaupun tidak mesti sejujur jujurnya. Ya misal masalah nama, bisa aja kok pakai nama apa pun, karena tidak harus memasukkan data sesuai KTP. Bebas itu mah kita atur, termasuk tanggal lahir. Aku pakai nama Opie sih, dan tetap memasukkan tanggal lahirku. Aku tidak mau memalsukan umurku juga foto yang aku upload. Supaya dapat sesuai umur yang menurutku cocok denganku. Lalu kalo masalah foto, better tanpa pakai filter. Terlepas ini akun online dating, aku sebenarnya tidak pernah juga foto apa pun pakai filter. Menurutku untuk apa?. Kalo memang tidak cantik, ya terus akan jadi cantik gitu kalo pakai filter saat foto?. Gak deh, kalo akhirnya sama sama saja. Jadi aku tetap pertahankan memakai foto fotoku yang apa adanya tanpa fillter. Dan cukup 2 atau 3 foto saja, tidak perlu banyak banyak. Foto foto casual aja juga sih. Intinya tidak berlebihan dan tetap menunjukan diriku apa adanya. Toh aku ada di online dating tidak segitunya juga supaya dapat pasangan. Percaya deh sama aku, kalo umur kalian sudah lewat 25 tahun, keinginan punya pasangan lalu berujung ke pernikahan, rasanya semakin menguap. Istilah kasarnya, kalo dapat ya syukur, tidak dapat pun ya sudah. Lalu tampilan aplikasi TINDER pun masih sama seperti situs online dating yang aku ikuti sebelumnya. Setelah di pastikan kalo aku sudah punya akun terdaftar, langsung muncul foto foto cowok yang bisa aku like atau aku pilih karena aku suka pada profilnya. Macam katalog foto foto cowok. Ada yang lengkap mengisi data pribadinya, ada yang hanya sekedar menaruh data pribadi macam aku. Ada yang gondrong, botak, berambut lurus, keriting, ikal, semua ada. Tinggal pilih mana yang kalian suka. Lalu mungkin menunggu tanggapan dari lelaki yang kalian like fotonya. Tapi lalu aku tinggal aplikasi online dating Tinder, karena aku malah mengantuk. Besok paginya baru aku buka karena ada notif lewat email dan dari aplikasi TInder itu sendiri. "WOW!!" cetusku tanpa sadar. Lumayan kaget juga akunya kalo banyak sekali yang memberikan LIKE pada fotoku. Sampai aku tertawa sendiri. Tapi ya lalu aku tinggal urusan online dating Tinder karena aku harus bekerja. Itu yang utama untukku. Setelah aku selesai dengan urusan pekerjaanku, baru aku buka lagi aplikasi tinder, setelah aku merasa santai sepulang kerja tentunya. Saat aku buka chat dari lelaki yang mengLIKE fotoku, rata rata pertanyaan basa basi. Ya khas orang indonesia kebanyakan. Hai apa kabar?. Lagi apa?. Salam kenal ya?. Ya semacam itulah, dan aku balas beberapa yang penampilannya di foto buat aku tertarik, selebihnya aku abaikan. Bukan beramksud pilih pilih juga, tapi memang itu inti aplikasi online dating, memilih yang kita suka dan abaikan yang tidak kita suka. Lalu dari chat basa basi ada juga yang chat bilang aku cantik. Ini yang buat aku tertawa dan akhirnya aku tanggapi. Penasaran aja, kok bisa bilang aku cantik?. Dari sisi mana coba?. Aku : Cantik?. Masa sih? Balasku. Lalu menunggu balasannya, karena sekalipun terlihat online macam di WA, belum tentu langsung balas. Pasti dia sibuk chat akun lain dong. Mana mungkin hanya menanggapi satu akun doang, karena aku juga begitu. Teddy : Beneran, memang cantik kok. Jawabnya, anggap namanya Teddy, karena tertulis begitu. Lalu aku kirim emot tertawa. Teddy : Aku pecinta cewek semok, PULEN!!. Jawabnya dan buat aku salfok dengan kata PULEN yang dia tulis dengan huruf besar semua. Maksudnya apa ya PULEN !!!. Memangnya aku beras. Aku : PULEN ?, maksudnya?. Wajar gak sih kalo aku akhirnya tanya?. Beneran gak ngerti akunya. Malah balas emot tertawa padaku. Teddy : Masa gak ngerti PULEN?. Jawabnya dan aku jawab dengan tanda tanya. Dan dia balas dengan emot tertawa lagi. Ampun deh, beneran basa basi banget ini obrolan. Tinggal jawab apa susahnya ya?. Jadi lebih baik aku cari tau sendiri lewat internet. Harusnya dari tadi sih, ngapain aku tanya si Teddy. Lalu saat aku cari di internet arti katanya malah buat aku kesel. PULEN itu artinya empuk, kenyal, padat berisi kalo dalam bahasa gaul atau bahaya Tik tok. Gak tau ya, walaupun sekedar candaan, kok ya aku merasa kata itu sebagai bentuk pelecehan verbal. Seorang artis penyanyi indie aja kesel kok waktu ada netizen yang bilang itu di akun sosmednya. Dan aku mengerti kenapa dia marah. Siapa yang suka sih bentuk tubuhnya di konotasikan dengan sesuatu yang kenyal, empuk dan padat berisi?. Macam lelaki itu sedang membayangkan meremas tubuh perempuan, sampai bisa dia bayangkan rasanya hanya lewat foto, apa gak kurang ajar?. Wajar kalo akhirnya aku tinggal room chat bersama si Teddy. Gak deh, kalo aku lanjutkan obrolan kami, mendadak aku langsung mikir, seberapa m***m otaknya. Maaf bosque, saya bukan perempuan yang haus pujian. Pada dasarnya semua perempuan cantik, kalo ganteng lelaki. Jadi untuk apa baper. Lalu aku berada di online dating ini bukan untuk untuk di lecehkan secara verbal soal bentuk tubuhku. Apalagi untuk sesuatu yang m***m. Dan ternyata hampir semua bilang begitu. Gimana aku tidak kesal kalo akhirnya aku tanggapi chatnya yang awalnya sopan menurutku, lalu berubah jadi m***m. Ampun deh. "Ternyata pendekatan laki zaman sekarang selalu berujung dengan hal m***m ya, Pit? " tanyaku pada Pipit saat kami akhirnya bertemu. "Ada apaan sih?" tanyanya malahan. "Itu, guekan akhirnya download Tinder....". "SERIUS????!!!" pekiknya memotong dan buat aku mengangguk. Memang sialan jadi teman, malah dia terbahak melihat anggukanku. "Terus?" tanyanya karena tidak aku tanggapi saat tawanya reda. "Ya itu tadi, ujungnya malah m***m. Masa bilang gue PULEN terus" keluhku kemudian. Malah nih teman sialan terbahak lagi. "Elo tau ya arti kata Pulen?" tanyaku mencari tau. Dia mengangguk lagi. "Yakan gue emak emak gaul. Gue tetap ikutin perkembangan medsos biar gak dia begoin anak gue nantinya" alasannya dan aku abaikan. Aku lalu menghela nafas menanggapi. "Hal wajar kali Til. Secara dengan perkembangan medsos sekarang buat semua hal terasa gak tabu lagi buat di jadi bahan bahasan. Di medsos kan memang gak ada filter buat membatasi komen apa pun. Mau lucu, mau menyinggung, mau ujaran kebencian, semua bisa masuk" komen Pipit. Iya sih. "Elo aja kali yang kelewat serius. Secara umur elo udah 30 tahun-an, wajar kali dengan sesuatu yang mengarah ke hal m***m. Masa elo lupa, anak SD aja udah pacaran terus manggil abi umi, apa mimi papi" kata Pipit lagi. Kali ini aku tertawa memanggapi. "Jadi gak usah sekaku itulah nanggapi. Bawa santai aja, yakan elo udah masuk kategori mature, atau dewasa banget" ejeknya di akhir. Tapi aku tidak marah, karena memang aku sudah masuk fase sebutan wanita dewasa, atau malah dewasa banget. Cuma belum nikah aja. "Menurut gue nih ya, kalo elo terlalu serius di medsos, malah elo nanti jadi bahan bullyan. Menurut gue ya. Terus elo kerja di media, masa iya baperan?. Gimana sih?. Mana mental elo yang cuek dan bodo amat?" kata Pipit lagi. Iya juga ya?. Aku termasuk terbiasa menanggapi apa pun yang orang bilang di medsos termasuk soal acara yang aku buat. Tapikan itu soal pekerjaan dan bukan soal pribadiku?, "Jangan bilang elo baper kalo bahas soal fisik?" tanya PIpit menjeda diamku. Aku jadi menatapnya. "Kemana sih Srintil bestie gue yang selalu PD karena selalu merasa punya otak buat ngerasa gak PD hanya karena punya body semok?. Elo selalu bilang, sekalipun elo gendut, tapi sebanding dengan otak elo yang juga gendut. Di banding punya body lansing tapi ukuran otak elo cuma segede nasi kucing" kata Pipit dan buat aku terbahak. Dia juga tertawa sih. "Tapi kenapa elo sama Nadine, punya otak gede dan body kutilang ya?,. Heran gue" komenku bercanda. Pipit sontak terbahak. "Bestie apaan lo berdua, gue gak di ajak ajak sekurus elo berdua, otak doang kita yang sama sama gede" kataku lagi dan buat Pipit semakin terbahak. Aslinya kami selalu bestie kok. Setidaknya sejauh ini, hanya Nadine dan Pipit yang bertahan jadi temanku saat ini. Yang lain selalu datang dan pergi. Mungkin karena tidak bisa saling mendukung dan menghormati satu sama lain kali ya. Entahnya. Intinya, karena aku merasa masukan Pipit ada benernya. Jadi aku lanjutkan pertualanganku di online dating Tinder. Memang akunya mesti lebih santai menanggapi obrolan apa pun kali ya, tanpa perlu merasa baper, apalagi tersinggung. Namanya medsos. Tapi malah buat aku merasa kecewa lagi dengan kelakuan pria pria lokal di aplikasi Tinder. Bukan aku bermaksud merendahkan kelakuan pria lokal di aplikasi Tinder, tapi memang begitu adanya. Pria baik mah kayanya memang sudah di Check Out oleh perempuan beruntung deh, lalu aku di sisakan pria pria berkelakuan minus doang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD