Axero memandang seorang gadis yang tengah terbaring di peraduan besar. Tangannya mengelus wajah gadis itu yang tampak pucat. Suasana yang hening dengan kamar yang hanya diterangi dengan lilin-lilin yang terus menyala mengelilingi sisi-sisi dinding, Axero mengulas senyum kecil.
"Akhirnya aku menemukanmu, Ratuku." Gadis yang tak lain adalah Clauva itu terus saja memejamkan matanya. Gadis itu sudah tak bernyawa, namun hal itu sama sekali tak membuat Axero takut atau bahkan memilih untuk menjauh.
Setelah kejadian amukannya tadi, Axero langsung membawa Clauva ke kerajaannya, Kerajaan Earyeltizes. Ia juga memerintahkan Eugeo untuk membawa Panglima Zeron turut serta. Axero bahkan mengabaikan undangan yang ia terima dari Kerajaan Caleviem.
Pria memejamkan matanya dan mendekatkan bibirnya pada kening Clauva, mengecupnya sekilas. Axero mengangkat tangannya tepat berada di kening gadis itu. Tiba-tiba saja, ibu jarinya mengeluarkan darah dengan perlahan dan membuat darahnya terjatuh pada kening Clauva.
Axero mulai memejamkan matanya dan merapalkan mantra yang hanya ia seorang ketahui. Mantra pembangkit jiwa yang sudah mati.
"Dengan izin dan kehendak Dewa Kematian, Thanatos, aku Axero El Vasiliá Daímona sang raja iblis, pemimpin kerajaan Earyeltizes dan dunia kegelapan, menghidupkan kembali jiwa yang telah mati, Clauva Eryelecca."
Setelah Axero mengucapkan mantra asing itu, tiba-tiba kening Clauva memunculkan garis-garis yang membentuk gambar bintang yang dihiasi tulisan-tulisan aneh. Darahnya yang menetes mengenai garis bintang itu menimbulkan cahaya biru keputihan.
Sesaat kemudian cahaya itu lenyap diikuti darah dan garis bintang yang terlihat merasap ke dalam kening Clauva. Axero kembali membuka matanya, matanya terpancar kebahagiaan saat ia kembali mendengar detak jantung matenya, Clauva.
Wajah Clauva yang awalnya terlihat pucat, kini mulai berwarna. Bibirnya yang ranum tampak sangat menggoda di mata Axero.
"Cepatlah bangun, aku selalu menunggumu, Ratuku."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Axero mengecup pelan bibir Clauva, menikmati kemanisan bibir ranum itu.
Dirasa urusannya sudah selesai, Axero mulai meninggalkan peraduan dan menuju ke suatu tempat untuk menjadi bahan pelampiasannya.
Amarahnya mulai muncul kembali mengingat kejadian tadi yang sudah membuat matenya kehilangan nyawa. Beruntung sekali ia dapat membangkitkan jiwa yang sudah mati, walau cukup menguras banyak tenaga.
Axero sudah melihat seluruh alur cerita yang dia dapat dari kenangan Clauva menggunakan kekuatan magisnya.
Kini ia tau, gadisnya tidak bersalah. Clauva memang seorang manusia biasa. Namun ada sesuatu yang tidak orang lain ketahui sehingga membuatnya memiliki aroma Stealth Witch.
Ia juga sudah tau bagaimana kisah hidup keseharian gadis itu yang bagaikan neraka. Sungguh ia tidak bisa menerima matenya diperlakukan seperti itu. Bukan Axero namanya jika ia langsung mengampuni orang yang melakukan kesalahan.
Axero tersenyum miring, melihat pemandangan di depannya. Ia sudah sampai di penjara bawah tanah, tempat para tindak kejahatan dipenjara dalam kurun waktu yang Axero tentukan.
Keadaan di sana benar-benar mengenaskan. Aroma darah tercium sangat pekat, hingga yang tidak tahan bisa saja muntah dibuatnya. Banyak para tahanan yang sudah tidak lengkap anggota badannya, bahkan beberapa dari mereka sudah ingin menjemput ajalnya.
Axero menatap seorang pria yang sedang menahan kesakitan di dalam penjara. Pria yang secara tidak langsung telah mencoba membunuh matenya, Panglima Zeron.
Ia masuk ke dalam penjara tempat, Panglima Zeron, setelah jeruji besi itu dibuka oleh pengawal. Axero mendekatkan wajahnya pada Panglima Zeron yang terlihat sangat ketakutan. Axero berbisik pelan yang membuat siapapun merinding mendengarnya.
"Bermainlah denganku, Zeron."
***
Rasanya sangat damai. Aku tak pernah merasakan perasaan senyaman ini sebelumnya. Perasaan ini membuatku tenang dan betah di tempat asing ini.
Pemandangan indah di depanku sangat menyejukkan mata. Bunga-bunga beraneka warna menghiasi tempat yang sangat sepi ini.
"Sebenarnya di mana ini? Apakah ini yang dinamakan surga?" Gumamku pada diri sendiri.
Tempat ini memang indah, namun juga sepi. Kurasa hanya diriku seorang yang berada di sini.
"Jika ini memang surga, aku akan sangat bersyukur." Aku tersenyum sesaat, lalu ingatan saat hukuman mati itu terlintas di pikiranku membuat tatapanku berubah menjadi sendu.
"Huft, aku sangat kesepian..."
Aku termenung sesaat, lalu tiba-tiba aku memdengar suara seorang perempuan yang memanggil namaku.
"Clauva..."
"Eh? Siapa itu?" Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling penjuru tempat ini. Ada seorang perempuan yang menyebut namaku, tapi saat ini aku sendirian, dan tidak ada siapa-siapa selain diriku.
"Apa aku berhalusinasi?"
"Clauva..."
"Hey! Siapa itu? Tunjukkan dirimu!" Aku berterika lantang entah kepada siapa.
"Clauva, sebaiknya kau cepat bangun. Tidak baik membuatnya menunggu terlalu lama." Ucap suara asing itu lagi.
"Kau siapa? Dan apa maksudmu?"
"Kau tidak perlu tau siapa aku, yang terpenting saat ini adalah kau harus segera bangun. Kehidupanmu yang baru akan segera dimulai."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Lagi pula aku sudah... mati."
"Kau memang sudah mati, tapi ia memanggilmu kembali. Ini bukanlah tempatmu. Aku akan segera pergi, ingatlah pesanku, jangan pernah melepaskan kalungmu."
Seketika itu juga aku menunduk melihat sebuah kalung yang dihiasi permata berwarna biru langit. Sejak kapan aku mempunyai kalung ini?
"Kalung ini mil-" ucapanku terhenti saat tiba-tiba aku merasakan tubuhku seperti ditarik keluar dari sebuah pusaran yang besar.
Pandanganku mulai menggelap, namun samar-samar aku mendengar suara perempuan itu yang menggema dalam telingaku.
"Di atas tangan Zeus, kembali kepadamu, jiwa rapuh yang hendak disucikan secara spiritual kembali ke dunia bawah."
Perlahan namun pasti, Clauva mulai membuka matanya secara perlahan. Ia mengerjapkan matanya sesaat, menyesuaikan cahaya yang masuk pada retina matanya.
Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah atap yang dihiasi ukiran yang terbuat dari emas. Kemudian ia melirik sekitarnya. Banyak benda-benda yang terlihat mewah di sini. Ia yakin benda-benda tersebut pasti sangatlah mahal.
"Astaga, aku berada di mana? Bukankah tadi..." ia berpikir sejenak, menenangkan pikirannya yang bercampur aduk.
"A-apa aku hidup kembali?" Clauva membulatkan matanya saat ia sadar bahwa ia telah hidup kembali tanpa luka-luka yang membekas. Kulitnya terlihat mulus tanpa satu pun bekas luka. Ia bahkan tidak merasakan sakit sedikit pun.
Ketukan di pintu membuyarkan keterkejutannya. Saat itu juga ia membiarkan orang yang berada di luar sana untuk masuk.
Tiga orang perempuan berpakaian seperti seorang dayang yang terlihat masih muda masuk dengan menundukkan kepala mereka tanpa menatap Clauva.
"Salam hormat kami untuk Putri Clauva, semoga Anda selalu diberkahi kebahagiaan." Tiga orang perempuan itu membungkukkan badannya saat sudah di hadapan Clauva sambil mengucapkan salam secara bersama-sama.
Clauva yang mendapat perlakukan itu pun lantas terkejut dan juga bingung.
"H-hey, apa yang kalian lakukan? Jangan membungkuk seperti itu."
"Maaf Putri jika kami melakukan kesalahan, kami hanya memberi salam untuk putri." Ucap salah satunya.
"Tidak perlu seperti itu. Satu lagi, jangan memanggilku dengan sebutan itu, aku bukan putri, panggil saja aku Clauva." Balas Clauva sambil tersenyum. Ia juga bingung pada ketiga gadis di depannya ini, mengapa sedari tadi menundukkan kepala terus tanpa mau menatapnya.
"Kami tidak bisa melakukannya, Putri. Ini perintah mutlak dari Yang Mulia."
Clauva menghembuskan napasnya pelan, ia harap pikirannya tidaklah benar bahwa ia saat ini sedang berada di salah satu kediaman bangsawan, atau bahkan Raja.
"Bisa aku tau nama kalian?" Tanya Clauva.
"Perkenalkan nama Saya Hera, dari kaum mermaid. Dan mereka berdua bernama Eria dan Aeli. Mereka dari kamu fairy." Ucap Hera dengan memperkenalkan diri dan kedua temannya.
"Kami bertiga adalah pelayan pribadi Putri. Kami siap melakukan apapun untuk Putri." Ucap gadis yang Clauva ketahui bernama Aeli.
"Oh... jadi kalian dari kaum mer- eh? Apa tadi kau bilang mermaid dan fairy?" Ucap Clauva dengan terkejut.
Mereka bertiga memaklumi respon yang diberikan oleh Clauva, karena mereka sudah tau bahwa Clauva hanyalah seorang manusia biasa.
"Itu benar, Putri." Jawab Eria.
"A-aku sungguh tidak percaya ini." Gumam Clauva. Tiba-tiba ingatannya tertuju pada saat ia dikejar oleh empat ekor serigala yang besarnya tidak wajat itu dan juga seorang pria berwajah pucat yang menyelamatkannya.
Ia mengingat semuanya, dilihat dari logika semua kejadian yang ia alami tidaklah masuk akal bagi manusia biasa. Ini membuatnya mau tidak mau harus percaya pada ketiga gadis di hadapannya saat ini.
Sebuah ide tiba-tiba terlintas di kepala Clauva, "kalau begitu, maukah kalian berdua menunjukkan sayap kalian?" Ucapnya sambil menatap Eria dan Aeli.
"Tentu saja, Putri."
Tiba-tiba dengan magisnya sepasang sayap bening yang berkilauan muncul di balik punggung Eria dan Aeli. Itu membuat
Clauva berdecak kagum saat melihat pemandangan pertama kali di hadapannya.
"Oh iya, aku melupakan sesuatu. Saat ini aku berada di mana?" Tanya Clauva sekali lagi.
"Anda berada di Kerajaan Earyeltizes, Putri."