CHAPTER 3 : Axero El Vasiliá Daímona

1206 Words
Seorang pria dengan jubah kebesarannya sedang duduk di singgasananya. Pria itu meminum cairan merah yang berada di cangkir emas yang sedang ia genggam. Tatapan pria itu dingin dan datar, sehingga membuat siapa pun yang melihatnya akan ketakutan. Ia menopang dagunya menggunakan tangan kirinya. Sekilas ia melirik sisi kirinya yang terdapat singgasana kosong. Tatapannya berubah menjadi sendu. Seharusnya singgasana itu diisi oleh seorang Ratu yang menemaninya. Namun hingga saat ini, ia belum menemukan belahan jiwanya. Pintu singgasana terbuka dan menampilkan seorang pria berjalan ke arah singgasana dan berhenti tepat beberapa meter di depannya. Pria itu membungkukkan badan hormat dengan kaki kiri ditekuk dan tangan kanan berada di d**a. "Hormat hamba Yang Mulia Lord Axero, semoga Anda diberkati umur panjang." Pria itu menundukkan kepalanya tak berani menatap Sang Penguasa yang sedang duduk di singgasana kebesarannya. "Hm, apa yang ingin kau laporkan?" "Anda mendapat undangan dari Kerajaan Caleviem mengenai penobatan Putra Mahkota Pangeran Verize. Acaranya dimulai besok pada malam hari, Yang Mulia." Jelas Eugeo, tangan kanan kepercayaan Axero. Axero terdiam sejenak lalu menjawab, "baiklah, aku akan datang. Apa ada hal lain lagi yang ingin kau sampaikan?" "Para pemberontak di wilayah barat sudah mendapat ganjarannya, Yang Mulia. Hanya itu yang ingin Saya sampaikan." "Kau boleh pergi." "Terima kasih, Yang Mulia. Hamba pamit undur diri." Eugeo berdiri lalu membungkukkan badannya sejenak. Setelah itu mulai melangkah meninggalkan ruang singgasan Raja. Namun langkahnya terhenti, saat sebuah suara memanggilnya. "Eugeo," Eugeo membalikkan badannya, "ya, Yang Mulia?" "Apa kau sudah menemukannya?" Eugeo terdiam sejenak, saat mengerti apa yang dimaksud Rajanya ia pun menjawab, "maafkan Saya, Yang Mulia. Saya belum menemukannya." "Kau boleh pergi." Setelah Eugeo benar-benar pergi, Axero berdiri dari singgasananya dan berjalan menuju jendela besar yang berada di sana. Tiba-tiba sepasang sayap hitam yang indah keluar dari balik punggung Axero dengan magisnya. Membuat belakang baju kebesarannya robek. Sayap hitam nan indah itu hanya dimiliki oleh dua orang di dunia ini, yaitu Thanatos Sang Dewa Kematian dan Axero yang seorang Raja Iblis. Axero El Vasiliá Daímona adalah seorang Raja Iblis, penguasa kegelapan dan pemilik dunia Aiónia yang menerima titisan dari Dewa Kematian, Thanatos. Axero adalah Raja dari segala Raja, dunia yang saat ini ia tinggali bernama Aiónia, dunia para makhluk immortal. Kerajaannya bernama Earyeltizes, kerajaan terbesar di Aiónia dan kerajaan pusat dari seluruh kerajaan para kaum immortal. Axero dikenal sebagai Raja yang tegas, dingin, peduli pada rakyatnya dan juga kejam. Jangan sekali-kali menentang perintahnya atau bahkan membuat masalah dengannya jika masih ingin hidup di dunia ini. Ia tak akan segan untuk membunuh siapapun yang menentang perintahnya. Seluruh kaum sangat menghormati dan takut padanya, termasuk para Raja yang berada di Aiónia. Jangan pernah sekali pun meragukan kekuatan Axero, ia bisa membumi hanguskan Aiónia jika ia mau dalam sekali jentikan jari. Memang sehebat itu kekuatannya.1 "Aku akan terus mencari." Axero mulai mengepakkan sayapnya, terbang keluar melewati jendela besar di hadapannya. Ia ingin memeriksa keadaan wilayah yang dipimpinnya. Sekaligus mencari seseorang yang selama ini ditunggu kehadirannya. *** Besoknya pun tiba, Axero akan menghadiri undangan dari Kerajaan Caleviem, kerajaan kaum vampire. Namun ia memutuskan untuk datang pada sore hari, ia ingin membahas beberapa hal terlebih dahulu pada Raja Thearon. Sesampainya ia di sana, Raja Thearon dan Ratu Caletene langsung menyambut kehadirannya. "Salam hormat kami untuk Yang Mulia Lord Axero, semoga Anda selalu diberi keberkahan." Ucap Raja Thearon dan Ratu Caletene secara bersamaan seraya membungkukkan badan diikuti dengan Pangeran Verize. "Aku datang lebih awal untuk membahas beberapa hal." Ucap Axero tanpa basa-basi yang ditujukan untuk Raja Thearon. "Baiklah Yang Mulia, mari ikuti Saya." Raja Thearon dan Axero mulai melangkahkan kaki mereka ke ruang kerja Raja Thearon diikuti Eugeo di belakang mereka. Sedangkan Ratu Caletene dan Pangeran Verize sudah pergi terlebih dahulu. "Aku rasa telah terjadi sesuatu di wilayahmu, Raja Thearon." Axero memulai percakapan di tengah perjalanan mereka menuju ruang kerja Raja Thearon. "Anda benar, Yang Mulia. Lusa kemarin Panglima Zeron menemukan seorang Stealth Witch yang menyusup ke hutan Curse Forest. Seperti yang Anda tau, hutan-hutan dan perbatasan telah Anda berikan sebuah mantra pelindung. Namun bagaimana bisa seorang yang mengaku manusia biasa menembus mantra itu?" Jelas Raja Thearon. "Panglima Zeron mencium aroma Stealth Witch pada penyusup itu." Lanjutnya. "Apa kalian sudah menginterogasinya?" Tanya Axero. "Sudah, Yang Mulia. Ia tetap mengaku sebagai seorang manusia biasa. Sekarang ini ia sedang dieksekusi. Apa Anda ingin melihatnya, Yang Mulia?" "Aku akan melihatnya." Mereka pun pergi menuju aula belakang istana, tempat di mana bagi para tindak kejahatan dihukum. Axero berkecamuk dalam pikirannya, hatinya terasa tidak tenang dan gelisah. Axero tak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Pikiran Axero tertuju pada penyusup yang mereka bicarakan. Entah mengapa, Axero yakin 'dia' bukanlah seorang penyusup. "Kita sudah sampai, Yang Mulia." Saat pintu besar itu terbuka, Axero langsung mencium bau vanilla dan mawar yang sangat harum hingga menusuk indera penciumannya. Matanya tertuju pada seorang gadis cantik yang mulai memejamkan matanya akibat lilitan tali pada lehernya. Deg! Hatinya tiba-tiba berdetak dengan cepat. Matanya yang tajam terus tertuju pada seorang gadis di sana. Amarahnya pun ikut meluap. Dengan kekuatannya, gadis cantik itu telah berada di gendongannya. Matanya berkilat marah. Bola mata yang biasanya terlihat hitam pekat, kini menjadi berwarna merah darah. "APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut dan langsung membungkukkan badan mereka dengan ketakutan. Mereka tak berani melihat sosok yang saat ini sedang marah. "A-ada apa, Yang Mulia? Kenapa And-" ucapan Raja Thearon terpotong oleh omongan Axero yang membuat semua orang terkejut bukan main. "DIA MATEKU! KALIAN INGIN MEMBUNUHNYA, HAH?!" Aura mencekam semakin mendominasi. Mata Axero semakin memerah. Sulur-sulur berwarna hitam mulai merambat dari telapak tangan kanannya hingga sampai ke lehernya. Menandakan Axero bisa saja lepas kendali. Axero tak bisa menahan amarahnya lagi saat ia tak bisa mendengar detak jantung gadis itu. Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang membuat benda-benda di sekitar menjadi beterbangan. Semua orang semakin ketakutan. Beberapa orang di sana tiba-tiba mengeluarkan darah dari mulut, hidung, dan telinga mereka hingga membuat mereka kehilangan nyawa. Semua orang bergetar ketakutan, apalagi seseorang yang kini wajahnya sudah menjadi pucat pasi, dan keringat dingin mulai bercucuran. Orang itu tak lain adalah Panglima Zeron. Ia kini meminta ampunan pada Axero hingga menundukkan kepalanya sampai menyentuh tanah. "H-hamba mo-hon a-ampun, Y-yang Mulia. Hamba t-tidak m-mengetahui bahwa dia a-adalah mate A-anda." Ucap Panglima Zeron gemetaran. Sungguh, ia sangat takut saat ini. Axero tersenyum sinis dan berdecih. "Ck, kau tau apa yang sudah kau lakukan, Panglima Zeron? Kau sudah membunuh mate dari penguasa dunia ini. Sungguh, kesalahanmu sangat fatal." Ucap Axero menekankan beberapa kata. Axero terkekeh pelan, hingga membuat semua orang merinding mendengarnya. Tiba-tiba beberapa sulur-sulur hitam merambat di leher Panglima Zeron. Sulur-sulur itu mencekik lehernya hingga membuat kaki Panglima Zeron terangkat dari tanah. Axero tersenyum menyeramkan melihat Panglima Zeron yang sedang kesakitan. Dengan masih menggendong gadis itu, Axero melangkahkan kakinya perlahan mendekat ke arah Panglima Zeron. Setiap langkah kakinya membuat tanah yang dipijaknya retak. Eugeo yang melihat Rajanya marah hanya bisa diam. Ia tau tidak akan mungkin bisa meredam amarah Axero. Hari ini juga, Panglima Zeron benar-benar menyesal atas apa yang sudah ia perbuat. Seharusnya ia lebih teliti dan memeriksa tubuh gadis itu. Mungkin jika ia melihat sebuah tanda di tubuh gadis itu, ia tidak akan berakhir seperti ini. Ia benar-benar akan tamat! Axero membisikkan sebuah kalimat yang sangat tidak ingin Panglima Zeron dengar di telinganya. "Kau akan tamat di tanganku, Zeron."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD