Dekat Tapi Jauh

1403 Words
Dia menangis. Gadis kecil yang usianya bahkan belum genap tujuh tahun itu menangis saat melihat keramaian yang menyesakkan didepannya. Langkahnya terlihat gamang, dan detik berikutnya dia menangis. Suara kerasnya ternyata tidak mampu untuk menarik perhatian orang-orang padanya atau mereka memutuskan untuk tidak peduli. Gadis itu kembali meraung menatap setiap orang yang melintas. “Tunggu!” ujar Ghibran meninggalkan Farhan mematung saat sosoknya mulai berjalan menjauh. Ghibran bergabung dengan kerumunan manusia yang memadati pusat perbelanjaan, sedikit berlari sembari berusaha agar tidak menabrak orang. Gadis kecil yang jaraknya tinggal beberapa meter darinya masih terlihat menangis. Ghibran kembali mempercepat langkah. “Hufft.” Desahnya lega dengan nafas ngos-ngosan. Dia berkacak pinggang agar pernafasannya lebih mudah. Ghibran mengambil nafas pelan sebelum memutuskan mendekati anak kecil yang menangis didepannya. Sepertinya dia tersesat. “Hallo little girl. Apa kau baik-baik saja?” lembut dia bertanya agar gadis kecil itu tidak terkejut dan ketakutan. Ghibran menekuk lututnya agar tingginya sama dengan gadis kecil yang kemungkinan tersesat dari keluarganya ini. Gadis kecil itu berhenti menangis. Matanya yang bulat dan terlihat menggemaskan menatap Ghibran lekat. “Apa kamu tersesat dari Orang tuamu?” tanyanya kembali masih dengan nada yang sama. Gadis kecil itu hanya diam, membuat Ghibran geregetan sendiri. Bagaimana caranya dia membantu anak kecil ini saat mulutnya terkunci seperti ini? “Apa kau mau cokelat? Es krim?” Ghibran berbalik mendengar suara farhan tepat dibelakangnya. “Es krim?” gadis kecil itu akhirnya bersuara. Mata merahnya karena baru saja menangis menatap Farhan penuh keingintahuan. “Ya. Es krim yang enak dan lezat. Apa kamu mau gadis kecil?” Farhan ikut menekuk lutut seperti Ghibran. Dia tersenyum lebar menatap wajah polos yang masih terus menatapnya. “Mauuu!” teriak gadis kecil itu nyaring. Beruntung keramaian yang memadati pusat perbelanjaan membuat teriakannya tersamarkan. “Tapi Om mau bertanya sesuatu sebelum kita beli es krim,” Farhan melanjutkan dengan hati-hati. “Siapa nama gadis kecil yang imut ini?” seru Farhan lembut sambil mengusap kepala gadis kecil dengan gaun putih itu. “Alana.” Balasnya riang. “Oke, Alana kita akan beli es krim setelah itu kita pergi mencari keluarga Alana, oke?” “Tapi Om, ayah dan Ibu Alana pergi lama. Katanya Alana suruh tunggu disini sampai ada yang menghampiri.” Ucapnya polos membuat Ghibran dan Farhan tercekat. “Sejak kapan Alana berdiri disini?” Farhan yang lebih dulu pulih bertanya pada Alana, sementara Ghibran yang jongkok di sampingnya membuang muka. Dia tahu Ghibran sedang menahan air mata. “Lamaa Om, sampai Alana lapar.” “Bagaimana kalau kita makan sekarang?” Alana mengangguk antusias. Gadis ini pastilah kelaparan hingga dia mau mengikuti orang asing. “Apa yang akan kita lakukan sekarang?” bisik Ghibran agar Alana tidak mendengarnya. “Kita akan menyerahkannya pada petugas Ghibran. Orang tua mereka pasti bisa di temukan dengan CCTV dan jika tidak, mereka akan menemukan informasi mengenai tempat tinggal anak ini.” terangnya. “Kau yakin?” tanyanya ragu. “Kita tidak punya pilihan lain. Sekarang, kita bawa Alana makan setelah itu membawanya pada petugas. Semoga saja, kedua orang tuanya belum jauh atau mereka berubah fikiran. Bukankah sebuah kesia-siaan menelantarkan anak kecil yang menggemaskan ini?” “Jika kedua orang tuanya memutuskan untuk meninggalkannya, sia-sia saja jika Alana dikembalikan pada mereka. Mereka akan melakukan hal yang sama lagi. Meninggalkannya sendirian seperti saat kita menemukannya.” “Ada undang-undang yang mengatur tentang menelantarkan anak Ghibran, dan juga andai Alana diserahkan pada kedua orang tuanya para petugas akan memastikan kalau Alana benar-benar dirawat dengan baik.” Ghibran mengamati Alana lekat. Dosa apa yang dilakukan gadis kecil ini hingga orang tuanya tega menelantarkannya? Mereka masih terlalu polos untuk bisa mengerti kejamnya kehidupan, dan masih terlalu kecil untuk merasakan pahitnya dibuang. Anak kecil ini tidak pernah punya pilihan tapi inilah yang terjadi padanya. Orang tuanya menelantarkannya untuk kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. “Ayo.” Sentak Farhan menyentuh lengan Ghibran. Ghibran mengangguk dan mengikuti Farhan yang sekarang menggandeng anak kecil bergaun putih dengan bandana warna pink di rambut hitamnya. “Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya sesuatu.” Ghibran mendesah. Entah kenapa dia tahu apa yang akan ditanyakan Farhan, dan jujur saja, dia enggan membahasnya untuk sekarang. Pembicaraan terakhir dengan Alzam masih membekas, dan kenyataan bahwa satu-satunya kemungkinan yang bisa menyatukan mereka adalah jika dia memeluk Islam masih belum terfikirkan olehnya. Cinta dan iman, seharusnya bisa menyatukan dua orang dengan keyakinan yang sama, tapi jika kasusnya seperti yang dia alami…dia butuh waktu untuk memikirkan dan mencerna ini semua. “Ghibran, apa kau mendengarku?” Ghibran mengerjap. “Apa?” “Kenapa wajahmu kusut seperti itu? tanya Farhan menyelidik. “Apa kau tahu apa yang ingin kutanyakan?” Ghibran memutar mata. “Mengenai guru si kembar?” tebaknya setengah berharap kalau dia salah. Mendengar kalimat Ghibran, Farhan tidak bisa menyembunyikan senyumnya. “Gadis itu pastilah memenuhi kepalamu sampai detik ini. Hanya itu alasan masuk akal kenapa kau tahu apa yang ingin kutanyakan.” “Jangan menggodaku, jika kau juga melakukan hal yang sama.” Farhan menyeringai. “Aku tidak akan membantah. Aira akan selalu dan selalu memenuhi isi kepala dan juga hatiku.” Ghibran membuat ekspresi seperti dia akan muntah. “Apa kau tahu kalau kau ini suami yang aneh?” “Aku lebih suka menyebutnya suami romantis.” gelaknya membuat Ghibran memutar mata. “Jadi, seperti apa gadis yang membuat wajahmu kusut seperti dunia akan runtuh besok?” godanya membuat Ghibran melotot. “Apa kau tahu kalau kau sedang menggandeng anak kecil yang polos?” Farhan menatap Alana yang sibuk menatap keramaian, sama sekali tidak memperdulikan Farhan dan Ghibran. “Dia tidak akan peduli, dan berhenti mengalihkan pembicaraan. Apa dia gadis yang spesial?” “Aku tidak percaya menceritakan hal ini padamu.” Gerutunya mengacak-acak rambutnya frustasi. Farhan tertawa. “Oh, ayolah Ghibran, berhenti bersikap seperti anak kecil. Kau tahu, cepat atau lambat informasi ini pasti akan aku ketahui juga bukan?” “Seharusnya aku meminta Aira tutup mulut.” “Dan dia akan menurut, begitu?” Keduanya saling memandang, dan detik berikutnya tawa meledak dari mulut mereka berdua. “Apa yang lucu, Om?” Alana yang menyadari dua orang dewasa di sampingnya tertawa bertanya penuh rasa ingin tahu. Farhan menggeleng. “Bukan apa-apa. Ayo, tempat makannya sudah dekat. Alana mau makan apa?” “Itu.” tunjuknya. Ghibran dan Farhan sama-sama mengikuti telunjuk Alana. McDonald’s? “Alana mau makan ayam Om.” Seru Alana antusias menatap Farhan dengan mata berbinar. “Kalau begitu kita kesana sekarang.” Seru farhan membawa Alana ke restoran cepat saji yang terlihat ramai dipenuhi pelanggan. Ghibran mengambil alih untuk memesan makanan, sementara Farhan dan Alana mengambil tempat duduk. “Kenapa Om mau bantu Alana?” Farhan melipat kedua tangan diatas meja. “Karena Alana anak yang baik, menurut sama orang tua.” Balasnya tersenyum. Gadis kecil itu tertawa, terlihat bahagia mendengar pujian Farhan. “Nah, sekarang Alana bisa makan sepuasnya sebelum kembali pulang.” Ghibran meletakkan nampan diatas meja mereka. Burger keju, kentang goreng, ayam goreng dan juga milkshake mulai memenuhi meja mereka. “Alana bisa pulang?” serunya tidak percaya. Mata bulatnya menuntut jawaban pada Farhan dan Ghibran. “InshaAllah.” Balas Farhan kembali mengusap kepala Alana. “InshaAllah itu artinya apa, Om?” “InshaAllah yang berarti jika Allah mengijinkan. Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini atas ijin Allah.” “Berarti kalau Allah tidak ijinkan tidak ada yang akan terjadi?” tanyanya terlihat terkejut. “Tentu saja. Bahkan nyamuk sekalipun tidak akan bisa terbang jika Allah tidak ijinkan. Itulah kenapa setiap kita mengambil keputusan kita dianjurkan mengucapkan InshaAllah yang berarti segala sesuatunya terjadi hanya jika Allah mengijinkan.” “Kalau begitu, kenapa Allah ijinkan orang tua Alana pergi meninggalkan Alana Om?” Pertanyaan polos dan penuh ingin tahu itu berhasil mengahantam ulu hati keduanya. Ghibran membuang muka, karena tidak ingin melihat tatapan Alana yang meremukkan hatinya. “Karena Allah sayang Alana. Allah ingin melihat apa Alana bisa jadi anak yang kuat dan juga baik.” “Apa Alana kuat Om?” Farhan mengangguk. “Sekarang Alana makan, setelah itu kita akan mencari kedua orang tua Alana.” Alana mengangguk antusias. Dia mulai melahap makanannya tanpa berbicara sama sekali. Gadis kecil itu kelaparan. Ghibran menatapnya dengan hati remuk. Ditelantarkan. Apa gadis kecil ini tahu kalau dia baru saja ditelantarkan kedua orang tuanya? Dan Farhan mengatakan kalau semua ini karena Allah sayang pada Alana? Apa ujian memang selalu membuat pribadi setiap orang menjadi kuat? ah, dia sungguh tidak mengerti cara kerja Tuhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD