Setelah ketiga gadis yang mengaku sebagai pelayan pribadinya telah selesai merias wajahnya, Clauva menatap pantulan dirinya dalam cermin, ia terlihat seperti seorang putri bangsawan saat ini. Gaun berwarna toska bercampur putih terlihat sangat indah saat melekat di tubuhnya. Tak lupa dengan bagian atasnya yang sedikit terbuka, memperlihatkan lehernya yang jenjang.
"Anda sangat cantik, Putri." Puji Aeli saat selesai merias wajah Clauva dengan riasan yang natural. Kedua sisi Clauva terlihat lebih merona dan tak lagi nampak pucat.
"Terima kasih, namun bisakah kau memanggilku dengan namaku saja? Aku ingin lebih akrab dengan kalian. Lagi pula aku bukanlah siapa-siapa di sini. Aku bahkan tidak tau mengapa aku di sini."
"Maaf, Putri. Kami tidak bisa melakukannya. Putri adalah orang penting di sini, hanya saja Putri belum mengetahuinya." Jawab Hera.
"Apa maksudmu? Oh iya, bisakah kalian menceritakan sosok Yang Mulia kerajaan ini? Ceritakan juga tentang dunia ini, aku sangat penasaran." Pinta Clauva kepada mereka bertiga yang membantunya bersiap. Ah, setidaknya Clauva ingin mengakrabkan diri dengan mereka, karena saat terbangun, mereka bertigalah orang yang pertama kali Clauva lihat.
"Kami tidak bisa menceritakan semuanya, Putri. Itu bukanlah hak kami. Kami hanya bisa memberitahu sebagian kecil saja." Jawab Eria.
Clauva mendesah kecewa mendengarnya, namun ia tetap ingin mendengar sebagian kecil itu. Terbangun di tempat asing dan mewah seperti ini sedikit membuatnya tidak tenang. Lagipula siapa yang akan tenang jika tiba-tiba terbangun di tempat yang asing, bukan?
"Kalau begitu ceritakan."
"Anda sekarang berada di dunia bernama Aíonia, tepatnya di Kerajaan Earyeltizes yang dipimpin oleh Lord dari dunia ini. Di Aíonia terdapat beberapa kaum, contohnya seperti kami ini. Namun di luar sana masih banyak kaum lainnya, dan terbagi menjadi beberapa kerajaan di setiap kaum. Manusia menyebut kami sebagai makhluk immortal." Hera menjeda kalimatnya sejenak, lalu mengambil napas dan melanjutkan lagi.
"Pemimpin dari dunia ini, pemimpin dari seluruh kaum di sini, dan Raja dari segala Raja adalah Yang Mulia Lord yang mendiami Kerajaan Earyeltizes."
Clauva seketika terdiam, ia benar-benar terkejut akan fakta yang baru ia dapat. Sungguh ia tak menyangka akan berada di dunia ini. Karena selama ini yang ia ketahui hanya ada dunia manusia, dan makhluk immortal hanyalah sebuah dongeng belaka. Apalagi mengetahui fakta bahwa saat ini ia sekarang sedang berada di Kerajaan Earyeltizes.
"L-lalu, kenapa aku bisa berada di Kerajaan milik Yang Mulia Lord?"
"Kami tidak bisa menjawabnya, Putri."
"Huh.. baiklah aku mengerti, dan untuk yang ke berapa kalinya, tolong jangan panggil aku 'Putri', karena aku bukanlah seorang Putri." Clauva menggembungkan pipinya kesal, ia sangat risih dipanggil dengan status tinggi seperti itu. Ia bahkan hanyalah manusia biasa yang tidak sengaja tersesat di dunia aneh ini.
"Maaf Putri, kami benar-benar tidak bisa."
"Bagaimana jika hanya ada kita berempat, kalian boleh memanggilku dengan namaku? Namun jika ada orang lain, kalian boleh memanggilku dengan sebutan itu." Ucap Clauva dengan mata yang berbinar.
"T-tapi..."
"Ayolah, aku mohon..." Clauva memberikan senyum terbaiknya.
Sedangkan Hera, Aeli, dan Eria saling berpandangan. Mereka bingung ingin menjawab bagaimana, karena mereka sama saja melanggar perintah jika menuruti keinginan Clauva. Namun melihat Clauva yang memohon seperti ini, membuat mereka merasa tidak enak.
"B-baiklah. Kami akan memanggil Anda dengan nama Putri." Jawab Hera pada akhirnya.
"Begitulah yang kumau!" Clauva langsung merangkul mereka bertiga. Sedangkan mereka terkejut akan kelakuan Clauva, hanya menerima saja dengan tubuh kaku. Mereka tak pernah melayani orang seperti Clauva sebelumnya, karena kebanyakan dari kaum bangsawan sangat angkuh.
"P-putri, sebaiknya Anda segera memakan sarapan Anda." Ucap Eria dengan terbata.
"Sudah kubilang jangan panggil aku 'Putri', panggil saja aku Clauva." Ucap Clauva dengan gemas.
"B-baiklah, C-clauva. Sebaiknya Anda memakan sarapan Anda." Clauva menganggukkan kepala membalasnya, ia senang mereka menuruti keinginannya, walaupun mereka masih berbicara dengan kaku dan formal.
Hera, Aeli, dan Eria merasa sangat beruntung bisa melayani Clauva. Perempuan yang satu itu sangat baik dan ramah. Ini merupakan kejadian yang langka dalam hidup mereka bertiga selama melayani kaum bangsawan lainnya.
***
"Bagaimana keadaannya saat ini, Eugeo?"
"Saat ini Putri Clauva sudah sadar, Yang Mulia. Namun ia kebingungan dengan situasinya saat ini."
Axero menganggukkan kepalanya mengerti. Saat ini ia dan Eugeo sedang berada di ruang kerja pribadinya. Sebagai seorang pemimpin dunia ini, Axero sangat disibukkan dengan berbagai urusan antar kerajaan.
"Yang Mulia, ada yang ingin Saya sampaikan." Ucap Eugeo yang berada di depan meja kerja Axero.
"Ada apa?"
"Satu pekan lagi, Raja Ilois dari Kerajaan Ñoid akan datang berkunjung. Raja Ilois dan putrinya, Putri Sienna ingin membicarakan sesuatu kepada Anda, Yang Mulia." Jelas Eugeo.
“Berikan mereka pelayanan terbaik nanti. Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"
Eugeo menimbang-nimbang apa yang ingin ia katakan pada Axero. Ia sedikit tidak yakin dengan pembicaraan kali ini.
"Katakan saja." Ucap Axero lagi, ia menyadari ada keraguan dalam diri Eugeo yang seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Kemarin, semenjak kehadiran Putri Clauva di sini, Chimera tiba-tiba saja menggeram marah dan memancarkan aura gelap dalam dirinya. Selain itu juga, danau Siopilí yang biasanya selalu tenang, kamarin terdapat pusaran besar pada airnya. Kini airnya telah berubah warna menjadi hitam, nyanyian para Siren juga mulai terdengar, Yang Mulia. Saya tidak tau ini karena kehadiran Putri Clauva atau bukan."
Axero terdiam sejenak mendengarkan penjelasan Eugeo. Ia juga telah menyadari bahwa peliharaannya yang bernama Chimera memancarkan aura gelap dalam dirinya.
Chimera adalah makhluk mitologi dengan tubuh dan kepala singa, memiliki ekor ular dan kepala kambing di bagian belakang tubuhnya. Makhluk ini memang sangat menyeramkan. Chimera dipercaya sebagai pertanda datangnya bencana alam.
Sedangkan danau Siopilí merupakan danau yang tenang dengan air yang jernih, danau ini merupakan danau terbesar di Aíonia yang terdapat di wiliyah barat Kerajaan Earyeltizes.
Danau Siopilí memang dihuni oleh beberapa Siren, yaitu makhluk mitologi yang memiliki wujud wanita berwajah cantik, memiliki ekor ikan seperti duyung, dan memiliki sayap seperti burung. Siren memiliki alat musik yang sering mereka mainkan, bernama Harpa. Konon, nyanyiannya dapat membuat para manusia--khususnya kaum pria--terpesona akan suara merdu Siren hingga membuat para pelaut terbuai dan menabrakkan kapalnya pada batu karang.
Pada dasarnya, Siren bertempat tinggal di lautan, namun siren yang terdapat di danau Siopilí merupakan sembilan Siren yang mengabdi pada Axero. Jangan heran lagi, Axero masih memiliki banyak makhluk mitologi yang ia pelihara. Hubungannya dengan beberapa Dewa, membuat ia sangat berkuasa.
"Aku juga merasakan aura gelap Chimera. Para Siren, apakah mereka mengatakan sesuatu padamu?"
"Tidak, Yang Mulia. Mereka hanya bernyanyi dan memainkan alat musik harpa mereka. Namun mereka terlihat sedikit buas.
Beberapa orang yang melewati Danau Siopilí terbuai akan nyanyian mereka, hingga membuat mereka menenggelamkan diri di Danau Siopilí."
Axero mengangguk mengerti, "aku akan menemui Chimera dan para Siren nanti."
"Baik, Yang Mulia. Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan. Saya mohon undur diri." Eugeo membungkukkan badannya dan segera keluar dari ruang pribadi Axero.
Sedangkan Axero masih memikirkan Clauva dan peliharaannya, Chimera. Makhluk menyeramkan itu sangat patuh padanya, Chimera tak pernah menggeram marah dan memancarkan aura gelapnya jika tidak terjadi sesuatu. Begitu juga dengan yang terjadi pada Danau Siopilì.
Saat ini Axero sangat ingin menemui matenya, Clauva. Namun ia pikir ini belum saatnya ia bertemu dengan Clauva. Sebenarnya ia sangat mengkhawatirkan keadaan Clauva, karena tepat setelah membangkitkan Clauva dari kematiannya, ia langsung merasakan aura gelap dalam diri Clauva.
Ia sadar ada kejanggalan dengan matenya. Apalagi atas perilaku Chimera dan para Siren yang sepertinya ada hubungannya dengan Clauva. Maka dari itu ia memutuskan untuk bertemu dengan penyihir Gellan, salah satu orang kepercayaannya.
"Pintu cahaya, terbuka."
Sesaat setelah ia mengucapkan mantra, sebuah portal muncul di depan meja kerjanya, langsung saja Axero masuk ke dalam portal tersebut dan berencana untuk menemui penyihir Gellan.
Semoga saja apa yang ia pikirkan tidaklah benar.