“Jadi…?” satu alis Farhan terangkat saat menatap Ghibran. Mereka sudah menyerahkan Alana pada petugas, agar mereka mencari tahu keberadaan kedua orang tuanya. Saat ini keduanya tengah dijalan menuju rumah. Ghibran yang sedang menyetir membuat Farhan bebas bertanya.
“Kau tidak akan menyerah bukan?” gerutunya kesal.
Farhan mengangkat bahu. “Apa kau tidak tahu? Rasa penasaran bisa membunuhmu. Jadi sebelum aku benar-benar melakukan tindakan konyol hanya untuk mencari informasi tentang gadis itu, Aku fikir ada baiknya kalau kau bercerita sekarang.”
“Kau seperti ibu-ibu Farhan. Tidak, kau lebih mirip ayah cerewet yang ingin tahu bagaimana kehidupan anak-anaknya.”
“Kau bisa menganggapku ayahmu jika itu membuatmu puas.”
Ghibran melotot dan terlihat jijik, membuat Farhan terkekeh. “Tidak. Terima kasih.”
Keduanya lantas diam. Hanya suara mobil dan klakson yang sesekali terdengar yang mengisi keheningan diantara mereka. Farhan memutuskan untuk menunggu sampai Ghibran benar-benar siap untuk bercerita.
“Dia orang Indonesia.” Ucap Ghibran tanpa menatap farhan.
Farhan berusaha keras menahan dengusannya. Dia juga tahu itu. Penampilan dan aksennya sudah memberitahunya kalau gadis itu orang Asia. Apa hanya ini yang diketahui Ghibran? Dia memiringkan kepalanya, tidak habis fikir dengan jalan fikiran saudara iparnya ini.
“Dia gadis baik, selalu suka menolong dan memiliki wajah yang menenangkan.”
“Dan itu membuatmu menyukainya?”
Ghibran diam, memutuskan untuk tidak menjawab, tapi Farhan yakin kalau itulah jawabannya, meski dia juga percaya untuk menyukai seseorang terkadang kita tidak butuh alasan. Perasan itu bisa datang bahkan tanpa kita menyadarinya.
“Di zaman dimana tingkat kepedulian mulai menurun dia datang mengulurkan bantuan Farhan, bahkan tanpa bertanya. Kau bisa bayangkan hal itu?” ujarnya menggebu-gebu berhasil membuat Farhan terdiam. Dia jarang melihat Ghibran membicarakan wanita dengan penuh semangat seperti ini. Tidak, dia bahkan tidak pernah mendengar Ghibran berbicara tentang wanita seperti saat ini. Penuh semangat.
“Dia bahkan tidak mengenal orang yang dia tolong. Berapa banyak yang bisa melakukan apa yang dia lakukan itu Farhan? Dan diatas ssegalanya, dia memiliki wajah teduh yang amat menenangkan. Selalu tersenyum ramah, dan aku…” Ghibran berhenti saat sadar dia sudah bicara terlalu banyak. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memutuskan bungkam.
“Hanya itu?” tanyanya berusaha keras menahan wajahnya agar tetap terlihat datar.
“Hanya itu.”
“Apa masalahnya Ghibran? Apa dia tidak menyukaimu? Mungkin saja wajahmu tidak cukup menarik untuk membuatnya tertarik.” Guyonnya tertawa dengan leluconnya sendiri.
“Bukan seperti itu.”
“Lalu seperti apa? karena perbedaan kalian?” tebaknya tepat sasaran. Ghibran hanya mengangkat bahu tanpa berniat untuk menjawabnya.
“Kenapa kau tidak mau mencobanya?”
Ghibran menoleh sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalanan. “Mencoba apa?” tanyanya tidak mengerti.
“Kau pasti tahu, gadis sepertinya tidak akan mungkin menerima laki-laki sepertimu.”
Ghibran mendelik jengkel mendengar pernyataan Farhan.
“Aku tidak membicarakan fisikmu Ghibran, jadi berhenti melotot. Apa yang ingin kukatakan adalah wanita yang kau sukai itu akan mencari laki-laki yang seiman. Itu syarat mutlak.”
“Aku tahu.”
“Hanya ada satu solusi untuk permasalahanmu yang sebenarnya sederhana ini.”
“Apa kau bermaksud mengatakan agar aku memeluk islam juga?”
“Apa ada yang pernah menyarankan hal ini sebelumnya?” tanyanya balik.
“Alzam.” Balasnya pendek.
“Dia mengatakan hal yang benar.”
“Tidak semudah itu Farhan. Aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan hanya karena menyukai seseorang. “
“Hanya karena?” Farhan mendengus.”Bukankah hanya karena itu kau tidak tidur nyenyak, selera makan hilang, dan otakmu dipenuhi bayangan tentang dirinya? Dan kau mengatakan hanya karena? Ayolah Ghibran, jujur pada dirimu sendiri, kalau gadis itu benar-benar mengambil alih kehidupanmu.” balasnya penuh kemenangan saat melihat reaksi terkejut Ghibran.
“Kau…”
Farhan mengibas tangannya. “Lupakan. Aku lebih dulu merasakannya, jadi jangan bertanya bagaimana aku bisa tahu.”
“Aira benar-benar berhasil menghipnotismu bukan?” ledeknya dengan seringai menyebalkan.
“Aku tidak akan menyangkalnya. Dia wanita terbaik setelah ibuku tentunya yang pernah kujumpai.”
“Jangan katakan itu padaku. Katakan itu pada istrimu.”
Farhan menyeringai. “Kau tidak tahu? Itu ajimat ampuh yang selalu kukatakan untuk meluluhkannya, terutama ketika dia marah karena aku pergi selama berhari-hari.”
Ghibran tergelak. “Jangan diteruskan. Kau membuatku ingin muntah.”
Tawa Farhan meledak. “Kau harusnya tahu, saat bertemu wanita yang tepat, kau akan menyadari hari-harimu telah sempurna.” Ujarnya sok puitis membuat Ghibran menggeleng-gelengkan kepala.
“Siapa yang menyangka? Dokter sepertimu yang selalu terlihat serius ternyata perayu ulung?” decaknya tidak percaya.
“Aku hanya menjadi perayu ulung untuk Aira, dan juga aku ingin menjadi suami terbaik untuknya Ghibran. Dia wanita yang baik. Aku beruntung memilikinya.”
Ghibran meringis. “Bisa kita hentikan perbincangan ini? Kepalaku pusing hanya dengan mendengarnya.”
“Aku mengatakan kalimat itu setiap hari. Senyumnya adalah ladang pahala untukku.” Farhan tersenyum sangat lebar, sampai Ghibran takut mulutnya robek. Ini kenapa pembicaraan mereka jadi merembet kemana-mana?
Farhan menatap saudara iparnya lekat. Wajah yang mulai di tumbuhi bulu-bulu tipis itu terlihat serius sekali. Sebenarnya Ghibran memang orang yang serius. Tidak banyak bercanda lebih suka mengamati dari jauh.
“Jangan menatapku seperti itu. Orang-orang akan berfikir kalau kau jatuh cinta padaku.”
Farhan mengulum senyum. “Kau harus mencaritahu sendiri Ghibran. Terkadang cintalah yang membuat kita menemukan cahaya. Kau harus ingat, adikmu melewati perjalanan panjang sebelum dia benar-benar memeluk islam.”
“Aku akan memikirkannya Farhan. Apa aku belum mengatakan kalau Aira benar-benar beruntung karena bertemu denganmu.”
“Pujian darimu Ghibran? Seharusnya aku merekamnya. Aira pasti tidak percaya kalau kau baru saja memujiku.” Kekehnya geli membayangkan wajah istrinya yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta setiap hari.
“Apa Aira sudah cerita kalau ayah datang ke rumah kalian?”
Farhan mengangguk. “Aku tidak pernah berfikir kalau ayah akan menginjakkan kaki di rumah kami Ghibran mengingat ketidak sukaan ayah denganku.” Candanya meski ada kebenaran dalam ucapannya.
“Apa kau tidak tahu alasannya?”
“Biar kutebak. Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu? Ayah mungkin merasa khawatir sekarang, karena kedua anaknya melakukan persis apa yang dia benci.”
Ghibran menyeringai. Humor berkilat dalam matanya. “Kau benar. Ayah telah menemukan orang yang lebih dia benci dari kau Farhan. Itu membuatnya melanggar janji yang dia ucapkan sendiri untuk tidak pernah memasuki rumah kalian.”
“Aku tidak mencemaskan hal itu Ghibran. Apa kau tidak cemas?”
Ghibran berhenti saat lampu jalan berubah warna menjadi merah. Dia menoleh pada Farhan. “Cemas?”
“Ayah bisa melakukan apapun untuk membuat orang yang dia benci pergi menjauh. Apa kau tidak takut kalau ayah tiba-tiba….” Desahnya tanpa melanjutkan ucapannya. Ingatan tentang sambutan ayah istrinya padanya saat pertemuan pertama mereka masih tersimpan baik dalam memorinya. Ini bukan karena dia menyimpan dendam ataupun kebencian. Tidak. Memori itu masih tersimpan baik dalam ingatannya, karena kejadian itu begitu membekas hingga otaknya berhasil menyimpannya dengan baik. Tatapan benci itu, dia masih ingat dengan baik bagaimana tatapan ayah Aira padanya. Kebencian dan kemarahan bersatu dalam satu tatapan. Beruntung dia dan Aira berhasil melewatinya, meski jalan yang mereka tempuh tidak pernah bisa dikatakan mudah.
“Apa menurutmu ayah sanggup melakukan tindakan nekad pada Rabiah? Dia hanya seorang wanita lemah, Farhan.”
“Kau lupa, kebencian tidak pernah memandang laki-laki ataupun perempuan, pun tidak memandang anak-anak dan dewasa. Kebencian mengaburkan semua hal itu Ghibran. Aku tidak bermaksud menakutimu dengan mengatakan hal ini, hanya saja kau pasti ingat dengan jelas bagaimana kebencian ayah padaku saat pertemuan pertama kami.” Farhan tersenyum kecut. Pandangannya kembali lurus kedepan saat Ghibran mulai melajukan mobil yang membawa mereka pulang.
“Dan mengenai dia wanita lemah, jangan lupakan kalau wanita lemah itu telah berhasil memikat putra kesayangannya. Menurutmu mana yang akan lebih ayah benci? Aku atau Rabiah? Kau lihat? Saat seseorang memutuskan untuk membenci maka saat itu dia telah memutuskan untuk hanya melihat semua hal buruk tentang orang yang dia benci.”
“Kau benar,” balasnya lirih.
“Aku hanya ingin mengingatkanmu. Wanita seperti Rabiah mungkin belum pernah berhadapan dengan orang seperti ayah.”
“Dia sudah pernah bertemu dengan ayah Farhan.”
Farhan menoleh cepat. “Apa?”
Senyum kebanggaan tergambar diwajah Ghibran. “Mereka sudah pernah bertemu, dan kau tahu? saat aku berfikir kalau Rabiah akan marah atau setidaknya menangis karena kalimat tajam yang dikeluarkan ayah untuknya, dia justru menasehatiku tentang sabar dan memaafkan. Kau bisa bayangkan hal itu?” ujarnya takjub sekaligus bingung dengan jalan fikiran Rabiah. Apa wanita itu tidak pernah membenci orang?
“Dia wanita yang spesial. “komentar Farhan.
“Dia memintaku agar tidak membenci ayah. Dasar gadis aneh.” Ujarnya namun nadanya justru membuat Farhan tertawa.
“Apa yang lucu?”
Farhan mengangkat bahu meski cengiran belum menghilang dari parasnya. “Rabiah benar-benar berhasil menghipnotismu ternyata, tapi aku tidak akan heran. Ceritamu sudah cukup menjelaskan kalau dia wanita kuat dan baik. Kau beruntung bertemu dengannya Ghibran, dan aku akan sangat sedih jika sampai kau melepaskan wanita sebaik dia. Ngomong-ngomong, dia mengatakan hal yang benar. Jangan sampai kebencian mengaburkan semua rasa yang kau rasakan pada ayah menghilang, sekali kebencian masuk dalam dadamu hanya soal waktu sebelum dia benar-benar membakarmu.”
“Jangan mulai Farhan,” desisnya mengingatkan.
Farhan mengangkat kedua tangannya secara depensif. “Baiklah, aku akan mengunci mulutku, tapi sebelum itu, apa kau tidak akan mengikutinya?”
Ghibran mengernyit tidak paham, namun saat Farhan menunjuk sosok yang berjalan tidak jauh dari depan mereka dia akhirnya mengerti.
Rabiah? Apa gadis itu mau pulang?
Ghibran buru-buru menghentikan laju mobilnya. Dia melepaskan safety belt dan buru-buru keluar meninggalkan Farhan yang menganga tidak percaya.
“Dasar,” ujarnya menatap Ghibran yang berjalan dengan jarak aman di belakang Rabiah. Yah, cinta terkadang bisa membuat orang melakukan tindakan tidak masuk akal. Farhan mengambil alih setir mobil dan membawanya masuk kepekarangan rumahnya.
******
Dia merasa seperti penguntit sekarang. Bagaimana tidak? Sekarang dia sedang berjalan mengendap-endap seperti pencuri yang takut ketahuan. Mengikuti objek yang menjadi alasannya mau berjalan kaki menembus teriknya panas hanya untuk melihatnya dari dekat. Ghibran menggeleng dengan tindakan nekadnya. Apa Rabiah sadar kalau dia sedang diikuti? Dia sudah mengambil jarak aman agar Rabiah tidak menyadari kehadirannya. Ghibran melepaskan jas navy-nya dan meletakkannya diatas kepalanya. Dia kepanasan, tapi sepertinya Rabiah tidak merasakannya. Gadis itu berjalan dengan langkah normal, tidak tergesa-gesa seperti orang kebanyakan yang kepanasan. Padahal suhu saat ini sedang panas-panasnya.
Katakan dia gila, karena melakukan tindakan konyol ini. Apa orang yang jatuh cinta selalu bertindak tidak masuk akal seperti ini? Ghibran mendengus. Mungkin hanya dia yang seperti ini. Ghibran refleks menghentikan langkahnya saat melihat Rabiah berhenti. Maniknya mengamati dengan seksama saat Rabiah tidak kunjung berjalan, gadis itu justru berjalan terhuyung. Apa yang terjadi?
“Rabiah!” teriaknya tanpa sadar dan melarikan langkah saat melihat tubuh Rabiah ambruk di trotoar. Ghibran yang merasa tubuhnya seperti dilolosi satu persatu dengan kalut mengangkat tubuh Rabiah yang tidak sadarkan diri diatas pangkuannya.
“Rabiah,” ujarnya cemas. Orang-orang mulai mengerubunginya. Ghibran yang was-was melihat wajah pucat Rabiah mengangkat tubuh Rabiah dengan kedua tangannya, dan membawanya dalam taksi yang berhenti saat melihatnya menggendong Rabiah yang pingsan.
******
“Dia kelelahan, dan hanya butuh istirahat. Sebentar lagi juga akan siuman.”
Ghibran hanya mengangguk sebagai balasannya, sementara retinanya tidak pernah berpaling dari sosok Rabiah yang masih tidak sadarkan diri.
“Apa suhu tubuhnya normal? Bagaimana dengan tekanan darahnya?”
“Anda dokter?”
Ghibran berpaling. Seorang perempuan dengan pakaian perawat dan jilbab hijau yang menutupi kepalanya menatapnya penasaran. Usianya mungkin diatas tiga puluhan, batin Ghibran.
