Pada siapa lagi aku ceritakan semua rasa kecewa yang aku rasakan kalo bukan pada sahabatku Pipit yang akhirnya bersedia menemuiku lalu kami makan siang bersama. Jangan berharap banyak pada Nadine yang istri bosku. Dia pasti tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan ceritaku secara langsung, kalo lewat telpon masih memungkinkan, tapi kalo harus kami tatap muka, jelas tidak mungkin semudah yang di bayangkan banyak orang.
Jangan pikir jadi istri sultan itu enak, jangan berpikir begitu. Menurutku lebih banyak tidak enaknya. Enak di bagian punya banyak uang dan bisa berbelanja seenaknya, sebanyak yang dia mau, atau merasakan segala bentuk kemewahan lagi, macam punya rumah mewah, tabungan berlimpah, mobil mewah sampai bisa holiday mewah ala sultan. Tapi jelas ada harga yang harus di bayar untuk semua itu. Pertama ruang gerak istri istri sultan itu terbatas. Bergaul pun hanya bisa dengan kalangan terbatas, kemana mana harus izin suami sultan, kadang harus di intilin trus seakan tidak ada pripacy lagi. Belum harus menjaga sikap dan etitude di muka umum karena nama besar, atau nama keluarga suami yang di sandang di belakang namannya.
Lilhat aja kehidupan Kate Middletone kalo kalian tidak mengenal Nadine lewat media, atau putri Diana deh. Untuk apa akhirnya dia memutuskan bercerai dari pangeran Charles kalo hidup dia bahagia di istana?. Kalian tidak tau bukan tekanan yang dia terima terkait protakoler istana, yang apa aja di atur dan ada mannernya. Ya gak jauh beda dengan kehidupan Nadine setelah menikah, yang banyak diam di rumah. Yang keluar rumah kalo suaminya izinkan, mana ada sembarangan pergi macam emak emak dari kalangan biasa, yang bisa santai makan bakso bareng setelah mengantar atau menunggui anak sekolah. Gak mungkin juga bergibah soal kelakuan menyebalkan suami di rumah, karena justru hal itu yang mesti sekali di jaga dari ruang public.
Kalo Pipit bisa lebih leluasa keluar rumah tanpa suami tapi tetap mesti bawa anaknya, karena terkait uaha suaminya yang dagang mobil mewah. Jelas Pipit harus bisa bergaul dengan genk emak emak sosialita yang merupakan istri, pacar atau mungkin simpanan dari para lelaki yang jadi langganan belanja mobil mewah pada suaminya. Atau para lelaki yang ikut masuk genk pecinta mobil mewah, Pipit harus menjalin pertemaman itu untuk memperlancar usaha suaminya. Walaupun terkadang Pipit bilang genk perempuan sosialita itu punya etitude menyebalkan sekali. You knowlah yang sombong banget gitu.
Lalu bertemulah aku dan Pipit di sebuah mall untuk kami makan bersama sekalian aku curhat soal pria pria bule yang belakangan menghiasi keseharianku. Tentu saja sebelum pria bule itu memblok nomorku atau aku yang blok nomornya.
“Lekong buleleng, mikirnya cewek indo bloon kali ya Pit, kok mereka suka banget nipu sih?” keluhku.
Pipit tertawa.
“Gak juga sih menurut gue. Buktinya elo gak ketipu” jawabnya.
“Tapi hampir gue kena tipu Pitak” protesku.
Pipit tertawa lagi.
“Ya hampir kena tipunya karena elo udah baper sama rayuan tuh buleleng. Sama kaya perempuan lain yang akhirnya kena tipu. Tapi setau gue, perempuan bego itu gak cuma perempuan Indo doang Til. Perempuan luar juga banyak yang bego. Ingat gak lo kasus laki bule di Tinder yang akhirnya bisa nipu puluhan perempuan yang jadi teman kencan dia?. Tuh cewek cewek sampai lapor polisi rame rame terus tuh laki di tangkapkan?. Tapi ya susah ya di tindak secara hukum, kalo si ceweknya sendiri yang mau aja kasih kasih duit atau di minta belikan barang barang mewah atas permintaan tuh laki, tanpa pernah mikir lagi, kalo harusnya laki yang dia porotin dan bukan tuh laki yang morotin dia” jawab Pipit lagi.
Benar juga sih.
“Intinya sih jangan gampang baper dulu apa lagi sama orang yang elo temui di medsos atau belum elo kenal baik. Itu sih menurut gue” katanya lagi.
“Tapi emang mereka jago rayu ya Pit” keluhku.
Pipit tertawa.
“Ya namanya laki, gak beda sama perempuan sebenarnya” jawab Pipit.
Aku diam sebentar.
“Trus sekarang elo kapok untuk melakukan pencarian calon laki yang elo mau?, yang buleleng tadi?” tanya Pipit menjeda diamku.
“Lucu gakn sih kalo gue bilang, kalo gue gak kapok?” tanyaku.
Pipit tertawa.
“Asal ada alasannya aja” jawab Pipit.
“Penasaran aja gue soal modus apalagi yang mungkin dia lakuin untuk nipu cewek lokal indo terutama. Siapa tau bisa jadi bahan buat miniseri atau film, mungkin ya” jawabku.
Pipit manggut manggut.
“Boleh juga, sambil menyelam minum air aja Pie. Sambil elo muasin rasa penasaran elo, sekalian deh elo cari pacar atau calon laki buleleng juga. Siapa yekan?, elo dapat juga laki buleleng dari sekian banyak laki bule yang akhirnya elo jadiin objek penelitian” jawab Pipit.
“Menang banyak dong gue” komenku.
Pipit lagi lagi tertawa.
“Tapi kali ini elo coba lewat aplikasi online dating kali Pie, jangan situs lagi. Pilih yang berbayar, jadi bukan fake buleleng lagi yang elo temuin, tapi beneran buleleng yang emang niat cari teman kencan. Menurut gue sih gitu. Trus pastikan benar kalo tuh orang nyata dan bukan halu. Elo paksa video call setelah dia bersedia angkat telpon elo. Kalo ternyata dia gak mau, ya elo tinggal berarti emang niat nepu elo doang. Logikanya kenapa dia gak mau kasih lihat mukanya sama elo?, kalo dia gak niat nipu harusnya mau dong elo ajak VC” saran Pipit.
“Benar juga” komenku.
“Setau gue sebenarnya banyak banget bule bule ekspatriat yang memang kesepian selama tinggal di Indo. Trus kalo ternyata tuh bule tinggal bukan di Indo, jangan elo layanin juga, sekalipun tuh bule mau elo ajak VC” kata Pipit lagi.
“Emang kenapa?” tanyaku menjeda.
“Ngapain benar kalo jauh, pertama kemungkinan ketemu jauh banget. Elo emang mau keluar duit buat beli tiket pesawat sama staycation di negara tuh bule?. Harusnya dia yang samperin elo, bukan elo yang samperin dia, jangan bego jadi perempuan” jawab Pipit.
“Benar juga, gak sia sia ternyata punya teman elo” pujiku meledek.
Terbahaklah Pipit.
Tapi dasarnya aku bandel aja, aku tidak juga mengikuti saran Pipit untuk download aplikasi online dating. Akunya juga sibuk dengan pekerjaanku. Sampai kemudian aku dapat notifikasi dari akun emailku kalo aku mendapatkan pesan dari seseorang di akun situs online dating Muslimah Match yang aku ikuti sebelumnya sampai aku berkenalan dengan pria Dubai si Armet itu. Rasa iseng dang abut tidak jelas membawaku ke situs online dating itu lagi. Dan benar ada DM di room chat situs online itu. Juga notifikasi beberapa pria yang menglike fotoku atau menyapaku dengan emot lambaian tangan, dan aku abaikan. Pertama karena waktunya sudah lama lewat, kedua juga karena aku tidak tertarik pada mereka yang menyukai foto fotoku. Aku hanya membuka DM pria Inggris kali ini, setidaknya dia mengaku orang Inggris tapi berwarga negara Irlandia. Dan dia mengaku seorang dokter. Usianya hampir 50 tahun dan dia duda dari dua putri. Lagi lagi mengaku istrinya meninggal karena sakit dan dia sedang berada di Suriah. Lagi lagi mengaku sedang bertugas jadi relawan, dan kali ini mengakunya dokter. Rasa penasaran akan modus penipuan model apa lagi, yang akan pria asing ini padaku, yang membuatku akhirnya memberikan juga nomor WA padanya.
Itu pun aku memastikan dulu, kalo dia akan bersikap sopan dan tidak melakukan hal m***m padaku. Aku lupa, namanya Farouk Adams, karena dia mengaku keturunan Irlandia dari ayahnya sementara mamanya yang orang LIbia.
Farouk: Aku pria muslim, aku punya dua putri, jadi aku tau caranya menghargai wanita muslim.
Itu jawabannya. Cukup masuk akal dan bisa aku terima. Pindahlah kami ke room chat WA. Lalu aku hanya bagian menyimak setiap hal yang di ceritakan padaku, sampai dia mengirimiku foto keluarganya. Dari mulai fotonya bersama almarhum istrinya yang bule muslim juga. Lalu foto dua gadis ABG dengan seragam sekolah asrama di Inggris. Dan karena alasan kedua putrinya yang sekolah asrama juga, dia memutuskan jadi dokter relawan di Suriah.
Farouk : Kalo kamu berada di sini bersamaku, kamu pasti akan melihat gimana perang mampu hampir membinasakan sebuah bangsa.
Ceritanya. Aku tau soal ini, karena aku seorang jurnalis bukan, kalo pun aku bergerak di bidang tenaga creative acara TV. Tapikan stasiun TV tempatku bekerja ada divisi news atau berita juga. Jadi aku banyak mengenal wartawan dan reporter tetap atau freelance.
Farouk : Anak kecil berusia 9 tahun pun sudah harus memanggul senjata laras panjang yang besarnya tidak jauh dari ukuran berat badan mereka. Mereka sekecil itu, sudah harus jadi penjahat perang, kalo mereka juga yang akan di gunakan oleh para pejuang untuk mencuri senjata pihak musuh. Dan aku cukup sering menangani anak anak terkena tembakan atau ranjau darat sampai bom Molotov.
Lanjutnya. Aku sampai menghela nafas membaca pesannya. Memang miris kalo suatu negara sedang dalam kondisi perang. Yang akan jadi korban tentu saja perempuan dan anak anak. Tapi tentara tentara yang bertugas menjadi pasukan peperangan juga berimbas banyak kok. Asal kalian tau, tidak terhitung jumlahnya tentara tentara yang mengalami trauma paska perang. Banyak sekali jumlahnya, hanya tidak di publikasikan. Alih alih membela negara, tapi diri sendiri yang jadi korban dari negara dan tanah air yang di bela, dengan menanggung cacat tubuh seumur hidup. Kadang aku pikir lebih baik mati sekalian sih.
Lalu untuk anak anak dan perempuan efek dari perang tentu saja lebih parah lagi. Banyak hak dasar kemanusiaan yang harusnya mereka terima, terenggut begitu saja karena perang. Gak usah hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, hak memperoleh pendidikan, hak untuk hidup aja gak bisa lagi kok, kalo mereka setiap hari harus hidup dalam rasa cemas dan rasa takut mati.
Well, tidak perlu aku tanya sepertinya kenapa si Farouk ini akhirnya bersedia jadi relawan dokter di Suriah, ujungnya tidak semata mata karena kemanusiaan, tetap tujuannya uang juga. Semakin membuatku yakin, dia berniat menipuku, walaupun aku belum menemukan modus kejahatannya. Soalnya dia tidak bicara soal memberikan aku hadiah seperti si William. Dia malah berencana mau hidup di Indonesia denganku, kalo kontrak kerjanya di Suriah selesai beberapa bulan lagi.
Yang membuatku agak yakin dengan keseriusan si Farouk, dia bersedia menjawab panggilan telponku. Walaupun suaranya tidak terdengar jelas, bisa jadi karena bad sinyal bukan?. Pikirku begitu.
Farouk : Untuk apa Video call?. Kita akan segera bertemu, cukup kamu bersabar. Aku akan ke Indonesia menemuimu. Lagipula aku takut semakin merindukanmu kalo aku melihat wajahmu.
Itu alasannya. Tapi aku terus merengek supaya kami bisa melakukan video call. Dan akhirnya dia kabulkan. Bodohnya aku malah jadi semakin percaya padanya. Padahal kalo di perhatikan benar saat kami video call tidak bisa komunikasi sama sekali. DIa seperti bicara sendiri dan aku bingung untuk menanggapi ucapannya. Akhirnya aku berhenti merengek, toh dia selalu mengabulkan tiap kali aku minta foto selfienya tiap kali kami melakukan komunikasi chat. Dalam hatiku tidak bisa aku bohongi kalo aku mulai berbunga bunga dengan harapan indah tentang kebersamaan yang mungkin terjadi seandainya dia ke Indonesia menemuiku.
Aku: kamu akan tinggal di mana kalo kamu berada di Jakarta?.
Tanyaku setelah kami semakin intens menjalin komunikasi. Dan banyak merencakan hal indah indah. Sampai aku abaikan status duda dua anak, dan jarak umur kami yang jauh sekali kalo aku 30 tahun dan dia hampir 50 tahun.
Farouk: Kamu tidak perlu khawatir sayang, aku punya banyak uang. Aku bisa tinggal sementara waktu di hotel, sampai aku bisa menemukan aparteman di dekat tempat tinggalmu sambil kita mempersiapkan pernikahan kita.
Itu jawabnya, gimana aku tidak melayang. Dia muslim pula, hal krusial yang kadang jadi isu penting yang akan jadi masalah. Lalu mau apa lagi kalo dia muslim, dia bersedia menerima aku apa adanya, tidak masalah juga kalo akhirnya kami menikah lalu menetap di Indonesia, karena dia bilang dia akan berhenti jadi dokter lalu membuka usaha apa pun untuk bertahan tinggal di Indonesia setelah menikah denganku. Dia bilang juga anak anaknya akan menerimaku sekalipun aku belum pernah sekalipun berkomunikasi dengan anak anaknya. Ini salah, aku terlanjur baper pada segala hal yang dia janjikan padaku. Soalnya banyak hal juga yang bisa buat aku percaya padanya, sekalipun di awal aku ragu dan berpikir dia berniat melakukan penipuan.
Tapi lalu ternyata aku benar benar salah di saat aku jutru sudah percaya padanya. Memang kita harus berhati hati sekali dengan perasaan yang kita punya terhadap orang lain, dan jangan percaya seratus persen sekalipun banyak hal yang bisa di jadikan alasan untukku percaya padanya.
Farouk : Sayang aku sudah tidak bisa menahan rinduku padamu. Aku ingin sekali bertemu denganmu.
Rengeknya lewat chat padaku, di sebulan atau lebih kami berkomunikasi.
Aku : Kamu suruh aku bersabar, lalu kenapa kamu yang tidak sabar?. Lagi pula, kamu yang bilang kamu tidak bisa keluar dari Suriah, kalo kontrak kerjamu belum habis.
Jawabku mengingatkan.
Farouk : Aku sebenarnya punya jatah libur yang belum pernah aku ambil, karena aku juga bingung, akan pergi kemana untuk menghabiskan jatah liburanku.
Jawabnya.
Aku : Lalu?.
Farouk : Bisakah kamu mengirimi bosku email untuk minta izin padanya supaya aku bisa mengunjungimu di Indonesia selama dua minggu?.
Aku : Bisakah?, aku melakukan itu?.
Tanyaku tidak percaya, tapi aku senang dia bilang begitu.
Farouk : Maaf sayang, kalo aku tidak minta izin padamu sebelumnya, kalo aku sudah banyak menceritakan tentang kamu pada bosku. Aku sudah cerita kalo aku akan menikahi seorang perempuan Indonesia setelah kontrak kerjaku selesai, dan berniat tinggal di Indonesia. Jadi kamu bisa pakai alasan untuk mempersiapkan pernikahan kita, jadi aku harus pergi dulu ke Indonesia untuk mengurus itu semua.
Happy dong akunya, sampai aku mengabaikan gimana caranya aku memperkenalkan dia pada bapak ibuku, aku pikir tunggu dia datang dulu, baru aku urus masalah ibu dan bapakku. Aku rasa juga ibu bapakku akan menerimanya sebagai calon mantu dengan pertimbanganku, dia muslim, duda, dan bersedia tinggal di Indo setelah kami menikah. Jadi aku abaikan dulu soal restu ibu dan bapakku lalu konsen membantunya mendapatkan izin untuk bisa ke Indonesia.
Aku : Ajari aku caranya, gimana menghubungi bosmu?. Aku akan kirimi bosmu email, supaya kamu segera dapatkan izin liburan ke Indo selama 2 minggu, sesuai rencanamu.
Pintaku, dan dia kirimkan alamat email bosnya untuk aku berkirim email denan perihal exit permit yang dia maksud.
Farouk : Kita tinggal tunggu sayang, apa respon bosku. Nanti akan segera pesan tiket, dan tolong kamu mulai cari hotel untuk tempat aku tinggal sementara waktu.
Katanya setelah aku bilang sudah selesai mengirimi bosnya email. Dan tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan email balasan dari bosnya. Dan selama periode waktu itu, aku sudah mulai cari cari hotel yang menurutku nyaman untuk tempat tinggalnya sementara waktu di Jakarta.
Farouk : Makasih sayang, nanti sampai Indo, akan aku ganti semua pengeluaranmu untuk akomodasiku selama di Jakarta.
Itu pesannya padaku saat aku kirim penampakan hotel yang akan aku booking untuknya. Happy deh aku pokoknya. Tapi karena belum tau tanggal pasti dia akan datang, jadi belum aku booking online. Pikirku sepanjang punya uang, mudah untukku booking hotel on the spot. Tunggu dia datang dulu aja, pikirku begitu. Masih positif terus akunya, karena aku semakin percaya padanya.
Lalu email balasan bosnya jugalah yang buat semua harapanku mendadak bubar. Masa untuk mendapatkan izin liburan, aku mesti bayar sejumlah uang, sekitar 300 USD pada bosnya. Tidak masuk akal untukku, karena itu haknya untuk mengambil cuti tahunan, setiap pekerja begitu bukan?.
Aku : Kenapa harus ada biaya untuk kamu ambil jatah cuti tahunanmu?.
Tanyaku mulai curiga.
Farouk : Ya memamg prosedurnya begitu darling.
Jawabnya lewat chat.
Aku : Kalo gitu kamu yang bayar ya, toh murah untuk ukuran kantongmu.
Balasku. Dia lalu membalas dengan emot wajah lesu.
Aku: kenapa?.
Tanyaku lewat chat lagi.
Farouk : Akun bankku di sini tidak bisa di akses supaya aku tidak kabur dari kontrak kerjaku di sini. Ya seperti yang aku ceritakan padamu, kalo banyak orang yang akhirnya tidak merasa betah saat harus tinggal di sebuah kawasan perang.
Jelasnya dan membuatku harus berpikir keras untuk menganalisis apa yang dia sampaikan benar atau bohong.
Farouk : Tolong pakai uangmu dulu ya, nanti aku ganti segera setelah aku tiba di Indonesia. Aku akan urus supaya semua uang yang ada di rekening tabunganku di pindah ke akun bank Indonesia. Kalo aku urus dari sini susah sekali sayang, ada rasa khawatir dari pihak bank, kalo aku melakukan pencucian uang kalo aku menarik habis uang tabunganku.
Jawabnya.
Aku : kalo begitu transfer saja ke rekening bank milikku, atau lewat jasa pengiriman uang luar negeri, macam Western Union atau dompat eletronik Intenasional macam Paypall atau Payonerr.
Aku menyarankan begitu, ya kali mesti pakai uangku, sekalipun hanya ratusan dolar, kalo di konversi ke rupiah jumlahnya jutaan rupiah. Itu yang buat aku tidak mau mengeluarkan uangku. Untuk bayar biaya sewa hotel aja, aku masih mikir dua kali, apalagi untuk bayar surat izin vacation.
Farouk : Tidak bisa sayang. Aku tidak punya akses untuk itu.
Aku : lalu gimana kamu membiayai kehidupanmu di sana, kalo kamu tidak bisa mengakses uang di akun bank milikmu?.
Tanyaku, karena seingatku dia suka cerita sedang berada di luar rumah atau pergi ke mall. Aku yang tidak mengerti kondisi di Suriah juga yang buat aku tidak mencari tau lagi, dank arena aku terlanjur percaya padanya.
Farouk : Aku di berikan sebuah unit aparteman untuk aku tinggal. Aku juga di berikan jatah makan, dan uang saku untuk biaya sehari hari dalam bentuk cash, jadi aku tidak mempersalahkan soal uang di tabunganku dari hasil gaji bulananku yang tidak bisa aku utik, sampai kontrak kerjaku selesai.
Itu alasannya.
Farouk: Tolong aku kali ini sayang, kamu tidak berubah pikiran untuk jadi istriku bukan?, masa kamu tidak percaya padaku?.
Aku iyakan juga akhirnya karena aku terlanjur baper dan memang dia sangat pintar menyakinkanku.
Aku : Okey aku akan coba urus dan bayar biayanya. Mana nomor rekeningnya?
Putusku, dan saat aku menerima nomor rekening berikut nama penerima juga nama bank penerima darinya, seketika itu juga harapanku langsung menguap.
MELIANA SUWANDI, nomor rekening sekian sekian, lalu banknya bank lokal Indonesia. Sudah tidak perlu aku layani omong kosongnya bukan?. Kalo sudah seperti ini, menurut kalian, mungkinkah urusan di Suriah sana, kok bisa pakai akun bank lokal Indonesia?.