“Ya.”
Perawat yang mengurus Rabiah mengangguk paham. “Suhu tubuhnya normal, namun tekanan darahnya rendah. Hanya 90/70 mmHg. Dokter akan segera memberikan resep untuk mempercepat pemulihannya.”
Ghibran baru akan membuka mulut untuk membalasnya saat dia mendengar suara serak dan berat Rabiah yang memanggilnya.
“Mas…Ghibran?”
“Apa kau baik-baik saja? ada yang sakit? Kau butuh sesuatu?” runtutnya tanpa sadar membuat Rabiah tersenyum.
“Apa yang terjadi?”
Ghibran memperbaiki posisi duduknya, perawat yang mengurus Rabiah sudah melenggang pergi.
“Kau pingsan.”
“Pingsan?”
“Ya. Beruntung saat itu aku sedang melintas,” dustanya agar Rabiah tidak tahu rahasia kecilnya. Rabiah mencoba duduk dengan bersandarkan kepala ranjang, namun tubuhnya yang lemah tidak cukup kuat untuk membuat semuanya mudah.
“Butuh bantuan?” tawar Ghibran.
“Tidak apa Mas. Rabiah bisa sendiri.” ujarnya dan setelah usaha yang cukup keras, dia akhirnya bisa duduk. Wajahnya yang pucat menatap Ghibran dengan senyuman. “Terima kasih karena sudah menolong Rabiah lagi.” Ucapnya tulus.
“Sama-sama. Apa kau lapar?”
Rabiah menggeleng. “Tenggorokanku sakit.”
Ghibran mengangsurkan air putih pada Rabiah. “Ini akan membantu melegakan tenggorokanmu.” Dengan pelan memberikannya pada Rabiah, berusaha agar tidak menyentuh kulitnya. Rabiah menghabiskan isinya hampir setengah.
“Bagaimana? Merasa lebih baik?”
“Iya Mas. Apa Rabiah sudah bisa pulang sekarang?”
“Apa kau mau pulang?” tolong katakan tidak, batinnya penuh harap. Dia masih ingin Rabiah disini. Hanya tempat ini yang membuat mereka bisa sedekat ini. Dia yakin setelah keluar dari rumah sakit Rabiah akan kembali menjaga jarak dengannya dan dia tidak suka itu.
“Iya, Aliyah mungkin sudah menungguku sekarang.” Rabiah berdiri dan mencoba bertumpu diatas kedua kakinya. Sesaat pandangannya yang berkunang-kunang membuat segalanya seperti bergoyang.
“Pelan-pelan saja. Ayo, aku akan mengantarmu.”
“Mengantarku?” Rabiah terlihat terkejut. Wajahnya yang pucat semakin pucat mendengar jawabannya. Ghibran berusaha menahan keinginannya untuk tertawa. Rabiah pasti akan tersinggung.
“Iya. Kita akan naik taksi dan aku juga akan duduk di samping supir, jadi kamu tidak usah cemas kalau kita berduaan. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” tanyanya berusaha keras menahan tawa melihat semburat kemerahan menjalar diwajah putih Rabiah. Ah, dia sungguh ingin merengkuh wajah itu dan menciumnya dengan sayang.
“Aku selalu merepotkan Mas Ghibran.” Ujarnya tidak enak.
“Aku suka melakukannya Biah, dan saat kau membantu orang, aku juga ingin melakukan hal yang sama. Bukankah kau juga akan melakukan hal yang sama jika posisinya dibalik?” tanyanya telak dengan senyum mengembang.
“Terima kasih mas.”
Ketulusan dalam kalimatnya sungguh mengoyak dirinya. Ghibran berusaha keras menahan bongkahan yang menggumpal ditenggorokannya.
“Ayo,” ujarnya berjalan tanpa berbalik. Tangannya mengepal, berusaha keras menahan keinginan konyol untuk menatap Rabiah. Wanita itu begitu dekat dengannya tapi kenapa rasanya begitu jauh untuk dijangkau?